
Langkah kaki pelan sedang mengendap-endap, Asih mengintip Erwin dan Lin yang sedang ketemuan di belakang rumah mereka.
Asih langsung memanjat pohon perlahan, meletakan cacingnya yang hanya diam saja melihat tuannya mengintip.
Tatapan Asih bertemu dengan Em yang juga ada di atas pohon mengintip lebih dulu, keduanya menutup mulut menahan tawa dan meletakkan telunjuk dibibir meminta untuk diam.
Kepala Wira menggeleng melihat dua wanita yang berada di atas pohon mengintip, sedangkan Wira sudah memanjat pagar pembatas rumah kedua neneknya.
Mata Wira melotot menatap kedua adiknya yang mengerutkan kening melihat Wira berjalan di atas beton pembatas.
Ketiga bocah hanya duduk diam melihat dua insan sedang tertawa melihat sesuatu di ponsel, dan saling pandang.
Sesaat Erwin terdiam, melihat ke atas langit yang biru. Sejujurnya pertama kalinya bagi Erwin untuk merasakan cemas untuk mengakui sesuatu.
Selama bertahun-tahun, Steven orang yang selama ini memberikan dukungan penuh. Selain kakaknya Erik, Steven orang kedua yang Erwin andalkan.
Keraguan Erwin sangat beralasan, dia tahu Lin baru saja menemukan keluarga bahagia. Dan sangat menyayangi mommy Daddy-nya, wajar jika Lin takut mengecewakan.
Wira yang mendengar pembicaraan keduanya merasakan bosan, dirinya yang juga seorang playboy sangat mudah meluluhkan hati wanita.
Di usia muda Wira sudah banyak mengetahui soal cinta, dan memahami jauh baik buruknya hubungan. Melihat tatapan kakak perempuannya, Wira langsung tahu jika kakaknya mencintai Erwin.
"Kak Wira, mereka bisa bersatu atau tidak?" Em mengerutkan keningnya, berbicara sangat pelan.
Kepala Wira menggeleng, hubungan keduanya tidak akan mendapatkan restu karena penuh keraguan.
Wira sangat mengenal baik Daddy-nya, dia bisa mengetahui tingkat keseriusan seseorang hanya satu kali lihat saja.
"Bagaimana ini?" Asih mengaruk kepalanya.
"Kak Lin, apa yang sedang kalian bicarakan membuang-buang waktu, membosankan." Wira menatap sepasang kekasih yang terkejut melihat kehadiran tiga bocah yang mirip monyet.
"Apa yang kalian bertiga lakukan?" Lin mengusap dadanya yang kaget.
"Menurut kak Lin? lelaki dan perempuan berduaan ketiganya pasti setan, makanya kita bertiga agar tidak ada setan." Em tersenyum langsung memeluk pohon.
Erwin meminta ketiga bocah turun, jika sampai ada yang jatuh pasti Erwin akan terkena masalah.
__ADS_1
Suara Wira lompat terdengar, mendekati Erwin yang memiliki banyak keraguan. Senyuman Wira terlihat, meminta Erwin menjauhi kakaknya jika masih memiliki banyak keraguan.
Wanita membutuhkan kepastian, lelaki yang secara jantan mengatakan apa yang dia rasakan juga berada di depan untuk menjaga wanita.
"Uncle, Sherlin putri utama keluarga kami dia sangat berharga. Daddy tidak akan membiarkan putri kesayangannya hidup bersama lelaki yang belum memiliki pendirian, yakinkan hati Uncle baru nyatakan cinta." Tatapan Wira tajam meminta Lin segera masuk rumah.
Tanpa banyak protes, Lin langsung berjalan masuk. Erwin juga diminta pulang dan sementara waktu tidak menemui Lin.
Kepala Erwin mengangguk, langsung melangkah pergi melewati pintu pembatas. Wira ada benarnya, jangankan untuk meminta restu, mengatakan cinta secara langsung juga belum berani.
Em dan Asih masih di atas pohon, menatap Erwin yang mondar-mandir di depan rumah. Dia terus berjalan sampai mobil Erik berhenti di depannya.
"Kak Asih tahu jika Em sangat menyukai pohon, karena bisa mengintip tanpa ada yang tahu." Suara tawa Em terdengar.
"Kasihan Uncle, dia bukan tidak punya keberanian hanya saja menikahi salah satu keluarga ini berarti dia harus menggenggam seluruh keluarga." Tatapan Asih terlihat sedih.
"Apa susahnya menggenggam? tanpa Uncle minta, Em yang akan menggenggam uncle." Tangan Em saling menggenggam menyemangati Uncle nya.
Asih menepuk jidat, Em salah pengertian. Sulit bagi Rasih untuk menjelaskan. Seseorang yang jenius mampu menyelesaikan yang sulit bagi orang biasa, tapi belum tentu bisa menyelesaikan kasus bagi orang biasa sebenarnya mudah.
Pintu mobil Erik terbuka, menatap adiknya yang mondar-mandir sambil menundukkan kepalanya.
"Memangnya aku harus di mana?" tidak sedikitpun Erwin mengangkat kepalanya, hatinya masih kesal menyalahkan diri sendiri.
Melihat tingkah aneh Erwin membuat Erik khawatir, langsung mendekati adiknya yang pecicilan.
"Kamu menghamili anak orang ya?" wajah Erik terlihat terkejut, menarik kerah baju adiknya.
Mata Erwin terpejam, menarik nafas panjang meminta kakaknya pergi. Kepala Erwin yang berdenyut semakin terasa sakit melihat wajah kakaknya.
Aksi saling dorong terjadi, senyuman Erik terlihat merangkul adiknya untuk melangkah masuk ke rumah.
Erik tahu adiknya sedang gelisah, satu-satunya obat untuk menenangkan hati menemui sosok ibu. Erwin bisa cerita apapun kepada Mamanya.
"Dek, sebelum kamu jatuh cinta kepada pasangan hidup, ingatlah dia wanita pertama yang kamu cintai." Tangan Erik mengacak rambut adiknya, meminta Erwin bertanya kepada Mamanya solusi terbaik untuk hatinya.
Senyuman Erwin terlihat, menganggukkan kepalanya langsung memeluk Mamanya dari belakang.
__ADS_1
Kening Septi berkerut, mengusap kepala anaknya yang sedang cemberut. Meskipun anak-anaknya sudah besar dan bekerja, bagi seorang ibu anaknya tetap masih kecil.
"Ma, apa yang harus Erwin lakukan?"
"Kamu mencintai dia?" senyuman Septi terlihat, menakup wajah putranya.
Kepala Erwin mengangguk, memeluk erat Mamanya. Menceritakan keluhan hatinya dan meminta solusi mamanya.
"Ma, Erwin sudah cocok belum menjadi suami?"
Pukulan Ammar kuat menghantam punggung putranya, Septi teriak melihat putranya yang sudah guling-guling di lantai.
Septi mengusap punggung putranya agar tidak sakit lagi, menatap tajam suaminya yang tangannya sangat ringan kepada putra sendiri.
"Kamu tidak cocok menjadi suami, lebih mirip bayi yang masih bersembunyi di bawah ketiak." Tatapan Ammar tajam melihat putranya yang juga menatapnya tajam.
"Papa juga sama, masih bersembunyi di bawah ketek Mama. Sama perempuan juga takut, katanya laki." Mata Erwin melotot menatap Papanya.
"Steven pria yang sangat keras Erwin, meskipun dia terlihat sangat tenang. Apa kamu pikir dia bisa melepaskan putrinya semudah bayangan kamu?"
"Win tahu, bahkan Erwin sangat mengenal Daddy Stev. Pa, kenapa Papa menikahi Mama?" Erwin bersiap-siap untuk berlari, sebelum papanya emosi.
"Mama kamu yang memaksa papa untuk menikahinya."
Septi langsung terkejut, menatap Erwin yang tercengang. Perlahan melangkah pergi menatap Papanya yang sudah tua masih tengil dan sangat percaya diri.
Erwin balik lagi, menatap Mama dan papanya. Erwin mempertanyakan kenapa dia tidak memiliki adik?
"Pa, nikahkan Erwin."
"Taklukan dulu keluarga Bramasta, bukan hanya Bima yang harus kamu dapatkan restunya, tapi Bisma. Steven bukan lawan kamu? jika mendapatkan restu dari dua orang ini, jalan kamu lancar." Senyuman Ammar terlihat menyemangati Erwin.
Ekspresi Erwin lesu, bicara dengan papanya tidak ada solusi. Tanpa Papanya ingatkan, Erwin juga tahu. Masalahnya, dua orang ini yang sulit dia taklukan.
Suara teriak Erwin terdengar, Bulan yang sedang mencuri es krim melihat Uncle nya yang terlihat stres.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara