
Keadaan Ravi sedikit drop, sementara dia di infus di dalam ruangan Erik yang dijaga oleh Kasih.
"Ravi maaf, aku tidak tahu kamu takut dengan darah." Kasih sedikit menyesal melihat keadaan Ravi.
Kasih sudah mengabari Tama soal Ravi, tapi tidak berani mengabari orangtua Ravi.
Mata Ravi perlahan terbuka, Kasih duduk disisinya sambil memejamkan matanya. Kasih semalam tidak tidur belum lagi harus menjaga Ravi.
"Kasih ayo pulang."
Melihat Ravi yang sudah berdiri dan merapikan rambutnya, dia melangkah ke luar ruangan Erik dan melihat bapak bayi yang membuatnya pingsan. Terlihat suaminya sangat khawatir, belum lagi penampilannya yang berantakan, Ravi bisa menduga mereka dari kalangan bawah.
Ravi mengeluarkan uangnya dan memasukkan dalam amplop meletakkannya di ruangan Erik. Tanpa harus bicara panjang lebar Erik sudah mengerti maksud uang Ravi.
Sepanjang perjalanan Ravi hanya diam, tatapan matanya juga keluar jendela. Kasih sangat yakin Ravi sedang marah, Kasih mengantarkan Ravi di depan rumahnya.
"Terimakasih," Ravi langsung keluar dan berjalan masuk tanpa bicara apapun dengan Kasih.
Wajah Kasih terlihat sedih, dia juga tidak menyangka Ravi akan sangat marah. Biasanya Ravi sangat cerewet tapi hari ini sepanjang jalan sudah mirip es batu.
Ravi berteriak memanggil mommy yang tidak bisa tidur jika Ravi belum pulang, walaupun Erik sudah memberikan kabar jika Ravi bersamanya.
"Mommy!" Ravi langsung memeluk Mommy sangat erat, seakan sangat takut kehilangan.
"Kamu darimana? Mommy khawatir." Viana duduk di sofa sedangkan Ravi masih memeluknya.
Rama juga turun, karena Ravi pulang pagi. Sekali pulang mirip cicak nempel di ketiak Mommy.
"Mom, maafkan Ravi jika banyak salah." Suara Ravi sedikit bergetar karena dia sedang menahan tangisnya.
Rama dan Viana saling pandang, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan putranya. Viana menepuk punggung Ravi pelan.
"Mommy, saat melahirkan Ravi mengalami pendarahan." Ravi masih lengket memeluk Viana.
"Iya, tapi inilah perjuangan seorang ibu." Viana mengigat momen mempertahankan Ravi tanpa Rama di sisinya.
"Ravi banyak menyusahkan Mommy, Ravi banyak dosa sama Mommy."
"Ravi, wanita itu sangat kuat, makanya lelaki harus menjaga wanitanya karena perjuangan wanita mempertaruhkan nyawanya."
"Iya mom, maafkan semua kesalahan Ravi. Dari hati Ravi yang paling dalam Mommy wanita pertama yang Ravi cintai."
Viana menangkup wajah putranya, mencium kening Ravi memintanya beristirahat karena wajah Ravi nampak pucat. Sebelum masuk kamarnya Ravi menatap Daddy langsung memeluknya.
"Terimakasih Daddy sudah mencinta Mommy." Ravi memeluk erat Daddy.
"Terimakasih Ravi hadir dalam cinta kami, kehadiran kamu memperkuat cinta kami." Rama membalas pelukan Ravi.
__ADS_1
Vira turun dari lantai, adik satu-satunya Ravi yang sebentar lagi lulus SMA. Seharusnya sudah kuliah tapi tingkah nakalnya membuatnya tinggal kelas.
Ravi mendekati Vira yang menatapnya sinis, Ravi menggendong Vira dan menciumnya. Vira bukannya senang tapi langsung memukuli Ravi dengan kuat.
"Iihhhh! geli, kenapa peluk-peluk pasti melakukan kesalahan besar. Hayoooo pasti selingkuh dari kak Kasih." Tangan Vira menunjuk wajah kakaknya yang Tampan.
"Diamlah!" Ravi langsung berlari ke lantai atas, masuk ke dalam kamarnya untuk lanjut tidur.
***
Kasih pulang bertemu Tama yang sedang libur kerja, tatapan Tama mengintrogasi Kasih yang semalaman bersama Ravi.
"Kakak Ravi takut darah ya?" Kasih duduk di samping Tama.
"Emhhh,"
"Kenapa?"
"Dulu saat kita bermain, Ravi hampir tertabrak mobil demi menyelamatkan seekor kucing. Tian berhasil menarik tangan Ravi, tapi kucingnya meninggal pecah kepala, darahnya mengenai tubuh Ravi."
"Astaghfirullah Al azim, dia masih kecil kak."
"Iya Ravi baru berusia 10tahun, dia langsung pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Di rawat juga cukup lama, mungkin sejak hari itu takut darah."
Kasih menggagukan kepalanya, dia merasa menyesal melibatkan Ravi. Tama pamit pergi untuk bertemu temannya, Kasih di larang kerja karena semalaman tidak pulang.
Ravi menyegarkan tubuhnya, tapi masih terus membayangkan Ravi. Kasih mengabaikan pikirannya coba fokus untuk tidur, nafas Kasih mulai teratur dan terlelap.
"Kenapa harus merasa bersalah? lagian aku tidak tahu." Kasih membela dirinya sendiri.
"Aku kirim makanan saja sebagai permintaan maaf, tapi terlihat berlebihan tidak ya. Dia suka makan sayur tidak, atau dia hanya makan roti. Buat kue nanti dia alergi kue." Kasih bicara dan menjawab sendiri.
"Sudahlah yang terpenting bukan hasilnya, tapi niat baiknya. Aku hanya mau meminta maaf juga mendoakan dia cepat sembuh, tidak lebih.
Kasih memasak lauk-pauk, juga membuat kue yang sangat cantik. Kasih paling pintar membuat kue, karena dia suka berimajinasi jadinya selain melukis Kasih suka memasak.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Kasih membungkus untuk Ravi dan menyisakan untuk keluarganya. Sebelum pergi Kasih masuk ke kamar mencari baju yang pantas juga sedikit memberikan lipstik di bibirnya.
"Astaga kenapa harus terlihat bagus, niatnya hanya mengantarkan makanan. Tapi tidak salah Kasih sedikit berdandan untuk diri Kasih sendiri." Senyum manis terukir dari wajah Kasih.
Kasih keluar rumah menggunakan sepeda, karena jarak rumah mereka hanya melewati satu kompleks elite. Rumah Ravi salah satu yang paling mewah, dengan santai Kasih mengincang sepedanya dan sampai di depan gerbang rumah Ravi.
Seorang satpam mendekat, untuk membukakan pintu karena dia sudah mengenali Kasih, langsung tersenyum dan mempersilakan masuk.
"Ingin bertemu tuan Ravi non Kasih."
"Panggil Kasih saja, Ravi ada di rumah."
__ADS_1
"Ada, silahkan langsung masuk."
Kedatangan Kasih sudah disambut oleh pelayan, Viana langsung ke ruang tamu karena mendengar kabar Kasih datang.
"Hallo Tante," Kasih mencium tangan Vi.
"Iya sayang, kamu bawa makanan untuk Ravi." Viana langsung tersenyum.
"Ravi sakit karena Kasih, sebagai permintaan maaf juga ucapan terimakasih Tante."
"Ohhhh, ya sudah sini makanannya Mommy tunggu di ruang makan. Kamu panggil Ravi di kamar, sudah tahukah kamar Ravi." Kasih hanya menganggukkan kepalanya.
Viana dengan senyum bahagia menuju dapur, Kasih mengaruk Kepalanya. Kamar Ravi menjadi tempat paling horor. Dengan terpaksa Kasih melangkah menaiki tangga sambil tarik nafas buang nafas.
Kasih mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban, berkali-kali Kasih mengetuk dan akhirnya memutuskan masuk. Dilihatnya Ravi yang sedang tidur pulas, baru dua langkah Kasih putar arah lagi berdiri di depan pintu.
"Ravi bangun! Ravi hallo. Belum mati kan!" Kasih mendadak kesal, dia malu masuk ke dalam kamar laki-laki.
Akhirnya Kasih masuk menarik selimut Ravi, menggoyang tubuh Ravi agar terbangun.
"Ravi bangun," Kasih menarik hidung Ravi, pipinya tapi masih tidak mendapatkan respon.
"Ini orang pingsan kali ya, susah banget dibangunkan." Kasih memikirkan cara terbaik.
Kasih mencari pintu kamar mandi untuk menyiram wajah Ravi, dipukul tidak mempan, dicubit juga tidak ada pengaruh.
Tapi saat melihat air Kasih tidak tega, dengan langkah malas Kasih mendekat. Dia bicara dengan lembut membangunkan Ravi. Mata Kasih menatap wajah tampan Ravi yang terlihat tenang saat tidur.
"Pandang terus sampai jatuh cinta." Ravi masih memejamkan mata tapi bisa bicara.
Kasih langsung cepat ingin keluar, tapi Ravi menarik dan melemparkan tubuh Kasih ke atas kasur dan Ravi langsung berada di atasnya.
"Membangun seorang Ravi harus lembut, dibelai kalau bisa dicium." Ravi menahan tawa melihat wajah kasih yang mirip kepiting rebus.
"Dasar cowok mesum!" Kasih ingin meronta tapi Ravi sudah menahan tangannya kuat."
"Ravi! jahil banget, nanti dipaksa menikah lagi."
"biarkan saja, lebih cepat lebih baik." Ravi tertawa tapi langsung melepaskan Kasih yang berlari keluar kamar.
"Kamu cantik sekali Kasih, apalagi kalau marah dan ngambek." Ravi memejamkan matanya membayangkan wajah Kasih.
"Ya Allah jika dia jodohku persatuan, tapi jika kami tidak berjodoh tolong jodohkan."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***