
Vira, Winda, Bella dan Billa mengunjungi Kasih untuk terakhir kalinya. Keempat wanita akan pergi mengejar mimpi dan cita-cita. Ravi sudah membuat kesepakatan dengan kedua orangtuanya, jika dalam tiga bulan Kasih tidak memiliki perubahan, Ravi akan mengikhlaskan Kasih.
"Kak, sejujurnya Vira sedih pergi, saat keluarga kita sedang berduka."
"Winda juga, rasanya tidak ingin kuliah tapi Papi bilang kami harus tetap maju kak."
"Bisa tidak Bella berharap saat pulang kak Kasih membuka mata, hati Bella berharap sangat besar jika ada keajaiban. Sekalipun kak Kasih sudah tidak punya harapan lagi, Bella masih berdoa agar semuanya kembali bahagia." Bella meneteskan air matanya.
"Semoga kak Kasih bangga mempunyai adik seperti kita, kami sedih sekali kak tidak bisa melihat tawa dari keluarga kita."
Tangisan empat bocah terdengar, Viana juga meneteskan air mata mendengar kesedihan putrinya. Vira langsung berjalan keluar diikuti oleh Bella dan Winda.
Billa masih berdiri menatap keadaan Kasih, memegang denyut nadi, mendekati mulutnya, membuka mata Kasih, menatap layar yang hanya orang kedokteran yang mengerti.
"Sampai bertemu lagi kak Kasih, Billa selalu mengingat ucapan kak Kasih untuk menjadi seorang Dokter anak." Billa melangkah keluar, sebelum pergi Billa menunggu kakaknya Windy tiba dari luar negeri.
Reva masih di rumah sakit bersama Jum dan Viana, sebelum Vira geng pergi harus bertemu Windy dulu karena seluruh berkas untuk tempat tinggal Windy yang mengurus.
"Nay." seorang bocah berlari pelan, Windy berjalan di belakangnya bersama suaminya.
"Ini berkas kalian, cepat ke bandara sekarang."
Vira langsung memeluk Viana sambil menangis, Bella Billa juga, Winda dan Reva tangisannya tidak terbendung.
"Mommy, Vira pergi tidak izin kak Ravi."
"Tidak masalah sayang, cepat temui Daddy di bandara." Viana mencium kening Vira.
"Bella jaga adik kamu, nanti saat ada waktu Bunda sama Ayah akan berkunjung." Jum memeluk kedua putrinya.
"Winda tidak ingin lepas dari Reva, sambil Billa Bella menariknya."
"Telpon mami terus ya sayang."
Vira geng pergi di antar Kaka ipar Winda, bocah berisik sudah teriak ingin ikut sampai Windy melototi putranya.
__ADS_1
"Mommy, Wira ingin ikut Daddy."
"Tidak boleh, duduk baik-baik."
"Mom, di mana Ravi?"
Viana juga binggung hari ini Ravi tidak terlihat, Windy mengajak putranya melihat Kasih yang masih belum sadar.
"Hmmm, Tante cantik sakit ya, sini Wira obati." Wira mengelus tangan Kasih, meniupnya agar sembuh.
"Bismillah pasti sembuh. Yeee Tante cantik menggenggam tangan Wira Mommy."
"Nay Tante cantik sudah sembuh, tadi sentuh tangan Wira." Wira mengambil tangan Reva, memperagakan tangannya yang disentuh.
"Diamlah Wira."
"Mommy Wira tidak berbohong, sudah Wira marah sama Mommy karena tidak percaya sama Wira." Wira langsung manyun melipat kedua tangannya di dada.
"Andaikan keadaan kita sedang baik, betapa lucunya kamu Wira." Viana meneteskan air matanya, mencium pipi Wira.
Perasaan Windy cukup khawatir melihat keadaan Ravi yang sedang terpuruk.
"Ravi." Windy langsung berlari memeluknya, menangkup wajah Ravi yang matanya sayu, rambutnya berantakan, tumbuh kumis dan jambang.
Erik, Tian juga ada di sana sedang duduk menatap ke langit. Windy langsung menarik Ravi ikut duduk.
"Kalian rindu tidak saat kita kecil dulu, kak Windy jatuh dari pohon, kalian bertiga di hukum di depan rumah masing-masing sambil leher digantung tulisan tidak nakal lagi."
"Kita tidak mungkin lupa kak." Tian mengusap matanya.
"Dulu kita selalu tertawa, kalian selalu jadi amukan Bunda, Mami, Mommy karena kak Windy. Kita semakin besar dek, kehidupan kita semakin keras." Windy menatap langit senja.
"Kita dulu selalu dihukum karena menggangu Wildan, tapi sudah hampir tiga bulan aku kehilangan jiwa untuk tertawa seperti dulu." Ravi menunduk mengacak rambutnya.
"Sedihnya kamu juga kita rasakan, kalian selalu melindungi kak Windy, bahkan saat kakak menikah kalian menangis, saat kakak pergi kuliah, saat kakak pergi ikut suami, saat kak Windy melahirkan, kalian sangat heboh bahkan meninggal perkejaan kalian demi menemui kakak. Ravi kali ini kamu sedang berada di zona bawah, melewati satu hari seperti puluhan tahun beratnya. Kamu masih menganggap kami, masih menyayangi keluarga kita, sedih kamu sedihnya kita, luka kamu kita juga terluka."
__ADS_1
Ravi meneteskan air matanya, terus terisak memeluk Windy yang juga ikut menangis. Erik dan Tian juga menangis merasakan lelahnya beban Ravi, pernikahan yang sangat Ravi impikan hancur dengan sandiwara kebohongan, setelah belajar menerima dan ikhlas dengan segalanya Ravi diuji lagi dengan kehilangan Kasih. Mental Ravi sudah drop total, jika tubuhnya buatan manusia mungkin sudah hancur berkeping-keping.
"Kamu kuat dek, pasti kamu bisa melewati semuanya, Allah sudah menyiapkan hadiah terindah dalam hidup kamu, akan ada hari bahagia itu Ravi."
"Ravi mencintai Kasih kak Win, sangat mencintainya."
"Kamu boleh cinta, tapi ingat kamu tidak boleh melebihi cinta kepada Allah."
Ravi menghapus air matanya, menarik nafas lalu menghembuskannya.
"Sudah selesai Rik kita berjuang, lepaskan alat bantu bernafas Kasih. Aku akan menemani dia untuk terakhir kalinya." Bibir Ravi bergetar, berat hatinya coba mengikhlaskan wanita yang sangat dicintainya untuk pergi selamanya.
Windy langsung berdiri, pergi turun untuk ke ruangan Kasih. Ravi mengikuti Windy dari belakang, Erik dan Tian juga ikut turun ke bawah.
Tiba di bawah Wira langsung berlari ke arah Ravi, cepat Ravi menyambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Hai Uncle ganteng, Tante cantik di dalam kamar memegang tangan Wira, tapi Mommy tidak percaya." Wira masih membuang pandangannya dari Windy.
Erik tersenyum melihat Ravi yang tertawa melihat ocehan Wira, sebelum membuka alat pernapasan Kasih seluruh keluarga memutuskan untuk sholat terlebih dahulu. Rama, Bima, Bisma juga sudah kembali dan menemui keluarga untuk sholat berjamaah.
Karin juga ikut hadir bersama ibu dan Tama yang sesekali masih meneteskan air matanya, seluruh keluarga besar kumpul bersama kecuali Vira geng. Melaksanakan sholat Maghrib bersamaan, lanjut membaca Al Qur'an.
Cinta melangkah mencari keluarga melihat Kasih yang terbaring, tapi tidak ada satupun yang menjaganya. Cinta ingin masuk, ragu, bolak-balik depan pintu, wajah Cinta berantakan, satpam berlari menemui Ravi ada juga yang langsung menuju ke kamar Kasih saat melihat wanita gila mendekati ruangan Kasih.
Cinta yang ketakutan banyak orang meneriakinya langsung masuk kamar dan menguncinya, teriak histeris Cinta terdengar.
Ravi yang mendapatkan kabar langsung berlari kencang, Erik langsung menghubungi keamanan untuk bersiap. Erik tidak menghiraukan panggilan Tian langsung mencari pintu darurat, berlari melewati tangga untuk menuju kamar Kasih.
"Sialan Cinta, kamu bukan gila bunuh diri saja, tetapi mengapa harus datang ke sini." Erik berlari tidak mempedulikan apapun lagi.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***