SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
VIRA CLORIA PRASETYA


__ADS_3

Nara sibuk membantu Ravi untuk bersiap pergi sekolah, Ravi langsung berjalan ke ruang makan mengendong tasnya. Selesai Ravi lanjut melihat Rama yang hobinya selesai sholat tidur lagi.


Viana melihat kamarnya sudah rapi, Rama sudah siap ke kantor dan sibuk mencari dasi. Viana langsing memilih dasi yang cocok untuk baju Rama dan memakaikannya.


"Hubby! menunduk sedikit." Rama menurut sambil memegang perut Vi.


"Ayo cepat ke bawah, sarapan sudah siap. Ravi sudahlah menunggu." Viana mengambil baju kotor dan meletakan ke kamar mandi dan menyusul Rama yang sudah lebih dulu turun ke bawah.


"Nikmatnya menikmati momen menjadi istri dan ibu." Gumam Viana.


"Nyonya, lihat! bukannya dia Bisma." Asisten Vi menunjukan sebuah foto.


Viana tersenyum melihat halaman rumah di sebelah rumahnya, berarti Jum dan Bisma sudah menetap di sana.


Vi langsung melangkah ke meja makan ikut sarapan bersama keluarga kecilnya. Rama dan Ravi sudahlah berangkat. Viana berjalan cepat menaiki tangga bersiap-siap menemui Jum tapi sebelumnya dia menghubungi Reva.


Reva yang tujuannya ke kantor langsung putar arah menuju rumah Viana, mobilnya berhenti di depan rumah Jum. Viana datang membawa kunci dan mereka langsung cepat masuk.


Viana mendapatkan panggilan dari Rama yang langsung cepat menyingkir ke ruang tamu. Reva langsung berlari menaiki tangga menuju kamar utama.


Pintu terbuka, Reva mengintip matanya langsung melotot, mulutnya menganga. Baju berhamburan di lantai, Jum masih tidur dengan di balut selimut tebal, pelan Reva melangkah mendekati ranjang mencubit pelan pipi Jum.


"Mas! Jum masih capek. Jangan ganggu."


Reva berkali-kali mencubit Jum sampai matanya terbuka dan langsung melotot ke arah Reva menjatuhkan Reva tertawa terbahak-bahak.


"Reva!" Jum duduk sambil bersandar di ranjang. Tubuhnya masih dibalut selimut tebal.


"Ayo cepat bangun kak Jum. Ada yang harus Reva dan kak Vi bicarakan."


Jum menghela nafasnya, Jum turun langsung terdiam menahan sakit. Bahkan seluruh badannya sakit, rintihan Jun tertahan tidak mau Reva kepo.


Jum memungut bajunya dan berjalan menggunakan selimut ke arah kamar mandi, Reva langsung melangkah keluar tapi terhenti saat melihat bercak darah di sprai putih atas ranjang.


Reva langsung berlari membanting pintu membuat Jum kaget mendengar suara pintu, Reva menarik tangan Viana keluar yang baru saja ingin naik ke tangga atas.


"Reva! kamu kerasukan ya?!" Viana melepaskan tangannya yang digandeng Reva.


"Kita datang di waktu yang tidak tepat kak Vi."


"Ya alasannya."

__ADS_1


"Kak Jum, baru malam pertama!" Reva langsung melangkah masuk ke mobilnya, Vi juga menyusul masuk."


Reva menjalankan mobilnya, dia masih mengingat teguran Bima soal dirinya yang suka bicara sembarangan, sekarang bukan cuman bicara sembarangan tapi melihat berkasnya.


"Kamu melihat darah perawan Jum?" Viana masih belum percaya, satu minggu baru bisa masuk.


"Iya dulu melihat kak Vi Rama sekarang Jum Bisma." Reva geleng-geleng kepala.


"Darah haid!"


"Masa iya darah haid baju berhamburan, Jum juga berjalan mirip kak Vi dulu." Viana langsung menjitak kepala Reva kuat membuatnya meringis.


"Reva kamu masih perawan, tidak heran Bima sering marah dengan mulut kamu yang tidak ada rem nya."


Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju VCLO, Reva dan Viana akan mengadakan rapat peluncuran produk terbaru Reva.


***


Langkah kaki Viana yang masuk diikuti oleh Reva membuat banyak orang menudukan kepalanya, Viana masih sama seperti dahulu yang dinginkan dan arogan jika memasuki VCLO. Wajah Reva jauh lebih menakutkan dari Viana membuat banyak orang melakukan pekerjaan semaksimal mungkin.


Viana melihat wajah Reva dari pantulan pintu lift, wajah yang berbeda jauh dari sifat centil dan bocornya. Reva terlihat seperti wanita kejam, VCLO berada di tangan wanita tangguh dan kuat.


"Siap kak, pemimpin VCLO selanjutnya wanita arogan dan kuat. Dia akan memperkuat VCLO lebih dari sekarang."


"Setelah kamu menikah, keluarga akan menjadi pekerjaan terindah, bangun melihat suami, cepat mengurus anak, melihat suami lagi, makan bersama, menyambut anak pulang, menyambut suami pulang, bercerita, bercanda sampai larut malam dan mengulangi hari yang sama. Semuanya indah Reva, kak Vi yakin kamu juga akan bahagia. Jangan buat pekerjaan kamu menjadi prioritas, buatlah keluarga menjadi yang utama."


"Pasti kak Vi, cinta Reva berawal dari taruhan, cinta masa kecil dan akhirnya sekarang pernikahan di depan mata."


"Ingatlah VCLO berdiri dengan keringat kamu, dan darah Viana Arsen dan Reva Pratiwi mengalir di sini. Suatu hari akan ada generasi penerus untuk menjaga VCLO."


Reva dan Viana tersenyum melangkah masuk dengan wibawa masing-masing, Sisi sudah menyambut kedua pimpinan VCLO untuk memutuskan rapat.


Rapat berjalan dengan lancar, tidak ada lemparan handphone, tidak ada juga teriakan Reva. Rapat diakhiri dengan senyum dan nafas lega, karena usulan semuanya di terima.


***


Beberapa bulan kemudian...


Rama dan Viana berada di dalam ruangan dokter kandungan, mereka sudah bisa melihat jenis kelamin dan gerakan baby yang sangat kecil.


Tangan Viana digenggam erat dan sesekali dicium Rama, mata Rama juga berkaca-kaca melihat bayi di layar membuatnya mengusap matanya. Ravi datang dengan semangat 45.

__ADS_1


"Tampan sekali pertama kamu Vi, mirip sekali ayahnya."


"Adiknya Ravi cowok atau cewek dokter cantik." Ravi mengedipkan matanya membuat dokter Ema membuka kacamatanya mengelus kepalanya Ravi.


"Lihatlah, adik kamu perempuan." Semuanya tersenyum kecuali Ravi.


"Kembar! cowok cewek ya dokter cantik." Mohon Ravi dengan matanya fokus ke layar.


"Hanya cewek sayang."


Ravi langsung turun dari ranjang Viana, membuat Rama langsung menggendongnya.


"Ravi! cowok cewek sama sayang." Rama membuat Ravi mengerti.


"Beda jenis kelaminnya daddy, tanggung jawab Ravi sangat besar karena adik cewek."


"Dia tidak akan menjadi wanita lemah sayang, dia akan seperti mommy." Viana tersenyum manis.


"Ini yang Ravi takutkan, jika adek Ravi mirip mommy. Semoga saja adik Ravi mirip daddy, sifatnya mirip daddy." Ravi bicara tegas.


"Ya sudah semuanya milik Daddy, kamu mirip daddy adik kamu mirip daddy. Tidak ada gunanya mommy mengandung kalian." Viana langsung ngambek.


"Daddy hayo bujuk mommy." Ravi berbisik ke Rama.


"Adik cewek akan mirip mommy, agar Daddy dan Ravi mempunyai tantangan baru menjaga mommy juga menjaga Vira."


"Vira!" Teriak Viana dan Ravi bersamaan.


Rama hanya menggagukan kepalanya tersenyum memeluk istri dan anaknya, dokter Ema kagum dengan sosok Rama yang sangat adil dan penuh kasih sayang.


"Walaupun dia mirip Viana, di hatinya terdalam ada sifat ayahnya. Keluarga bahagia." Dokter Ema memakai kacamatanya dan mengelus kepala Ravi yang tertawa.


"Vira Cloria Prasetya! nama yang cantik mommy suka." Viana memeluk Rama.


"Siapa Cloria!" Ravi coba berpikir.


"Viana Clori Arsen, Vira Cloria Prasetya."


"Suka-suka mommy lah!" Rama dan Ravi tertawa.


***

__ADS_1


__ADS_2