
Seluruh keluarga berkumpul, Vira berdiri bersama Erlin. Memperkenalkan keluarga kakaknya Ravi, juga istrinya Kasih yang pernah bertemu dengan Erlin saat berkunjung bersama Vira untuk menjenguk.
Ravi masih tersenyum, menyambut baik kehadiran Erlin yang akan menjaga anak-anak sementara.
Kasih terlihat cuek saja, karena dia tidak terlalu menyukai orang baru. Kasih terbiasa sendiri sejak muda sehingga hadirnya Erlin membuatnya tidak suka.
"Dia kak Erik, dia juga seorang dokter." Vira menunjuk ke arah Erik yang masih bermain game.
"Lin tahu, dia dokter yang terkenal di rumah sakit,. istrinya dokter Billa." Lin tersenyum menyapa Erik dan Billa yang duduk bersebalahan.
Tatapan Bella tajam, Lin sedikit terkejut melihat wanita cantik yang menatapnya bagaikan melihat mangsa. Erlin melihat Bella dan Billa yang ternyata kembar, tapi dari penampilan dan mimik wajah sudah terlihat perbedaan karakter keduanya.
Erlin tersenyum melihat Tian, mengucapkan selamat datang di dalam keluarga mereka. Lin merasa lucu melihat suami Bella sangat ramah, juga tenang berbeda dengan Bella.
"Mereka lucu, kak Ravi ramah istrinya cuek, kak Billa pendiam suaminya heboh, kak Bella pemarah suaminya tenang." Lin melambaikan tangannya memperkenalkan diri.
"Bagaimana dengan kak Vira dan Wildan?"
"Kak Vira baik, suaminya dingin."
Suara salam terdengar, Lin terdiam melihat ketampanan Ar yang baru muncul bersama istrinya Winda. Keduanya baru selesai mandi setelah drama Arum.
"Dia kak Armand Prasetya, dan istrinya Winda."
"Ohhh, apa masih ada lagi."
"Ada, tapi nanti kita kenalkan karena mereka sedang di luar." Vira tersenyum.
"Apa di sini semuanya keluarga Prasetya dan Bramasta?"
"Tidak, kak Erik hanya menantu." Senyuman Erik terlihat Lin yang mengangguk kepalanya.
"Di keluarga Prasetya ada kak Ravi, Kak Armand dan kak Vira. Bramasta pertama ada Windy, Wildan dan Winda sedangkan di Bramasta kedua ada Bastian, Binar, Bella dan Billa." Vira tersenyum melihat Lin yang terkejut sambil tepuk tangan.
"Keluarga ini banyak sekali."
"Bukan hanya banyak, tapi keluarga besar." Billa tersenyum ramah.
"Di mana kak Windy dan kak Binar?"
"Kak Windy ada di luar negeri bersama orang tua dan suaminya kak Steven, sedangkan kak Binar sedang di luar kota ikut suaminya." Billa meminta Lin duduk.
"Erlin, di antara kita para pria siapa yang menurut kamu paling tampan?" Ravi memaksa Lin menjawab.
Mata Erlin melihat Ravi yang sedang berpose, Erik juga langsung bergaya cool, sedangkan Tian biasa saja. Erlin tersenyum melihat Wildan dan Ar yang tersenyum bermain bersama Arum.
"Kakak berdua itu yang paling tampan, senyuman mereka juga indah."
__ADS_1
"Kamu memuji suami orang?" Kasih mengerutkan keningnya.
"Lin lebih suka berkata jujur dan terang-terangan, kak Wildan dan Kak Armand memang tampan."
"Kak Ravi tidak?"
"Tampan juga, keluarga ini semuanya tampan. Dua pria di foto itu juga tampan sekali." Lin tersenyum melihat foto mudanya Rama dan Bima yang tersenyum berdua.
"Dia Daddy Rama dan Papi Bima."
"Ohh. Tidak heran keturunannya tampan dan cantik ternyata orangtunya juga tampan. Ketiga wanita ini juga cantik sekali?" Lin tersenyum bahagia melihat foto masa muda, Viana, Reva dan Jum.
"Kamu bisa melihat keluarga lengkap dengan foto mereka saat berkunjung ke hotel VIRDAN, karena semua yang ada di rumah utama sudah pindah ke sana." Tatapan Erik melihat ke arah foto.
Vira meminta bantuan maid untuk memanggil anak-anak dari ruangan bermain untuk berkumpul, mereka harus berkenalan dengan Erlin yang akan membantu para ibu menjaga anak-anak.
Asih berjalan menatap Lin tajam, langsung berdiri di depan Erlin sambil melipat tangannya di dada.
Senyuman Lin terlihat mengagumi kecantikan Asih, ekspresi wajah Asih mirip Ravi yang hobi melucu, tapi matanya tajam seperti Kasih.
"Dia anaknya kak Ravi dan kak Kasih, cantik sekali." Lin menyapa Asih.
"Hai, kenalan Kakak Elin."
"Rasih Prasetya, panggil Asih. Kamu datang ke sini dengan tangan kosong?"
"Tidak aku membawa tas, lihat tangan kak Lin merah karena berat."
"Tidak tahu."
"24+3×8:6 berapa?"
"Aku anak IPS." Lin tersenyum menatap Asih yang mengerutkan keningnya.
"Bodoh, kamu akan terkana masalah berusaha dengan kak Aka dan Elang. Mulai sekarang sebaiknya sesali karena anak IPS." Asih langsung melangkah pergi mendekati Daddy-nya, wajah Asih terlihat kesal menatap Lin.
Embun berjalan menggunakan sepatu roda, melihat Erlin yang mulai cemas. Anak-anak jenius dari keluarga hebat, tidak mungkin bisa dia imbangi.
"Hai, aku Elin."
"Embun tidak bertanya." Em langsung melangkah pergi berputar-putar.
Elang dan Raka muncul, Vira memperkenalkan kepada Erlin yang mengagumi ketampanan dua anak kecil yang terlihat pintar.
"Aku dengar kakak anak IPS? apa yang kakak pelajari?" Aka menatap dingin.
"Banyak."
__ADS_1
"Banyak tidak belajar, seharusnya anak IPS pintar komunikasi." El langsung melangkah pergi mencari tempat duduk bersama Raka.
"Kalian jangan seperti itu kepada kak Lin, dia jadinya tegang dan takut." Vira menatap sedih, Raka mendekati Vira yang cemberut.
"Seharusnya Aunty tidak membawa dia, keluarga ini sudah ramai dengan kehebohan masing-masing. Menambah orang sangat mengganggu Aunty."
"Raka, Aunty membutuhkan kak Lin untuk membantu."
"Apa dia pembantu? kenapa Aunty menyambut dia layaknya sang putri?" Aka menggelengkan kepalanya.
Wildan menahan tawa, Wira benar sikap dingin Raka akan membuat orang tidak nyaman. Ucapan Raka tidak pernah dia saring dan akan keluar secara spontan.
"Lin maafkan Raka dan Elang." Vira mengusap punggung Erlin.
Senyuman Lin terlihat menatap Bintang yang membuang pandangannya, tidak ingin disentuh oleh Lin. Bella langsung mengambilnya, menyerahkan kepada Tian.
"Hai cantik, nama kamu indah sekali."
"Namanya Bulan bukan Indah, pukul saja Lan." Em melotot kesal.
Tangan kecil Bulan langsung menampar mata Lin yang membuatnya teriak kaget, Billa langsung cepat mengambil Bulan sebelum mengigit Erlin.
"Astaghfirullah Al azim, Lin kaget. Maaf Bulan."
"Jangan teriak di dekat Bulan, dia sangat sensitif." Billa melihat mata Lin yang merah.
Ar menatap putrinya sambil menggelengkan kepalanya melarangnya untuk bersikap kasar, Arum langsung memukul Arwin yang cepat menjauh.
Wildan tersenyum mengusap kepala Arum, Virdan juga menjauh. Arum langsung teriak memeluk Abinya yang tersenyum meminta maaf, karena sudah menegurnya.
"Maafkan kak Erlin jika kalian tidak menyukai kedatangan kak Lin, berikan kak Lin sedikit waktu untuk beradaptasi."
Langka kaki dari lantai atas terdengar, Wira berlari menuruni tangga setelah berkomunikasi dengan orang tuanya.
Erlin langsung menatap Wira tajam, senyuman terlihat melihat bule yang dia tabrak sampai terjatuh.
"Dia Wira Bramasta, cucu utama keluarga Bramasta." Vira meminta Wira memperkenalkan diri.
"Hai adik kecil, bagaimana keadaan kaki kamu?" Lin langsung berlutut, melihat dengkul Wira.
"Minggir." Wira mendorong Lin agar tidak menghalangi jalannya yang ingin pulang.
"Wira ada apa?" Wildan menatap wajah Wira yang terlihat marah.
Winda dan Bella langsung mengejar Wira, Vira dan Billa juga langsung khawatir.
***
__ADS_1
LUCU BANGET KOMENTAR KALIAN, MEMBUAT KETAWA. SAYANG BANGET SAMA VIRA SAMPAI TAKUT DIA PERGI.
MAAF YA BELUM BISA UPDATE BANYAK, LAGI ADA SESUATU