SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KETURUNAN


__ADS_3

Semuanya kumpul untuk sarapan, jika berkumpul mustahil terasa sepi ditambah lagi anak-anak yang semakin aktif.


Steven menatap Bisma sambil tersenyum, berbicara pelan jika ada hal yang ingin dia dan Wildan pertanyakan.


Senyuman Bisma terlihat, meneruskan makanannya menatap Wildan yang diam sambil memegang sendok.


Ada hal yang Wildan pikirkan sejak penyerangan Lin di rumah sakit, karena ada hal yang mengganjal.


Awalnya Wildan tidak pernah tertarik untuk ikut campur dengan Lin, apalagi mengingat perbuatan Lin yang hampir mencelakai anaknya.


Melihat air mata kakak pertamanya, membuat Wildan harus terlibat. Pasti ada hal yang ada sangkut pautnya dengan keluarga mereka.


"Makan dulu Wildan, nanti kita bicara bersama-sama." Suara pelan Bisma terdengar, kepala Wildan langsung mengangguk mengerti.


Viana dan Reva saling pandang, mereka sangat penasaran dengan identitas keluarga Lin yang sedang, Ravi, Stev, Ar dan Wildan selidiki.


"Erlin, nanti ikut Daddy bicara di ruang rapat."


"Ada ruang rapat juga di sini? berapa besar rumah ini?" Lin menatap sekeliling.


"Ini hotel kak Lin, setiap hotel pasti ada yang namanya ballroom atau tempat pertemuan khusus para pejabat." Asih menggelengkan kepalanya.


"Oh, jadi ini hotel."


"Ini mansion, hotel ada di lantai bawah kita. Kak Lin tahu apartment tidak? jika apartemen kecil ini tempat kita tinggal sejenis apartment tapi kita sebut mansion karena besar." Em menjelaskan sambil berputar-putar menunjukkan besarnya Mansion.


Kepala Lin menggeleng, dia tidak tahu perbedaan hotel, apartemen, Mansion. Lin hanya tahu rumah sederhana, meskipun sekarang sudah menjadi milik orang lain.


"Tenang saja kak Lin, nanti Wira ajarkan apapun yang ingin kak Lin ketahui."


"Terima kasih Wira."


"Kenapa kak Lin butuh belajar? dia sudah besar." Asih mengunyah makanannya menatap Wira yang tersenyum.


"Segala sesuatu butuh belajar Asih, kamu sebelum bisa makan sendiri juga disuapi, belajar perlahan baru mandiri."


Asih mengerutkan keningnya, dia tidak pernah diajar, tapi diancam Mommynya. Jika tidak makan sendiri tangannya akan dipotong.

__ADS_1


"Apa benar kak Lin sekarang menjadi anak angkat keluarga Alvaro? kenapa? apa karena dia tidak punya keluarga? apa karena dia orang miskin?" Nada dingin Raka terdengar, menatap Wira yang sudah menghentikan makannya.


Ravi dan Kasih saling pandang, kecewa dengan cara bicara Raka yang keterlaluan, secara tidak langsung dia sedang menghina Lin dan keluarga Alvaro.


Ravi langsung berdiri, Steven menarik tangan Ravi untuk duduk, biarkan menjadi pembicaraan anak-anak.


Viana menatap Bima yang langsung berhenti makan, meneguk air minum memperhatikan wajah Elang dan Bintang.


"Apa maksudnya kamu Raka?"


"Bintang, tidak suka sikap kak Aka." Tatapan Bintang tajam.


"Kenapa? kamu masih kecil belum mengerti apapun?"


"Cukup Raka, jika kamu penasaran tanyakan padaku, bukan menyerang secara langsung." Maat Elang tajam, meminta Bintang mengubah ekspresi untuk tidak marah.


"Aku bicara dengan Sherlin dan Wira Alvaro bukan Elang dan Bintang Bramasta." Aka langsung melangkah pergi dengan senyuman sinis.


Lin tersenyum, meminta Aka duduk. Dia bahagia bisa menjadi bagian Alvaro, kenapa dia diangkat anak mungkin sebagai dari doa kedua orangtuanya.


"Aku memang terlahir miskin Aka, juga penuh kesedihan karena langsung menjadi yatim piatu. Apa salah jika aku ingin memiliki keluarga? apa salah aku ingin memiliki Ayah ibu? apa orang miskin dan yatim piatu seperti Lin tidak punya hak untuk bahagia?" Lin tersenyum mengusap matanya meminta jawaban dari Raka.


Raka tersenyum tipis, menatap tajam Lin untuk mendengarkan baik-baik ucapannya. Apapun yang bersangkutan dengan keluarga Alvaro juga bagian dari Bramasta, apapun yang bersangkutan dengan Bramasta juga menjadi urusan Prasetya.


"Aku hanya ingin mengingatkan kak Lin, keluarga kami sangat besar, bukan hanya Prasetya ataupun Bramasta. Ada keluarga Alvaro, Arsen, keluarga kakek Ammar, juga keluarga lainnya. Aku sebagai cucu pertama Prasetya hanya ingin antisipasi untuk mengingatkan cucu pertama Alvaro untuk berhati-hati. Aka harap ini tidak benar jika kak Lin keturunan keluarga mafia, dan pastikan saat ini kak Lin menetapkan hati untuk ada di sisi kami, dan memutuskan untuk tidak pergi jika ada pilihan." Aka langsung melangkah pergi tanpa menunggu pertanyaan lainnya.


Wajah Lin langsung terkejut, menatap Wira yang mengunyah buah-buahan sambil tersenyum melihat Raka yang selalu peduli, tapi menakutkan.


"Kak Aka, kenapa mengatakan semuanya di depan semua orang. Kita belum menemukan kebenaran soal mafia itu." Elang langsung mengejar Raka yang sudah masuk ke kamar.


Asih dan Embun langsung bersemangat, berjalan cepat ingin melihat perdebatan Aka dan El.


"Wow, Asih suka mafia."


"Mafia itu apa?" Bulan menatap kakaknya.


"Kak Lin juga tidak tahu mafia, hanya tahu dia suka berkelahi." Lin mengaruk kepalanya.

__ADS_1


"Mafia juga dirujuk sebagai La Cosa Nostra (bahasa Italia: Hal Kami) adalah panggilan kolektif untuk beberapa organisasi ilegal di Sisilia dan Amerika Serikat. Mafia awalnya merupakan nama sebuah konfederasi yang didirikan oleh orang-orang dari Sisilia pada Abad pertengahan untuk tujuan memberikan perlindungan ilegal, pengorganisasian kejahatan berupa kesepakatan dan transaksi secara ilegal, abritase perselisihan antar kriminal, dan penegakan hukum sendiri (main hakim). Konfederasi ini kerap kali terlibat dalam kegiatan perjudian, penipuan, perdagangan manusia dan narkoba, pencucian uang/penggelapan dana." Wira langsung tertawa lucu melihat wajah Lin, Arum dan Bulan yang kebingungan.


"Mafia jahat tidak?"


"Ilegal itu tidak resmi Arum." Bintang melangkah pergi ingin menemui Raka.


"Berarti Lin anak orang jahat?"


"Eits, jangan lupa apa yang Raka katakan. Kak Lin bagian keluarga ini jangan coba-coba untuk pergi, karena kami mudah cemburu." Wira tersenyum melangkah pergi.


"Mafia lahir tahun belapa?" Arum menatap kedua kakaknya yang diam saja.


"Abad ke-19." Virdan menyudahi makannya.


"Meleka punya saudala?"


"Anggota, namanya Mafioso atau pria terhormat." Arwin melangkah pergi mengikuti Virdan yang ingin menonton.


"Mereka tahu semuanya soal Mafia? keturunan yang jenius. Laki-laki anak yang pintar, lalu yang perempuannya anak apa?"


"Bodoh, kak Lin yang petama bodoh." Arum langsung berlari mengejar kakaknya sambil tertawa.


Bulan menepuk pundak Lin, langsung berjalan pergi membawa botol susunya. Tatapan Lin langsung pindah ke meja para orang tua yang terdiam melihat ke arah Lin.


Steven tersenyum, menatap Ravi yang kebingungan. Dari mana putranya tahu soal pencarian mereka.


Erik juga gemetaran memegang gelas, karena putranya juga bisa tahu sedangkan dirinya juga tidak ingin tahu.


"Apa benar?"


"Belum terkonfirmasi sayang, tidak peduli apa asal usul kamu, jangan pernah pergi dari keluarga kami." Windy memeluk Lin erat.


Bisma meminta semuanya kumpul di ruang rapat untuk membicarakan soal keluarga Lin, juga pelaku yang menyerang Lin.


***


DONE 2 BAB.

__ADS_1


__ADS_2