SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PENDARAHAN


__ADS_3

Mobil Wildan tiba di rumah sakit, melangkah bersama Vira dan seluruh keluarga untuk melihat ruangan rawat Vira sementara sampai melahirkan.


"Ayang, kasihan Virdan merayakan ulang tahun pertamanya di rumah sakit." Mata Vira menatap putranya yang berada dalam gendongan kakeknya.


"Tidak masalah sayang, Virdan anak yang pengertian."


Seluruh arah pandangan mata terfokus kepada Erik yang sedang menerima panggilan, secepat kilat langsung berlari setelah menyebut nama Lin.


Windy juga langsung berlari ke arah ruangan Lin, jantung Vira langsung berdegup kencang merasakan khawatir kepada Lin.


Erik langsung membuka pintu setelah mengganti bajunya, melihat beberapa dokter sudah melepaskan beberapa alat bantu.


"Bagaimana keadaan Lin?"


"Dia mulai sadar, kondisi Lin sudah stabil Dok. Lihatlah tangannya mulai bergerak."


"Syukurlah, aku pikir dia drop lagi. Terus awasi dia, hubungi aku jika ada perubahan." Erik melangkah keluar melihat seluruh keluarga ada di depan pintu.


"Bagaimana keadaan Lin Erik?" Windy menatap dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Dia mulai sadar kak, prediksi buruk Erik salah besar. Aku berpikir operasi gagal dan Lin mati otak, tapi Alhamdulillah hari ini dia stabil. Jika besok kondisinya terus baik, dia bisa pindah ruangan."


"Alhamdulillah." Windy langsung memeluk Erik, mereka akhirnya mendapatkan kabar baik.


Belum ada yang bisa menjenguk keadaan Lin sebelum dipindahkan ke ruangan rawat, Windy dan Steven sudah menyiapkan ruangan khusus untuk Erlin jika sudah stabil.


Wildan merangkul Vira menuju kamarnya setelah berbicara dengan dokter, kamar Vira sangat besar sudah mirip apartemen.


Viana dan Reva menyusun baju Vira dan Wildan yang mungkin menetap lama di rumah sakit, area untuk tidur anak-anak juga sudah disiapkan.


Melihat ramainya keluarga mereka Wildan ingin semuanya merasakan tidak di rumah sakit, dokter Vira juga langsung masuk meminta Vira segera berbaring di ranjang untuk dipasang infus.


"Bagaimana pergerakan bayi kamu Vir?"


"Jarang terasa dok, dan mulai pagi tadi ada rasa sakit di tempat jahitan operasi pertama."


"Kita awasi terus, menurut USG baby dalam keadaan baik, tapi takutnya kamu yang mulai tidak baik."


Vira tersenyum, meminta dokter melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya agar lahir dengan selamat.

__ADS_1


Wildan juga meminta tolong mengawasi istrinya selalu, Vira juga harus baik-baik saja.


Winda masuk bersama Arum, mendudukkan si kecil nakal yang tidak ingin belajar bicara, tapi nakal sekali.


"Kenapa lagi Arum Winda?"


"Bertengkar bersama Bulan sampai Kakak Lan nangis, nakal banget kamu masih kecil juga." Winda memukul tangan kecil Arum, tapi mendapatkan pukulan balik dari Arum.


Winda mencubit tangan nakal Arum, langsung dibalas cubitan. Wajah Arum langsung menatap tajam Uminya, menahan tangisannya langsung memukuli Winda.


"Winda." Wildan berteriak membuat Winda dan Vira terkejut, tangan Winda langsung melepaskan telinga Putrinya.


Arum langsung mengamuk, memukul Winda dengan kedua tangannya, langsung ditendang.


Wildan langsung menggendong, tangisan langsung pecah sampai teriak-teriak. Menjadi cucu perempuan satu-satunya membuat Arum berkuasa, si kecil memiliki perlindungan dari kakek, Abi, Papi, Daddy, dan ketiga kakaknya.


"Kenapa memukul anak seperti itu Win?"


"Dia nakal kak, wajah Bulan sampai merah dia pukul."


"Bukan salah mereka, tapi kalian yang lalai dalam mengawasi." Nada Wildan tinggi membuat Winda memalingkan wajahnya.


"Ada apa Arum sayangnya Daddy?" Stev mengusap air mata si kecil.


"Winda kasar main pukul." Wildan menatap tajam adiknya.


"Kenapa kasar Winda? dia baru satu tahun belum mengerti boleh dan tidak, jangan dibiasakan main tangan."


"Iya tidak akan diulangi lagi, tapi dia terlalu manja kak Stev. Tunggu saja beberapa bulan lagi, kamu bukan cucu perempuan satu-satunya akan ada dua saingan kamu." Winda mengejek Arum yang menatapnya tajam.


"Belum belajar bicara dia Win, Bulan kemarin cepat sekali bicara."


"Belum sama sekali, mulutnya hanya untuk nangis dan makan. Arwin dan Virdan sudah lancar berjalan, mulai berbicara, ini anak lambat, jalan saja masih sempoyongan." Senyuman Winda terlihat menatap Arum keluar bersama Daddy-nya.


Wildan menegur Winda untuk tidak membanding anak-anak, karena bagi mereka Arum spesial.


Vira tertawa melihat suaminya keluar bersama Steven, menegur Winda agar tidak terlalu keras kepada Arum, meskipun dia tidak ingin bicara, otaknya sudah menangkap dan memberikan respon dari ekspresinya.


"Vir, apa benar twins harus dilahirkan?"

__ADS_1


"Iya, mungkin di usia tujuh bulan. Ilmu kedokteran sekarang canggih, jadi aman saja." Tangan Vira menepuk pelan tangan Winda.


"Rio ditahan polisi, sebagian aset Dewi juga disita bank termasuk rumah mewah mereka yang hampir kak Kasih bakar." Kepala Winda tertunduk, karena harta Dewi bukan miliknya.


Vira meminta Winda jangan membahas soal harta Lin yang dirampas keluarganya, saat ini yang paling penting Lin segera bangun dan melihat kebenarannya.


Soal harta, mereka bisa menjamin hidup Erlin sampai kapanpun, tapi soal luka Lin harus memahami dirinya sendiri untuk memaafkan masa lalu.


Pintu terbuka, suara berisik keluarga terdengar. Mereka semua lompat-lompat kesenangan saat mengetahui jika Lin sudah sadar, meskipun belum membuka matanya, dia akan segera dipindahkan ke ruangan rawat.


"Alhamdulillah, doa kita didengarkan."


"Apa kita bisa merayakan ulang tahun kak Lin bersama twins W dan Virdan?" Asih duduk bersama Embun, Elang, Raka, Bintang yang diam seperti patung, Bulan yang sibuk bermain.


Wira melangkah masuk bersama Arum, tersenyum melihat adik-adiknya yang sudah duduk diam, karena dilarang berisik demi kenyamanan Vira.


Suara berbisik-bisik sedang kompromi terdengar, Vira, Winda, Kasih, Bella dan Billa tersenyum melihat anak-anak yang kompak.


Wira juga pintar mengatur adik-adiknya yang nakal dan sulit diatur, tidak ada yang berani membantah dan melawan Wira, termasuk Raka.


Mata Vira terpejam, tubuhnya lemas merasakan sakit yang datang secara tiba-tiba. Winda langsung menggenggam tangan Vira, meskipun suara Vira tidak terdengar, tetapi Winda tahu jika Vira menahan sakit.


"Panggil dokter Billa."


"Harus kuat Vira, insyaallah semuanya baik." Kasih tersenyum meminta Bella membawa anak-anak keluar dan memanggil Wildan.


Di atas ranjang sudah penuh darah, Winda dan Kasih saling pandang dan cemas karena Vira mengalami pendarahan.


Dokter berlarian, meminta yang lain keluar. Winda menolak untuk keluar, dan ingin selalu menggenggam tangan Vira.


Keringat mengalir dari kening Vira, sungguh sakit luar biasa dia rasakan. Melihat kehadiran Wildan yang menggenggam kedua tangannya.


Di luar kamar seluruh keluarga menunggu dalam keadaan cemas dan khawatir. Vira belum lama tiba, sekarang sudah mengalami pendarahan.


Windy juga langsung tiba, menanyakan sesuatu kepada Kasih yang menjelaskan tiba-tiba banyak darah.


"Mommy jangan khawatir, Vira baik-baik saja saja. Ini hanya perdarahan ringan." Windy menenangkan Viana yang wajahnya pucat.


***

__ADS_1


__ADS_2