SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 OBAT ABORSI


__ADS_3

Di bawah pohon Viana, Jum dan Reva sedang mengobrol sambil menasihati Bening yang baru sudah mandi, tapi guling-guling di jalan karena tidak diajak ke cafe bersama yang lainnya.


"Itu mereka pulang, berhenti mengamuk. Nanti Papi marah ke Mimi kalau Ning hobi mengamuk." Binar melempar putrinya dengan sendal yang baru sudah mandi, tapi kotor lagi.


Jum hanya tertawa melihat Bening, mencium wajah Tiar yang hanya duduk diam melihat tingkah nakal kakak perempuannya.


Asih menangis langsung memeluk Viana, wajah Vi sangat terkejut melihat cucu kesayangannya menangis kuat.


"Ada apa Vira? Kasih memukul Asih?"


"Tidak nenek, Aunty Kasih pergi ke rumah sakit bersama Mommy Windy." Embun menunjukkan wajah sedih, duduk di pinggir jalan.


Raka keluar bersama Elang langsung pulang ke rumah masing-masing, Bulan Bintang juga langsung dibawa masuk ke dalam rumah tanpa ada yang bicara.


"Ada apa Vira? kalian menangis?" Reva langsung mengendong Virdan yang mengantuk.


"Lin ingin menyakiti Vira dan baby twins." Winda duduk sambil meminta maid membawa Arwin ke dalam sedangkan Arum sudah duduk di bawah bersama Embun dan Asih.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? kenapa kalian membawa sembarangan orang ke rumah ini?" nada bicara Viana tinggi, anak-anak langsung dibawa ke rumah masing-masing.


"Kak Vi, Jum merasa Lin anak baik. Dia membutuhkan perhatian juga kasih sayang, Jum tidak melihat sikap buruk dari tatapan mata Lin." Jum tersenyum, meminta Vira menjelaskan dari awal pertemuannya dengan Lin.


Vira langsung memeluk mommynya, menceritakan semuanya tanpa ada yang dilewati sedikitpun. Air mata Vira juga menetes menceritakan betapa bahagianya dirinya bisa bertemu dengan Lin, dan membawa Lin ke dalam keluarganya.


Tidak pernah Vira bayangkan, jika Lin orang suruhan untuk masuk ke dalam keluarganya.


"Ini pertama kalinya Vira mempercayai orang lain selain keluarga kita, tapi tidak ada orang yang benar-benar tulus untuk berhubungan baik dengan Vira, meskipun Vira memperlakukannya dengan baik." Air mata Vira tidak berhenti menetes, sungguh menyedihkan mendengar pengakuan Lin.


Jum tersenyum, menepuk pundak Vira memintanya untuk memahami keadaan yang sebenarnya.


Jika menghitung berapa banyak orang baik dan buruk, tidak akan pernah ada habisnya. Di manapun berada akan terus ada orang baik dan buruk tergantung cara kita menyingkapinya.


"Vira, kita tidak berhak menilai baik dan buruknya seseorang, karena ada beberapa faktor yang membuat seseorang menjadi jahat."


"Benar, Binar juga orang jahat, bahkan sangat jahat. Binar bersyukur pernah ada di jalan yang salah hingga akhirnya bisa bertemu keluarga baik, membimbing Binar menjadi lebih baik lagi." Senyuman Binar terlihat, mengusap kepala Vira.

__ADS_1


"Sayang, jika orang jahat jangan kamu siram dengan air keras, karena dia memiliki luka yang akan semakin menyakitkan jika disakiti. Kamu memiliki pilihan untuk membalutnya, dan menyembuhkan."


"Vira gegabah sekali Bunda, Vira tidak pernah belajar dari masalah sebelumnya. Seharusnya Vira memeluk Lin yang memiliki pikiran untuk menghentikan kejahatan, Vira menampar dan memberikan tatapan benci yang membuatnya semakin terluka." Tangan Vira menutup wajahnya, mengingat kembali wajah Lin.


Kepala Winda dan Bella tertunduk, mereka juga sama tidak pernah bisa kontrol emosi. Selalu melakukan sesuatu dengan gegabah, tidak pernah mendengarkan penjelasan, tetapi langsung menghakimi.


Reva mencubit telinga Winda, terlihat sekali wajah menyesal putrinya yang sulit kontrol emosi.


"Mommy tahu kalian ingin saling melindungi, tapi lihat lawan kalian siapa? kalian seorang ibu, harus belajar dewasa di depan yang lebih muda, sikap manja tunjukkan saja kepada suami." Tatapan Reva tajam, meminta semuanya kembali ke rumah.


Suara mobil Ravi pulang terdengar, Asih berlari kencang ingin pergi ke rumah sakit untuk melihat Lin.


Embun juga langsung memeluk kaki Ravi, menunggu Papanya terlalu lama.


"Embun pakai baju dulu, perempuan tidak boleh tidak menggunakan baju keluar rumah." Ravi meminta si kecil masuk ke rumah.


"Daddy, ayo kita pergi." Asih mengamuk memukuli Ravi.


"Nanti sayang, kita tunggu kabar dari mommy."


Billa hanya bisa memijit pelipisnya, melihat putrinya lari-larian mengunakan jas hujan yang kebesaran.


"Bisa di masukan ke dalam perut lagi tidak? kenapa putriku modelnya begini? Billa langsung berlari mengejar Embun yang berlari kencang ke dalam rumah.


"Embun, kamu menuruni sikap Erik yang selalu membuat tawa." Jum meminta Bella masuk ke rumah untuk bersih-bersih.


Ravi mengendong Putrinya ke rumah orangtuanya, mendengarkan penjelasan Vira soal Lin. Ravi ikut merasakan sedih, karena orang dewasa memanfaatkan anak yang masih membutuhkan perhatian.


Mobil Wildan juga tiba, langsung memeluk Vira yang menangis, mereka tidak mengetahui siapa yang memerintah Lin, bahkan tidak tahu siapa ayah Lin.


Dia hidup bersama ibunya, ditinggal oleh ayahnya dan bertahan hidup dengan ibunya.


"Kalian semua pulang dulu, kita tunggu kabar dari Erik dan Windy." Viana melangkah masuk ke dalam rumah, karena matahari hampir terbenam.


***

__ADS_1


Mobil ambulance tiba di rumah sakit, dokter sudah bersiap langsung menyambut tubuh Lin yang penuh darah.


Darah yang keluar bukan lagi merah, tapi sudah berubah menghitam. Wajah Lin juga membiru sampai ke sekujur tubuhnya biru lebam.


"Erik, dia keracunan. Ini gelas yang berisikan racun." Kasih meminta Erik segera bertindak.


"Aku tidak yakin dia bisa selamat, racun sudah menyebar. Mungkin juga merusak organ vital, seperti jantung dan paru-paru dan merusak saraf." Erik meminta dokter lain untuk meneliti racun yang masuk ke tubuh Lin.


Erik menatap Windy yang mondar-mandir di depan pintu ruangan, melihat kesedihan di wajah kakak perempuannya.


"Kak Windy, ayo duduk."


"Rik, kenapa kamu tidak masuk?" Windy menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Bukan bagian Erik kak, lagian Erik tidak bisa membantunya." Baju jas kedokteran Erik buka, langsung memasangnya untuk Windy, menutupi baju kakaknya yang penuh darah.


Erik mempertanyakan apa yang terjadi, hanya bisa memijat pelipisnya mendengar cerita Windy soal keributan di cafe.


Steven melangkah mendekat, Windy langsung menangis dalam pelukan suaminya, meminta Steven mencari dokter yang bisa menyelamatkan Lin.


Stev tidak tahu apapun soal Erlin, bahkan melihat baru satu kali. Tatapan Stev mengarah kepada Erik yang tertunduk.


"Di mana Wira?" Stev memeluk putranya yang meminta Daddy-nya memberikan dokter terbaik.


"Bagaimana menurut kamu keadaan dia Rik?"


"Belum bisa dipastikan kak, kita tunggu saja. Semoga kita punya harapan untuk menghentikan racun agar tidak semakin merusak tubuhnya."


"Seharusnya racun itu untuk mengugurkan kandungan, tapi Lin meminumnya."


"Apa kak? berarti ada sangkut pautnya dengan obat aborsi." Erik langsung berlari ke arah lab untuk melihat langsung racun yang Lin minum.


***


Done satu bab,

__ADS_1


__ADS_2