SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 AMANAH BAPAK


__ADS_3

Satu bulan sejak kepergian bapak Kasih, semuanya sudah kembali normal. Tama sudah kembali bertugas menjalankan tugas negara, Cinta juga sudah kembali bekerja. Ibu kasih membuka toko kue yang tidak jauh dari rumah mereka, sesekali Kasih membantu ibunya terkadang juga Kasih menjadi supir taksi.


Langkah kaki Kasih mulai mendekati rumah kucing, dia masuk ke dalam menyapa para penjaga. Setelah sore semuanya pulang hanya tersisa Kasih yang memang terbiasa melukis di rumah kucing.


"Hai ular! nama kalian menakutkan. Tuan kalian memang benar-benar tidak normal."


"Kamu yang tidak normal, bicara dan menjawab sendiri." Ravi datang sambil membawa banyak makanan kucing.


Melihat Ravi datang, Kasih langsung cepat membereskan alat lukisnya untuk pulang. Kasih kebinggungan karena pintu terkunci, matanya menatap Ravi yang sudah naik ke lantai atas.


Cepat Kasih berlari mengejar Ravi yang sudah membuka pintu, Kasih juga membukanya dan cepat berlari tapi terheran-heran karena dia berada disebuah kamar. Kasih balik lagi ingin membuka pintu tapi binggung karena tidak ada handle pintu.


Wajah Kasih berubah pucat, melihat sekeliling kamar Ravi yang sangat rapi juga mewah. Lukisan yang terpasang di dinding miliknya yang hilang jadi Ravi yang mencurinya.


Buku-buku tersusun dengan Ravi, foto Ravi berserta keluarga juga sahabatnya.


"Ini mommy, daddy, Vira, Winda, Billa, Bella, kak Tama. Tapi yang lain aku tidak mengenalnya, oh iya ini dokter Erik." Kasih bicara sendiri sambil menatap foto.


Ravi sudah berdiri dibelakang Kasih yang asik melihat foto, Ravi baru selesai mandi.


"Ini aunty Reva dan uncle Bima orangtunya Windy, ini Uncle Bisma dengan aunty Jum orangtuanya Billa, Bella juga Tian." Ravi menuju kearah foto, membuat Kasih mengagumkan kepalanya.


"Ayah mereka kembar?"


"Iya, ini Uncle Ammar juga aunty Septi orangtunya Erik, mereka sahabat mommy sama daddy."


"Pria ini!" Reva menuju seorang pemuda.


"Manusia es! dia tidak ada di sini?"


"Ini keluarga kami juga?"


"Uncle Verrel berserta keluarganya, tapi aku tidak dekat dengan mereka. Pulang ke Indonesia hanya sesekali, sedangkan ini sahabat daddy uncle Ivan dan keluarga, aku juga tidak terlalu dekat."


"Sudah lama kenal dengan kak Tama?" Kasih masih fokus melihat foto kecil-kecil yang dibuat Ravi dan dipajang di dinding kamar.


"Sudah! dia sahabatnya Tian karena aku dan Tian kenal sejak kecil jadi sahabatan juga, kalau Erik memang sahabat aku jadinya kita satu klub."


"Ohhhh!"


Pintu kamar Ravi terbuka, Vira masuk sambil teriak karena Ravi hanya menggunakan handuk di pinggang. Sedangkan Kasih menempel di dinding, pikiran Vira langsung menuduh keduanya melakukan hubungan. Cepat dia berlari memanggil Mommy dan Daddy.


"Ravi kamu gila! kenapa tidak menggunakan baju?" Kasih juga ikut teriakan menutup matanya.

__ADS_1


"Kamu yang bertanya terus, belum sempat pakai baju." Ravi langsung mencari bajunya, Kasih binggung harus melakukan apa, ingin sembunyi tapi sudah ketahuan.


Teriakan Vira membuat heboh seisi rumah, Viana cepat naik ke atas melihat Kasih di depan pintu kamar Ravi. Vi mencari Ravi yang baru selesai menggunakan bajunya.


"Jangan salah paham Mom, Ravi tidak mungkin melakukannya."


"Apa yang kalian berdua lakukan?"


Kasih baru saja ingin menjelaskan, tapi Ravi menghentikannya. Tidak ada gunanya menjelaskan belum tentu juga orang percaya. Ravi langsung ke intimnya saja.


"Ravi bersedia menikahi Kasih Mom." Ravi dengan santainya menyisir rambutnya.


"Tapi kita tidak berbuat apapun, tadi Kasih tidak sengaja mengejar Ravi melalui pintu tapi tidak bisa keluar lagi."


"Kata Vira kamu nempel di dinding sedangkan Ravi berada di belakang kamu." Vi pelan menyebutkannya.


"mata Vira dipercaya, otaknya hanya berisi tahu tempe. Kasih sedang melihat foto, Ravi menjelaskan."


Kasih menggagukan kepalaku, Vira datang sambil menarik tangan Daddy yang keheranan melihat Kasih yang malu.


Viana mengandeng tangan Kasih, diikuti oleh Rama, Vira juga Ravi. Dari belakang Ravi sudah menjitak kepala Vira yang selalu membuat masalah.


Rama menatap istrinya, menatap Kasih yang hanya tertunduk malu. Dia merasa sedang dipergoki menggoda anak sultan. Tapi Kasih kesal melihat Ravi yang nampak santai memakan buah apel.


"Terserah Daddy, yang terpenting Ravi belum melakukan apapun."


"Daddy percaya sama Kasih dan Ravi, tapi tetap saja tidak pantas lelaki dan perempuan satu kamar sebelum menikah."


Kasih hanya terdiam, Rama menunggu jawaban Kasih soal keluarganya yang ingin melamar. Ravi hanya tersenyum menatap Kasih yang menatapnya malu-malu.


"Bagaimana Kasih? mau ya sayang." Viana menggenggam tangan Kasih.


"Tapi Mommy percaya sama Kasih, tidak mungkin Kasih dan Ravi melakukannya. Jikapun Kasih menerima untuk menepati permintaan terakhir bapak."


'Ya Allah Kasih, tidak mungkin Mommy tidak percaya, Ravi mommy yang mengandung dan membesarkan sampai dia tua." Viana memeluk Kasih sambil menciumnya.


"Kamu jangan pedulikan mulutnya Vira, tidak pernah ada yang benar."


"Ihhh Mommy! Vira mana tahu, namanya juga tidak berpengalaman."


"berani kamu mencobanya, kepala sama tubuh kamu Mommy buat terpisah."


Vira langsung memegang kepalanya, kepanikan Vira rasakan jika Mommy sudah membuat keputusan. Ravi hanya tertawa mengejek Vira yang melototi nya.

__ADS_1


"Masukkan pesantren saja Mom!" Ravi tertawa ngakak menggigat Winda yang menagis histeris karena akan dimasukkan pesantren.


"Satu Winda saja di sana pesantren heboh, ditambah Vira bukan sholat tahajud tengah malam tapi main jelangkung." Kasih tertawa beberapa hari yang lalu dia menemukan Winda melarikan diri dari pesantren dibantu oleh Vira Bella dan Billa.


"Kamu bisa tahu Kasih?" Vira sudah berlari masuk kamarnya.


"Iya mom, Kasih lagi mencari penumpang saat melihat keempat bocah terjun dari atas pagar.


"Astaghfirullah Al azim!" Rama hanya bisa istighfar dan mengelus dadanya.


"Kenapa tidak terluka?" Ravi menjadi penasaran, Viana juga, diikuti Rama.


"Menggunakan tali, jika Kasih boleh Kasih saran jangan terlalu dikekang. Mereka mengerti baik dan buruk tapi hanya untuk seru-seruan saja."


"Kamu mengenal baik keempatnya?" Viana tersenyum begitupun dengan Rama.


"iya mom, Kasih kenal mereka sejak mereka kelas 2 SMP, pertama kalinya mereka membuat masalah di pemakaman"


"Ya, kami dituntut habis-habisan, sampai uncle Bima yang harus bertindak."


"Vira gadis yang cerdas tapi manja, Winda juga cerdas, dewasa tapi egois, Billa gadis polos yang hanya mengikuti kakaknya Bella yang jahil juga ambisinya besar. Mereka hanya bosan pergi ke mall, makan restoran, main-main. Mereka hanya menginginkan suasana baru."


Selesai mendengar cerita 4sekawan, Kasih pamit untuk pulang. Ravi ingin mengantar tapi ditolak.


"Kasih, bicarakan dengan ibu kamu ya. Nanti kami sekeluarga akan datang."


"Iya mom, maafkan Kasih yang lancang masuk kamar Ravi."


"Tidak masalah sayang, nanti juga menjadi kamar kalian." Viana tersenyum.


Ravi mengantar Kasih sampai gerbang rumah, sambil dia bermain mata. Kasih berbalik lagi mendekati Ravi yang cengengesan.


"Ravi jangan terlalu senang! aku hanya menjalankan amanah bapak, setelah menikah. Aku akan mencari cara untuk berpisah." Kasih berlalu pergi.


"Kamu tidak akan bisa melakukannya, jika sudah masuk dalam kehidupan Ravi. Kamu tidak akan pernah bisa lepas lagi." Ravi tertawa dan melangkah masuk ke dalam rumahnya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2