
Sudah larut malam, sepuluh mobil beriringan memasuki kawasan hotel setelah pemeriksaan ketat.
Karan sudah mengabari Wildan jika rombongan sudah masuk, tidak ada yang menggunakan senjata.
Senyuman Wildan terlihat, meminta Ravi mengabari jika semuanya aman dan Delton akan segera masuk.
Pintu mobil terbuka, senyuman pria tua terlihat berjalan menggunakan tongkat melangkah memasuki hotel.
Satu-persatu pria berbadan besar mengikuti di belakang, satu wanita juga muncul dengan penampilan yang sangat seksi juga berjalan beriringan.
"Selamat malam tuan Delton." Steven tersenyum mempersilahkan masuk.
"Sungguh luar biasa, kalian membangun sebuah istana dengan keamanan yang sangat ketat." Suara tawa Delton terdengar, menganggukkan kepalanya mengagumi.
Seorang pria berbadan besar menatap tajam Steven, tersenyum sinis karena mengetahui jika Steven salah satu saingan bisnisnya.
"Apa kabar Steven? aku mendengar kabar jika adik kamu Vero sudah digantikan oleh putranya."
"Bukan digantikan, tapi sudah mempersiapkan putranya untuk melebarkan sayap." Senyuman Steven sangat tenang.
Pintu lift tertutup, tatapan wanita seksi di samping Delton menatap Steven yang sangat tampan dan tidak takut sama sekali.
"Kamu masih tampan, seperti pria berusia dua puluh tujuh tahun. Senang bertemu kembali Steven." Senyuman manis terlihat.
Steven tidak merespon sama sekali, hanya menunjukkan senyuman dingin menunggu pintu lift terbuka.
Pintu lift terbuka, Ravi sudah berdiri bersama Wildan menunggu kedatangan tamu dan mempersilahkan untuk mengikuti mereka.
Langkah Delton terhenti, langsung mendekati Wildan yang juga menghentikan langkahnya.
"Kenapa Bima tidak menua?" kening Delton berkerut.
Pintu ruangan terbuka lebar, Windy, Bima, Rama langsung berdiri bersama Lin melihat orang-orang melangkah masuk.
Bisma dan Ammar masih duduk diam, menatap Delton yang berjalan menggunakan tongkat menatap tajam Windy yang melihatnya juga tajam.
"Apa kamu putrinya Delon?"
"Silahkan duduk, kita bicara santai sesuai kesepakatan." Suara dingin Bima terdengar kembali setelah bertahun-tahun menjadi hangat.
Suara tawa Delton terdengar, melangkah mendekati Bima menepuk pundaknya kuat. Tidak pernah menyangka jika mereka akan berumur panjang, dan juga bertemu kembali.
Rasa kagum Delton saat melihat wajah Wildan, ekspresi wajah yang sama dengan Ayahnya pada masa muda, bahkan di mata Delton Wildan versi Bima remaja yang sangat tampan.
"Kamu jelmaan Bima saat remaja, dia sangat dingin dan berwibawa. Aku juga bisa merasakan jika kamu pemuda yang sangat dingin. Dulu ...."
__ADS_1
"Silahkan duduk Paman." Wildan menarik kursi, tapi bukan untuk Delton selain dirinya sendiri.
"Silahkan duduk di sini Papa." Seorang pria mempersilahkan Delton duduk.
Semuanya duduk melingkar, Delton tidak berhenti tertawa di tengah suasana yang dingin.
Delton menatap wajah Rama yang tidak asing sama sekali, melihat wajah Ravi yang mirip sekali dengan Rama.
Suara tepuk tangan terdengar, Delton mengagumi sosok Bima yang bisa menjaga Rama dengan baik dan menjadi seorang Ayah.
Tatapan Delton melihat ke arah Steven yang baru ingat jika Stev adik dari Stevie. Dua anak yang Bima besarkan sudah tumbuh menjadi pria dewasa dan menjadi seorang Ayah.
"Bisma, Ammar apa kabar kalian berdua?"
"Kabar baik tuan Delton, anda apa kabar? pasti baik setelah hampir mati di tangan Dewi. Terkadang karma memang belaku." Senyuman Ammar terlihat, apa yang Dewi lakukan menjadi karma untuk kejahatan Delton di masa lalu.
"Kamu juga masih bertahan hidup Ammar, tidak pernah disangka setelah kamu menghamili wanita malam dan dia melahirkan seorang anak kamu menghilang. Haruskah aku mencari anak itu dan memintanya balas dendam?" Delton tertawa melihat Bisma, Delton sengaja menyindir.
Suara tawa Ammar terdengar, mungkin dia terlambat membawa putranya berada dalam lindungan saat lahir. Sampai mati Ammar akan terus menyesalinya.
Sebaik apapun dirinya hidup tidak akan bisa membayar kesalahan masa lalu, Ammar tidak akan menyalahkan Delton atas apa yang terjadi.
"Saat ini putraku sudah tumbuh dewasa, dia memiliki putra dan putri. Seharusnya anda juga tahu jika dia tumbuh bersamaku, dan aku besarkan bersama istriku. Apa setelah gagalnya uji coba terhadapku kamu membuang begitu saja?" suara tawa kecil terdengar.
"Apa kamu ingin balas dendam?"
Senyuman Delton terlihat, menganggukkan kepalanya ikut bahagia untuk kebahagian yang Ammar miliki.
Tatapan Delton terarah kepada Bisma yang sibuk bermain game, sikap konyol Bisma masih sama pecicilannya.
"Kamu gagal Bisma membunuh kakak kamu?"
"Iya aku gagal, dia terlalu kuat seperti yang anda katakan. Seharusnya kamu yang aku bunuh, jadi berhati-hatilah mungkin aku bahagia sama seperti Ammar, tapi aku masih memiliki niat untuk balas dendam." Tatapan Bisma tajam, tersenyum sinis.
Steven mempersiapkan Delton untuk minum, tapi langsung ditolak. Delton ingin berbicara dengan Windy yang dia pikir putrinya Delon.
"Kamu harus ikut kakek."
"Maaf, aku sudah menikah dan akan mengikuti suamiku." Tatapan Windy tajam, jawabannya membuat Delton terkejut.
Ravi langsung tertawa, menepuk pundak Ar menutup wajahnya agar berhenti tertawa. Delton tidak menyangka jika Steven menikahi wanita cantik dan muda.
"Lalu di mana putri Delon?" tatapan Delton melihat ke arah Lin dengan tajam membuatnya Lin ketakutan.
Tangan Lin dingin, langsung menyentuh lengan Daddy-nya. Steven langsung tahu jika Lin ketakutan.
__ADS_1
Stev menarik kursi Lin untuk mendekatinya, memeluknya lembut untuk tidak takut karena Stev akan melindungi dia sampai akhir.
"Apa dia istri kedua Steven?" Delton langsung berdiri sampai kursinya jatuh.
Ravi langsung duduk di lantai, seandainya ada Erik mungkin mereka berdua sudah tertawa kuat.
Ar hanya tersenyum menepuk pundak Ravi untuk berhenti tertawa, Bisma juga cekikikan tertawa merasa lucu.
"Delton, Steven bukan kamu yang mempunyai banyak Istri. Dia pria setia, kalau kamu mungkin setiap rumah satu desa kamu nikahi semua." Tawa Bisma terdengar konyol, karena keterkejutan Delton soal Stev.
"Enak jika dijadikan istri, hanya sebagai pemuas kelamin. Mungkin lima orang yang mengikuti Delton ada setetes darah dia." Kepala Ammar menggeleng.
"Ammar, Bisma cukup, jaga ucapan kalian." Tatapan mata Bima tajam.
"Daddy, Lin takut. Tidak ingin ada di sini." Lin menangis memeluk Steven.
"Kamu putrinya kak Delon, aku akan membesarkan kamu dan menjadikan wanita paling kuat." Suara pelan terdengar, melangkah mendekati Lin dan mengusap kepalanya.
"Singkirkan tangan kotor dari putriku, langkahi dulu mayat aku jika kamu ingin memiliki dia." Windy menyingkirkan tangan dari kepala Lin.
"Baiklah akan aku langkahi." Pukulan kuat mendekati wajah Windy.
Steven langsung menahan dengan tatapan mematikan. Ravi, Wildan, Ar langsung berdiri melihat kakak tertua mereka ingin disakiti.
Tangisan Lin semakin kuat, dia ingin keluar karena takut dengan kekerasan. Melihat wajah Delton juga sangat menyeramkan, dia seperti melihat hantu.
"Sedikit saja kamu menyentuh wanitaku, berarti kalian siap mengibarkan bendera perang." Steven menepis tangan wanita seksi di hadapan istrinya.
Suara Bella berteriak terdengar, percakapan di ruangan rapat semakin panas, dia tidak sabar lagi ingin pergi.
"Apa yang terjadi Bella?"
"Ada keributan di sana, kak Windy ingin dipukul."
Suara pukulan di atas meja terdengar, Reva langsung berdiri menatap tajam merasa tidak terima.
"Cari mati mereka ingin menyentuh putriku! ayo kita pecahkan kepala Delton." Reva langsung melangkah ingin pergi.
"Katanya tidak ingin pergi?" Viana tersenyum.
"Apapun yang berurusan dengan putriku akan menjadi urusanku."
***
DONE TIGA BAB
__ADS_1
FOLLOW IG VHIAAZAIRA