SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 ULANG TAHUN


__ADS_3

Jadwal operasi ditunda, melihat kondisi Vira yang belum juga stabil. Mata Vira terbuka menatap suaminya yang duduk menemaninya.


"Ayang, ini tanggal berapa? besok Virdan berulang tahun." Vira menatap jam yang sudah berganti hari.


Putranya sudah berusia satu tahun, semakin tampan, pintar, pendiam, matanya sangat menenangkan, mulai bisa memanggil Mami Papi, Umi dan Abi, meskipun jarang sekali terdengar.


"Ayang kita tidak bisa merayakan ulang tahun Virdan?" mata Vira berkaca-kaca menahan air mata.


"Bisa sayang, kak Windy sudah mempersiapkan semuanya. Kita rayakan ulang tahun Lin, Virdan, Arwin dan Arum di kamar rawat Lin." Senyuman Wildan terlihat, menggenggam tangan istrinya.


Vira langsung tersenyum, bersyukur akhirnya bisa bertemu Lin Dan merayakan ulang tahu anak-anak bersama.


Di kamar Lin sudah sibuk menghias kamar, Windy menatap wajah Lin yang terlihat sangat cantik.


Memotong kukunya yang mulai panjang, melihat tangan Lin yang semakin kecil dan kurus.


"Lin, kamu tidak ingin bangun? hari ini ulang tahun kamu bersama twins A dan Virdan." Suara lembut Windy terdengar, mengusap wajah Lin yang masih belum membuka matanya.


Steven mendekati istrinya, sudah membicarakan soal Lin yang kemungkinan akan melakukan perawatan di luar negeri. Vero sudah mengurus semua persiapan, jika dalam tiga hari Lin tidak bangun.


Suara heboh Asih terdengar melihat ada tiga kue yang baru saja datang, Kasih menahan anak-anak untuk menjauhi kue tidak boleh dirusak.


Bulan menatap kue kesukaannya, memaksa ingin memakannya. Bella melotot ingin menelan putrinya hidup-hidup.


Suasana kamar Lin sangat ramai, belum acara tiup lilin tapi sudah heboh dan sulit dihentikan.


"Pusing sekali kepala Kasih, kalian selesaikan saja." Kasih duduk di lantai, mendengar suara anak-anak yang mirip burung beo berkicau.


Asih meniup balon sampai besar, Embun sudah teriak meminta Asih berhenti jika tidak balonnya akan pecah.


Bulan tersenyum, langsung mendekat memukul balon sampai meledak. Teriak semua orang terdengar membuat hampir jantungan.


"Sudah Em katakan, dasar bodoh." Tatapan Em tajam, memukul Bulan yang langsung menangis karena terkejut.


"Bulan bodoh sekali." Asih melotot, memukulnya menggunakan balon.


Wira langsung memindahkan Bulan duduk di sampingnya, Arum sudah berjalan ke tumpukan balon, mengigit semua balon sampai pecah.


Raka langsung berlari, menjauhkan Arum dari balon yang bersusah payah mereka tiup.


"Bibir Arum tidak pecah terkena balon?" Elang menggelengkan kepalanya, menolak untuk meniup balon lagi.


Pintu terbuka, Windy menghela nafasnya melihat kekacauan di kamar, hanya ditinggalkan beberapa menit untuk memesan makanan sudah hancur.

__ADS_1


"Suara kalian terdengar sampai keluar." Windy meminta menyiapkan acara dengan pelan.


Winda juga masuk bersama yang lainnya, tertawa melihat putrinya Arum diikat agar tidak bergerak, Arwin dan Virdan berusaha untuk menolong adiknya.


Bulan juga sama diikat, karena tidak bisa diam. Bella mengaruk kepalanya melihat anaknya diasingkan.


"Kenapa Bulan sama Arum?" Billa tersenyum lucu melihatnya.


"Lihat Ma, balon banyak pecah karena dipukul Lan, lalu banyak digigit Arum." Embun sibuk menyusun balon yang sudah ditiup.


Winda langsung mengecek bibir putrinya, melihat gigi anaknya yang mengigit balon.


Suara teriak terdengar, Asih menatap Bintang yang memakan kue ulang tahun Arum, tangisan Arum langsung terdengar melihat kuenya bolong.


Suara tawa langsung pecah, Bella meminta maaf akan segera memesan kue yang baru. Tawa tidak bisa ditahan lagi melihat Bintang yang mulutnya penuh kue.


"Kak Tian lihat anakmu." Bella berteriak, karena rambut Bintang penuh kue.


Bastian langsung masuk, melihat putranya yang tertunduk malu karena menjadi bahan ejekan semua orang.


Winda memotret Bintang berkali-kali, sungguh si ganteng yang sangat menggemaskan.


Satu tangan memoles, dua tangan, tiga tangan sampai satu cengkram masuk ke dalam mulut. Arum tersenyum merasakan enaknya kue ulang tahun, mencengkram satu untuk Arwin satu untuk Virdan, satu untuk Bulan.


Acara belum dimulai, tapi sudah kacau. Em juga terduduk lemas melihat realita tidak sesuai ekspektasi mereka.


"Gagal pestanya." Wira langsung lemas, tidak bersemangat lagi karena adik-adiknya yang hobi makan tidak bisa dihentikan.


Kasih melangkah masuk memanggil Billa untuk segera ke ruangan operasi atas perintah Erik, sudah ada panggilan, tapi Billa tidak mendengarkannya.


"Cepatlah Billa."


"Siapa yang akan operasi? aku sedang cuti." Billa melihat ponselnya, menjawab panggilan suaminya.


Teriakan Erik terdengar, meminta Billa masuk ruangan operasi, Vira akan segera dioperasi demi menyelamatkan anaknya. Erik tidak bisa bergabung karena masih ada operasi yang belum terselesaikan.


Billa meminta maaf akan segera masuk, pertama kalinya suaminya membentak dengan kasar membuat hati Billa sakit.


Ada pesan masuk, Erik meminta maaf jika nadanya tinggi. Setelah semuanya aman, Erik akan meminta maaf secara tulus.


Billa tersenyum, mengusap air matanya. Billa mudah baper jika dimarah.


"Vira sudah ada di ruangan operasi, sebaiknya anak-anak segera dibawa pulang."

__ADS_1


"Wira akan tetap di sini menemani kak Lin."


"Semuanya pulang, tidak ada yang boleh membantah." Windy meminta pengawal membawa semua anak-anak untuk kembali.


Billa sudah berlari, melihat Mami, mommy, Bunda sudah menunggu di depan ruangan operasi.


Kamar Lin masih berantakan, belum ada yang sempat membersikan, semuanya mencemaskan keadaan Vira dan baby twins.


Kue ulang tahun juga berhamburan, bersama balon yang berserakan di mana-mana.


Perlahan mata Lin terbuka, tubuhnya terasa lemas sekali. Melihat sekitarnya tidak ada satu orangpun yang menemaninya.


Air mata Lin menetes mengingat kejadian saat dirinya ingin membunuh baby twins sampai akhirnya dirinya berada di rumah sakit.


Arah pandang Lin fokus melihat kue ulang tahun yang ada tulisan nama dirinya, senyuman dan tangisan menjadi satu.


Lin mengulurkan tangannya, menyentuh kue yang ada di sampingnya, mencium baunya dan mencicipinya.


"Enak, jadi begini rasanya kue ulang tahun." Lin tersenyum menyentuh kembali kuenya, langsung mencobanya sambil menangis.


"Ini kue pertama Lin?" Bibir Lin bergetar melihat seisi kamar yang berantakan.


"Ibu, Lin punya kue." Tangisan Erlin tersedu-sedu melihat foto ibunya yang sudah dibingkai.


Memeluknya erat sambil terus menangis, Lin memakan sedikit demi sedikit kuenya yang terasa sangat enak.


Cukup lama Lin berdiam diri, tidak ada satu orangpun yang datang. Lin menuruni ranjang, membawa infusnya berjalan perlahan.


Membuka pintu dan mendengar beberapa suster mengatakan jika Vira Prasetya melahirkan secara dadakan, kondisi baik tidak baik begitupun dengan ibunya.


Lin yang mendengar langsung terduduk, dirinya yang menyebabkan Vira dan twins dalam bahaya.


Dirinya sudah melakukan dosa besar, karena menyakiti bayi yang tidak bersalah, merusak kebahagiaan rumah tangga Vira.


"Aku orang jahat, maafkan Lin kak Vira." Lin berusaha berdiri, menatap kue ulang tahunnya yang ketujuh belas.


Lin duduk sendirian di atas rumah sakit, infusnya sudah lepas dan darah menetes. Erlin melihat ke arah bawah yang sangat kecil, menatap kue kecil yang dia bawa untuk merayakan ulang tahunnya.


Lilin hidup di atas kue, jika lilin mati maka berakhir juga hidupnya.


"Ibu, Lin melakukan dosa besar. Lin gagal menjadi anak baik." Air mata menetes, membasahi pipi Lin.


***

__ADS_1


__ADS_2