
Hari yang ditunggu akhirnya tiba, bukan Tian dan Bella yang tegang, tapi Jum dan Bisma. Melihat beberapa kejadian yang merusak acara membuat keduanya merasa was-was.
Bella sudah bangun dari pagi, berdiri di depan kaca yang memperlihatkan wajahnya. Billa hanya duduk saja melihat wajah kakaknya yang tegang, sedangkan dua manusia gila asik tidur menggorok.
"Kak Bil, hari ini akan terasa sangat singkat juga melelahkan, tapi memiliki makna yang sangat dalam bagi sejarah perjalanan cinta kita. Maaf kak Billa banyak bicara." Senyuman Billa terlihat, antara senang dan sedih terharu.
"Cerita lagi Bil, kak Bel tegang sekali." Bella merasakan tangannya sangat dingin.
"Penikahan bukan akhir dari perjalanan kak, sebenarnya penikahan menjadi ujian dalam hubungan. Dalam pernikahan ada yang bertahan satu tahun, tiga, lima, sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun, melewati setiap tahun penuh ujian, tapi jangan perlihatkan kepada orang lain, selesaikan masalah dengan kepala dingin, juga saling terbuka dan coba introspeksi diri sendiri agar terus menjadi lebih baik." Billa meneteskan air matanya.
"Kamu bahagia dalam pernikahan Bil?"
Billa langsung tertawa, dia sangat bahagia. Bahkan kebahagiaan tidak bisa dia ungkapan dengan kata-kata. Jika dipertanyakan ada konflik dengan Erik pastinya selalu ada, setiap perubahan terus terlihat.
Menjadi seorang istri ada bahagia juga kehilangan, Billa bahagia menikah dengan lelaki yang sangat dicintainya, namun akan ada hari dia rindu untuk bermain, jalan seperti saat dia belum menikah.
Menjadi seorang ibu suatu kebanggaan terbesar sebagai seorang wanita, bahagia pasti sangat bahagia. Sedih hampir setiap hari dirasakan, saat anak rewel, suami sibuk, suasana rumah yang membuat pusing.
"Kak konflik keluarga bukan hanya ada orang ketiga, salah paham, mulai bosan banyak sekali masalah, tapi di sinilah peran suami dan istri untuk saling merangkul." Billa menghapus air matanya.
"Lanjut Bil, kamu mirip ibu-ibu lagi ceramah." Vira terbangun meletakan kepalanya di pinggang Winda yang juga sudah terbangun.
"Kak Bella, kak Vira juga kamu Winda, kalian bertiga juga akan menjadi seorang istri, akan merasakan konflik dalam keluarga. Niatkan dalam hati jika sudah sangat yakin, ingatan terus diri kalian jika harus sabar, lebih pengertian, coba melengkapi di dalam berumah tangga." Billa megambil tisu, menghapus air matanya.
"Winda tidak punya harapan untuk rumah tangga bahagia, dia ingin makan, selingkuh, guling-guling di jalan, terjun dari gedung, tidak pulang sekalipun urusan dia." Winda tersenyum.
"Yakin?" Vira, Bella dan Billa menatap bersama.
"Tidak sih." Winda tertawa.
Vira, Bella dan Billa langsung memukuli Winda, si bungsu yang paling banyak bicara. Ucapannya tidak pernah sesuai kenyataannya.
"Gila, Yusuf terjun dari atas gedung aku diam saja. Cepat sekali menjadi janda." Winda tertawa kuat.
Semuanya tertawa saling berpelukan, meskipun mereka akan terus bersama, tapi takut sekali rasanya tidak bisa berkumpul lagi.
__ADS_1
"Kita harus berbicara sesuatu yang lebih serius?" Vira meminta semuanya berkumpul.
"Apa?" Winda tersenyum penasaran.
"Bagaimana rasanya malam pertama?" Vira, Bella dan Winda menatap Billa yang perlahan mundur.
Ketiganya langsung meminta Billa menceritakan pengalamannya soal malam pertama. Billa menggelengkan kepalanya tidak mengingat jelas rasanya, karena sudah lebih satu tahun.
"Billa bohong, hal enak tidak mungkin lupa." Winda menendang Billa.
"Enak iya, sakit iya." Billa langsung menutup mulutnya.
Vira dan Winda sudah teriak, memaksa Billa bercerita. Billa hanya menggelengkan jika dia sudah lupa.
Pintu langsung terbuka, Jum mengerutkan keningnya melihat Billa dikeroyok tiga orang.
"Apa yang kalian ributkan?" Jum langsung duduk, meminta Bella bersiap untuk make up.
"Tolong Billa Bunda, mereka memaksa Billa untuk menceritakan malam pertama." Billa memeluk Jum erat, karena merasa malu.
Viana dan Reva langsung masuk, mereka siap menceritakan agar Bella siap mental saat waktunya tiba.
"Anak-anak dengarkan cerita Mommy dan Mami." Viana dan Reva tersenyum gemes.
"Kak Vi, Reva dua anak ini belum ingin menikah, nanti pikiran mereka liar." Jum menatap Vira dan Winda.
"Sebentar lagi Jum, mereka akan menikah tidak butuh waktu lama." Viana menatap serius.
Suara tertawa terdengar, Jum membantah setiap cerita Viana dan Reva membuat ketiganya saling pukul.
Reva langsung membantu Bella bermake-up, dibantu oleh Winda dan Vira yang memang sangat tahu soal kecantikan.
Suara keributan terdengar dari ruangan makeup pengantin wanita, tim make up yang Reva siapkan akhirnya datang langsung mengambil alih untuk menjadikan Bella wanita paling cantik.
Suara tawa Winda, Billa, Vira bercerita membuat rasa tegang di hati Bella sedikit berkurang.
__ADS_1
Ditambah lagi kedatangan Kasih, Karin dan Binar yang membuat cerita semakin heboh. Munculnya Rasih dan Bening lebih berisik lagi.
"Kalian semua bisa keluar tidak?!" perias membentak membuat ruangan hening.
Bella langsung tertawa, perias langsung meminta maaf karena dia tidak bisa konsentrasi, suara tertawa, mengoceh, menangis terdengar campuran.
Suara Bella tertawa tidak bisa berhenti, Kasih menarik Asih keluar kamar, Binar juga melakukan hal yang sama.
Billa, Vira, Winda dan Karin langsung keluar juga. Viana masih tetap di dalam bersama Jum dan Reva untuk di make up.
Di luar semuanya langsung tertawa, ternyata ada juga orang yang berani membentak keluarga Bramasta dan Prasetya dengan lancang.
Bella tersenyum melihat wajahnya yang selesai di make up, kebaya putih juga sudah dipakai. Senyuman Bella terlihat sangat bahagia.
Jum meneteskan air matanya, dia sangat bahagia melihat kedua anaknya menikah. Pernikahan Billa tidak banyak menguras air mata Jum, tapi Bella dan Tian membuat Jum bahagia, juga tidak bisa berhenti menangis.
"Bunda, kenapa menangis?"
"Bunda bahagia, sangat bahagia. Bella sekarang sudah besar, bunda rasa baru saja melahirkan kamu sekarang sudah siap menikah." Jum mengipas wajahnya agar berhenti menangis.
"Terima kasih Bunda Jumi yang sudah menjadi sosok ibu yang luar biasa, sosok wanita yang tidak bisa Bella balas kebaikannya. Bunda wanita terbaik untuk Bella, Billa, kak Tian, Binar, Ayah juga Bening. Tanpa Bunda Jum kami tidak akan sebahagia sekarang." Bella memeluk Jum yang tidak bisa menahan air matanya.
Viana dan Reva membantu mengipas wajah Jum agar berhenti menangis, make up bisa luntur.
"Sebenarnya yang menikah Bella atau kamu? menangis terus tidak malu saat menerima tamu matanya bengkak." Reva menatap Jum yang langsung memukulnya.
"Kamu akan mengerti setelah Winda menikah, baru kamu menangis histeris." Jum menatap tajam Reva.
Reva tersenyum, langsung memperbaiki make up Jum agar segera mengecek Tian.
"Tian sudah bangun belum? nantinya dia kabur lagi?"
"Mommy, jangan seperti itu." Bella langsung cemberut.
Viana tertawa langsung memeluk Bella, gadis cantik kesayangannya.
__ADS_1
***