SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 BERMAIN BERSAMA


__ADS_3

Suara tawa terdengar, gemes melihat anak-anak bersemangat. Vira lebih bersemangat lagi sampai ingin lompat-lompat kesenangan.


"Siapa yang membawa mobil?" Kasih menatap semuanya yang diam.


"Winda satu mobil bersama Vira, dan Erlin sekalian jemput Asih, Raka dan Wira. Virdan dan Arum bersama kita." Winda mencium putranya Arwin yang cemberut.


"Oke, Kasih satu mobil bersama Bella, Billa dan anak-anak. Jangan lupa membawa kereta bayi agar kita tidak kesulitan." Kasih memasuki barang-barang yang ingin mereka bawa.


"Vira, kamu jangan lompat-lompat, kita harus hati-hati." Bella menatap tajam.


"Baiklah." Vira langsung masuk mobil.


Winda meminta Lin masuk bersama Virdan dan Arum, sedangkan Arwin bersama Billa. Bulan Bintang juga masuk ke dalam mobil bersama Kasih.


Dua mobil melaju menuju sekolah, dua bocah yang dikabarkan sudah pulang hanya masih menunggu Wira yang sekolahnya lumayan lama.


"Anyong." Asih langsung tersenyum masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang bersama dengan Raka.


"Wira masih lama tidak?" Vira sudah tidak sabar lagi.


"Itu Wira." Winda tersenyum melihat bule tampan berjalan keluar sekolah.


"Wira awas!" Vira dan Winda terkejut saat seorang anak bertumbuh tinggi mendorong Wira yang masih kecil sampai terjatuh.


Lin yang melihatnya langsung melangkah keluar, mendudukkan Virdan. Erlin langsung mendorong anak laki-laki yang menyakiti adiknya.


Perdebatan terlihat, Vira melipat tangannya di dada, Winda hanya tersenyum sinis. Mereka tidak tahu siapa Wira, dia singa yang sedang tidur saat marah menakutkan.


Siapa yang berani membantah Wira saat marah, bahkan Daddy-nya saja hanya bisa diam. Kemarahan Wira jarang terlihat, tapi jika sampai muncul jangan di dekati.


Tubuh Erlin terduduk, anak laki-laki yang berbadan tinggi memanggil teman-temannya. Pihak guru tidak ada yang menghentikan, mereka tidak tahu status Wira siapa.


"Cari mati mereka semua." Asih langsung ingin keluar, tapi Vira menahannya.


"Wira bisa mengatasinya, dia memang anak semata wayang, tapi dia cucu utama yang memiliki pengaruh untuk menjaga adik-adiknya." Vira tersenyum meminta Rasih dan Raka tetap diam di mobil.

__ADS_1


"Mereka akan menyesal menyakiti wanita di depan kak Wira." Aka langsung cuek saja, dia bahkan pernah melihat Wira bertarung dengan Mommynya.


Dugaan semuanya benar, Wira langsung menyerang saat melihat Lin terluka. Bahkan puluhan guru yang menghentikan Wira.


Langkah kaki seorang wanita cantik menatap tajam, Kasih menarik Wira langsung menatap dengan ancaman siapapun yang menyentuh cucu Bramasta.


"Masuk mobil sekarang Wira, Erlin. Kalian bisa kehilangan pekerjaan mengusik cucu Bramasta." Kasih menunjuk wajah orang-orang yang terlihat takut.


"Are you okay Wir?"


"Okay." Wira langsung duduk di belakang bersama Asih dan Aka.


"Kenapa tidak dipatahkan saja tangannya?" Asih menatap Wira yang membersihkan bajunya.


"Masih dibutuhkan untuk meringankan beban keluarga." Wira tersenyum sinis.


Winda tertawa, mereka semua berpegang teguh jika tidak boleh menyakiti orang yang sebenarnya membutuhkan perhatian, tapi caranya yang salah.


"Astaghfirullah Al azim, mata Asih ternodai." Asih tersenyum melihat Wira membuka baju sekolahnya dan ganti baju biasa.


"Sayang Aunty Vira, mubazir." Asih tertawa, mendapatkan pukulan dari Raka yang menatap kesal.


Mobil akhirnya tiba di mall, semuanya langsung keluar. Vira tersenyum bahagia, menghirup udara mall yang sudah berbulan-bulan tidak dirinya kunjungi.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" Winda menatap Arwin yang berada dalam gendongan Kasih.


Bulan sudah berjalan lebih dulu, Wira mengandeng tangannya untuk berjalan masuk. Bella mengandeng tangan Bintang yang tidak banyak bunyi.


Embun baru keluar dari mobil, langsung berlari bersama Asih untuk masuk ke dalam mereka ingin bermain mobil-mobilan.


Erlin tertawa lepas bermain bersama Wira, Raka Rasih, Embun dan Elang. Bulan tertawa menjadi suporter mereka, Kasih juga tertawa melihat Arum yang bersemangat.


Ini pertama kalinya bagi mereka bisa keluar jalan-jalan dengan bebas di luar area perumahan.


Vira dan Winda juga ikut bermain, tertawa lepas mengigat kembali masa muda mereka. Jika dulu hanya mereka berempat, sekarang sudah ramai karena ada anak-anak yang menambah keramaian.

__ADS_1


Selesai main mobil-mobilan, Vira, Winda, Bella dan Kasih lanjut main bilyard. Billa menjadi baby sister mengawasi anak-anak yang masih asik bermain.


"Vira, hari ini kamu terlihat berbeda?"


"Winda benar, aku pikir kita kehilangan sosok Vira yang selalu happy, membuat heboh juga bar-bar."


"Aku masih sama Bella Winda, hanya saja aku terlalu nyaman berdiam diri, tapi hari ini entah kenapa aku ingin sekali bermain dan bersenang-senang." Vira teriak kuat, berhasil memasukkan semua bola.


"Yakin tidak ada masalah?" Winda mendekati Vira yang tertawa.


"Kalian kenapa selalu mengkhawatirkan aku?" Vira menatap tajam sahabatnya.


"Kita hanya takut saja Vir, kamu terlihat berbeda tidak seperti Vira yang kita kenal. Hati kamu begitu mudahnya membawa Erlin ke dalam rumah, menjadikan bagian dari kamu." Kasih memasukkan beberapa bola.


"Aku hanya berpikir Lin membutuhkan keluarga, dia juga anak baik."


"Kita tahu dia anak baik, juga membutuhkan cinta. Vira begitu banyak konflik yang kita lalui, tapi kamu sangat menolak ada orang baru, tapi hadirnya Lin seakan-akan kamu memberikan ruang untuk wanita lain mengantikan kamu, ini sungguh membuat kita khawatir apalagi kamu sedang hamil beresiko." Winda membuang bola, langsung duduk terlihat sangat sedih.


"Kalian pikir aku tidak khawatir, aku takut mati Win, meninggalkan kalian semua juga lelaki yang aku cintai, sungguh aku takut. Dibalik rasa takut, aku menguatkan diri sendiri, selalu ingin terlihat baik demi Wildan agar dia tidak semakin khawatir." Vira langsung duduk, memeluk Winda yang mengusap punggungnya.


"Kita tidak ingin ada wanita lain, kita sudah janji untuk selalu bersama."


"Bodoh, kamu pikir aku membawa Lin untuk menjadi istri Wildan? kamu tahu aku mencintai Wildan sejak kecil, bisa menikahi dia mimpi terindah bagi aku. Bagaimana aku bisa rela suami diambil orang lain? aku ingin menjadi hantu saja agar bisa selalu ada di sisi Wildan." Vira mengusap air matanya, tidak ingin berpikir buruk. Vira sangat yakin bisa bertahan sampai akhir.


Bella langsung memeluk Winda dan Vira, mereka berjanji akan menjaga Vira sampai waktunya melahirkan. Memberikan dokter terbaik, bahkan Wildan sudah menghubungi dokter pribadi untuk menjaga Vira dan anak kembarnya.


"Aku menganggap Lin sebagai adik, brengsek kalian mengaggap Lin sebagai pengganti aku." Vira memukul kepala Winda dan Bella yang teriak kesakitan.


Kasih merekam moments lucu Vira bersama teman-temannya. Billa muncul sambil marah-marah.


"Kalian asik duduk di sini, katanya Lin akan menjaga Virdan, tapi lihatlah dia sibuk bermain bersama Wira, Asih, Embun. Aku yang menjaga anak-anak." Billa memonyongkan bibirnya.


Vira tersenyum bersama Winda, Bella, Billa dan Kasih melihat anak-anak tertawa bermain sepatu roda, menatap Lin yang terjatuh berkali-kali, tapi terus berjuang untuk bangkit.


***

__ADS_1


__ADS_2