SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
KEMARAHAN RAMA


__ADS_3

Senyuman menyeringai Viana terlihat, setelah dia menyelesaikan urusannya, dengan cepat Viana kembali ke ranjang, menatap sesaat wajah Rama yang masih terlelap dan mencium pelan wajah Rama dan memejamkan matanya lanjut tidur. Rama membuka matanya melihat keatas langit kamar, Rama tidak tidur sampai waktunya subuh, setelah sholat dia lanjut ke ruangan olahraga.


Viana merasa aneh melihat Rama yang dari tadi banyak diam nya, tidak biasanya.


Rama, dan Ravi turun dari atas duduk Ravi di meja makan menunggu sarapan datang, Ravi sibuk berceloteh tapi Rama diam saja, Vi tidak nyaman dengan sifat Rama yang dingin. Rasanya ingin Viana menangis, Vi menundukkan kepalanya air matanya keluar.


"Mommy! sakit leher ya, menunduk terus, daddy juga aneh dari tadi diam saja."


Rama menatap Ravi dan Viana bergantian, dan akhirnya tersenyum.


"Daddy baik-baik saja sayang, Ravi lanjut makan."


Pikiran Rama terganggu dengan pertempuran Viana dan Ririn, karena Ririn mempunyai gangguan jiwa yang terlihat normal. Dan sama seperti Viana yang pernah jiwanya terganggu.


"Vi, jangan menangis, aku tidak marah atau mengabaikan kamu, aku tahu semua yang kamu lakukan. Ririn lawan yang kuat, dan kejiwaannya terganggu sama seperti kamu dulu. Kemungkinan sejak kematian kekasihnya."


Viana menggakat wajahnya, menatap tajam Rama yang terlihat dingin.


"Reva dalam bahaya hubby," Vi cepat mengambil HP-nya menghubungi Reva.


"Aku sudah mengirimkan orang mengawasi Reva, lagian Reva gadis yang cerdik, tidak mudah dia terkecoh."


"Hubby, mengirimkan orang," Viana binggung Rama yang dulu tidak pernah berpikiran untuk melindungi diri seketat ini.


Selesai sarapan Rama mencium kening Viana dan menyatukan kepala mereka, memejamkan matanya begitupun juga Viana, Ravi menatap aneh kedua orang tuanya, berlalu pergi membawa ular.


"Berhati-hatilah, kita kalahkan Abi setelah itu baru kita berdua berperang, perusahaan siapa yang lebih hebat," Viana senyum malu mendengarkan ucapan Rama.


"Maaf hubby, Reva yang membuat keputusan mengalahkan LOVER, Vi ikut saja."


Viana senang, jika dulu dia selalu bertahan sendiri dan menutupi segalanya dari Rama, tapi sekarang mereka berjuang bersama dan saling terbuka. rasanya AHHH MANTAP....


Ravi masih duduk di depan rumah sambil mengelus ular. Dia bicara seperti orang gila, dia yang bertanya dia juga yang menjawab.


"Aunty Jum, Ravi pergi sekolah ya, tolong jaga ular, jangan lupa kasih makan."


"Ravi ganti namanya, dia kucing bukan ular, nama bagus banyak bisa Mona, Lisa, atau Jenni blackberry."


"Mommy, ular laki-laki," mata Ravi memicing.


"OHH, nama kembar kamu saja Rava, atau Rawon, tawon, Paijo, atau Tukul, emhh bisa juga!" Viana langsung diam melihat Rama menggeleng, dan wajah Ravi yang masam sambil mengelus ular.


"Mommy takut daddy, namanya serem kalau orang mendengar kita memanggil ular ular ular-ular, ngacir semua lari." Viana tertawa melihat Ravi yang sudah ngambek karena hewan kesayangannya mau diganti nama.

__ADS_1


***


Viana melajukan mobilnya, ada beberapa mobil yang mengikutinya, Viana tahu Ririn mulai bergerak, disisi lain Vi juga melihat beberapa gerakan mengawasinya.


Viana mematikan seluruh jaringan disekitarnya menggunakan pengacak sinyal, mobilnya sudah di sadap. Viana hanya tertawa sudah lama dia tidak merasakan ketegangan yang seperti ini, sungguh menyenangkan.


Mobil Vi masuk terowongan, dan Vi keluar menggunakan mobil yang berbeda, dan pergi ke jalur lain. Orang suruhan Aby terkecoh dan Viana langsung pergi menuju gedung tua.


Ammar sudah menunggu Viana di sana, dia binggung harus mendukung Viana atau Rama, Rama baru saja memberi perintah agar Ammar mengalihkan Viana agar menjauhi Abi, tapi Viana minta Ammar mengecoh Rama agar tidak tahu dia menghancurkan Abi.


"Ammar! Rama sekarang tidak sepolos dulu, dia mengirimkan penjagaan ketat, aku kebingungan bertindak."


"Ya, Rama memang sekarang jauh lebih kuat, Ravi juga dalam pengawasan yang sangat ketat."


"Astaga! suamiku kamu sekarang sangat luar biasa, tapi biarkan istrimu ini bersenang-senang dulu."


Mereka masuk ke dalam melihat segerombolan orang yang cukup kuat, Viana menutupi wajah dan duduk santai.


"Bos Vi, kami sudah lama bekerja dengan Abi,"


"Ohhh, maka kalian boleh pergi," Viana tertawa lucu melihat para mafia kuat yang menjual obat terlarang mengalirkan uang ke perusahaan Abi.


"Apa jaminannya jika kami menarik asset."


Semuanya saling tatap, mereka terkena sial bertemu dengan bos Vi, dia tidak pernah memberikan keuntungan tapi jika keinginannya tidak dikabulkan maka pasti mereka akan hilang dari dunia gelap.


"Baiklah, kami berada di bawah perintah mu."


Ammar mendekati Viana dan membisikkan sesuatu.


"Rama mengetahui keberadaan kita, dia menuju ke sini." Mata Viana melotot, tidak ada yang pernah bisa melacak keberadaannya.


***


Rama baru tiba di kantornya, belum sempat duduk Rama melihat laporan, kehilangan jejak Viana. Rama menghubungi Ammar langsung diabaikan.


Rama mengambil tabletnya dan melihat jaringan yang dia pasang di cincin nikah mereka, dan dengan cepat Rama menemukan lokasi Viana.


"Viana kamu memang hebat dalam memimpin orang dan pasukan, juga sangat ditakuti."


Tapi aku masih lebih unggul dari dalam bidang teknologi."


Rama cepat mengambil mobilnya, pergi menyusul Viana yang super keras kepala.

__ADS_1


***


Abi sedang asik bermesraan dengan Ririn, bawahan nya lari menemui Abi yang membuatnya marah karena menganggu kesenangan nya.


"Viana berhasil melarikan diri dan mengecoh kita,"


Abi tertawa mengakui kehebatan Viana, suara ponselnya membuatnya mengerutkan jidat, laporan dari perusahaan bahwa saham anjlok, lebih dari 80persen.


Abi cepat berdiri, dia coba menghubungi dunia hitam tapi tidak bisa, dia langsung pergi ingin menemui mereka semua.


"Viana, siapa dia,"


"Abi seharusnya kamu tidak pernah berurusan dengannya, dia dulunya pemimpin terkuat dari yang paling kuat."


***


Mobil Rama masuk dan cepat dia turun, terlihat amarah diwajah nya, Viana takut melihat Rama yang marah, ingin sekali Rama memukul wajah Ammar yang tidak mendengarkannya.


"Kak Ammar tidak mendengar perintahku lagi, dan mulai hari ini kamu lepas tugas menjaga keluargaku."


Viana dan Ammar saling pandang dan terkejut, Ammar tidak menyangka Rama marah besar.


"Dan kamu Viana pulang sekarang!" Rama bicara dengan nada membentak.


"Hubby, maafkan Vi,"


"Apa kamu sekarang tidak mau mendengarkan aku, tingkah gegabah kamu bisa membahayakan keberadaan Ravi." Suara Rama tinggi membuat Viana langsung lari keluar.


"Rama benar aku gegabah, sama saja aku membuka jalur lagi memanggil para penjahat mendekati keluarga aku." Batin Viana.


"Kak Ammar, Viana masih sama egois seperti dulu, mengapa kakak tidak mempercayai aku, jika mampu melindungi keluarga kecilku."


"Maaf Rama, aku tidak bisa menolaknya, dia pasti nekat bergerak sendiri."


"Hari ini kalian menang, tapi hari lain akan ada yang lebih kuat lagi, aku tidak akan membiarkan Viana dan Ravi terlibat."


***


"Viana sialan, jika aku tidak bisa membunuhmu, maka anakmu yang menggantikannya."


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE


__ADS_2