
Selesai acara ulang tahun para keluarga juga orang tua kembali ke kamar karena masih ada waktu untuk beristirahat sebelum matahari terbit.
Ravi duduk bersama Kasih di pinggir kolam, Erik dan Billa duduk di tempat santai sambil berpelukan, Bella memejamkan matanya menjadikan paha Tian bantal.
Vira dan Winda sibuk makan, saat ingin menikah kebanyakan orang menghindari makan, tapi keduanya banyak makan.
"Wil, selamat ulang tahun. Kita saling mengenal saat kamu usia dua belas tahun, sudah cukup lama." Ar tersenyum menatap Wildan yang menganggukkan kepalanya.
"Kak Ar tidak ingin memberikan hadiah, bagaimanapun beberapa jam lagi aku menjadi kakak ipar." Wildan tertawa kecil, hanya bercanda.
"Kakak ipar, bukannya aku jauh lebih tua dari kamu. Vira adikku, lebih tepatnya keponakan." Ar merasa lucu melihat ekspresi Wildan yang juga binggung.
Keduanya mengobrol santai, memperhatikan Vira dan Winda yang ada di seberang mereka sedang asik makan daging.
"Ini kenang-kenangan, harganya tidak mahal bukan barang limited edition, tapi lumayan untuk koleksi." Ar memberikan jam tangan yang sangat bagus, Wildan tersenyum melihat langsung mencobanya.
"Bagus kak, Wildan menyukainya." Wil tersenyum menunjukkan jam nya kepada Ravi yang duduk mendekat.
Kasih memperhatikan jam tangan Wildan, senyuman Kasih terlihat. Dia sangat tahu jika jam yang Wildan gunakan jam yang baru saja launching.
"Beberapa bulan yang lalu jam ini launching di Paris, apa kak Ar CEO dari merek jam ini? tiga tahun yang lalu dia launching mobil terbaik yang laris dipasaran bahkan kehabisan, lalu launching lagi perhiasan yang tidak kalah Viral, baru saja perusahaan ini meluncurkan jam merek baru juga sedang ditunggu oleh para pengejar barang bermerek." Kasih mengagumi seluruh desain dari jam.
Senyuman Ar terlihat, memberikan Kasih sebuah kalung yang memiliki lambang keluarga Prasetya.
"Maaf Kasih aku tidak bisa menjawab, ini hadiah kecil untuk kamu." Ar menatap wajah Kasih yang tersenyum.
"Kenapa Kasih, seharusnya Winda yang memiliki kalung berlambang ini. Dia istri kak Ar." Kasih menatap Ravi yang mengerutkan keningnya.
Ar menceritakan jika saat dia lahir sudah ada kalung lambang keluarga Prasetya, kalung ini hanya satu-satunya yang tidak akan bisa di plagiat.
Awalnya Ar berpikir hanya kalung biasa, ternyata milik keluarga. Selama ini Ar tidak pernah menunjukkan kepada siapapun, karena dirinya hanyalah anak yang dilahirkan secara terpaksa.
"Kalung ini aku modifikasi lebih modern, serahkan kepada keturunan selanjutnya. Saat Raka menikah, berikan kepada Raka sebagai tanda jika dia keturunan Prasetya yang tertua. Jujur aku tidak tahu asal usul kalung ini, kenapa dia bisa ada bersamaku." Ar tersenyum melihat Ravi yang menyentuh kalung.
"Kak Ar lebih berhak." Ravi mengembalikan.
"Rav, kamu lebih tua dari aku kenapa memanggil kak?"
"Astaga lupa, mereka semua memanggil kak. Sorry soalnya lupa umur." Ravi cekikikan tertawa.
"Ravi, kamu jauh lebih berhak. Raka jauh lebih tua dari keturunan aku."
"Yakin, tapi sebaiknya membicarakan dengan Daddy."
"Aku sudah bicara, setelah pekerjaan aku selesai di luar negeri kita gabungan dua perusahaan agar lebih kuat lagi." Ar tersenyum menepuk pundak Ravi.
Erik bertepuk tangan, keluarga Bramasta bisa turun tahta, pemimpin hadir satu lagi manusia jenius yang mengimbangi Wildan.
__ADS_1
"Kak Tian sepertinya keluarga Prasetya tahun ini menjadi keluarga bisnis yang memiliki saham terbesar." Erik tersenyum mengejek Tian.
"Apa perusahaan kamu Ar? selama ini kamu hanya tahu kamu seorang dosen, juga pernah menjadi pilot." Tian menatap serius.
"Bukan perusahaan besar kak, setidaknya bisa mengurangi pengangguran."
"Perusahaan apa?" Ravi akhirnya penasaran juga.
"Kak Ar CEO perusahaan STAR GROUP, perusahaan terbesar di Paris." Wildan tersenyum, dia sudah lama tahu, tapi diam saja karena Ar selalu menutupi siapa dirinya.
Ravi, Tian, Erik, Kasih terdiam. Tidak heran Ar bisa berkeliling dunia dia ternyata Milioner muda yang jenius.
"Star group, perusahaan BB ada di bawah mereka." Tian menatap Wildan yang menganggukkan kepalanya.
"Ar maaf jika lancang, bagaimana kamu memulai semuanya?" Erik sangat penasaran..
"Aku bermain saham, setiap gaji bulanan aku tanamkan saham di beberapa perusahaan besar, semakin tinggi nilai, semakin banyak saham, setelahnya aku membangun perusahaan kecil. Setelah lima tahun menjadi perusahaan yang sekarang."
"Kenapa kak Ar memilih menjadi dosen?" Billa tersenyum sambil tepuk tangan pelan.
"Aku mencoba banyak pekerjaan untuk menemukan jati diri, menjadi dosen dan pilot menjadi tempat yang tenang, tidak menguras otak."
"Kenapa tidak menjadi dokter saja?" Erik menahan tawa.
"Kak Erik, satu-satunya pekerjaan paling luar biasa sebenarnya dokter, mereka ditugaskan menyelamatkan nyawa atas izin Allah. Ar tidak bisa, juga tidak punya keberanian untuk melihat darah."
"Sama, Ravi juga tidak bisa."
"Terima kasih kak Ar, ini hadiah pertama dari kak Ar." Bella tersenyum bahagia.
"Thank you kak Ar, Billa suka gambar Elang."
"Elang? punya Bella Bulan Bintang." Bella memeluk gelangnya.
"Elang harus terbang tinggi, menjadi sosok penyelamat seperti kedua orangtuanya, Ar tidak bisa merangkai gambar Embun, karena tidak terlihat bentuknya." Ar menundukkan kepalanya meminta maaf.
"Tidak masalah Billa menyukainya, di sini ada 2 E."
"Bulan bintang selalu berdampingan, sama seperti kisah cinta kak Tian dan Bella selalu saling menyinari."
"Pengen peluk, cium, tapi takut Winda mengamuk." Bella mencium Tian sebagai balasannya.
Semuanya melihat Winda dan Vira yang masih bertengkar soal makanan, tidak memperdulikan apapun pembicaraan orang.
"Wil, berikan ini kepada Vira sebagai kado ulang tahun juga kado pernikahan." Ar memberikan kotak kecil kepada Wildan.
"Terima kasih kak."
__ADS_1
"Punya Winda mana?" Bella langsung melihat kotak kecil milik Winda.
"Kalian berdua kapan berhenti makannya?" Ravi langsung menggelengkan kepala.
Vira langsung mendorong Winda, melangkah pergi mendekati Ar meminta kado ulang tahunnya yang sudah Ar janjikan.
"Lelaki sejati dia yang tepat janji?" Vira menatap tajam.
"Ada hadiah untuk kamu, ini hadiah pertama dari kak Ar. Lihat ke atas apa yang kamu lihat?"
"Langit malam, sebentar lagi subuh, sekarang sudah jam tiga." Vira berkeliling melihat ke atas langit, tapi tidak melihat apapun.
"Mana?"
"Fokus lihat ke atas, ada sesuatu yang kamu lihat." Ar tersenyum melihat Vira.
"Wow, indah sekali." Vira bertepuk tangan melihat formasi helikopter yang merangkai kata-kata ucapan selamat ulang tahun.
"Mana tangan Vira." Ar langsung menghubungi beberapa pilot untuk memberikan balon yang Ar minta.
Vira lompat-lompat bahagia melihat sebuah boneka besar dibawa oleh balon.
"Vira suka hadiah ini." Vira langsung memeluk bonekanya menari bersama boneka seukuran dirinya.
"Jika Rasih, Bening, Embun tahu habis kamu Ar." Ravi tersenyum melihat adiknya bahagia.
Winda langsung berdiri melangkah pergi, Ar langsung mengejarnya meminta Winda melihat ke atas, tapi menolak.
"Win sekali ini saja, lihat ke atas. Hadiah ulangtahun untuk kamu." Ar tersenyum menunjuk ke atas.
Senyuman Winda terlihat, bunga sakura gugur dari atas mengelilingi dirinya dan Ar. Winda sangat menyukai sakura, sehingga selalu ke Jepang hanya untuk bertemu musim sakura.
"Wow, apa ini?" Winda melihat sebuah balon besar mendekat. Ar membuka kotaknya membuat Winda teriak langsung memeluk erat barang antik kuda laut yang memiliki banyak warna yang terbuat dari keramik. Kerajinan yang dibuat seseorang, tapi tidak pernah tahu siapa orangnya.
"Vira juga ingin itu, Wil tolong bawa boneka Vira."
"Bella juga mau itu, sudah lama Bella menginginkannya." Bella langsung menangis.
"Billa juga mau, Winda Billa lama mencari pengrajinnya."
Winda berlari ke dalam hotel, dikejar oleh Vira yang memaksa ingin meminjam.
Ar hanya tersenyum melihat Bella menangis. Tian menepuk pundak Ar yang membuat istrinya merajuk.
"Ar bahagia kak Tian, melihat rancangan yang selama ini tersimpan, akhirnya digunakan oleh keluarga. Sebahagia ini memiliki mereka.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT JUGA DITUNGGU.
FOLLOW IG VHIAAZAIRA