SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 RASA RINDU


__ADS_3

Sudah bergiliran orang menenangkan Bening, bahkan Kasih juga sudah membantu memberikan ASI, tapi tangisan Bening kuat, membuat Rasih langsung menangis juga.


Binar juga menangis melihat Bening menangis sesegukan, bahkan matanya tidak ingin terbuka, hanya air matanya yang terus mengalir, Billa sudah mengecek tubuh Bening, tapi dalam keadaan baik.


"Ravi, minta Tama balik lagi ke Mansion, dia ingin bersama Ayahnya." Bisma mengendong Bening yang terus meronta-ronta.


"Bening sayang, ingin bersama Ayah kamu ya sayang, sabar ya sebentar lagi Ayah kamu balik." Bisma memeluk Bening dalam gendongan.


Jum langsung memberikan baju Tama untuk membungkus tubuh Bening dengan baju kotor Tama, ibu Tama yang memberikan atas keinginan Jum, padahal baju Tama kotor setelah berkelahi.


"Bunda, bajunya bau sekali."


"Baju ini untuk Bening, bukan Ayah. Jika tidak kuat, tutup hidung saja." Jum melotot.


"Bunda apa sangkut pautnya Bening menangis dengan baju kotor?" Bella menatap aneh.


"Kata orang tua saat Bunda kecil dulu, jika anak bayi merindukan Ayahnya yang sedang merantau, gunakan bajunya."


"Jum kumat, palingan saran dari mbak Jambrong." Viana tertawa, duduk di sofa bersama Reva.


"Manjur juga kak Vi, Bening langsung diam."


"Bunda, bajunya kotor sekali, busuk." Binar tersenyum menjauhi Bisma.


Jum juga menjauhi Bisma yang mengendong Bening, tawa seluruh orang terdengar melihat Bisma yang cemberut. Bening sudah diam dan tertawa.


"Bening senang melihat kakeknya menderita." Ammar tertawa melihat Bisma menahan bau keringat.


Ravi muncul setelah menghubungi Tama, melihat Bening yang sudah diam. Mendekatinya untuk melihat wajah Bening.


"Uncle, kenapa Uncle busuk sekali. Bau minuman lagi?" Ravi langsung menutup hidung, mual cepat mundur.


"Kurang ajar kamu Rav, baju Tama yang bau!" Bisma teriak, Bening langsung menangis kaget.


"Ayolah Ayah, Bening menangis lagi." Billa tertawa melihat Ayahnya panik.


Ibu Kasih datang membawa baju baru Tama yang sudah bersih, meminta Binar duduk, memberikan baju, langsung mengambil Bening memeluk, mencium keningnya, memberikan kepada Binar, menyelimuti Bening dengan baju.


"Dulu saat Tama kecil merindukan Ayahnya yang berkerja, ibu selalu menyelimuti dengan baju. Bening sayang Ayah, do'akan Ayah selalu dalam lindungan Allah, biar cepat pulang, bisa mengobrol bersama Bening." Ibu mencium kening Bening yang sudah diam.


"Baju Tama bau sekali, seperti memakan bangkai." Bisma membuang baju.


Ravi baru ingat menceritakan jika tadi malam Tama bertarung dengan preman, mereka sedang mabuk memaksa untuk masuk dan melakukan pemukulan kepada penjaga gerbang.

__ADS_1


Binar menatap Ravi, mengkhawatirkan Tama yang bertarung, tapi masih pergi bekerja.


Suara langkah kaki berlari terdengar, Tama melihat Bening dalam pelukan Binar, menggunakan bajunya sebagai selimut.


"Bening kenapa?" Tama berlutut melihat Bening yang matanya mulai sayu.


"Mungkin dia meminta kamu beristirahat kak Adit, wajah kak Adit memar."


"Ayah tidak lama sayang, hanya dua hari, saat acara syukuran Raka Rasih Ayah pulang." Tama mencium kening Bening.


"Kak Adit, Lala yang berbicara tapi tidak dijawab, bicara sama Bening yang belum bisa menjawab."


"Jaga Bening sampai aku pulang."


Tama berdiri menatap Ibunya langsung pamitan, Tama juga pamitan kepada semua orang.


"Tama, Ibu tidak pernah melarang apapun yang Kamu lakukan. Sejak Ayah kamu meninggal kamu sudah memikul beban sebagai kepala rumah tangga, menjaga Karin dan Cinta, tapi kamu juga butuh bahagia, bagi waktu kamu untuk diri kamu sendiri." Ibu meneteskan air matanya, membuang pandangannya dari Tama.


"Ibu, Tama tahu batasan. Jangan terlalu mengkhawatirkan Tama, ibu jangan banyak pikiran, nanti ibu sakit lagi."


"Ibu sakit, tapi tidak ada yang mengabari Kasih." Kasih berdiri menatap Ibunya.


"Karin juga tidak tahu, kenapa kak Cinta tidak mengabari kita?"


"Sudah jangan ribut, Ibu baik-baik saja."


"Ibu, jika ada masalah cerita juga kepada kita berdua, kita juga ingin tahu segalanya Bu."


"Maafkan Ibu Karin, kamu juga sebaiknya cepat menikah, ada yang menjaga kamu. Bertanggung jawab atas kamu."


Ibu sudah lega melihat Kasih bahagia, Karin juga punya Karan yang menjaganya, hanya Putrinya Cinta yang tidak memiliki pelindung. Juga mengkhawatirkan Tama yang selalu berkerja, tidak memikirkan kesehatannya. Ibu melangkah pergi untuk kebelakang.


Kasih menatap Cinta yang bersembunyi, menyembunyikan kesedihannya.


"Kak Ibu sakit apa?" Kasih meneteskan air matanya.


"Setiap malam ibu bermimpi bapak, meminta bapak menunggunya sebentar lagi." Cinta langsung menangis menutup wajahnya.


"Sudah, jangan dipikirkan. Hidup dan mati kita Allah yang menentukan. Kita hanya perlu mempersiapkan diri." Tama memeluk Cinta, meminta untuk berhenti menangis.


"Kak Cinta hanya punya Ibu, ke mana Cinta harus pergi jika Ibu juga pergi meninggalkan Cinta."


"Tidak ada yang akan pergi, jangan memikirkan sesuatu yang bisa memberatkan. Kak Tama mohon kepada kalian bertiga selalu bersama ibu, dengarkan semua cerita ibu, menjadi teman ibu agar tidak selalu merindukan bapak."

__ADS_1


Tama langsung memeluk ketiga adik perempuannya, mencium kening Cinta Kasih Karin pamitan untuk pergi. Tama mencium kening Bening, menatap dua keponakan yang berada dalam pelukan kakek neneknya.


Kasih menatap Ravi langsung memeluknya, Ravi menghapus air mata Kasih, meminta mendengarkan ucapan Tama.


Rama merangkul Viana yang tiba-tiba diam, Viana menatap Rama dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Hubby jika Mommy berpulang lebih dulu, Daddy jaga kesehatan, tidak boleh memikirkan Mommy, tapi mendoakan Mommy."


"Jika Daddy yang pergi duluan, Mommy juga harus bahagia, tetap tertawa, melangkah seperti biasanya setiap hari, Mommy lakukan apapun yang menjadi kesenangan Mommy."


"Daddy Mommy." Ravi dan Vira teriak bersamaan.


"Kalian tega berbicara seperti itu, Vira belum menikah, tidak ada yang ingin melihat Vira bahagia." Vira meneteskan air matanya.


"Vira sayang, Kematian tidak datang dengan permisi, mungkin sekarang kita sendang berbicara, bisa saja beberapa menit sudah menutup mata, Daddy ingin melihat Vira menikah, memiliki anak, insyaallah diberikan umur panjang."


"Kematian juga tidak menunggu siapa yang siap, jika diberikan pilihan, aku ingin hidup dan mati bersama, luka ditinggalkan untuk selamanya memang berat, tapi hati itu pasti datang." Bima menggenggam tangan Reva.


Air mata Wira menetes, tangannya menyentuh air matanya. Mengingat cerita soal Uncle nya.


"Wira binggung, tadi menangis, terus tertawa, sekarang menangis lagi, nanti tertawa lagi. Hidup begini amat ya?" Wira memonyongkan bibirnya duduk di atas meja.


"Sudah bangun Wira." Bima tersenyum menatap cucunya.


"Iya, baby Bening menangis terus, Wira jadinya bangun."


"Sudah shalat subuh belum?" Bima menatap cucunya.


"Sudah kakek, tapi Wira tidur lagi. Soalnya capek bermain."


"Sekarang sudah pulih tenaganya untuk main lagi."


"Aunty Binar, boleh tidak adik Bening jadi pacarnya Wira."


"Tidak boleh, kamu playboy. Kemarin kamu ingin pacaran dengan Rasih, terus perempuan yang kemarin kamu Kasih bunga, ingin kamu ke manakan." Binar tersenyum melihat Wira.


"Simpanan Aunty, Daddy punya pacar banyak. Istrinya tapi satu, berarti Wira boleh punya pacar banyak."


"Bagus sekali contohnya Wira, berani punya istri lagi. Habis masa depan Steven." Windy menatap tajam.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2