SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 AKU MENCINTAI KAMU


__ADS_3

Pintu darurat khusus kamar Kasih terbuka, Erik langsung melihat Cinta yang bersembunyi di bawah ranjang Kasih ketakutan. Erik menghentikan orang yang ingin mendobrak pintu untuk tenang, Cinta gemetaran, bibirnya terus bergumam maaf.


"Cinta, keluarlah aku tidak akan menyakiti kamu." Erik ingin menyambut tangan Cinta.


"Maaf Kasih, maaf ya Kasih." Cinta menyambut tangan Erik, matanya kosong, ketakutan, bersalah. Erik merasakan iba melihat keadaan Cinta, gadis berhijab yang pernah menjadi mantan kekasihnya. Wanita yang pernah Erik dekati demi melupakan seseorang.


"Cinta, ayo duduk ke sini, kamu bisa melihat Kasih, tapi jangan sakiti dia." Cinta duduk bersama Erik, melihat Kasih yang tidak berdaya.


"Asih sakit, kak Ci jahat. Asih bangun jangan sakit, maafkan kak Ci." Cinta terus bergumam, menggigiti jarinya.


"Ya Allah banyaknya yang tersakiti, berikan kami kesabaran lebih."


"Asih, kak Ci jahat."


Erik langsung mencari suntikan, menyuntik Cinta sampai akhirnya tidak sadar karena pengaruh obat bius. Erik membuka pintu, meminta keamanan rumah sakit jiwa untuk membawanya kembali.


"Jangan perlakukan dia seperti orang gila, dia tertekan dan butuh waktu untuk pemulihan."


Ravi menatap sinis Cinta, ibunya langsung menangis melihat Cinta yang menyedihkan.


"Ya Allah beratnya ujian keluarga ini, kuatkan hatiku."


Karin juga menangis melihat Cinta, memeluk penuh rasa iba.


"Kak Ci sadar, jika ingin meminta maaf belajar memperbaiki diri. Berat untuk memaafkan kakak, tapi Karin tidak menginginkan kakak seperti ini."


Tama meminta pihak rumah sakit jiwa membawa Cinta, Ravi sudah masuk menatap Kasih. Semuanya masuk melihat Kasih yang akan dilepaskan alat bantu bernafas.


"Mungkin ada yang ingin mengatakan perpisahan, yang tidak kuat silahkan keluar." Erik menatap seluruh keluarga yang sudah berlinang air mata.


"Kasih maafkan Ibu nak, kamu terlalu banyak terluka, maafkan ibu. Kamu Putri terbaik ibu, ibu sangat mencintai kamu." Ibu mencium kening Kasih sambil berlinang air mata.


Erik langsung melepaskan alat pernapasan, melepaskan semua alat pendeteksi jantung, mematikan ventilator. Tubuh Kasih langsung terangkat kejang, Viana langsung melangkah keluar, Reva Jum juga berlari menangis di luar.


Karin membawa ibu keluar, Rama dan lainnya juga keluar. Hanya tersisa Ravi yang menggenggam tangan Kasih, Tama juga menggenggam tangan sebelahku, Tian dan Wildan juga tetap berdiri kuat menemani Ravi melepaskan wanita yang dicintainya.


Perlahan buliran bening keluar dari mata Ravi, menatap Kasih yang kejang, sampai Erik memberikan suntikan. Wildan langsung mengerutkan keningnya, menatap Erik yang terlihat santai.


"Kalian yang ingin keluar dipersilahkan, tapi yang ingin tetap berada di sini juga dipersilahkan." Erik melangkah keluar.


Di depan pintu tangisan tidak terhentikan, Erik menggenggam tangan Viana memintanya untuk kuat, menghapus air mata Vi yang terus keluar.


"Mami, berhenti menangis." Erik juga menatap Reva.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak mengatakan semuanya akan baik-baik saja Rik?"


"Maafkan Erik ya Mami, Erik melakukan karena takut kecewa karena kalian sangat berharga untuk Erik."


Mata Erik menatap Septi yang meneteskan air matanya, langsung berdiri memeluk wanita yang membesarkannya.


"Kamu sudah berjuang sayang, jangan merasa bersalah. Kamu putra Mama yang kuat." Ammar menghapus air mata Erik.


"Erik pergi dulu Pa, Ma."


Semuanya tetap diam menunggu di ruang tunggu, Ravi masih setia di dalam bersama Tama, Tian dan Wildan.


Wildan melihat jam tangan, beberapa suster masuk. Meminta Ravi melepaskan tangan Kasih, Tama juga menguatkan tangannya.


"Sebentar lagi, aku ingin melihat dia sebentar lagi." Ravi menangis sambil mencium tangan Kasih.


Perlahan mata Kasih terbuka, Wildan melihat pergerakan mata Kasih, tapi belum ada yang menyadarinya. Wildan mengucek matanya mempertajam penglihatan, menutup mulutnya sambil mengaga mengucapkan syukur.


Tian yang sedang menangis melihat Wildan yang mengucapkan Alhamdulillah terheran, Wildan meminta Tian melihat ke arah Kasih. Tian langsung melihat dan menangis sesenggukan melihat mata Kasih yang menatap Ravi dan Tama.


"Kak Tama, dia siapa?" Kasih menarik tangannya yang lemah dari genggaman Ravi.


Tama langsung berdiri hampir terjatuh, menatap Kasih yang membuka matanya melihat Ravi. Tatapan Ravi lebih mengejutkan lagi, merasakan seperti mimpi melihat Kasih membuka mata setelah sekian lama.


"Kamu siapa? tidak mungkin Ravi." Kasih ingin tertawa, tapi merasakan sakit dadanya.


"Ya Allah Ravi, kenapa kamu jelek sekali? Kasih tidak suka melihat kumis, itu apa kenapa ada jenggot?" Kasih menatap sinis, Ravi menyentuh wajahnya.


Wildan dan Tian saling pandang, melangkah keluar pelan. Saat di luar Tian dan Wildan tertawa ngakak, Kasih tidak sadar 3 bulan saat bangun menghina penampilan Ravi. Lelaki yang selalu menjaga penampilannya, tapi sekarang sudah kacau balau, rambut Ravi juga gondrong.


"Apa yang membuat kalian berdua tertawa?" Bisma menatap sinis.


"Maaf Ayah, Ravi lucu di dalam." Tian menutup mulutnya.


"Lucu, saat seperti ini kalian bilang lucu." Jum lebih marah lagi.


"Maaf Bunda." Tian dan Wildan langsung diam.


Pintu ruangan Kasih terbuka, Viana memalingkan wajahnya tidak ingin melihat. Rama binggung melihat infus yang terpasang, Ravi juga keluar membantu mendorongnya. Kasih pindah ke dalam ruangan yang sudah Erik persiapkan.


Tama keluar sambil tersenyum memeluk ibunya, kebinggungan masih terlihat, tapi tidak ada yang menjawab langsung mengikuti Ravi dari belakang.


"Kenapa tidak di masukkan ruangan jenazah?" Viana menatap Rama yang tidak mempunyai jawabannya.

__ADS_1


Kasih di pindahkan ke ranjang, Ravi tersenyum ingin mencium tapi Kasih menolak karena geli melihat wajah Ravi.


"Geli, kamu jelek." Kasih menahan tawanya.


"Nanti aku cukuran, potong rambut, selama ini aku tidak bisa fokus kepada diriku." Ravi tersenyum menggenggam tangan Kasih.


"Mata kamu juga berkantung?"


"Aku menangis, aku juga tidak tidur."


"Maafkan Kasih, kamu menderita selama aku tidak sadar."


"Iya aku sangat menderita, aku hidup tapi mati. Kamu jahat, jika tidak cinta, setidaknya berikan aku waktu membuat kamu jatuh cinta, jangan meninggalkan aku."


"Aku mencintai kamu, maafkan aku membuat kamu menunggu lama."


"coba diulang-ulang."


"Ternyata kamu bukan hanya jelek, tapi tuli juga."


Ravi tertawa, langsung mencium Kasih yang merasakan geli.


Seorang Dokter cantik tersenyum melangkah mendekati keluarga, Viana menatap tajam, kelurganya sedang berduka, tapi seorang Dokter asik tersenyum.


"Selamat malam, perkenalkan saya Dokter Ririn."


"Aku benci sekali dengan Dokter yang namanya Ririn, kenapa kalian ada di mana-mana?" Viana kesal, Rama langsung menutup mulutnya.


"Maaf Bu."


"Ibu, tidak sekalian kamu panggil nenek." Reva juga kesal, Bima langsung menarik istrinya.


"Saya Dokter yang akan menggantikan Dokter Erik, saya akan menjelaskan semua yang terjadi selama perawatan."


"Terima kasih Dokter Ririn, di mana Erik? kami kelurganya hanya ingin dia yang menjelaskan." Ravi keluar menyapa Dokter.


"Sementara saya Dokter pengganti untuk mengontrol pasien, Dokter Erik sedang istirahat total."


Ravi tersenyum ingin sekali memukul Erik.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2