SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 HARIMAU


__ADS_3

Seluruh keluarga berkunjung ke hotel gara-gara Rasih yang mengamuk memaksa semua orang untuk ikut, bahkan sudah guling-guling di jalanan.


Melihat Rasih berguling dari satu rumah sampai rumah lainnya, diikuti oleh Em yang kesenangan bisa bermain di luar rumah.


Ravi yang tidak bisa menolak keinginan putrinya akhirnya menurut, Asih mengambil kertas di kamar Wildan yang menunjukkan jika hotel sudah 90%.


Ravi juga tidak tahu letak, ataupun bentuk dari hotel. Hanya Wildan yang tahu sudah beberapa tahun pembangunan, bahkan nama hotel juga tidak tahu.


Asih menunjukkan lokasi yang tertulis di kertas sampai akhirnya mereka tiba di hotel.


Wildan duduk melihat respon baik keluarga yang menyukai kemewahan hotel, meskipun area taman belum bisa digunakan.


"Uncle, kenapa pergi ke sini tidak memberitahu Asih?" tatapan Rasih tajam, bertolak pinggang menatap seakan Wildan bersalah.


"Maafkan Uncle Asih."


"Kata maaf tidak bisa mengembalikan rasa kecewa Asih, berikan sesuatu yang bisa membuat Asih memberikan maaf."


Wildan menghubungi staf yang bertugas, meminta dibawakan sesuatu. Saat bel berbunyi Wildan langsung mengambil hadiah untuk Asih.


"Harimau." Rasih teriak histeris.


Wira yang kaget saat sedang bermain game langsung berlari lompat naik ke atas meja makan, diikuti oleh Raka yang juga terkejut.


Suara tangisan Em terdengar, dia juga ingin naik, tapi belum bisa. Wira langsung menarik Em dan El untuk menyelamatkan diri dari harimau.


Ning muncul sambil memakan es krim, dia ingin melihat harimau.


"Di mana harimau?"


"Kak Ning, ayo cini." Em meminta Ning naik, cepat Bening langsung naik.


Asih menggendong kucing berukuran besar, berwarna kuning. Kucing luar negeri yang memiliki tubuh terbesar, juga sangat berat.


Vira langsung keluar kamar melihat, Asih yang teriak melihat harimau. Ravi dan Asih langsung duduk bermain dengan harimau.


"Harga diri harimau jatuh jika bertemu Asih." Bella menggelengkan kepalanya.


"Kak Bel benar, bapak sama anak sama saja. Lihatlah mereka sudah guling-guling di lantai." Billa tersenyum melihat Ravi yang menemani putrinya untuk bermain.


Anak-anak yang lain muncul, mereka menghela nafas kasar melihat Asih yang mengatakan kucing menjadi harimau.


"Dasar aneh." Wira lanjut main game lagi.


Senyuman Vira terlihat menatap kakaknya yang sangat menyayangi Rasih, meskipun putrinya sangat nakal, tapi kesabaran Ravi sekuat Rama.


"Daddy, kenapa cacing Asih kecil?"

__ADS_1


"Karena dia belum besar." Ravi menahan tawa, melihat putri cantiknya yang sangat lucu.


"Ular Daddy di mana?"


"Surga, dia berpesan kepada Daddy jika nanti aku berpulang janganlah kamu bersedih, aku sudah bahagia karena memiliki tuan sebaik kamu. Jangan takut untuk mencari pengganti ku karena setidaknya kamu menyelamatkan kaum kami yang tertindas." Ravi tersenyum melihat Wildan yang menahan tawa, karena kata-kata itu yang pernah Wildan katakan saat Ravi kehilangan kucingnya.


"Asih sedih."


Suara Em menangis terdengar, harimau mengigit tangan Em yang sedang memegang makanan.


"Papa, aduh ... utus jali Em." Embun menangis melihat jarinya berdarah.


Semuanya langsung panik melihat Em yang mengatakan jarinya putus, Billa langsung berteriak.


"Mati aku, bisa dipecat menjadi istri jika putrinya terluka." Billa langsung menuruni tangga.


Vira dan Bella sudah tertawa melihat Billa yang panik, suara teriakan Em sangat besar.


Erik langsung menggendong putrinya, Ravi dan Wildan juga panik melihat tangan Em.


"Papa, jali Em iyang. Obat Papa."


"Enggak sayang, jari kamu belum hilang." Erik meniup jari kecil putrinya, memasukkan ke dalam mulutnya menghilang bekas darah.


"Udah cembuh, Papa hebat. Cayang Papa." Em memeluk Erik, langsung turun lanjut main lagi.


"Aman, kebiasaan Em selalu membesarkan masalah, kepalanya terkena meja makan, mengatakan kepalanya pecah hilang membuat panik satu rumah."


Ravi langsung tertawa, dia sempat khawatir melihat si gemes berteriak jari hilang.


Billa langsung mendekati Erik, mempertanyakan jari Em.


"Hilang jari Em."


"Enggak hanya luka kecil."


Semua yang ada di dapur langsung berlari melihat Em yang kehilangan jari, mengecek jarinya terutama Jum paling panik.


"Mana jari Em yang luka?"


"Cembuh, Papa Em doktel."


Semuanya bernafas lega balik lagi lanjut masak, Em juga lanjut main.


"Dokter Em bukan doktel." Wira menatap tajam Em yang hanya bisa menyebut doktel.


Asih bersembunyi membawa harimau, takut dimarah karena melukai cucu Bramasta.

__ADS_1


Wildan hanya tersenyum melihat Asih, rasanya dia ingin segera memiliki anak agar semakin heboh lagi.


"Tidak boleh nakal harimau, nanti Asih kutuk kamu menjadi cacing. Em itu cucu kesayangan Bramasta tahu, nanti seluruh keturunan kamu bisa dibasmi."


Wildan tertawa, mengusap kepala Asih merasakan gemes melihatnya menasehati kucing.


"Harimau jangan nakal, nanti dimarah." Wildan meminta Asih mengembalikan kepada staf untuk di rawat, jika ada di mansion nanti bisa melukai orang, juga melukai harimau sendiri.


Asih menurut demi kebaikan keluarganya juga harimau, Wildan memeluk Asih langsung mengambil harimau untuk membawanya pergi.


"Uncle awas." Wira langsung lompat agar tidak melukai Wildan.


Kucing yang berada dalam pelukan Wildan juga lompat, beradu lari bersama Wira sampai Wira tersungkur.


Ravi dan Erik yang melihat menundukkan kepala menahan tawa melihat si nakal Wira terjatuh, Wildan terdiam melihat Wira kaki di atas kepala di bawah.


Vira, Bella, Kasih, Binar sudah tertawa di lantai atas melihat kekacauan di bawah, Billa menutupi matanya melihat Wira.


Asih, Em, Ning, El dan Aka hanya terdiam melihat Wira yang langsung berdiri. Wajahnya kacau berjalan pincang.


"Mommy, Mom." Wira duduk melihat kakinya yang berdarah, sudah diperingati jangan bermain sepatu roda, tapi masih saja.


"Ada apa Wil?" Steven langsung mendekati putranya, menggendong Wira menjauh.


Wira tidak pernah menangis di depan banyak orang, Steven langsung membawanya ke kamar tangisannya langsung terdengar kuat. Mengamuk kepada Daddy-nya karena menahan malu.


Suara tawa Ravi, Erik dan Wildan langsung lepas, mereka tidak berani menolong Wira, karena dia akan mengamuk.


"Siapa yang jatuh Rav?" Windy muncul membawakan makanan.


"Siapa lagi jika bukan Wira." Ravi tertawa lucu, konyol sekali melihat tingkah Wira.


"Ada apa kak?" Tian mengambil kue."


"Biasalah, seperti tidak paham tingkah Wira." Windy melangkah pergi lagi.


"lihatlah yang lain diam, mereka sedih melihat Wira jatuh. Astaga lucu sekali melihat mereka semua." Vira terharu, menatap Asih, Ning, Em dan El juga Aka.


Mereka semua berjalan ke arah kamar, mengintip kakak mereka yang menangis bukan karena sakit, tapi menahan malu.


"Kak Wir, maafkan harimau." Asih membuka pintu.


"Kak Wir, atit ya. Papa obat nanti cembuh." Em meniup kaki Wira yang terluka.


"Lain kali jika di ruangan tertutup jangan bermain sepatu roda, untuk kak Wir sendiri yang jatuh, jika terkena yang lain bagaimana?" Raka menggelengkan kepalanya.


"Ya jatuh sama-sama." Wira menatap sinis.

__ADS_1


***


__ADS_2