
Matahari bersinar sangat cerah, Lin membuka matanya melihat sekitarnya yang sepi. Melangkah keluar kamar dan melihat seisi rumah sepi.
Wajah Lin langsung panik, berlari mengendor setiap kamar berharap ada satu saja orang berada di dekatnya.
"Di mana kalian? Daddy, katanya akan melindungi Lin. Kenapa kalian semua pergi meninggalkan Lin?" Langkah kaki terhenti, melihat Asih bangun sambil menguap sangat besar.
Di tangan Rasih memeluk seekor anak kucing, digantungkan di lehernya. Embun juga bangun menguap, matanya masih terpejam, memarahi Lin yang masih pagi sudah berteriak.
"Maafkan, aku pikir ditinggalkan sendiri." Senyuman Lin terlihat, menatap pintu kamar Wira terbuka.
Wira berjalan mendekat sambil matanya yang masih menutup, rambutnya yang acak-acakan.
"Ada apa kak Lin teriak?" Tatapan Wira masih sangat sayu.
Kepala Lin menggeleng, dia hanya terkejut melihat suasana mansion sepi tidak ada suara keluarga yang biasanya heboh.
"Kak Lin tidak sholat ya? jam segini waktunya tidur." Em melangkah masuk lagi.
”Good morning." Vira tersenyum setelah membawa baby untuk berjemur bersama anak-anak yang lain.
"Kak Vira dari mana?" senyuman Lin terlihat langsung ingin menggendong twins V.
Vira meminta Lin duduk, karena tubuh Erlin masih lemah. Langsung menyerahkan anaknya agar dijaga oleh kakaknya.
"Siapa namanya?"
"Tidak tahu, Mami juga tidak tahu cara membedakan mereka." Vira melihat kaki anaknya yang memiliki gelang nama, barulah Vira tahu nama anaknya.
Lin mengerutkan keningnya, ibu yang melahirkan saja tidak tahu beda anaknya. Lin tersenyum mengusap wajah, mata Vio terbuka memperhatikan Lin.
Winda juga muncul membawa Vani, menciumnya tanpa rasa bosan. Lin memperhatikan dua bayi yang memang sangat mirip.
"Lin tahu apa bedanya mereka?"
Vira dan Winda langsung menatap serius, membanding kedua bayi cantik dan menunjuk bola mata keduanya yang memiliki warna mata yang berbeda.
"Oh iya, satu mirip Wildan dan satunya mirip Winda." Mata Vira menatap kesal, tidak menyukai perbuatan twins yang sepenuhnya mirip keluarga Bramasta.
Lin langsung tertawa, mencari perbedaan lain dan tidak bisa menemukan apapun membuat Winda dan Lin tertawa.
Kasih terdengar sudah mengomeli putrinya Asih, Embun menangis histeris karena ulah Rasih yang tidur membawa kucing.
__ADS_1
Suara tangisan Em sangat histeris membuat semua orang langsung kumpul, Billa bukan menghentikan tangisan putrinya, lanjut tertawa lucu.
Asih langsung menangis mengejar Mommynya yang ingin membuang anak kucingnya, Asih memeluk erat kaki meminta maaf.
"Kasih, kembalikan cacing Asih." Ravi menatap tajam.
Perdebatan Ravi dan Kasih terdengar, pertengkaran keduanya selalu terjadi karena Asih yang membuat masalah.
Suara tangisan Lin juga terdengar, langsung berdiri di atas meja karena takut dengan cacing. Bagi Lin cacing hewan yang sangat menjijikkan.
"Kenapa menambah lagi yang menangis? cacing itu ular." Ravi berteriak kuat, teriakan Lin semakin besar sampai lompat-lompat di atas meja karena mendengar nama ular.
Semua keluarga yang menonton keributan menahan tawa, melihat tingkah Lin, Asih dan Em yang beradu tangis.
Mendengar keributan Bulan, Arum juga keluar melihat kekacauan dengan wajah bantal.
"Astaghfirullah Al azim, masih pagi sudah bertengkar, ribut. Ada apa Ravi?"
"Lihat saja tingkah Ravi Bunda, dia selalu menuruti keinginan Asih yang gila memelihara cacing, sedangkan dia juga memelihara ular, aku yang mereka jadikan babu untuk membersihkan kotoran." Kasih menatap tajam, kesal melihat suami dan anaknya.
"Kamu memanggil apa?" Ravi berjalan mendekat.
"Lanjut, teruskan, pakai emosi terus." Viana menatap tajam putra dan menantunya.
"Ayo lanjut, ini ada kamera untuk merekam pertengkaran rumah tangga gara-gara tahi." Erik tertawa kuat, mengejek putrinya yang masih menangis duduk di lantai.
"Bagaimana bentuk tahi ular?" Lin menatap semua orang yang langsung tertawa kuat melihat ekspresi wajah Lin yang polos.
Wira langsung duduk, menatap keributan yang membuatnya tidak bisa tidur dengan tenang.
Tawa belum juga berhenti melihat Em menunjukkan bajunya yang penuh kotoran, karena tidur di atas tahi cacing Asih.
Mata Lin melotot memperhatikan baju Em, mengerutkan keningnya langsung menutup hidung.
"Cacing, ular itu kucing kak Lin." Wira menguap sambil menunjuk kucing yang ada dalam pelukan Asih.
"Kucing? kenapa namanya ular cacing? jadi di baju Em tahi kucing?" Lin langsung ingin mual melihat Em yang langsung lompat-lompat marah, karena bajunya banyak tahi.
Jum memukul Billa dan Erik yang menertawakan anak mereka, tidak berpikir untuk membersihkannya.
Asih menyerahkan kucingnya kepada Jum untuk dibersihkan juga, dia akan meletakkan kucingnya di penangkaran kebun binatang di lantai bawah.
__ADS_1
"Asih, minta maaf dulu." Kasih menatap putrinya yang tersenyum mengusap air matanya.
"Kamu juga minta maaf Kasih."
"Tidak mau, kamu mulai sekarang tidur sama Rasih. Jangan dekati aku, bapak sama anak sama saja." Kasih langsung melangkah pergi untuk melanjutkan pekerjaannya di dapur.
Satu-persatu mulai bubar, pergi dengan kesibukan masing-masing meninggalkan Lin yang masih duduk di meja dengan wajah binggung, juga Wira yang lanjut tidur di sofa.
"Dek, di mana Daddy Mommy kamu?" Lin menceritakan soal apa yang Steven katakan, Lin sudah memikirkannya untuk tidak menerima, karena nanti keluarga Stev bisa dalam bahaya.
Wira hanya tertawa kecil sambil memejamkan matanya, kepalanya berada di pangkuan Arum yang masih memejamkan mata.
Bulan juga langsung naik, tidur di atas tubuh Wira menempel seperti cicak.
"Kak Lin harus segera pergi dari sini."
"Jangan membantah Daddy, nanti semakin membuat masalah. Daddy tidak mudah dekat dengan siapapun, hargai keputusan Daddy."
"Kak Lin hanya mengkhawatirkan keluarga kamu." Lin menghela nafasnya melihat Wira masih memejamkan mata.
"Kak Lin tidak tahu siapa keluarga Alvaro, aku putra satu-satunya dari Steven, sedangkan dari Uncle Stevero ada satu putra dan dua putri. Dua bersaudara yang namanya paling terkenal, juga salah satu kerajaan bisnis terbesar di luar." Wira menceritakan soal status keluarga yang harus dikawal oleh pengawal.
Keturunan Alvaro tidak ada yang bisa berkeliaran tanpa pengawal, baik jarak dekat maupun jauh. Bahkan kakak perempuannya memiliki lima pengawal pribadi.
"Wow, hebat."
"Daddy tidak sembarang memilih orang, seharusnya kak Lin bersyukur menjadi putri Daddy karena banyak duitnya. Kita bisa menghabiskan uang Daddy bersama-sama." Tawa Wira terdengar, tanpa membuka sedikitpun matanya.
"Kamu tidak takut kasih sayang terbagi, apalagi kamu putra semata wayang."
Mata Wira terbuka, dia tidak pernah merasa kasih sayang terbagi. Hidup sebagai anak satu-satunya membuat Wira sedih, karena Mommy dan Daddy-nya selalu mengkhawatirkan dirinya, selalu fokus kepadanya. Wira ingin Mommynya memiliki teman.
"Aku ingin menjadi anak kecil yang dewasa, tapi Wira tidak bisa karena harus bertengkar dengan Mommy. Kak Lin akan merasakan berurusan dengan mommy. Jangan berpikir untuk pergi, Daddy bisa marah. Satu hal lagi, kita bukan hanya keturunan Alvaro, Bramasta, tapi ada keturunan kerajaan." Wira melanjutkan lagi tidurnya.
Lin tersenyum langsung melangkah mendekati Wira, mencium pipinya memejamkan mata ingin ikut tidur bersama anak-anak nakal.
Dari jauh Stev dan Windy menatap anak mereka, sudah saatnya mereka menangkap pelaku, sebelum Lin dalam bahaya lagi.
"Ay Stev, apa benar dia putri seorang mafia?" Windy menatap tajam suaminya.
***
__ADS_1