SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MELIHAT ANAK CUCU


__ADS_3

Senyum Erik terlihat menatap wanita cantik di belakangnya, Billa menyambut tangan Erik langsung menciumnya. Erik juga mencium kening Billa.


"Sayang, jika kak Erik salah tegur ya, maafkan juga jika tidak memahami kamu, kita jadikan kekurangan kita untuk saling melengkapi."


"Iya kak, Billa bahagia mimpi Billa ternyata nyata."


"Hayo, kamu sering memimpikan kak Erik."


"Enggak." Billa langsung tertunduk malu.


Erik tertawa memeluk erat Billa, langsung melangkah ke luar, untuk menemui seluruh keluarga yang ternyata sangat ramai dan sudah berkumpul semua.


Dari lantai atas, Erik melihat banyaknya keluarganya. Dulu Erik merasa dirinya sendiri, tapi sekarang dia memiliki banyak orang yang mencintainya.


Pernikahan yang batal sudah dirubah menjadi pernikahan termewah, bahkan keluarga dari luar Negeri juga hadir. Kebahagiaan terbesar yang Erik syukuri didampingi oleh Papa dan Mama, walaupun tanpa Ibu kandungnya.


"Pengantin baru cepat turun, makan dulu, kalian butuh tenaga untuk malam, pasti ada pertempuran." Kakek Erik melambaikan tangannya meminta Erik turun.


"Kakek, Kakek sudah tua masih saja genit." Erik turun bersama Billa.


"Ake, kenapa Uncle harus bertempur, berarti main tembak-tembakan?" Wira melongo melihat kakek Erik mengaruk kepalanya.


"Iya, ada tembakan juga. Nanti bisa jadi bayi."


"Wow, Wira juga mau ikut bertempur, kalau Wira menang, hadiahnya adik kecil." Wira bertepuk tangan langsung berlari mencari tembak, memanggil teman-temannya.


"Kakek, otak anak kecil dibuat kotor." Erik menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana hasilnya Erik?"


"Hasilnya Erik laper, kakek diam jangan main mata." Erik melotot, tapi mata kakeknya lebih tajam lagi.


"Uncle Erik, lihat Aunty Binar dapat adik juga. Wira harus banyak-banyak membeli senjata agar menang." Wira menghitung uang yang ada di kantongnya.


"Wira! astaghfirullah Al azim, aku bisa gila melihat ini anak, bajunya sudah mirip masuk kandang harimau."


"Bukan Mommy, tadi Wira main sama teman baru, terus jatuh, main guling-guling, sekarang Wira ingin bertempur agar mendapatkan adik baru seperti Aunty Binar."


Erik langsung menggendong Wira yang sudah menangis kuat, telinganya ditarik Windy kuat. Mulutnya yang cerewet juga diremas kesal.


"Kak Win gila, kasar banget sama anak." Erik mengusap punggung Wira.


"Dia hanya mencari alasan saja menangis Rik."


Steven datang langsung mengambil putranya, menatap Windy tajam yang langsung tersenyum meminta maaf.


Stev tidak pernah mengucapkan kata, tapi melalui tatapan saja Windy tahu jika suaminya tidak menyukai cara Windy.

__ADS_1


"Maaf Om Bule, Windy gemes melihat putramu yang nakalnya masa Allah."


"Tidak perlu main tangan Windy, nanti dia terbiasa."


"Daddy, uang Wira kurang untuk membeli tembakan, boleh minta uang tidak Daddy.


"Kamu ingin berapa sayang?"


"Banyak Daddy, teman baru Wira banyak, jadi Wira membeli untuk mereka juga."


"Oke, nanti Daddy yang membelinya."


"Terima kasih Daddy."


"Iya sayang, Wira mandi dulu kita sholat, baju Wira kotor sekali."


"Malam ini Mommy tidur bersama dede bayi." Windy ingin menggendong Rasih.


"Mommy, anak Mommy Wira, gendong Mommy." Wira langsung minta disambut oleh Windy.


"Bilangnya ingin punya adik, tapi tidak ingin pisah dari Mommynya." Ravi menggoda Rasih.


"Mommy, peluk." Wira langsung minta digendong, Windy membawa Wira untuk mandi, Stev juga mengikuti Windy membawa tembakan Wira.


"Om Stev baik sekali, lembut juga ya Aak?" Kasih tersenyum.


"Iya sayang, perjuangan mendapatkan Wira sulit sayang. Om Stev sangat mencintai kak Win, sama seperti Aak yang sangat mencintai kamu." Ravi mengedipkan matanya.


"Ada apa Billa?"


"Dia bayi prematur, tidak mendapatkan perawatan dengan baik, kenapa dia bisa ada di sini?" Billa menatap Binar.


"Dia baik-baik saja Billa, Dokter sudah menjamin dia normal, tidak ada kelainan. Berat badannya juga sudah bertambah, hanya perlu digemukkan lagi." Tama mengambil Bening mencium wajahnya.


"Bayi siapa kak Tama?"


"Erik, selamat atas pernikahan kamu. Dia Bening putriku."


"Jangan macam-macam kak Tama, Bella tahu hubungan kalian, tapi cinta tidak bisa dipaksakan, kembalikan dia kepada keluarga Bramasta." Bella menatap tajam.


"Aku tahu Bella, kebahagiaan Bening jauh lebih penting, tapi saat ini fokus dulu kepada Erik." Tama mencium pipi Bening.


"Dia seumuran dengan Raka Rasih?" Ravi melihat Bening yang tersenyum melihat Tama.


"Iya seumuran, sama-sama prematur, hanya bedanya duluan Bening yang lahir, tapi usia kandungan sama." Billa mengelus wajah Bening.


Tama menatap Binar yang terlihat menyayangi Bening, senyum Tama terlihat membawa Bening pergi, Binar langsung mengejar Tama meminta Bening agar dia yang menjaganya.

__ADS_1


"Anak siapa dia sayang?" Erik menatap Billa.


"Anaknya Binar, bayinya berhasil diselamatkan oleh Billa." Kasih yang menjawab, Ravi Erik kaget.


"Sudahlah, nanti saja dibahas, sebaiknya selesaikan dulu acara malam ini." Ravi merangkul Kasih untuk bersiap.


Di kamar make up sudah ribut, suara para emak sedang make up, Tama mengetuk pintu menemui Jum yang sedang menyiapkan baju Billa.


"Bunda, boleh menitip dia tidak?" Tama menyerahkan Bening kepada Jum.


"Anak siapa Tama?" Viana mengelus wajah cantik bayi dalam gendongan Jum.


"Cucu keluarga Bramasta."


"Ohhhh, apa?" Jum, Reva dan Viana menatap kaget.


"Dia anaknya ...."


"Iya Bunda, Billa Bella memberikan dia nama Bening. Izinkan Bening menggunakan nama Tama sebagai identitas Ayahnya."


"Subhanallah, banyak sekali kebahagiaan hari ini." Jum memeluk Bening.


"Nanti saja kita bahas Bunda, sekarang fokus kepada Erik Billa, biarkan Binar yang menjaganya." Tama langsung melangkah keluar.


"Tama, terima kasih nak."


Tama tersenyum langsung melangkah keluar, Binar langsung mendekati Tama, tapi diabaikan. Binar langsung masuk ke dalam meminta izin Jum untuk menjaga Bening.


Viana tersenyum, mengusap punggung Jum dan Reva. Setiap masalah pasti ada hikmahnya, dibalik air mata ada kebahagiaan, hanya cara setiap orang berbeda cara pembawaannya.


Kepergian Billa karena luka, kembali membawa bahagia, kepergian mereka juga menyelamatkan bayi kecil yang tidak bersalah.


Kehadiran Binar yang merusak pernikahan Erik juga memiliki hikmahnya, selain menemukan adik Tian, juga menyelamatkan Binar dari kehidupan kelamnya.


Hanya cara mereka hadir yang salah, tapi urutan jalan sudah benar, Erik Billa berhasil memenangkan ujian mereka, menyelamatkan Ibu dan anak.


"Alhamdulillah, kebahagiaan kita berlipat-lipat."


"Benar kak Vi, perayaan ulang tahun Erik, lanjut Pernikahan yang memancing air mata, juga kebahagiaan." Reva tersenyum melihat Binar keluar membawa Bening.


"Kebahagiaan aku ditambah lagi kak Vi, mbak Reva. Jum sudah menjadi Nenek, kita bertiga sudah berstatus nenek." Jum meneteskan air matanya, Reva Viana memeluk Jum bersama.


"Kita juga mendapatkan kesempatan menua bersama, melihat anak menikah, Vi ingin hidup lebih lama lagi, agar bisa melihat Vira menikah, memiliki anak, setidaknya ada yang menjaga putriku. Hanya Rama yang aku khawatirkan." Viana menangis.


"Tidak ada yang tahu umur seseorang kak Vi, lebih tua belum tentu pergi lebih dulu. Kita terus bersama saling menggenggam melihat anak kita berjuang mencari kebahagiaan." Reva menghapus air mata Viana.


"Kenapa kita jadinya menangis?" Jum tertawa.

__ADS_1


"Iya, ini semua karena anak cucu kamu Jum." Viana Reva tertawa memeluk Jum.


***


__ADS_2