SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 DIBATALKAN


__ADS_3

Ravi menatap Erik tajam, langsung ingin mengejarnya, tapi Kasih menahan Ravi.


Tian yang langsung berlari menahan Erik, Jum langsung berlari mengejar Tian yang terlihat marah.


"Apa maksud kamu ingin pergi? kamu ingin menghancurkan hati Billa?" Tian menatap tajam Erik.


"Kalau iya kenapa? biar dia tahu hancurnya aku." Erik membalas tatapan marah Tian.


"Sial kamu Rik!" Tian mencengkram kuat kerah baju Erik.


"Stop, kenapa jadinya bertengkar?" Jum melepaskan tangan Tian meminta Tian untuk mundur.


Tangisan Jum pecah, melihat Erik dan Tian bertengkar. Erik langsung melangkah pergi, Septi berlari mengejar memeluk Erik dari belakang.


"Maafkan Mama tidak mengerti perasaan kamu, Mama sayang kamu, ingin yang terbaik. Maria perempuan jahat Rik, Mama tidak rela kehilangan kamu. Kami semua tahu bertapa baiknya kamu, tidak mungkin tega melihat orang terluka." Septi menangis sesenggukan.


"Ma, Erik tahu batasan. Erik mencintai Billa, siap meninggalkan apapun demi Billa, tidak mungkin Erik menyakiti keluarga kita. Erik tidak bodoh bisa jatuh ditangan Maria." Erik menangkup wajah Mamanya, menghapus air matanya.


"Kita menyusun semua ini demi kamu dan Billa sayang, seharusnya sudah waktunya acara ijab kabul, lalu akan ada tamu, malam ini pestanya. Kita harus bagaimana mengatakan kepada seluruh tamu?" Septi berbicara pelan, meminta Erik mengerti, tapi Erik tetap melangkah pergi.


"Jangan dikejar lagi Sep, biarkan Erik sendiri." Rama menahan Septi, memintanya untuk tenang.


Erik melangkah keluar, tamu undangan mulai berdatangan untuk melihat ijab Kabul. Langkah kaki Erik berjalan ke gerbang Mansion, menunggu mobil yang dia nantikan.


Sedangkan yang di dalam rumah masih terdiam, Septi menangis dalam pelukan Ammar, Bima menatap Reva berpikir apa yang harus dilakukan, karena tamu malam akan berdatangan.


"Sepertinya harus ada pernikahan dadakan, Laura dan Tian saja menikah menggantikan Erik Billa, hanya pura-pura." Ravi mendapatkan pukulan dari Viana.


"Mereka saudara kandung Aak, namanya Binar bukan Laura." Kasih melototi Ravi.


"Karin dan Karan saja yang duduk di pelaminan."


"Diam Aak, saran Aak tidak memberikan jalan yang baik." Kasih memukul Ravi.


Ammar menatap Bisma, tidak ada pilihan, penikahan harus dibatalkan, mungkin keluarga akan malu, tapi memaksa Erik juga kasihan Billa.


"Mas, bagaimana kita menghadapi Billa, dia sudah berharap mas." Jum meneteskan air matanya, memeluk Bisma.


"Maafkan Ayah Bunda, Ayah ingin yang terbaik untuk Erik dan Billa, Erik benar kita egois tidak memikirkan perasaan dia. Maafkan aku Ammar, pernikahan harus di batalkan, mempermalukan seluruh keluarga."

__ADS_1


"Bukan salah kamu, kita sudah membahas ini dan sepakat. Undangan kita kirim tanpa sepengetahuan siapapun, juga mengalihkan perhatian Billa dan Erik, aku juga tidak memikirkan perasaan Erik seharusnya ini menjadi hari bahagia sekaligus perayaan ulang tahun dia." Ammar mengusap matanya.


"Kita semua salah, kita pertanggungjawaban kejadian hari ini, sebagai orang tua kita hanya ingin memberikan yang terbaik." Bima menepuk pundak Bisma dan Ammar.


"Sudah Vi jangan menangis, sebaiknya kalian istirahat, tenangkan Jum dan Septi." Rama mengusap punggung Viana dan Reva yang juga meneteskan air matanya.


"Bagaimana nasib Billa?" Jum menghapus air matanya.


"Kenapa juga tidak ada yang memberitahu kita soal pernikahan ini, tapi sebenarnya Ravi juga berpikir positif Erik akan bahagia, tapi kenapa menjadi kacau." Ravi melangkah pergi, berhenti melihat Erwin berlari bersama Wira.


"Ada apa Erwin, kamu dikejar wanita seksi? kakak kamu batal menikah 2x, dia menjadi pemecah rekor."


"Batal kak, di luar ada penghulu menunggu." Erwin binggung melihat semua orang menangis.


"Batal pesta lagi, ya kak Er? kenapa batal terus sebaiknya Wira pulang saja." Wira kebinggungan melihat Mommynya menangis.


"Mommy kenapa menangis, pesta batal pasti Mommy sedih, Nenek juga menangis, Nek Vi juga, semuanya menangis." Wira menatap semua wajah yang menangis.


"Daddy, kenapa semuanya menangis, mata semua Nenek serem, mata Mommy juga, mata Aunty juga, Wira takut di sini Daddy, sebaiknya Wira main saja." Wira langsung pergi melangkah keluar rumah.


Septi melepaskan pelukan Ammar, menundukkan kepalanya, Viana dan Reva sudah berlari lebih dulu, Laura menunduk bersama Kasih menyentuh mata pelan.


Bima menatap Rama langsung menutup mulut menahan tawa, sedangkan Bisma dan Ammar sudah tertawa kuat, Tian mengerutkan keningnya melihat Steven, sedangkan Ravi datang lagi membawa minum, binggung melihat Uncle Bisma dan Ammar tertawa.


"Ada apa kak Tian? yang lainnya ke mana?"


"Melihat mata mereka, Wira mengatakan mata mereka seram." Ravi menatap Tian, Tian juga baru menyadari ucapannya langsung tertawa bersama Ravi.


"Wira!" teriakan Windy terdengar.


Suara tawa terdengar dari dalam kamar hias memperbaiki makeup masing-masing, di tengah kesedihan masih terasa juga tawa.


Wira berlari lagi ke dalam mendengar teriakan Mommynya.


"Wira hanya memakan coklat saja sudah teriak, hanya satu, gigi Wira belum ompong." Wira menghela nafasnya.


Ravi langsung menggakat tubuh Wira menciumnya gemes, saat bersedih Wira bisa memberikan tawa sesaat.


"Kamu nakal sekali Wira?" Ravi menggeleng kepalanya, Wira menatap kaget.

__ADS_1


"Masa iya Uncle, tapi semua orang memang mengatakan Wira nakal." Wira tertawa kuat.


"Tidak ada yang mendengarkan ucapan Erwin? di luar ada penghulu, pengantin mana?" Erwin teriak kuat, memanggil Kakaknya Erik.


Bima langsung melangkah ke taman, Bisma Ammar juga langsung keluar, Rama mengikuti Bima yang melihat beberapa orang sudah duduk menunggu.


"Selamat pagi pak, bisa acaranya segera dimulai, kita sudah satu jam menunda."


Bisma duduk meminta maaf yang sebesar-besarnya, menjelaskan keadaan yang sedang terjadi. Penghulu membuka kopiah mengaruk kepalanya yang tidak ada rambut.


"Saya binggung pak seharusnya acara kemarin, tapi diundur, terus diundur lagi sekarang batal."


"Kami minta maaf pak, sungguh ini diluar keinginan kami, kita juga sedang binggung mengatasi tamu yang akan datang." Ammar menatap Bisma.


Penghulu mengagukan kepalanya memaklumi keadaan, Bima diam berpikir langsung menatap Rama, keduanya sepemikiran, langsung melangkah pergi meninggalkan Ammar dan Bisma yang masih sibuk berbicara dengan tamu yang hadir.


Di kamar hias Septi melamun melihat wajahnya, setetes air mata menetes, Reva memeluk Septi dari belakang, Jum juga berpelukan dengan Viana.


"Viana, Reva, Jum, Septi, Billa sudah di mana, dia terlambat satu jam." Bima menatap para wanita yang masih sedih, Jum langsung mencari ponselnya menghubungi Wildan, tapi tidak mendapatkan jawaban.


Reva langsung menghubungi putranya, jika nomor Wildan aktif tidak mungkin mengabaikan panggilannya. Reva menunggu cukup lama, Wildan langsung mengucapkan salam.


[Di mana kalian Wil?]


[Sebentar lagi Mami, ini sudah lari-larian. Mobil kita habis bahan bakar, tidak ada kendaraan untuk menumpang.]


[Mami, kaki Winda hampir copot.]


[Anak bodoh, di mana kalian, kenapa tidak minta jemput saja.]


[Astaghfirullah Al azim, kenapa baru mengatakan sekarang Mami.] Wildan menghela.


Vira, Winda, Bella sudah memukuli Wildan yang meminta mereka jalan kaki, sampai lari.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA

__ADS_1


***


__ADS_2