
Di dalam kamar Kasih sedang menyisir rambutnya, Ravi langsung masuk menatap Kasih di depan kaca rias.
Tidak lama Ravi menatap Kasih dia langsung masuk untuk mandi, keluar dari kamar mandi Kasih sudah terlelap tidur.
"Kamu siapa? sudah cukup kita bercanda." Ravi menyisir rambutnya, melihat Kasih dari balik kaca.
"Kamu Kasih atau Karin?" Ravi melemparkan ponselnya, hampir melukai wajah Kasih jika tidak dia cepat menghindar.
"Kalian berdua mempermainkan aku juga keluarga besar." Ravi langsung berbaring di ranjang, Kasih hanya berdiri menatap Ravi binggung.
"Kamu tahu semuanya."
"Tentu, kapan kalian bertukar posisi?"
"Bukan itu yang terpenting Ravi, seharusnya kamu bisa menjaga wanita yang kamu cintai,tapi kamu gagal sampai aku harus terlibat."
Ravi langsung duduk meminta Kasih duduk di dekatnya, Ravi berusaha untuk tenang mengatur nafasnya.
"Aku binggung cara memperlakukan kamu, ingin aku baik tapi kamu penuh kebohongan, terkadang aku berpikir ingin bersikap kasar tapi Daddy tidak mengajari aku bermain kasar dengan wanita."
"Maaf, aku tidak punya pilihan, indentitas kami tidak boleh terbongkar."
"Kamu Kasih atau Karin?"
"Kasih, aku Kasih."
"Kita pernah bertemu?"
"Aku pernah membawa kamu kebut-kebutan di rumah sakit, setelahnya masalah selesai aku langsung pergi. Setelahnya kamu bertemu dengan Karin."
"Saat aku ke rumah bapak pertama kali, kamu atau Karin?"
"Itu aku."
Ravi langsung tertawa mengacak rambutnya, seharusnya sejak awal Ravi sudah curiga jika Kasih sangat berbeda. Perempuan galak bisa berubah menjadi wanita murah senyum, lembut sangat berbeda dengan wanita sinting yang pertama kali Ravi temui.
"Baiklah, karena kita sah suami istri saatnya kita melakukannya."
"Tapi aku tidak mencintai kamu?" Kasih langsung berlari ke ruang tamu.
"Aku tidak perduli, kita suami istri sudah tugas kamu melayani suami."
"Seharusnya kamu bertanya di mana Karin, terus kalian bisa bicara baik-baik, menikah lagi, dan semuanya kembali normal."
__ADS_1
"Ohhh jadi rencana kamu hanya untuk menjadi pengantin pengganti sementara, jangan harap Kasih, hukuman untuk kamu sudah berani masuk dalam hidupku jadi kamu akan menjadi istri sesungguhnya."
Kasih teriak histeris langsung melempar bantal ke arah Ravi yang berusaha menangkap Kasih, keduanya main kejar-kejaran, sedangkan Kasih terus teriak histeris. Kasih berlari ke kamar, Ravi ingin menangkap lengan tapi terlepas, Kasih sudah berdiri di kasur sambil teriak dan lompat-lompat.
"Kenapa pernikahan yang aku impikan menjadi seperti ini, kisah Mommy Daddy turun kepadaku, menikah tanpa cinta tapi Daddy menerima Mommy sedangkan aku." Ravi mengaruk kepalanya, bergumam di dalam hati.
"Ravi kita bisa melakukan kesepakatan, aku mohon jangan di buat candaan."
"No no no, aku tidak membutuhkan apapun, semuanya sudah aku miliki, hanya satu yang belum. Kamu harus memberikan aku anak."
Ravi menendang kaki Kasih, tubuhnya langsung terjatuh. Ravi cepat menangkap tubuh Kasih agar kepalanya tidak terkena sandaran ranjang. Kedua tangan Kasih sudah di tahan, perlahan Ravi mendekati wajah Kasih.
"Tolong, tolong...." Kasih teriak-teriak seperti orang yang sedang dipaksa.
Suara gedoran pintu membuat Ravi tidak fokus, Kasih mengambil kesempatan untuk menjambak rambut Ravi sampai tubuh Ravi terbalik ke samping turun dari atas tubuh Kasih.
Kasih cepat berlari membuka pintu, memeluk Mommy yang kebingungan.
"Kalian berdua kenapa?"
"Mommy tolong Kasih, Ravi ingin menodai Kasih." Viana mengaga, Ravi sudah tersenyum bersandar di dinding sambil menggakat kedua bahunya.
"Kasih sayang kalian sudah menikah, hal wajar suami dan istri berhubungan. Kalian harus memiliki keturunan."
"Sudahlah Mom, mendingan istirahat Ravi akan tidur di kamar Wildan dari pada di jambak." Ravi melangkah keluar, Kasih mengikuti langkah Ravi.
"Aku tidur di kamar Vira geng saja, di hotel banyak hantu."
Viana hanya bisa menggelengkan kepalanya, melangkah pergi menuju kamarnya. Ravi dan Kasih melebihi dirinya dan Rama dulu.
"Aku doain kamu di makan hantu." Ravi berjalan mundur.
"Ravi," Kasih terus mengikuti langkah Ravi.
"Kita tidur di kamar saja, tapi kamu tidak melakukannya."
"Hantu...." Ravi langsung berlari kembali ke kamar di ikuti oleh Kasih yang teriak kuat.
Viana dan Rama yang mengintip langsung tertawa, pengantin baru bukannya bermesraan tapi Ravi Kasih teriak-teriak.
"Vir, Kenapa kak Ravi dan Kasih?"
"Mungkin mereka sedang pemanasan." Winda dan Vira juga mengintip keributan.
__ADS_1
"Memangnya ada ya pengantin main kejar-kejaran?" Erik menatap Tian, perlahan menutup pintu."
Di kamar Kasih masih menyusun bantal dan guling, keduanya akhirnya sepakat untuk tidur, setelah acara ijab qobul di tambah lagi pesta lanjut main kejar-kejaran.
Keduanya berlayar ke alam mimpi masing-masing, Kasih masih menggagap semuanya mimpi dan saat dia terbangun akan kembali normal.
***
Matahari sudah tinggi, Ravi belum juga keluar dari dalam kamarnya. Beberapa keluarga sudah pulang dan beraktivitas seperti biasanya.
Vira, Winda, Bella dan Billa masih mondar-mandir di depan pintu kamar Ravi. Keempat bocah ingin bertanya soal honeymoon, karena Ravi pernah berjanji untuk mengajak Mereka.
"Vir sampai kapan kita menunggu? lagian besok masih bisa bertanya." Bella menatap Vira yang terlihat sedang berpikir.
"Bagaimana kalau kita masuk saja?" Winda sudah siap dengan kunci yang terjatuh saat Ravi Kasih berlarian.
"Kalau mereka sedang ehem-ehem?" Vira merasakan ragu.
"Kita langsung keluar lagi." Bella tersenyum.
Keempatnya langsung tertawa pelan, belum sempat pintu terbuka, kartu yang berada di tangan Winda sudah dirampas Wildan.
Vira Bella dan Billa sudah berlari, barulah Winda nyegir dan ikut berlari.
"Ini karena lari-larian semalam, sampai kunci terjatuh." Erik melangkah pergi, Wildan membawa kunci untuk menyerahkan kembali kepada hotel.
Perlahan mata Ravi terbuka, cahaya matahari sudah bersinar. Ravi kesiangan bahkan tidak sholat subuh, tangan Ravi keram, seorang wanita cantik sedang tidur di tangan sambil memeluk dadanya.
"Ya Allah jika kami memang berjodoh satukan, tapi jika tidak berikan yang terbaik untuk kami. Ravi tidak tahu langkah yang harus Ravi ambil untuk pernikahan ini."
Mata Ravi kembali terpejam, Kasih bergerak dan mengeratkan pelukannya. Mata Kasih terbuka dan melihat dada Ravi yang tidak mengunakan baju, mulut Kasih langsung terbuka. Tubuhnya sudah terkunci di dalam pelukan Ravi.
"Aiishh ternyata bukan mimpi, ini nyata aku menjadi pengantin pengganti." Kasih perlahan menyingkirkan tangan Ravi, menurunkan kakinya, barulah Kasih bergerak menjauhkan tubuhnya.
"Good morning dunia tipu-tipu, terima kasih untuk masalah kemarin." Kasih bicara pelan, menghirup udara sambil tersenyum.
"Good morning istriku." Ravi juga duduk menikmati tidur panjangnya yang baru saja merasakan guling ternyaman.
"Ternyata ini semua bukan mimpi, kenapa hidup Kasih penuh drama?" Kasih memejamkan matanya, kembali tidur sambil merentangkan tangannya.
Ravi tersenyum melihat Kasih, mungkin akan ada saatnya mereka menemukan titik terang, Ravi akan mencari tahu yang sebenarnya terjadi.
Kasih menutup mulutnya, saat Ravi mencuri bibirnya dan sudah berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
"Dasar Ravi mesum."
***