SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 BERTEMU MOMMY DADDY


__ADS_3

Perlahan mata Kasih terbuka, sudah hampir 2 minggu Kasih berada di atas ranjang, segala keperluan Ravi yang mengurus, bahkan untuk ke toilet Ravi harus menggendongnya.


Senyum Kasih terlihat menatap Ravi yang sedang tertidur, Kasih berusaha untuk turun dari ranjang secara perlahan.


Sejak mengalami pendarahan, Kasih tidak diizinkan banyak bergerak, membuatnya terus berbaring. Kasih ingin membangunkan Ravi, tapi tidak tega, tidurnya terlalu pulas. Kasih mengambil infus, berjalan ke arah toilet selangkah dua langkah.


Ravi terbangun langsung kaget, tidak melihat Kasih di atas ranjang. Ravi langsung berdiri, memanggil nama Kasih.


"Kasih, di mana kamu?"


"Toilet Aak." Kasih membuka pintu, Ravi langsung berdiri, menggendong Kasih.


"Kenapa kamu turun? seharusnya kamu teriak membangunkan Aak." Ravi mendudukkan Kasih di ranjang.


"Maaf Aak, Kasih sudah jauh lebih baik. Perlahan untuk belajar berjalan lagi." Kasih memeluk erat Ravi.


Ravi meminta Kasih tidur kembali, Kasih meminta Ravi juga tidur disisinya. Ravi langsung ikut berbaring, memejamkan matanya.


***


Billa sudah mulai bertugas, tapi lebih fokus menjaga Raka dan Rasih. Berkali-kali Billa mendengar kabar soal banyaknya pengemar Erik.


Langkah kaki Billa mendekati ruangan Erik yang tidak tertutup rapat, melihat Erik duduk di depannya seorang Dokter seksi memperlihatkan belahan dadanya yang besar.


Tatapan mata Billa langsung gelap, seorang Dokter tapi tidak punya etika. Billa melihat Erik yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Dokter Erik hari ini ingin makan siang bersama?"


"Tidak, saya sibuk."


"Bagaimana kalau kita makan di dalam ruangan saya?"


"Saya sibuk."


"Erik mengapa sekarang kamu berubah, sangat dingin, jarang berbicara dan bercanda seperti dulu lagi."


"Maaf aku sedang menjaga hati."


"Dulu juga kamu memiliki banyak pacar, tapi santai saja. Siapa wanita yang sekarang kamu pacari."


"Billa Bramasta, dia bukan hanya pacar, tapi calon istri. Kamu pasti masih mengingat jika, aku selalu mengatakan ada seseorang yang aku tunggu, Billa wanita yang selama ini aku tunggu tumbuh besar." Erik tersenyum mempersilahkan keluar.

__ADS_1


"Billa, Dokter spesialis anak yang baru saja bergabung. Berarti dia adik pemilik rumah sakit ini? Erik kamu sedang mengincar harta keluarga Billa?" Suara tertawa mengejek terdengar.


Billa mengetuk pintu, melangkah masuk menatap Erik. Memeluk Erik dari belakang, menatap tajam seorang Dokter di depannya.


"Maaf bukannya baju anda terlalu terbuka, memalukan." Billa tersenyum sinis, Erik melihat wajah Billa yang ternyata bisa kasar juga, gen Bisma turun juga kepada Billa.


"Dokter Billa, bicaralah dengan sopan."


"Sayang, hari ini kita mengecek gaun sesuai jadwal."


"Hari ini." Erik kaget.


Billa melambaikan tangannya melihat Dokter montok keluar, Erik diam melihat Billa yang sudah duduk di atas meja menatap tajam.


"Bil, aku tidak melakukan apapun?" Erik menghela nafas.


"Dadanya besar, enak?" Nada bicara Billa dingin.


Erik hanya diam, berbicara dalam hati. Percuma besar tidak bisa disentuhnya.


"Kak kenapa diam? lagi mengkhayal." Billa melipat kedua tangannya.


"Bukan Bil, masalah seperti ini tidak perlu kita perdebatkan. Kamu cukup percaya cinta kak Erik milik kamu. Kita seorang Dokter komunikasi harus baik, banyak orang yang akan bertemu kita, jangan menjadi bumerang untuk kita. Kak Erik percaya Billa, begitupun sebaliknya, agar kita bisa berjalan bersama." Erik menggenggam tangan Billa.


"Biarkan mereka terbang, kita komitmen untuk saling percaya." Erik mencium tangan Billa.


"Baiklah Billa percaya, awas macam-macam. Ikut Billa kak Erik kita bertemu twins." Billa melangkah keluar diikuti oleh Erik.


Di jalan Erik tertawa bersama Billa jika pernikahan mereka akan segera dilaksanakan, tidak perlu menunda banyak waktu, karena pemulihan twins jauh lebih cepat dari dugaan Billa.


Sesampainya di kamar twins, Billa meminta suster keluar. Erik langsung melihat Rasih yang sudah bangun, mengeluarkan lidahnya.


"Ya Allah gemas sekali, Billa nanti kita punya satu yang seperti ini, dia mirip boneka." Erik tersenyum, Billa membuka tabung mengeluarkan Rasih yang sudah sehat.


Seluruh tubuh Rasih sudah dilakukan pengecekan, Billa bernafas lega karena Rasih baik-baik saja. Mata Rasih mirip Kasih, bibirnya juga, tapi keseluruhan lebih mirip Ravi.


"Cantik ya sayang."


"Iya kak, dia cantik sekali. Billa sangat bahagia melihat matanya memperlihatkan sikapnya yang anggun."


"Mata Rasih anggun, sayang dia lagi menggoda kamu untuk meminta es cream." Erik tertawa, mata Rasih langsung berkaca-kaca ingin menangis.

__ADS_1


Erik langsung menggendong Rasih, menenangkannya. Billa mendekati Raka yang sangat tenang, dia menangis hanya saat lapar.


Billa mengeluarkan Raka, langsung menggendongnya mendekatkan dengan Rasih. Erik langsung menyapa Raka.


"Ayo kak kita ke kamar kak Kasih."


"Mereka sudah boleh keluar Bil?" Erik tersenyum ingin sekali mencium pipi Billa yang membuatnya bangga.


***


Ravi sedang menyuapi Kasih makan, sesekali juga menyuapi mulutnya. Kasih juga sudah bisa berjalan tanpa bantuan, hanya Ravi yang sensitif tidak ingin Kasih bergerak.


"Aak, Mommy belum datang?"


"Belum sayang, katanya sedang mempersiapkan baju twins."


Suara pintu terbuka kuat membuat Ravi terkejut, Kasih sampai mengelus dadanya.


"Ravi twins hilang, tidak ada di dalam kamarnya." Mommy langsung menangis, Reva langsung menghubungi Bima, Jum sambil menangis mengadu kepada Bisma dan Tian.


"Mommy tenang dulu, jangan panik. Mungkin sedang bersama Billa." Ravi berusaha untuk tenang, Kasih sudah meneteskan air matanya.


"Mommy baru saja dari sana, Raka dan Rasih belum diperbolehkan keluar dari kamarnya." Mommy bicara dengan nada tinggi.


Kasih menggenggam tangannya, melihat Ravi yang langsung menghubungi penjagaan. Coba juga menghubungi Billa yang paling sering bertemu dengan anaknya.


Karena tidak mendapatkan jawaban, Ravi langsung berlari keluar, terhenti di depan pintu langsung mundur, mempersilahkan Billa Erik masuk sambil menggendong dua bayi.


"Good morning Daddy, good morning Mommy. Emhhh ada nenek juga di sini." Billa menyapa semuanya, Erik juga tersenyum sambil menggendong Rasih.


Billa mendekati Kasih yang menangis, meletakkan Raka dalam pelukan Kasih. Tubuh Raka langsung bergerak, mencari susu.


"Dia lapar kak Kasih, langsung saja menyusu dari Mommynya." Billa mengambil Rasih meminta Erik menjauh.


"Boleh Bil, seriusan kak Kasih sudah menggendong Raka." Kasih menangis bahagia, Ravi menghapus air mata Kasih mencium keningnya.


"Coba belajar dulu kak Kasih, sebelum Asih teriak minta susu." Billa memberikan Rasih kepada Ravi.


Kasih tersenyum merasakan Raka yang menyedot kuat, seakan-akan dia kelaparan, Kasih sesekali meringis merasakan geli sakit, tapi tersenyum melihat Raka yang sedang menyusu. Tangan Kasih mengelus wajah Raka yang mirip Ravi.


"Rasih giliran ya sayang, kamu cantik sekali seperti Mommy kamu." Ravi mencium wajah Rasih penuh kebahagiaan.

__ADS_1


"Terima kasih ya Allah, hamba diberikan kepercayaan, kesempatan menjadi seorang Ayah." Ravi memeluk pelan Rasih, mengelus wajah Raka yang sedang menyusu.


***


__ADS_2