SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MENGEMBALIKAN CINCIN


__ADS_3

Mobil Billa berhenti di depan rumah Erik, Bella hanya menunggu di mobil. Billa keluar sendirian, langsung masuk menemui Mama Septi.


Melihat Billa datang Septi langsung memeluknya dengan erat, air mata Billa menetes tidak tertahankan. Septi meminta Bella duduk, berbicara dengan tenang.


Mama Septi mendengarkan cerita Billa sambil menangis, Septi mengerti perasaan Billa, tidak bisa juga memaksa Billa untuk tetap bertahan, Septi yang menerima dengan baik keputusan Billa.


"Maafkan Bil Ma, Billa tahu ini egois tapi Billa tidak bisa bertahan, berpisah jalan terbaik." Billa mengeluarkan cincin pertunangan, mengembalikan kepada Erik.


"Tidak perduli kalian menikah atau tidak, Mama sudah menganggap kamu sebagai putri Mama. Maafkan Erik ya Billa" Septi memeluk erat Billa, membiarkannya pergi menenangkan diri.


Billa mencium tangan Septi, mencium pipi Septi memeluknya erat baru pamit untuk pergi. Billa berjalan mengigit bibirnya menahan tangisannya, langsung berlari meninggalkan Bella dan mobilnya.


Bella hanya mengikuti saja dari belakang, saat sedih Billa pasti berlari untuk menenangkan dirinya. Billa langsung menuju kediaman Mommy Viana, di sana juga sudah menunggu Winda, Vira, dan Wildan.


Bunda Jum, Mommy dan Mami juga sudah menunggu. Para Ayah juga sudah menunggu untuk membiarkan anak-anak pergi.


Ravi duduk diam tatapan matanya penuh kekecewaan tidak menerima keputusan Billa, kecewa juga dengan pendapat Uncle Bisma.


"Uncle, Ravi tidak mengerti kenapa semuanya setuju,? keputusan sepihak, jika ingin mengakhirinya seharusnya Billa menemui Erik, cara seperti ini seperti sebuah penghinaan." Ravi menatap tajam Bisma.


"Ravi turunkan nada bicara kamu." Rama juga ikut sedih dengan gagalnya pernikahan.


"Ravi tidak mengerti Daddy, tidak bisa Ravi bayangkan kecewanya Erik, luka lama yang ditinggalkan orang tuanya, sekarang kembali lagi, ditinggal wanita yabg dicintai. Ravi pernah merasakannya Uncle, rasa takut kehilangan, rasa bersalah." Ravi menundukkan kepalanya.


Bisma menepuk pundak Ravi memintanya untuk tenang, Billa sudah mengambil keputusan sebagai seorang Ayah Bisma harus mendukung, karena Billa yang menjalani rumah tangga, dia tahu yang terbaik, juga sudah siap dengan resikonya. Bisma menceritakan semuanya, Ravi akhirnya mulai tenang.


Billa masuk bersama Bella, Billa langsung berlari ke dalam pelukan Bisma, Ravi menatap sedih Billa. Pasti sangat berat bagi Billa, Erik cinta pertama, tapi harus berakhir dengan cara memutuskan sepihak.


"Kamu baik-baik saja Billa?" Ravi menghapus air mata Billa.


"Billa tidak baik kak Ravi, tunggu sebentar lagi, berikan Billa waktu untuk tenang, maafkan Billa membuat sedih seluruh keluarga." Billa memeluk Ravi, air matanya menetes.


"Kamu harus tahu Bil, kami semua sayang kamu, kak Ravi akan mendukung keputusan Billa."


"Billa ingin bertemu twins dulu kak."


Suara langkah kaki terdengar, Vira menuruni tangga sambil menggendong Raka, sedangkan Wildan tersenyum menggendong Rasih.


"Kenapa mereka berdua yang seperti pasangan suami istri?" Viana tersenyum melihat Wildan dan Vira sekarang lebih kompak, Vira tidak manja lagi, Wildan juga lebih terbuka.

__ADS_1


"Asih, Uncle pergi dulu ya. Jangan nakal, kita bertemu lagi nanti saat acara syukuran kamu." Wildan mencium kedua pipi Rasih.


Tatapan mata Rasih terpesona dengan ketampanan Wildan, matanya selalu terbuka melotot sambil mulai tersenyum.


"Asih bisa tersenyum, cantiknya kesayangan Uncle." Wildan tersenyum, Rasih juga tersenyum mengikuti ekspresi wajah Wildan, sesekali lidahnya keluar.


"Asih genit, sudah tahu sama cowok ganteng. Jangan naksir ya, nanti kamu sudah besar pacaran sama aki-aki tua." Vira tertawa mengejek Rasih dan Wildan.


"Uncle ganteng, jika Uncle ganteng wajib senyum." Wildan tertawa melihat Rasih tersenyum, bibir kecilnya sangat mengemaskan.


"Raka jika Aunty cantik tersenyum." Vira menatap tajam Raka, tangisan Raka langsung kuat, Ravi langsung mengambil putranya.


"Vir, kamu mirip nenek lampir, menyeramkan jika melotot." Ravi mencium putranya memenangkannya.


Jum meminta Billa dan yang lainnya untuk duduk, memperingati untuk berhati-hati. Secepatnya juga kembali, Bunda berharap semuanya lancar tanpa ada hambatan.


Wildan duduk bersama Rasih berjanji akan menjaga para wanita, mereka hanya akan melakukan perjalanan untuk membantu beberapa korban bencana, menyumbangkan sedikit rezeki.


Winda duduk di dekat kakaknya, membisikan sesuatu, Papi ingin berbicara dengan mereka berdua. Wildan langsung menyerahkan Rasih kepada Kasih.


Wildan melangkah bersama Winda, Reva yang penasaran ingin ikut, tapi langsung ditarik Viana untuk duduk membiarkan kembar pengantin mendapatkan ceramah.


"Apa yang mereka bicarakan, tidak biasanya Ay Bim berbicara pribadi?" Reva memasang pendengarnya.


"Apa efek tua, sekarang kita tuli ya?" Viana menekan lubang telinganya.


"Mommy, Mami, Bunda, sebaiknya bersiap-siap untuk menjenguk Binar. Ravi mendapatkan kabar, beberapa orang hampir membunuh Binar, tapi penjagaan Tian sangat ketat, ada kak Tama juga di sana." Kasih langsung melangkah pergi, membawa Rasih yang sudah terlelap.


Ravi mengikuti Kasih, membawa Raka yang juga sudah tidur. Kedua anak mereka tidak cerewet, jadinya sedikit tenang.


"Erik di mana Aak? dia tidak menjaga Binar."


"Di kepala Erik isinya Billa, bagaimana dia bisa masuk ke ruangan Binar, di sana juga ada Tian."


"Wanita ular tidak mencari Erik?"


"Kurang tahu juga, sepertinya Binar punya rahasia yang hanya dia yang tahu."


"Aak, namanya juga rahasia, pastinya hanya dia yang tahu." Kasih langsung cemberut.

__ADS_1


Ravi tersenyum mencium pipi Kasih, meletakkan kedua anak mereka, baru saja Ravi ingin minta lebih, Rasih sudah menangis.


***


Binar berusaha untuk duduk, Tian membantunya untuk menopang dengan bantal, sesekali Binar melihat jam dinding. Tian juga menatap jam, Binar melihat pintu, Tian juga mengikutinya."


"Siapa yang kamu tunggu Binar?"


"Tidak ada."


"Kenapa kamu ada di sini? aku tahu kamu tidak mencintai aku, jika hanya rasa kasihan sebaiknya kamu pergi."


"Aku hanya ingin menemani adikku, menjaganya, melindunginya."


"Bagaimana keadaan Bella dan Billa?"


"Belum tahu, mereka belum ingin berbicara, bahkan tidak bisa dihubungi." Tian menundukkan kepalanya.


"Tian, aku ini wanita kotor, jangan kasihan kepada aku, bahkan keluarga aku sendiri tidak perduli, bukan tidak perduli, aku tidak memiliki keluarga lagi." Binar menepis air matanya.


"Sekarang aku yang akan menjaga kamu, anggap aku kakak kandung kamu." Tian menghapus air mata Binar.


"Aku membunuh anakku sendiri, tidak! bukan aku kak Tian yang membunuhnya, Dokter sialan itu memaksa bayiku keluar. Dia membunuh anakku, aku hanya boneka untuk menjadi perlindungannya. Kejahatannya menjadi kejahatan Binar, aku harus masuk tempat kotor, agar bisa bebas dari jeratan." Binar langsung memejamkan matanya, memeluk erat tubuhnya sendiri, mengigit bibirnya, air mata Binar mengalir membasahi bantal.


"Masa lalu tidak bisa kita ulangi lagi, juga tidak bisa kita hindari. Seburuk apa masa lalu kamu, kak Tian akan ada untuk kamu. Kak Tian akan menjadi pelindung kamu."


***


ADA BEBERAPA KOMENTAR HUJATAN.


Setiap pembaca boleh mengekpresikan emosi masing-masing, boleh juga menebak alur cerita, tapi alangkah baiknya jika dengan bahasa yang baik.


Sering sekali author mengingatkan beberapa komentar, bukan tidak suka, hanya saja tidak nyaman dibaca.


Hujatan anak haram, ingat novel ini dunia halu, tapi kenyataannya ada anak status ini di dunia nyata, Memangnya salah mereka lahir diluar pernikahan, jika salah mungkin aborsi jalan terbaik, tapi kenapa aborsi di larang, karena dia tidak salah lahir ke dunia, jangan salahkan statusnya.


Jujur aku sedih bacanya, karena kata-kata ini sensitif. Anak yang lahir di luar penikahan banyak, tapi bukan salah mereka, akhlak baik bukan dari status dia, tapi didikan, ajaran, tutur kata.


KITA SALING TOLERANSI, JANGAN SAMPAI ADA YANG TERSINGGUNG. KALIAN BOLEH KOMENTAR MARAH, SEDIH, TERTAWA, BAPER, MENYEMANGATI.

__ADS_1


TERIMA KASIH JUGA UNTUK KOMENTARNYA 💛💛💛💛


__ADS_2