SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 HARUS IKHLAS


__ADS_3

Seseorang menghubungi Wildan jika Vira geng tiba, langsung menuju klub malam. Wajah Wildan langsung kaget, meminta Erik pergi menghentikan Bella, jika sampai tahu, Tian bersama wanita lain pasti akan marah besar.


Wildan memijit pelipisnya, mendengarkan pertarungan. Karan merinding melihat kegilaan Bella yang sangat membabi buta.


"Laura bisa saja meninggal Wil, akhirnya Tian dan Bella akan berakhir." Karan melihat Wildan yang sangat khawatir.


"Papi benar, sebaik apapun rencana jika sudah waktunya kita kalah, tetap kalah. Aku sudah berusaha melakukan yang terbaik, tapi kepulangan Bella yang mendadak menghancurkan rencana, bahkan memperumit masalah. Sudah pasti pernikahan akan batal, apalagi jika Laura sampai meninggal." Wildan mencengkram rambutnya.


Billa yang tidak bisa tidur memainkan ponselnya setelah sholat subuh, melihat video dari Vira yang menunjukkan Erik bersama Laura. Billa memejamkan matanya menghela nafas, hati Billa terluka bukan hanya masalah Erik, tapi sosok kakak yang selalu dia kagumi, melihat Bella terluka di belakang Tian, tidak ada yang memperdulikannya.


Billa langsung mengambil kunci mobilnya, keluar rumah menuju apartemen. Bil yakin Bella akan pergi ke sana, Billa berkali-kali menghela nafas merasakan sesak dadanya.


Tiba di apartemen, matahari sudah bersinar terang, Billa berlari masuk ke dalam apartemen. Bella belum terlihat, Billa membuka jendela apartemen berdiri di depan balkon kamar.


Suara bantingan pintu terdengar, Billa melangkah keluar melihat wajah Bella babak belur, darah juga masih terlihat di bibirnya.


"Bel, sebaiknya kamu mandi. Aku akan mengobati kamu, Vir hubungi Billa." Winda memberikan handuk, Bella langsung melangkah melihat Billa yang sudah berdiri menatapnya.


"Billa sudah ada di sini Win." Bella langsung melewati Billa bergegas untuk mandi.


Vira menatap Billa, ekspresi wajah Billa tidak bisa ditebak. Langsung duduk mendekati Winda yang mencari tahu hubungan Laura dan Tian.


"Kak Tian ada hubungan apa dengan Laura?" Winda melihat detail identitas Laura.


"Hubungan yang kuat, kak Tian sampai menangis, terus meminta maaf. Vira bisa gila kenapa keadaan semakin kacau." Vira langsung lompat kaget, karena suara bel.


Vira langsung berlari menendang pintu, dia lagi sibuk mikir, tapi dikejutkan, pintu langsung terbuka, Vira teriak kuat.


Wildan memejamkan matanya, air liur Vira muncrat membasahi wajah Wildan. Vira langsung menutup mulutnya, masuk ke dalam mencari kain, melihat Wildan masih tarik nafas buang nafas.


"Maaf Wil." Vira mengelap wajah Wildan dengan kain.

__ADS_1


"Kain apa Vir? kenapa bau sekali?" Wildan menatap kain kotor di tangan Vira.


"OMG, kain dapur untuk membersihkan kompor, tisu habis." Vira nyegir.


Wildan langsung masuk, menuju kamar mandi mencari sabun wajah membersihkan wajahnya. Vira menunggu di depan pintu kamar mandi, melihat Wildan yang khawatir dengan wajahnya.


"Handuk bersih Vir,"


Vira langsung berlari ke kamar, mengambil handuk kecil kembali ke tempat Wildan, langsung memberikannya.


Wildan langsung menatap Vira yang tersenyum melipatkan kedua tangannya, meminta maaf karena mengotori wajah Wildan.


"Maaf,"


"Seperti ini cara kamu menyambut tamu, disembur dengan bau mulut kamu."


"Baunya wangi Wil, bau mawar melati harum dan wangi."


Wildan melihat Billa duduk diam di ruang tamu, melihat ke arah luar jendela menatap pagi yang cerah, tapi tidak dengan hatinya.


Bella juga muncul, Wildan menghela nafas melihat wajah Bella juga banyak memar, Billa langsung mendekati kakaknya mengeluarkan obat-obatan.


"Hanya luka memar Bil, tapi mungkin wanita tadi mati gegar otak." Bella menatap Billa.


"Maaf ya kak Bel, Billa yang menyebabkan kak Bel terluka, hubungan dengan kak Tian juga memburuk." Billa mengobati wajah Bella yang cukup parah.


"Bukan salah kamu, sudah waktunya semuanya terbongkar, kak Bel juga terbawa emosi." Bella memeluk Billa yang meneteskan air matanya.


"Bel kamu tahu siapa Laura?" Wildan duduk di samping Bella.


"Wanita malam, perempuan sialan. Aku harap dia mati, jika tidak akan aku singkirkan dia." Bella masih menyimpan kemarahan terhadap Tian dan Laura.

__ADS_1


"Dia adik kandung kak Tian." Winda yang membawa minuman langsung menjatuhkan sampai pecah, Vira menatap Wildan tanpa berkedip, Billa terduduk lemas di lantai, hanya Bella yang biasa saja.


"Ohhh, sekarang dia menemukan keluarga sesungguhnya. Pantas rela mati demi adiknya tercinta, baguslah lebih cepat lebih baik dia pergi bersama keluarganya." Bella menatap tajam.


"Bel, kak Tian putra Bunda dan Ayah. Jangan salahkan kak Tian soal Laura, kita tidak pernah tahu penderita Laura selama ini." Wildan menatap tajam.


"Bel mengerti Wil, tapi cara kalian salah. Dia ingin menyakiti Billa, merebut Erik. Oke kita ambil keputusan batalkan pernikahan Billa dan Erik, biarkan Erik menikah dengan Laura, anggap Laura putrinya Bunda juga, dia sudah banyak menderita, butuh cinta dan kasih sayang, berikan semuanya. Kami hanya ingin mengucapkan terima kasih kalian menyelamatkan Laura, menghancurkan Billa." Bella bertepuk tangan sambil tertawa.


"Kita dengarkan keputusan dari orang tua, menunggu keadaan Laura yang sekarang sedang operasi kepala." Wildan menghela nafas panjang.


"Belum mati rupanya!"


"Kak Bella, jika dia mati hubungan kak Bel dan kak Tian hancur. Dia adik kandung Kak Tian, tolong hargai perasaan kak Tian, berhentilah egois." Suara Wildan meninggi.


"Wil, jika kamu datang ke sini ingin membela mereka silahkan kamu Keluar. Saat ini kami tidak butuh nasehat kamu." Vira menatap tajam.


"Aku di sini karena ada di pihak kalian Vir. Aku juga mengkhawatirkan keadaan Bella dan Billa."


"Wildan, pikiran kita berbeda. Kamu menggagap kita harus kasihan terhadap Laura, lalu bisa kamu bayangkan hubungan Billa dan Erik, Bella kak Tian. Kamu tahu tidak rasanya sakit hati dan kecewa?" Vira berbicara sambil membentak.


"Oke aku minta maaf, Wil tidak akan membela mereka, terserah kalian ingin memutuskan seperti apa."


Billa langsung duduk di samping Wildan, langsung memeluknya dengan erat. Billa menangis sesegukan membasahi baju Wildan.


"Kak Tian jahat, kenapa kakak menyakiti Billa? padahal Billa sayang Kaka, kak Tian lelaki Kedua yang Billa cintai, Billa ingin seperti kak Tian kuat dan mandiri, tapi saat ini Billa kecewa, kak Tian bohong, bilangnya tidak mengenal Laura, Erik dan Laura hanya masa lalu, kak Tian berjanji, apapun yang terjadi akan memeluk Billa, tapi kenyataannya kakak memeluk dia, kak Erik juga menerima ucapan cinta dia, Billa sakit hati." Billa memeluk Wildan, tangan Wildan juga menepuk bahu Billa.


"Baiklah Billa memaklumi, dia adik kandung kak Tian, dia butuh cinta dan kasih sayang kak Tian. Kak Tian berniat membawanya ke jalan yang baik, Billa mengerti sangat mengerti, jika dengan merelakan kak Tian dan Erik demi kebahagiaan Laura, Billa ikhlas melepaskan. Billa tidak boleh serakah. Billa cukup punya Ayah, Bunda, juga kak Bella, silahkan Laura mengambil dua lelaki yang Billa cinta dan sayangi." Billa melepaskan pelukannya terhadap Wildan, seakan dia sedang berbicara dengan Tian.


"Sudah Wil, kak Bil sudah melepaskan sesuai keinginan kalian. Kita kasihan sama dia, berarti Billa harus ikhlas." Billa menghapus air matanya menatap Wildan.


"Maafkan Wildan, apapun keputusan kak Billa akan Wildan ikuti."

__ADS_1


***


__ADS_2