
Bisma melangkahkan kakinya memasuki LOVER, banyak yang berpikir Bisma wakil CEO Bima, semuanya langsung memberikan hormat.
Rama melanjutkan pekerjaannya yang tertun'da, Vi juga sibuk mengecek beberapa emails setelah Vi bosan langsung mendekati Rama dan duduk dipangkuan nya, Rama hanya membiarkan Viana tanpa menggangu aktivitasnya.
"Hubby cium Vi."
"Di rumah nanti ya sayang."
Vi mengambil berkas Rama dan langsung menutupnya, mendorong tubuh Rama dan mencium pelan. Rama membalas Viana lebih agresif, tangan Rama juga sudah bergerak meremas.
Rama menghentikan ciumannya, Viana langsung manyun. Rama menggendong Viana ke dalam kamar yang berada di ruangannya.
Tangan Rama sudah membuka bajunya, dan mulai menuntun Viana, tubuh mereka sudah tidak menggunakan sehelai benang dan menuntaskan hasrat.
Viana menahan suaranya mengikuti setiap hentakan Rama, keringat mengalir ke sekujur tubuh mereka. Rama jatuh di atas tubuh Vi yang masih mengatur nafas.
"Vi, mengapa kamu menunda kehamilan."
"Kita sudah punya Ravi, Vi pikir tidak perlu terburu-buru."
"Maaf ya Vi, kamu tidak jujur soal obat kamu, dan hubby menggantinya dengan obat kesuburan tanpa minta izin."
"Astaga hubby, Vi baru saja meminumnya." Tangan Viana mendorong tubuh Rama yang masih di dalam miliknya tapi bukannya keluar Rama menekan lebih dalam.
Ronde selanjutnya mulai, Viana sudah pasrah tidak ada yang bisa disembunyikan dari suaminya dan akibat menggoda Rama kena batunya sendiri.
***
Bisma masuk ke dalam ruangan Rama, terlihat sepi dan hanya ada suara sayup-sayup dari arah kamar. Bisma hanya menghela nafas menunggu keduanya menyelesaikan permainan.
Rama dan Vi keluar kamar setelah mandi, mereka melihat Bisma sedang tertidur. Rama binggung mau bersikap, dan Viana hanya nyengir melihat e
Rama.
"Mampus kuat banget ya kalian berdua, 2jam gue nungguin. Sudah puas belum? apa mau lanjut lagi."
"Maaf kak Bisma," Rama duduk di sofa depan Bisma.
"Mau lanjut tapi di rumah sebentar lagi jam pulang, Lo mau kemana setelah mencuri ciuman Jum."
__ADS_1
"Dari mana Lo tahu Vi, masa iya Jum cerita atau CCTV."
"Iya CCTV, kami ingin mengawasi Ravi sudah pulang belum tapi melihat kalian."
"Berarti kalian juga tahu tujuan aku datang, langsung saja. Malam ini aku langsung pergi ke LN dan mungkin tidak kembali."
"Soal bisnis, tapi kenapa harus di London! Bisma jauh sekali. Mengapa tidak tempat kita kemarin bisnis kamu juga sukses di sana."
"Aku ada urusan di sana Vi, mungkin kalau selesai baru pulang ke sana."
"Vi tidak setuju, Ravi pasti mencari kamu jika lama tidak bertemu. Lo juga gak jujur ke dia."
"Gimana gue jujur Vi, selama ini aku tidak pernah berpisah dengan Ravi, gue juga berat ninggalin dia. Sekarang ada Rama yang mendampingi Ravi tugas gue selesai."
"Sebenarnya masalah Lo apa? soal perempuan lagi! Lo menghamili anak orang ya."
"Mungkin!"
"Kak Bisma Rama tahu kakak punya alasan sendiri tapi lebih baiknya kakak bicara dulu dengan kak Bima, bagaimanapun juga kalian keluarga?"
"Aku memutuskan persaudaraan dengan Bima saat dia memutuskan mendampingi kamu, aku marah karena dia meninggalkan aku. Walaupun aku tahu kak Bima mengawasi aku tapi semuanya tidak ada gunanya."
"Jadi perpisahan kalian karena Rama, maaf ya kak Bisma."
"Siapa bocah?"
"Reva! dia bohong soal hilang ingatan,"
"Darimana kamu tahu," Viana menatap serius, dan Rama melihat wajah Vi yang seperti sudah tahu.
"Sejak awal! tapi terserahlah bukan urusan Bisma. Semoga saja Bisma bisa kembali saat pernikahan mereka."
Bisma pamit undur diri, Viana dan Rama hanya menatap punggung Bisma yang perlahan menghilang.
***
Sakti dan timnya sibuk memperhatikan pergerakan musuh, dia mempelajari semua yang Rama berikan, tidak ada yang meleset.
"Rama cerdik bisa mendapatkan bukti sebanyak ini, dan semuanya sesuai dengan fakta, tidak sulit menangkap hanya saja banyak bahaya yang tidak terduga."
__ADS_1
Dalam beberapa hari Sakti akan menyerang markas dengan persiapan yang sangat matang, saat sedang konsentrasi wajah Viana muncul di pikiran Sakti.
"Siapa kamu? wajah kalian mirip tapi sifat kalian sangat berbeda jauh."
Setelah semuanya selesai Sakti kembali ke apartemennya dan mengeluarkan foto seorang gadis cantik yang memiliki senyuman lembut.
"Angel! apa kalian orang yang sama? dosa tidak aku memikirkan istri Rama, tapi mengapa dunia begitu sempit. Siapa dia?"
Sakti membayangkan wajah Angel yang ceria, lemah lembut, penyayang, sabar dan sangat cantik. Mereka berdua berdiri di atas pelaminan menyambut tamu. Tawa bahagia terlihat. Sakti membuka matanya, mimpi yang sama berulang-ulang.
"Angel! aku belum bisa melupakan kamu, impian kita bisa naik pelaminan, karena aku tugas kita harus menundanya. Tapi mengapa kamu pergi meninggalkan aku, aku sangat merindukan kamu Angel."
Sakti meneteskan air matanya, memeluk foto Angel dan terbayang tubuh Angel berlumuran darah terbaring di rumah sakit sampai menghembuskan nafas terakhirnya.
Rasanya dunia Sakti runtuh, hancur sudah kebahagiaannya, wanita yang paling dia cintai menutup mata untuk selamanya dalam kecelakaan di hari pernikahan mereka.
Foto yang mulai kusam di angkat tinggi, Sakti tersenyum bahagia melihat foto Angel dan menciumnya.
"Aku akan menyelesaikan misi, baru mencari tahu soal istri Rama, aku berjanji Angel tidak akan mengkhianati cinta kita, tapi biarkan aku mengobati rasa penasaran ini."
***
Mobil Rama masuk kawasan gedung tua, Rama masuk ke dalam bersama Sakti yang sudah menunggunya, mereka masuk disambut banyak orang, layar besar sudah memperlihatkan setiap gerakan transaksi yang akan dilakukan para mafia.
"Kak lihat ini, berhati-hati di sini menjadi gudang granat amankan, di sebelahnya transaksi senjata ilegal juga narkotika. Dan lihat wajah mereka, dia Abi pemimpin perusahaan yang sudah disita pemerintah, dan beberapa pria ini mafia gabungan dan sangat kuat. Dulunya komunitas ini berada di bawah perintah seorang mafia wanita. Tapi dia menghilang 5 tahun yang lalu."
"Kamu tahu banyak hal,sejak kapan kamu mengawasi mereka."
"Sejak istriku menghilang, aku mencarinya berkeliling dunia dan menyebarkan banyak orang."
"Apa dia wanita kemarin, mafia wanita yang punya kuasa, dia istrimu." Tawa Sakti terlihat dan mengigat tamparan kuat Viana yang mempunyai tenaga.
"Kita selesaikan kasus ini, baru kita bahas soal tindakan kakak kemarin, Rama merasa tersinggung ada yang memeluk istri Rama dan di hadapan langsung."
"Maaf Rama, nanti akan aku jelaskan, tapi maaf soal kelancangan kemarin."
Rama menunjukkan senyuman, dan kembali fokus ke layar menjelaskan segalanya ke Sakti.
***
__ADS_1
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE