
Langkah kaki Tian masuk ke dalam rumah orangtuanya, melihat fotonya bersama kedua adiknya, Bunda dan Ayahnya. Air mata Tian menetes, tidak sanggup berpisah, menjadi orang yang dibenci Billa dan Bella.
Bisma melihat Tian yang menangis sesenggukan, memukul dinding. Dadanya terasa sesak melihat Billa yang biasanya sangat manja, tapi menatapnya sinis, tidak bisa Tian bayangan sikap Bella, sedangkan Billa saja bisa berubah.
"Maafkan kak Tian dek."
"Ada masalah apa Tian?" Bisma membalik tubuh Tian untuk menghadapinya, Tian menundukan kepala, tidak berani menatap Bisma.
"Jawab Ayah, ada masalah apa?" Bisma mengangkat wajah Tian.
"Ayah." Tian langsung berlutut, bersujud di kaki Bisma, memeluk erat kaki Ayahnya sambil menangis kuat.
Jum yang baru sudah mandi kaget, langsung keluar kamar melihat putranya bersujud sambil menangis.
"Berdiri Tian, Ayah tidak suka melihat kamu menangis lemah. Katakan kepada Ayah agar bisa mengerti, bukan menangis seperti anak kecil." Bisma bicara dengan nada tegas, Jum tidak berani turun, jika suaminya sudah meminta anak-anaknya terbuka.
"Ayah,"
"Berdiri!"
Tian langsung berdiri, menghapus air matanya, tapi kepalanya masih menunduk. Bisma mengangkat kepala Tian yang terlihat sangat terpukul, ini pertama kalinya Bisma melihat Tian paling bersedih, sekalipun Tian tahu Ibunya gila, sampai meninggal Tian masih kuat.
"Ada apa Tian? kamu punya Ayah tempat kamu bersandar." Bisma memeluk Tian, menepuk punggungnya, mengelus kepalanya.
"Tolong Tian Ayah, Tian tidak ingin kehilangan keluarga ini, Tian sangat menyayangi keluarga ini Ayah. Tolong Tian." Tian mengeratkan pelukannya.
"Selama Ayah masih bernafas, kamu putra utama keluarga ini Tian, kamu penerus Ayah dalam memimpin keluarga, jika pemimpin hilang, maka keluarga kita hancur, kamu akan terus bersama kami." Bisma menghapus air mata Tian, menegakkan kepalanya untuk kuat.
Tian menarik nafas panjang, keputusan Tian akhirnya kembali untuk meminta Ayahnya yang bertindak, Tian tidak sanggup melukai ketiga adiknya. Tian menceritakan hubungan Laura dengan Erik, Laura keguguran, ingin bunuh diri sampai hampir meninggal, Erik melihat kesamaan dengan Tian sampai akhirnya bisa melakukan tes DNA, Erik menemukan kebenaran jika Laura adik kandung Tian satu Ayah beda ibu.
Tian juga menceritakan tujuan Laura yang ingin menyakiti Bella, rencana awal mereka untuk menghentikan Laura, menyelamatkannya dari kekejaman dunia, Tian ingin melindungi adiknya, mencari tahu pelaku utama yang ingin menghancurkan hubungan Erik dan Billa.
Keadaan semakin memburuk saat Bella datang, bertengkar dengan Laura sampai Laura cedera cukup parah, melakukan operasi dibeberapa bagian tubuhnya, bahkan kepalanya, sekarang harus di rawat di rumah sakit dengan pengawasan ketat, lebih buruknya lagi, kemungkinan Laura hilang sebagian ingatan, hal yang paling Tian takuti, Laura hanya mengigat Erik, memaksa untuk bersama Erik, pasti akan menyakiti Billa.
__ADS_1
Bisma sampai duduk lemas, sejujurnya Bisma tidak bisa menyalahkan Tian dan Erik, tapi kedua putrinya juga berhak marah, sekarang rasa bimbang sudah pindah ke pundak Bisma.
"Ayah apa yang harus Tian lakukan?"
"Bisa kamu bunuh saja bapak kamu Tian, semua ini berawal dari dia. Laura hancur karena keegoisan orangtuanya. Apa harus Ayah yang membunuhnya." Bisma menatap marah.
Jum turun memukuli Bisma yang mengajari Tian membunuh, Bisma langsung memeluk istrinya jika dia hanya bercanda, Tian tidak mungkin melakukannya.
"Maaf sayang, lagian Ayah yakin Tian tidak mungkin menyakitinya."
"Tian memang berencana membunuhnya Ayah." Tatapan Tian tajam, Jum menatap lebih tajam lagi.
Pukulan berpindah kepada Tian, Jum sampai menangis melihat putra yang dia besarkan punya niat seburuk itu. Tian juga menangis memeluk Bundanya memohon maaf.
"Tian takut Bunda, Billa menatap sinis Tian, Bella bahkan menunggu kematian Laura, berarti mereka membenci Tian."
"Bunda yang membesarkan kalian bertiga, Bunda tidak akan membiarkan rasa benci di hati kedua adik kamu. Billa memiliki hati yang lembut, jika dia marah hanya untuk membela diri, jika Billa kamu pasti paham, kemarahan dia hanya tindakan, hati dan ucapannya berbeda." Jum memeluk Tian, memintanya jangan pernah balas dendam, karena tidak akan pernah ada habisnya.
"Tian menyakiti kedua adik Tian, Tian membohongi Billa, Tian juga mengabaikan Bella yang terluka, Tian gagal menjaga kedua adik Tian."
"Memangnya Bunda ingin pergi ke mana?" Bisma menatap Jum yang sudah melangkah ke lantai atas.
"Menjenguk Laura,"
"Bunda sebaiknya kita mencari Bella dan Billa, untuk memperjelas semuanya."
"Tidak ada yang perlu diperjelas Ayah, mereka bisa memutuskan sendiri yang terbaik, saat ini rasa kecewa sedang menutup hati mereka, tidak ada gunanya kita bicara."
***
Mobil Tian sudah di rumah sakit, Jum langsung turun menuju ruangan Laura yang sudah baru saja sadar, dia hanya ingin bertemu Erik selalu menggenggam tangan Erik tidak mengizinkan Erik pergi sebentar saja.
Jum mengetuk pintu, tatapan mata Laura tajam melihat Jum. Erik langsung mencium tangan Jum, langsung pamitan untuk keluar.
__ADS_1
"Erik jangan tinggalkan Laura." Laura ingin mengambil tangan Erik, tapi sudah berlari keluar.
Jum duduk di kursi tersenyum melihat Laura, sedangkan Laura cemberut tidak menyukai Jum.
"Bagaimana keadaan kamu nak?" Jum mengelus kepala Laura.
"Buta, mata kamu bisa melihat keadaan aku yang hampir mati. Masih bisa bertanya keadaan."
"Alhamdulillah, ternyata kamu tidak hilang ingatan, kebencian masih ada di hati kamu. Jika kamu hanya mengingat hal indah pasti sekarang tersenyum manis. Bunda bersyukur kamu dalam keadaan baik, setidaknya mengobati rasa bersalah Tian."
"Tentu Tian merasa bersalah, adiknya hampir membunuhku."
"Dia calon istri Tian, pertengkaran kalian bukan hanya menghancurkan pernikahan Billa Erik, tapi juga menghancurkan hubungan Bella dan Tian. Bunda berharap kamu juga yang bisa menyatukan mereka kembali Laura."
"Bicara apa kamu nenek peot."
Jum langsung tertawa, Laura satu-satunya yang tidak mengatakan jika dirinya cantik di usia tuanya. Jum merasa lucu menjadi nenek peot, kata yang selalu Viana dan Reva katakan jika dulu ada mencoba mendekati suami mereka.
"Bunda tidak suka nama Laura, mulai sekarang nama kamu Binar. Bunda dulu ingin sekali nama Binar, tapi putri Bunda kembar tidak mungkin namanya Binar dan Benar. Tian memberi nama mereka Bella dan Billa, dua malaikat kecil kami yang selalu bertengkar, Tian yang selalu menggendong Bella sedangkan Billa akan menangis mengejar ingin digendong juga, sekarang mereka sudah besar, Bunda sedih sekali melihat mereka berselisih paham." Jum meneteskan air matanya, Laura tidak menyadari jika air matanya juga menetes.
"Binar jangan menangis, kamu lagi sakit sayang, nanti sembuhnya lama. Kamu wanita kuat, kamu bisa melawan luka di hati kamu, mulai sekarang Binar tidak sendiri, ada Bunda, ada kak Tian, ada Ayah juga yang akan melindungi kamu." Jum menghapus air mata Laura, mencium keningnya.
"Namaku Laura, bukan Binar."
"Sekarang Kamu Binar, kamu adiknya Bastian, kakaknya Bella dan Billa. Sekarang kamu istirahat, besok Bunda datang lagi, membawakan makanan untuk kamu, katakan apa makanan kesukaan Binar."
"Aku hanya ingin masakan Ibu." Laura membuang pandangannya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***