SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 NYAWAKU


__ADS_3

Rama berdiri melihat foto keluarganya, melihat Ravi kecilnya yang sedang dalam masalah besar. Rama menunggu Ravi kembali, sudah larut malam belum kembali, padahal Ravi sudah berjanji menemuinya.


Langkah kaki Ravi terdengar memasuki rumah, Rama melihat Ravi yang tersenyum. Rama tahu Ravi menyimpan masalah sendiri, bukan tidak ingin berbagi, tapi demi melindungi seluruh keluarga, harus ada yang berkorban.


"Daddy maafkan Ravi terlambat pulang, bagaimana keadaan Mommy?"


"Mommy baik, dia juga tidak marah lagi."


"Maafkan Ravi Daddy, membuat Mommy bersedih, mengecewakan Daddy."


"Rav, menjadi orang dewasa, menjadi kepala rumah tangga sangat berat nak. Daddy mengerti posisi kamu, Daddy merasakan sejak usia dini, harus berpura-pura, terlihat bodoh bagi banyak orang. Daddy tahu kamu sedang bertahan, berjuang untuk bahagia."


"Ravi akan segera mengakhirinya, demi keluarga kita, anak istri Ravi."


"Kamu lelah, ingin menyerah."


"Iya Daddy, Ravi ingin menyerah, tapi Ravi bersyukur mendapatkan kesempatan untuk berjuang untuk keluarga."


"Bagus nak, kamu jauh lebih beruntung bisa berjuang didampingi keluarga, jangan seperti Daddy dulu tidak punya alasan untuk berjuang, karena yang Daddy perjuangan tidak terlihat keberadaanya." Rama memeluk Ravi, mengusap punggungnya meminta Ravi segera beristirahat.


Ravi melangkah menaiki tangga, membuka kamarnya melihat Kasih yang sudah terlelap. Mendekati Kasih mencium keningnya, mencium perut Kasih.


Nafas Ravi tidak beraturan, tubuhnya mulai sempoyongan. Masuk ke dalam kamar mandi, membuka baju, melihat tubuhnya di kaca.


Ravi menyentuh dadanya yang terkena tusukan pisau, seluruh tubuh Ravi luka cambukan. Di kepala Ravi juga ada darah yang sudah mengering.


Tubuh Ravi penuh luka, kepalanya juga terasa berat langsung duduk di lantai kamar mandi, memejamkan matanya untuk mengatur nafasnya, Ravi bersyukur Daddy-nya tidak menyadari keadaannya.


"Ravi." Kasih melihat Ravi yang terduduk penuh luka.


"Ka Kasih." Ravi mengambil kembali bajunya, berusaha untuk memakainya kembali.


"Apa yang terjadi? kenapa kamu bisa terluka?" Kasih langsung duduk menyentuh tubuh Ravi yang penuh luka.


"Aku baik-baik saja sayang, hanya butuh istirahat. Kamu keluar, aku ingin mandi sebentar."

__ADS_1


Kasih menurut, menunggu Ravi di depan pintu kamar mandi. Melihat ponselnya menutup mulutnya, langsung mengedor kamar mandi meminta Ravi cepat keluar.


"Kenapa sayang?" Ravi keluar langsung mengambil bajunya, meminta Kasih untuk tidur karena sudah malam.


"Aak tidak pernah mengkhianati Kasih."


"Sayang, kita tidur dulu ya, Aak mengantuk."


"Buka baju, Kasih bisa mengobati luka Aak, atau kita bisa pergi ke rumah sakit."


"Kasih, kita tidur ya sayang, Aak ingin menggenggam tangan kamu, juga ingin memeluk twins. Sudah satu bulan Aak tidak memeluk kalian, ini sangat menyakitkan Kasih." Ravi menyentuh tangan Kasih, menggandeng naik ke atas ranjang, langsung tidur, satu tangan menggenggam tangan Kasih, satunya memeluk perut Kasih.


Tangan Kasih mengelus wajah Ravi yang pucat, matanya terpejam mulai tidur. Pintu kamar di ketuk pelan, Kasih melepaskan genggaman membuka pintu, Viana masuk melihat keadaan Ravi.


Rama melihat luka ditubuh Ravi, pasti sudah terjadi sesuatu yang buruk. Dokter pribadi keluarga juga datang, langsung memasang infus, memberikan suntikan penenang, membuka baju Ravi mengobati lukanya.


"Kasih kamu jangan banyak beban pikiran, semuanya akan baik-baik saja." Viana mengelus punggung Kasih.


***


"Aak, sudah bangun." Kasih mengelus wajah Ravi.


"Pagi sayang, pagi twins." Ravi tersenyum menarik kepala Kasih, mencium bibirnya, mengelus perut besar Kasih.


Kasih tersenyum membantu Ravi untuk duduk, memberikannya minum juga obat dari Dokter. Kasih baru sudah mendapatkan kabar soal penyerangan Ravi, Kasih merasa bersalah karena berpikir Ravi mengkhianatinya.


"Aak, bagaimana keadaan Zava?" Kasih menatap Ravi yang sedang diam.


"Zava atau Ziva? Ravi tersenyum melihat Kasih yang sudah memanggil Aak lagi.


Ravi diam sebentar mengigat kejadian satu bulan yang lalu saat dirinya, melakukan bisnis yang seharusnya dihadiri oleh Tian, tapi ada masalah panti, Tian meminta tolong Ravi mengantikan.


Saat rapat hampir selesai, Ravi langsung merasakan kepalanya pusing, panas, juga pikirannya mulai liar. Ravi menyadari kondisi tubuhnya.


Seorang wanita membantu Ravi masuk ke dalam kamar, Ravi masih bisa mengendalikan diri mengancam, jika menyentuhnya saat keluar dari hotel hanya sisa mayat. Wanita yang Ravi ketahui bernama Zara tangannya gemetaran karena takut, Ravi melihat sebuah kamera langsung menarik selimut menutupnya.

__ADS_1


Zara bernafas lega, Ravi menyadari keadaan. Ravi tidak berbicara lagi, hanya memberikan kode, langsung menyuntikkan obat bius ke tubuhnya. Zara mengikuti perintah Ravi menghidupkan video dewasa yang paling natural, menghidupkan hanya bernada sedang.


Zara membantu Ravi untuk membenarkan tubuhnya, sedangkan Zara berlari ke toilet untuk bersembunyi sampai pagi.


Ravi terbangun melihat Zara tidur di kamar mandi, meminta penjelasan Zara. Tanpa banyak berpikir Zara menceritakan jika Zava ingin menghancurkan keluarga Ravi sejak lima tahun yang lalu, mengetahui jika Zara mantan kekasih Tian membuat Zava bisa memulai misinya.


Masalah kejadian di hotel juga Ravi ceritakan kepada Tian, Ravi tidak punya pilihan kecuali mengikuti permainan Zava, demi melindungi anak dan istrinya yang selalu kontrol kepada Zava, juga membuatnya tidak curiga sampai Ravi bisa menangkapnya.


Setiap pagi Ravi meninggalkan Kasih hanya untuk mengikuti permainan, setiap pertemuan Ravi dan Zara selalu ada Tian. Sebenarnya Ravi sudah tidak sanggup mengabaikan Kasih, hatinya hancur tidak bisa bermesraan dengan anak istrinya.


Semua diikuti sampai hasil tes DNA, makan bersama, semua permainan Ravi Ikuti. Masalah mendadak berantakan saat Mommy dan Kasih memergoki Ravi, Zara yang ketakutan tidak punya pilihan selain mengaku kepada Zava soal dia dan Ravi berkerja sama.


Karena Zara berkhianat calon suaminya dibunuh, Zara marah besar menemui keluarga Ravi, karena Zava mengatakan jika Ravi yang melakukannya.


Sehingga pertengkaran hebat di rumah Viana terjadi, Ravi belum siap membongkar semuanya, masih tetap diam bersama Tian sampai harus menyakiti hati orang tua mereka, menyakiti hati orang tua yang mereka sayangi.


Air mata Ravi juga menetes menghentikan ceritanya, menatap Kasih yang sudah menangis.


Kasih meneteskan air matanya, memeluk erat lengan Ravi. Meniup luka tusuk di dada Ravi.


"Maafkan Aak sayang, tidak ada satu wanita yang bisa sedikitpun menggantikan kamu, tapi jika Aak jujur sasaran utama langsung kamu, demi menjaga twins, Aak harus melakukan ini."


"Maafkan Kasih, Aak tidak mencium baby, tidak menemani Kasih, tidak pernah sarapan bersama lagi. Kasih berpikir Aak tidak cinta Kasih lagi."


"Mustahil sayang, kamu nyawaku Kasih."


"Hati Kasih sakit melihat Aak bersama wanita lain, Kasih berencana membawa twins pergi."


"Maaf sayang, saat itu kita sedang dalam pengawasan. Bahkan lima maid kita berkhianat, bagaimana aku tidak terus bersandiwara?"


"Kenapa Aak bisa terluka? bukannya Butterfly yang menangkap Zava."


"Dia bukan Zava tapi Ziva kembarannya. Sedangkan Zara hanya anak angkat."


Kasih kaget bukan main, permainan semuanya memang sudah tersusun dengan matang.

__ADS_1


****


__ADS_2