
Reva sudah dipindahkan ke ruangan lain, dan masih menunggu kesadarannya.
Semuanya berkumpul menunggu Reva yang sudah mulai membuka matanya, Reva diam melihat satu-persatu dengan binggung.
"Reva gila! hilang ingatan dia," teriak Viana membuat semuanya mulai menunjukkan wajah panik.
"Ibu, bapak," mata Reva berkaca-kaca melihat kedua orangtuanya yang langsung memeluk Reva sambil mengelus rambutnya.
"Viana jaga ucapan kamu, jangan buat suasana semakin kacau."
"Kamu yang kacau, mikirin si montok over bahenol."
"Ayo kita keluar," Rama menarik tangan Vi dan langsung ditepis.
"Keluar saja sendiri, aku tidak mau jadi nyamuk kamu dan pacar kamu."
"Viana!" nada Rama tinggi membuat Reva mengerutkan keningnya.
"Viana Rama kalian keluar saja, bertengkar di luar Reva masih sakit." Pinta Bima.
"Rama! siapa wanita kasar yang tidak punya sopan."
Ucapan Reva membuat Viana melihat melotot, yang lainnya juga langsung binggung dan menatap Reva aneh yang tidak mengenali Viana.
"Wahh, jadi kamu ingat yang lainnya dan lupa siapa orang yang menyelamatkan kamu dengan tetesan darah," mata Viana mencari jawaban di dalam mata Reva.
"Kamu siapa? dia juga siapa, anak kecil ini juga siapa?" Reva menunjuk Bima dan juga Windy.
"Mami! maafkan Windy."
"Mami! kapan Bu Reva menikah kenapa anak Reva sudah besar sekali dan mana suami Reva. Bukannya Reva masih sekolah Bu."
"Reva! jangan memikirkan apapun kamu baru kecelakaan ingat perlahan saja ya," Bima mengelus kepala Reva tapi langsung di tepis kasar.
"Om ini siapa? Reva tidak kenal jangan sok baik, Reva risih. Cinta Reva hanya untuk Rama jadi jangan menggoda Reva."
"Kurang ajar kamu Reva, aku menyelamatkan kamu dan beraninya kamu mencintai suamiku." Viana teriak dan langsung di tarik Rama keluar.
Viana melangkah keluar dan berlari dan langsung di kejar Rama, Vi menemui Ravi yang asik bercerita dengan dokter Indri.
__ADS_1
"Selesai mengambil hati anak saya, jika kamu menginginkan Rama ambil saja. Tapi jangan harap Rama bisa bertemu anaknya lagi."
Vi langsung menggendong Ravi dan menatap tajam Rama, melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka pulang kerumah dengan perasaan kacau.
"Mommy dan daddy bertengkar ya, maafkan Ravi ya mom, Tante Indri sepupunya daddy berarti aunty nya Ravi."
Viana menatap wajah Ravi dengan berkedip, dia melihat kearah Rama yang masih fokus menyetir.
Mobil masuk ke Mansion, Vi dan Ravi langsung keluar, Jum menyambut mereka dan membawa Ravi yang pipinya masih bengkak. Rama juga masuk dan melewati Viana menuju kamarnya.
Vi melihat punggung Rama yang sudah pergi tanpa bicara dan masuk ke dalam kamar, Vi duduk di ruang tamu sambil berpikir.
Rama langsung mandi membersihkan dirinya, dia kesal ke Viana tapi juga khawatir, Vi belum makan sejak mendonorkan darahnya.
Rama menghidupkan tabletnya dan melihat Viana masih di ruang tamu diam termenung, seseorang datang mendekati Vi memberikan minum. Rama memperhatikan pelayan yang datang dan terlihat asing.
Cepat Rama lari ke bawah, dari tangga sudah terlihat pertarungan antara Viana dan Ririn, Pengawal berdatangan tapi diam menunggu perintah Rama yang sudah turun dari tangga. Ravi dan Jum juga keluar mendengar keributan.
Ravi menganga melihat mommy bertarung dengan lincah, bukannya khawatir Ravi lompat-lompat memberikan semangat ke mommy nya.
"Ayo mommy, tendang terus, pukul mom, Yee mommy Ravi hebat."
Terlihat juga kemarahan Rama yang melihat keamanan rumah lalai sampai PSIKOPAT seperti Ririn bisa masuk, jika tidak ada orang dalam mana mungkin bisa.
Viana membanting tubuh Ririn dan langsung meletakan kakinya di leher Ririn menekan dengan kuat.
"Lama tidak bertarung Mitha, sampai saat ini kamu masih belum bisa menyakiti aku, masih belum bisa menggores sedikit saja tubuhku."
"Kamu bukanlah lawan yang seimbang, kamu sangat kecil," Vi menduduki Mitha dengan tangan Mitha berada dibelakang tubuhnya, Viana menampar berkali-kali.
"Parrrrkk untuk Reva, parrrrkk untuk Reva yang terluka, parrrrkk untuk Reva yang kehilangan banyak darah, parkkk untuk Reva yang melupakan aku," Vi mencengkram kuat rahang Mitha memandangi nya penuh Kemarahan, Viana terluka saat pertama masuk keruangan Reva yang penuh luka, memberikan darah untuknya dan memandangi Reva berjuang, dan saat sadar dia melupakannya.
Rama sudah berdiri disamping Viana dan membantunya berdiri, menarik Vi ke dalam pelukannya.
"Maaf ya Vi aku tidak mengerti kamu, aku tidak mengenali kamu."
"Reva melupakan Viana hubby, dulu Vi menganggap Mitha seperti adik Vi, Viana tidak tega menyakitinya bahkan Viana pilih pergi demi kebahagiaan semuanya. Tapi sekarang saat Viana kembali lagi Reva terluka."
"Jangan menyalakan diri kamu, kita tidak pernah tahu yang akan terjadi, maafkan daddy yang mengabaikan mommy dan tidak mengerti isi hati mommy."
__ADS_1
Rama membiarkan Viana memukul Mitha agar rasa marah dan kecewa Vi terluapkan, Mitha sekarang sudah tidak sadarkan diri dan di bawa oleh pihak berwajib.
"Vi masuk ke dalam bawa Ravi," Viana langsung menggagukan kepalanya mengandeng Ravi bersama Jum.
Dari dalam kamar Ravi Viana bisa mendengar suara pukulan, jantung Vi berdegup membuka sedikit pintu dan mengintip Rama memukul pengawal yang menjaga keamanan rumah. Jum juga mengintip di bawah Viana melihat Kemarahan Rama.
"Hubby serem sekali kalau marah," Viana masih membayangkan Rama membentaknya dan memukul setir mobil.
"Iya kak Vi, Jum belum pernah melihat tuan marah, apalagi sampai main tangan." Jum mengerutkan keningnya melihat Rama melayangkan pukulan.
Puluhan pengawal bergerak menyingkirkan air minum makanan yang ada di dalam rumah karena mengandung racun, mengecek CCTV melihat pergerakan Mitha bisa masuk tapi semua rekaman hilang.
"Tuan, semuanya aman hanya air minum yang diberikan ke nyonya yang mengandung racun."
"Mohon maaf tuan semua rekaman CCTV hilang, dan salah satu pengawal sudah melarikan diri dan dalam pengejaran."
Rama memperketat lagi keamanan, dia bersyukur tidak ada korban, Rama beruntung memiliki istri yang cerdas tidak sembarang langsung minum, jika tidak pasti akan ada air mata lagi.
Ravi sibuk mengelus ular sambil melihat mommy dan aunty Jum seperti maling sedang mengintip.
"Mommy, aunty, jangan sering mengintip nanti bintitan."
Viana dan Jum langsung menoleh kearah Ravi yang sibuk mengelus tangan ular ke arah pipinya yang bengkak.
"Ravi nanti pipi kamu kena cakaran, bukan bengkak lagi tapi bolong."
"Waduh, kalau bolong meledak dong kak Vi,"
"Tutup kuping ular, mommy dan aunty Jum bicaranya yang tidak pernah baik, jangan sampai ular ternodai pendengaran."
Ngeowww ngeowww ngeowww....
***
CERITA BIMA DAN REVA TIDAK LENGKAP DISINI YA, HANYA NUMPANG LEWAT. NANTI ADA NOVEL SENDIRI, SEMOGA UP DI BULAN FEBRUARI.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE YA