SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MENGANTARKAN KE TEMPAT TERAKHIR


__ADS_3

Suara tangisan terdengar, Viana memeluk suaminya erat mendapatkan kabar jika Vivi sudah tiada. Bukan hanya Viana, Reva hampir jatuh pingsan saat tahu cucunya sudah berpulang.


Saat pergi meninggalkan ruangan, saat itu juga Vivi memilih untuk meninggalkan mereka semua.


Rama juga menutup matanya menangis mendapatkan kabar cucunya sudah tiada, melihat dari luar keadaan Vira dan Wildan.


Hujan deras turun, suara petir terdengar merasakan kesedihan karena kepergian Vivi untuk selamanya.


Di dalam ruangan Wildan memeluk erat Vira, mereka berdua saling menguatkan. Allah sedang menguji mereka berdua, apapun yang terjadi itu yang terbaik. Cinta saja tidak cukup untuk bahagia, terkadang semakin besar cinta, bertambah besar ujiannya.


"Sayang, jangan menangis lagi. Kita ikhlaskan kepergian putri kita, keimanan kita diuji dengan cobaan ini." Senyuman Wildan terlihat, menakup wajah istrinya, menyatukan kening mereka.


"Iya Ayang, Vira ikhlas melepaskan Vivi. Dia sudah tidak kesakitan, sudah sembuh dan kembali ke surga. Anak kita sudah bahagia." Vira memejamkan matanya, menyentuh tangan suaminya.


Wildan dan Vira menatap putri mereka, kepergian putri mereka yang masih suci dan bersih menjadi amalan untuk mereka, meskipun berat untuk menerimanya.


Kedua tangan Wildan langsung menggendong putrinya, meminta Ravi Erik berhenti menangis. Billa dan Windy juga diminta untuk berhenti menangis.


Di luar kamar ada orangtua mereka yang menanti, tidak ingin ada yang terpuruk maka dengan mengikhlaskan Vivi, mengantarkan Vivi ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Vira langsung menghubungi Winda, agar tidak ada lagi penyesalan karena tidak bertemu. Vira menatap sahabatnya yang juga sama terpukulnya, memperlihatkan wajah putrinya Vivi yang terlihat senyumannya.


[Aunty Win, Vivi pamit pergi. Doakan Vivi.] Tangan Vira mengusap wajah anaknya.


Winda terlihat menangis, Vira meminta untuk berhenti menangis harus ikhlas melepaskan Vivi.


Panggilan mati, Vira mencium kening putrinya berjalan bersama Wildan untuk melangkah keluar.


Ravi membukakan pintu, suara tangisan terdengar. Viana langsung berlari melihat cucunya yang tersenyum, Reva juga melihat cucu kesayangan sudah menutup mata.


"Mommy, Mami jangan menangis. Wildan hanya meminta doa untuk putri kami yang berpulang lebih dulu." Mata Wildan menatap Maminya, mengusap air mata meminta keihklasan dari seluruh keluarga.


Jum berjalan, mengusap wajah Vivi, mencium meminta Vivi menunggu mereka semua di surga.


Viana memeluk Wildan, tangan Wildan mengusap punggung Mommy yang terlihat sangat sedih.

__ADS_1


"Kak Kasih, Bella, kak Tian kami minta doa untuk Vivi, jangan menangis karena putri kami tidak merasakan sakit lagi." Vira berjalan ke arah Daddy-nya, minta dipeluk.


Rama langsung menyambut putrinya, memeluknya penuh kelembutan meminta putrinya lebih berbesar hati.


Viana juga masuk ke dalam pelukan Rama, mengusap punggung putrinya yang terlihat sangat kuat.


Viana pikir Vira akan mengamuk, tapi sekarang putrinya sudah sangat dewasa, bisa menerima ujian yang sangat berat dalam perjalanan rumah tangganya.


Bima mengusap kepala Wildan, menyatukan kepala mereka. Bima tahu putranya kuat, sangat kuat sehingga ujian hidupnya berat.


"Semangat ya Wil, insha Allah diganti. Selamat jalan cucu kakek, doa kami semua menyertai kamu." Bima mengusap wajah cucu nya.


Bisma mengusap punggung Wildan, bangga melihat keihklasan hati Wildan dan Vira yang terlihat sangat tangguh.


Stev juga menepuk pundak Wildan menguatkannya untuk menjadi lelaki yang lebih kuat lagi.


"Kapan di makamkan Wil?" Daddy memeluk menantunya yang masih menggendong putrinya yang sudah ditutup.


"Hari ini juga Daddy, rencana Wildan dia disholatkan bersamaan sholat subuh. Matahari terbit langsung dimakamkan." Wildan berjalan untuk pulang.


Ravi langsung pergi lebih dulu bersama yang lainnya, istrinya Kasih diminta membawa anak-anak untuk kembali juga.


Seluruh mobil keluarga menuju pulang, membawa Vivi kembali, meninggalkan Virdan yang masih di rumah sakit.


"Virdan, tunggu Mami Papi mengantarkan adik kamu, jangan bersedih ya sayang kamu juga harus ikhlas." Wildan melihat ke arah luar, menatap hujan yang turun dengan derasnya.


Hujan menjadi saksi hancurnya perasaan Wildan, betapa sedihnya dirinya karena kepergian putri tercinta.


Saat mobil tiba, Wildan langsung keluar melihat Wira, Asih, Em, Gilang, Raka, Ning menatapnya dengan tatapan sedih.


Vivi sudah dibawa ke dalam rumah untuk dimandikan, Vira juga melihat suaminya menatap anak-anak.


"Jangan sedih, Uncle baik-baik saja." Wildan meminta Em memeluknya, wajah si kecil sudah menahan air matanya.


Tangisan Em langsung terdengar, semalaman mereka semua tidak tidur menangis melihat orang tua mereka menangis.

__ADS_1


"Uncle, Dede Vivi Kenapa pergi meninggalkan kita? Asih masih ingin peluk Dede."


"Maafkan Dede ya kakak Asih, Allah lebih sayang sama Vivi dia kembali ke surga, Asih do'akan Vivi."


"Allah tidak sayang kita?" Em menatap Wildan yang masih bisa tersenyum.


"Tentu Allah sayang, semakin banyak ujian hidup kita, berarti Allah sayang kita, hanya saja adik Vivi spesial. Em harus ada di sini menemani Mama Papa Em, mendampingi mereka sampai Em besar nanti."


"Hati Em cakit sekali, sedih liat cemua menangis."


"Iya sayang, Em harus kuat saat ini hanya doa yang bisa kita lakukan. Ikut Uncle untuk mendoakan Vivi, kita antar dia ke tempat peristirahatan terakhir. Kalian peluk Uncle agar lebih kuat lagi." Wildan menyambut semua keponakannya untuk memeluknya, menyalurkan ketenangan untuk hatinya.


Senyuman Vira terlihat, dia tidak salah mencintai lelaki yang selalu terlihat baik untuk semua orang.


Rama merangkul putrinya untuk masuk ke dalam, Vira langsung melangkah melihat Wildan dan anak-anak semuanya berganti baju untuk membaca doa bersama-sama.


Wildan dan Vira mencium putri mereka untuk terakhir kalinya, membiarkan putri mereka terbalut kain putih.


selesai dimandikan dan dikafani, Wildan melangkah ke masjid terdekat tempat tinggal mereka.


Suara azan terdengar memasuki sholat subuh, seluruh keluarga yang laki-laki langsung melaksanakan sholat subuh berjamaah. Vira tersenyum melihat langit, hujan sudah reda, begitupun dengan hatinya yang sudah ikhlas.


Tidak ada lagi yang meneteskan air mata, putrinya dibawa ke masjid untuk disholatkan, lalu berjalan kaki untuk dimakamkan.


Satu hari menjadi hari akhir untuknya melihat putri tercinta, pagi Vira masih melihat putrinya, lalu siang masih melihat, sore putrinya masuk ruang rawat, malamnya putrinya drop, tengah malam putrinya memutuskan untuk pergi selamanya, subuh masih bisa melihat, tapi saat pagi matahari terbit putrinya tidak terlihat lagi.


Vira tidak bisa menyentuhkannya lagi, tidak bisa melihatnya lagi, sebentar lagi mereka hanya bisa melihat bukit kecil yang memperlihatkan nama putri mereka.


"Ayo semangat Vira, kamu wanita kuat." Vira tersenyum menunggu Putrinya disholatkan.


Vira tersenyum melihat Bella dan Billa merangkulnya, menyemangati meskipun tidak ada Winda disisi mereka.


Sebuah pesan masuk, suara tawa Vira terlihat menatap pesan dari Winda yang menyemangatinya.


"Aku pegang janji kamu Winda, jangan menyesal saja." Vira menutup matanya.

__ADS_1


***


__ADS_2