SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 TES DNA


__ADS_3

Tatapan mata Ar tajam melihat langit, Winda langsung melangkah mendekatinya.


"Aku pikir akan membongkar kejahatan ibu kamu, ternyata bukan anak kandung." Winda tersenyum menatap lelaki yang hanya diam saja.


"Win aku ingin sendiri, tolong jangan menggangu." Ar memejamkan matanya, tarik buang napas.


"kenapa aku tidak menyukai kamu? karena kamu pengecut. Kamu hidup bebas, memiliki banyak uang, tapi tidak bisa melakukan apapun untuk menemukan kebenaran, karena kamu takut jika akan terluka." Winda menatap tajam.


"Kamu salah Win, aku tidak takut jika kebenaran menyakiti diri sendiri, tapi aku tidak ingin jika kebenaran menghacurkan kebahagiaan orang lain. Lihat yang baru saja terjadi, sungguh memalukan. Seandainya aku bisa bertanya kenapa membenci diriku? kenapa tidak mengugurkan aku? kenapa menyumpahi hidupku? kenapa Win?" Ar berbicara sangat lembut, nadanya juga terdengar menyayat hati.


"Banyak kebenaran tentang diri kamu yang masih tersembunyi, pikiran saja diri sendiri jangan memikirkan orang lain, kamu tidak lelah hidup sebatang kara." Winda langsung melangkah pergi, Ar menutup matanya, memukul dadanya yang terasa sesak.


Dari kejauhan Rama dan Bima menatap Ar yang terlihat sedang menangis, ada luka yang sangat dalam yang Ar simpan di dalam hatinya.


"Ar ingin ikut Uncle Bisma sholat di masjid tidak?" senyuman Bisma terlihat, merasakan kasihan dengan pemuda berbakat yang tidak memiliki siapapun, tapi masih berusaha untuk tegar.


"Iya Uncle."


"Sebentar lagi kamu akan menikah, kenapa banyak beban sekali?" Bisma langsung merangkul, meminta Ar menenangkan hatinya.


Rama masih berpikir seadanya dulu dia meminta penjelasan, tidak mungkin selama ini Ar hidup tanpa keluarga, mungkin sudah lama dia ditemukan.


Bima juga menyalahkan dirinya bisa mengabaikan ucapan Bisma jika Ayah Rama ada kembaran.


"Maafkan Reva yang tidak memikirkan sama sekali, karena dia menunjukkan seseorang yang Reva tidak kenal. Mungkin karena Reva sering bertemu Rama, sehingga dia mendatangi VCLO."


"Sudah Va, bukan salah kamu. Aku yang lalai mengabaikan kabar burung, bagaimana jika aku dan Ar adik kakak?"


"Ya bagus hubby berarti keluarga Prasetya nambah lagi, lumayan." Viana tersenyum kesenangan.


"Tadi kak Vi menangis sekarang tertawa." Jum menggeleng kepalanya.


"Rama tidak ingin punya adik yang umurnya hampir sama dengan putraku, masa iya anak Ravi memanggil kakek Ar." Rama menahan tawa, tapi ada rasa lega juga meskipun Rama tidak paham kenapa dia harus bahagia.


"Anggap saja putra kamu Ram, hilangkan jejak soal ibunya atau ayahnya yang kita sendiri tidak tahu di mana mereka, atau mungkin sudah tiada. Dia sama seperti Ravi dan Vira." Bima menepuk pundak Rama, membicarakan secara lembut dengan Ar.

__ADS_1


"Viana punya anak lagi, sekalipun dia tidak ada hubungan dengan Prasetya tetap menjadi anak Vi. Keturunan Winda bernama Prasetya." Viana sangat bahagia, dia juga ingin keluarga Prasetya semakin besar.


"Lele Prasetya." Vira langsung tertawa kuat, langsung meringis menyentuh kepalanya yang sudah Winda lempar dengan high heels.


"Sekali lagi memanggil lele, anak kamu aku jadikan Ikan mas." Winda menatap tajam.


Tatapan Winda dan Vira sama tajamnya, Jum mengusap wajah keduanya dengan es jeruk agar segar pikirnya tidak bertengkar terus.


"Lele ataupun ikan mas, tetap masih keluarga kita." Jum meminta keduanya berdamai.


"Huuu lele Prasetya." Vira langsung berlari kencang.


"Vira sialan." Winda langsung berlari mengejar, Asih juga berlari mengejar dua Aunty yang main kejar-kejaran.


Bisma pulang bersama Wildan, Ar dan Ravi langsung melangkah ke dalam untuk membicarakan pekerjaan.


"Ar, Daddy serius ingin tes DNA." Rama meminta memanggil Erik untuk segera datang ke rumah Bima.


"Uncle ...."


Erik sudah muncul bersama Embun yang ada di pundaknya, semua orang teriak menatap Embun kepalanya terkena pintu.


"Erik, kamu apakan cucuku. Cepat turunkan." Jum memukuli menantunya langsung mengambil Embun yang memegang kepalanya.


"Inilah kenapa aku tidak pernah percaya lelaki yang mengurus anak." Jum menatap tajam. Erik dan Bisma sudah membuang arah pandanganya.


"Aduh, pala Em cakit." Embun langsung berjalan sambil mengusap kepalanya.


Erik langsung duduk mendengar ucapan Rama, awalnya Erik sangat kaget mendengarnya seakan tidak percaya.


"Kenapa keluarga ini berputar-putar?" Erik mengaruk kepalanya, menghubungi Billa untuk membawa suntikan.


Billa sampai menjatuhkan alat suntik karena kaget, satu lagi keturunan ditemukan. Bella, Tian juga kebingungan mendengar Daddy ingin tes DNA dengan Ar.


"Ar rasa kita tidak perlu melakukan ini."

__ADS_1


"Tidak masalah Ar, tidak ada ruginya juga. Lumayan ternyata Daddy Rama ada adik sepupu, tapi jangan bilang ada keturunan lainnya." Erik menatap keseluruhan keluarga.


"Tidak ada, pria itu meninggal di bunuh oleh seorang tahanan yang melarikan diri saat hamil." Wildan meminta bantuan Karan untuk menyelidiki soal foto.


"Syukurlah, ngeri juga jika banyak pembagian warisan." Ravi langsung tertawa kuat.


"Ravi ...."


"Tenang saja Ar hanya bercanda, lagian kamu sudah kaya tidak membutuhkan asupan dana. Karena kita saudara, boleh Ravi meminta koleksi mobil kamu, satu saja." Ravi tersenyum mengedipkan matanya untuk sepakat.


"Uncle Ar, jika Ravi mendapatkan mobil berarti Erik, kak Tian, kak Tama, Wildan juga harus mendapatkan mobil." Erik mengambil darah Ar sambil bercanda.


"Lalu apa untungnya aku memiliki keluarga?" Ar tersenyum melihat seluruh keluarga tertawa, karena meskipun keturunan keluarga kaya, mereka sangat menyukai gratisan.


"Maaf Ar hanya bercanda."


"Tapi kita serius." Ravi dan Erik menjawab bersamaan.


"Sabar Ar, Erik dan Ravi memang seperti itu. Aku pernah membeli jet karena mereka." Tian menggelengkan kepalanya.


"Ar berikan satu mobil keluar terbaru ...." Ar kebingungan dia belum selesai bicara, tapi Ravi dan Erik sudah lompat-lompat kesenangan dapat mobil baru.


"Sayang, besok aku akan mengambil mobil baru. Kamu jangan protes aku punya mobil lagi." Ravi mencium pipi Kasih.


Billa memberikan stempel darah ke rumah sakit, besok pagi baru hasilnya keluar.


Armand menatap binggung dengan keluarga kaya yang lebih pilih merakyat, Ar tersenyum melihat kebersamaan keluarga.


Tangan Ar menyentuh laporan hasil meninggalkannya Ayah dan ibu kandungnya, Ar tidak mengetahui mereka dimakamkan di mana.


Wildan sudah mencoba menyelidiki, tapi sudah terlalu lama sehingga tidak ada informasi apapun.


"Apa benar kalian orang tuaku? kenapa kalian menganggap aku dosa? kenapa aku dilahirkan ke dunia? aku hidup bahagia bersama Abi, sampai akhirnya aku memang hidup sendirian sejak Abi meninggalkan. Jika benar kalian orang tua kandungku, Ar maafkan semua kesalahan, akan Ar doakan semoga Allah melapangkan kubur kalian, diampuni segala dosa, terima kasih sudah membiarkan aku lahir." Setetes air mata menetes membasahi secarik kertas yang memperlihatkan gambar hitam dan putih kedua orangtuanya yang sudah tiada.


"Sejauh mana kamu pergi, Allah membawa kamu kembali ke sisi kami. Bersiaplah untuk menyambut hari bahagia kamu, jangan panggil aku kakak, tapi Daddy. Kandung tidaknya kita, kamu aku angkat sebagai anak sudah menjadi bagian keluarga Prasetya." Rama memeluk Ar, mengusap kepalanya untuk melepaskan sedikit beban hidupnya.

__ADS_1


***


__ADS_2