
Keheningan terjadi, Vira mengaruk kepalanya ragu untuk bicara.
"Vira, are you okay?" Windy menatap Vira yang langsung keringatan.
"Kamu menolak Vir?" Bella berdiri menepuk pundak Vira.
"Daddy, Mommy, Papi dan Mami Vira meminta maaf ...." Vira menundukkan kepalanya.
Viana mengerutkan keningnya menatap Rama yang tersenyum, Vi sangat kecewa dengan penolakan Vira.
Reva juga sama kecewanya, harapan mereka akhirnya hancur untuk menikahkan Vira dan Wildan.
"Baiklah, Papi mengerti Vira. Keputusan kamu sudah benar." Bima tersenyum menatap Vira yang nyengir.
Wildan langsung melangkah pergi kembali ke villa, Wil tidak mengerti perasaan yang sekarang sedang terluka atau bahagia karena tidak berjodoh.
Mata Wildan tajam melihat ke arah air minum langsung meneguknya sampai habis, Wildan langsung mengambil kunci mobil melangkah pergi.
Sepanjang perjalanan Wildan hanya melamun, hubungan dengan Vira memang sudah sangat jauh, Wildan mengerti karena tidak bisa bercerai sehingga Vira menolak perjodohan.
Dari surat perjanjian, bahkan banyak sekali ancaman Vira membuat Wildan sangat yakin jika tidak ada lagi rasa untuk dirinya.
Sejak kecil sudah bersama, Vira selalu mendekatinya sampai menerima penolakan berkali-kali.
Wildan pernah berjanji akan menikahi Vira jika dia berhasil menjadi mahasiswa berprestasi, Wildan sudah berusaha menepati janjinya, tapi Vira yang akhirnya mengakhiri semuanya.
"Sudahlah, hubungan ini cukup menjadi hubungan persaudaraan." Wildan mengusap dadanya untuk melupakan pernikahan, dia bisa hidup bebas kembali.
Mobil Wildan berhenti di depan tempat beribadah agama Hindu, dari kejauhan Wildan melihat tradisi yang masih di pertahankan.
Wildan memejamkan matanya menenangkan hatinya dari kegalauan, tidak terasa Wildan terbangun sudah tengah malam.
Panggilan di handphone sudah hampir lima ratus panggilan dari keluarga, Wildan mengusap wajahnya langsung membalas pesan Maminya, jika dirinya baik-baik saja.
Sudah lama sekali Wildan tidak merasakan tidur dengan waktu yang cukup lama, tanpa beban pikiran.
Bima langsung menghubungi Wildan, mempertanyakan keberadaannya semua orang mengkhawatirkan dirinya.
Wildan meminta maaf karena dia tertidur saat melihat agama Hindu beribadah, musik yang terdengar terlalu tenang.
Wildan langsung menatap di depannya yang terlihat sepi, tidak ada lagi keramaian saat siang hari.
Bulu kuduk Wildan langsung berdiri, perasaan langsung tidak enak. Cepat Wildan menjalankan mobilnya untuk kembali ke villa.
Perjalanan terasa lama sekali, perutnya juga lapar. Wildan langsung mampir ke pinggir jalanan untuk membeli makan.
__ADS_1
Beberapa orang menatap Wildan yang terlihat aneh, tatapan Wildan juga langsung aneh melihat penampilannya.
"Kamu dari mana anak muda?" seorang bapak tua menatap Wildan.
"Saya hanya melihat acara di persimpangan sana pak." Wildan juga binggung lokasi yang dia kunjungi tadi.
"Di sana area hutan, kamu seorang muslim jika banyak pikiran jangan pergi ke tempat yang sakral, tapi pergilah ke tempat kamu beribadah." Bapak tua memegang belakang kepala Wildan langsung melangkah pergi.
Wildan langsung mengerutkan keningnya, langsung mengambil makanannya melangkah pulang.
"Fokus Wil, fokus. Kenapa suasananya menjadi menakutkan." Wildan berlari kencang langsung masuk ke dalam villa.
Bima dan Rama langsung berdiri melihat Wildan berlari ketakutan langsung menabrak Karan.
"Dari mana Wil?" Karan menatap tajam.
"Wildan." Bima meminta Wildan mendekat.
"Nanti Pi, Wildan mandi dulu." Wildan langsung berlari ke kamarnya.
Wira sedang asik bermain game di kamar Wildan, menatap Wildan yang berlari langsung masuk kamar mandi.
"Uncel Wil mulai gila karena ditolak?" Wira mengetuk kamar mandi.
"Wira, kamu percaya hal mistis?" Wildan membuka pintu memperlihat kepalanya.
"Uncle membawa mobil, berhenti di tempat ritual hanya melihat dari dalam mobil, tapi tertidur saat bangun semuanya sepi." Wildan mengerutkan keningnya.
"Uncel melihat sesuatu di dalam mimpi?" Wira langsung penasaran.
"Tidak ada, hanya tidur lalu bangun." Wildan melihat jam sudah jam satu malam.
"Uncle terlalu banyak pikiran, makanya lain kali dengarkan pembicara orang sampai akhir jangan main pergi saja, akhirnya langsung halu." Wira menggeleng kepalanya.
Wildan menutup pintu langsung mandi, Wira melangkah keluar kamar menemui Vira yang duduk di balkon atas bersama Winda dan Bella.
Senyuman Wira terlihat menatap Vira yang mengkhawatirkan Wildan, Wira langsung duduk di samping Winda.
"Kak Wildan sudah pulang Wir?" Winda menatap keponakan bulenya.
"Sudah, tapi uncle Wildan terlihat gila karena sudah mulai halu, dia banyak beban pikiran sehingga langsung stres, jika dibiarkan perlahan bisa gila." Wira menahan tawa.
Vira langsung panik, melangkah turun untuk melihat Wildan yang mulai halu.
Pintu kamar Wildan terbuka, terdengar suara air shower yang hidup. Vira mengetuk pintu memanggil nama Wildan.
__ADS_1
"Wil, cepat keluar. Wildan ini Vira, kamu jangan bunuh diri, semuanya salah paham." Vira menggedor pintu sangat kuat.
Wildan bisa mendengar suara Vira, hanya diam saja mengabaikan Vira yang sudah mengomelinya.
"Siapa juga yang ingin bunuh diri?" dasar aneh." Wildan mengerutkan keningnya.
Wildan mengambil baju mandi, langsung membuka pintu. Vira menyentuh dada Wildan yang langsung ditepis.
"Kenapa lama sekali, aku pikir kamu sudah mati?" Vira melihat tangan Wildan mungkin saja ada goresan.
"Ada apa? sebaiknya keluar aku ingin memakai baju." Wildan melangkah mendekati lemari pakaiannya.
Di luar kamar ada Winda, Bella dan Wira yang sedang menguping. Windy berkeliling mencari putranya yang dipaksa tidur, tapi sudah melarikan diri.
Winda gregetan menunggu pembicaraan dua orang yang sama-sama gengsian, cinta tapi tidak menyadarinya.
Vira menatap tajam Wildan yang baru saja keluar dari kamar mandi, baru selesai memakai baju.
"Kenapa belum keluar?" nanti ada yang salah paham." Wildan duduk dipinggir ranjang.
"Wildan kamu mencintai aku?" Vira menatap tajam.
Wildan hanya diam, berkali-kali menghela napasnya.
"Kenapa aku harus mencintai kamu?" Wildan menatap Vira tajam.
"Kenapa kita harus menikah? padahal kamu tahu jika kita tidak bisa bercerai." Vira meninggikan nada bicaranya.
"Bisa tidak bicara lebih pelan, aku tidak tuli. kamu tahu ini jam berapa sudah larut malam, orang yang punya etika tahu aturan." Wildan membuka pintu meminta Vira keluar.
"Brengsek." Vira mengumpat Wildan.
"Silahkan keluar Vira, kamu sudah menolak lamaran jadi tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku ingin beristirahat, keluar." Wildan langsung melangkah ke ranjang untuk tidur.
Vira langsung melangkah ke pintu, tapi balik lagi langsung menarik rambut Wildan yang langsung teriak kesakitan.
"Jangan teriak ini sudah malam, kamu tahu etika tidak?" Vira langsung keluar membanting pintu.
Winda, Bella dan Wira terdiam di depan pintu menatap Vira yang memperlihatkan rambut Wildan.
"Wira permisi dulu ingin tidur." Wira langsung berlari ke arah kamar Mommy Daddy-nya.
Winda tersenyum merangkul Vira untuk tidur bersama, Bella juga mengusap punggung Vira.
"Awas kamu Wildan, aku pastikan kamu sengsara dalam pernikahan nanti." Batin Vira di dalam hati penuh dendam.
__ADS_1
***