
Mata Wildan terbuka, mencari keberadaan Vira yang tidak terlihat. Mendengar keributan diluar. Wildan memegang infus langsung berjalan dengan bantuan tongkat.
Di kamar sebelah dirinya ada keluarga yang memarahi Bella yang banyak gerak, tidak bisa duduk diam sampai masuk rumah sakit.
Pintu terbuka, Wildan melangkah masuk melihat seluruh keluarga berkumpul. Bella sudah menangis, langsung diam saat melihat Wildan.
"Kak Bel kenapa?"
"Wil, kamu sudah bangun." Vira langsung membantu memegang infus.
"Kenapa kak Bel dirawat?"
"Gara-gara botak." Bunda menatap tajam putrinya.
Wildan duduk meminta tangan Bella, air mata Bella menetes melihat wajah Wildan yang memperhatikannya.
"Jangan menangis, sudah Wildan katakan jangan pernah menangis. Vira, Winda dan Billa sudah biasa menangis jika menginginkan sesuatu, tapi kak Bel tidak. Saat kak Bel ingin sesuatu dan tidak diwujudkan selalu marah, Wildan lebih menyukainya." Tangan Wildan menghapus air mata kakak sepupunya.
"Bella ingin kita botak Wil." Erik menyentuh rambutnya.
"Jangan ya kak, jika memang perasaan kak Bel ingin melihat orang botak, lihat Wildan saja. Wildan akan melakukan apapun yang kak Bel inginkan. Sudah Wildan katakan, Wil yang akan menjadi orang pertama, jika kak Tian tidak ingin melindungi kakak. Sekarang kak Tian ada di sini, apa lagi kebahagiaan yang kak Bel inginkan selain bisa bersama lelaki yang dicintai juga anak yang dikasihi." Wildan meminta izin untuk menyentuh perut Bella, Tian memberikan izin.
"Kak Bel bahagia?"
"Iya, Bel ingin menjadi ibu."
"Jangan menangis, kenapa baby cengeng sekali." Wildan mengusap air mata yang menetes dari mata indah Bella.
"Kak Bel binggung, orang hamil selalu muntah, ingin makan sesuatu, tapi Bella ingin melihat orang botak." Bibir Bella langsung cemberut.
"Berarti kak Bel yang membuat cacing Asih botak?" Wildan langsung tertawa, Asih melapor kepada Wildan jika kucingnya botak.
"Bukan Bel yang membuatnya botak, tapi Wira." Bella menyukai botak, karena Wira.
Semua orang menatap Windy yang menepuk jidat, putranya memang nakal tidak bisa ditegur kecuali Daddy-nya.
"Kandungan kak Bel baik-baik saja?" Billa mengusap perut Bella.
"Iya, Bella ingin pulang, tapi boleh tidak melihat Fly. Dia sudah mati belum?"
"Kak, Fly baik-baik saja. Kita do'akan agar cepat sembuh. Kak Bel hari ini boleh pulang, Wildan juga boleh pulang. Kita semua bisa beristirahat di rumah." Billa tersenyum menatap Wildan.
"Rumah mana?"
__ADS_1
"Masing-masing Bel." Vira membantu Wildan untuk kembali ke kamarnya.
Senyuman Wildan terlihat, langsung keluar bersama Viana dana Rama sedangkan Reva menunggu di rumah.
Windy juga keluar meminta maaf kepada Kasih karena kenakalan putranya, sekarang juga Wira memaksa untuk ke Cana, dia ingin bertarung dengan pangeran.
"Kak Win ingin ke kerajaan Cana?" Wildan menatap serius.
"Belum tahu Wil, Ay Stev masih sibuk. Wira yang memaksa ingin pergi ke sana, dia menantang pangeran Cana, bahkan menghasut Asih sama Ning untuk ikut." Windy pusing memiliki anak semata wayang yang nakalnya luar biasa.
"Proses membuat dan membentuk Wira menjadi lelaki tampan sangat sulit, setelah lahir kita hampir gila dia buat." Ravi membayangkan Wira yang lebih mirip preman.
"Kamu tidak tahu saja, saat dia berusia empat tahun sampai saling menjambak rebutan Ay Stev." Windy tertawa jika mengingat putranya.
"Vira tahu apa yang Wira katakan, mommy, ini Daddy Wira, jangan disentuh. Mommy sudah tua, Wira masih kecil, tidurnya harus di atas dada Daddy." Vira mengulangi nada bicara Wira jika marah.
"Wira juga bertarung dengan Winda. Mereka berdua menjadi satu, sampai baju Winda sobek. Wira dimarah kak Stev sampai mendapatkan hukuman." Vira membuka pintu untuk Wildan, mempersilahkan masuk.
Windy tersenyum, Stev sangat mencintai anaknya tapi juga sangat tegas seiring bertambahnya usia Wira.
"Kak Win bahagia?"
"Tentu Wil, jangan ditanya lagi. Bahkan sangat bahagia, karena itu kami happy ending meskipun perjalanan kami masih panjang. Kamu juga mulai sekarang harus bahagia, jangan lupa secepatnya memproses Wildan junior. Kak Win penasaran dia mendapatkan otak Vira atau kamu?" Windy tertawa mengusap kepala adiknya.
"Mommy, otak Vira dan Wildan sama saja. Mommy lupa siapa Vira?"
"Tentu mommy ingat, satu-satunya anak yang tinggal kelas."
Wildan tersenyum, menggenggam tangan Vira. Wildan berharap anaknya akan seperti Vira, selalu ceria, lucu, cantik juga sangat pintar.
"Wil, kak Ravi akan memberikan tips untuk proses membuat adonan."
"Ravi." Rama tersenyum, Ravi langsung memeluk Daddy-nya.
Vira langsung mendekat, memeluk Daddy menyingkirkan Ravi yang langsung memeluk Viana.
"Kalian berdua masih ingin bertengkar?" Windy merapikan pakaian Wildan, Erik muncul langsung melepaskan infus.
"Erik, sahabatku. Ayo kita santai malam ini?" Ravi merangkul Erik.
"Boleh, asalkan kamu yang pamitan kepada Billa."
"Pergi saja Ravi, malam ini aku juga ingin bersantai di bar." Kasih menatap tajam.
__ADS_1
"Ayo, kita kita pacaran saja sayang." Ravi memeluk Kasih yang melotot.
"Kak bagaimana keadaan Fly?"
Erik tersenyum, keadaan Fly sudah stabil. Operasi lancar dia hanya membutuhkan pemulihan yang cukup lama, luka tembak cukup parah.
"Tidak ada yang perlu dipikirkan Wil, kamu harus pikirkan diri sendiri. Berjalanlah untuk meniti bahagia, setiap rumah tangga ada konflik, jangan takut dengan masalah. Yakin kepada diri sendiri, jika kamu bisa menjaga rumah tangga sampai maut memisahkan." Erik menepuk pundak Wildan.
"Betul, contoh kak Ravi. Pemecah rekor malam pertama setelah hampir satu tahun menikah. Meskipun dibohongi, kami akhirnya bahagia, memiliki dua anak lucu seperti bapaknya." Ravi tertawa, menatap Kasih yang terlihat kesal.
"Telat malam pertama turun temurun, hanya kak Windy yang cepat." Windy tertawa.
"Wajar saja kak Win, penantian juga lama." Erik tertawa melihat Windy menutup mulutnya merasa lucu.
"Daddy mereka membicarakan apa? Vira masih polos." Senyuman Vira terlihat, masih nyaman berada dalam pelukan Daddy-nya.
Rama mengusap kepala putrinya, meminta Wildan dan Vira mencontoh kakak mereka yang memiliki banyak konflik, tapi akhirnya bisa bahagia.
"Rahasia pernikahan, hubungan suami istri yang saling menguatkan, menerima kekurangan, melengkapi, sabar, juga berserah diri kepada Allah. Bahagia kalian yang menciptakan, jadi ambil sisi baik dari pernikahan yang mendahului kalian." Rama tersenyum melihat Wildan menganggukkan kepalanya.
Semuanya bersiap untuk pulang, Wildan dan Vira sementara tinggal di rumah Viana. Jarak dengan rumah Reva juga hanya lima langkah sehingga bisa saling mengunjungi.
Vira sebenarnya tidak setuju, tapi melihat keadaan Wildan lebih baik tinggal bersama orang tua.
Wildan melihat ponselnya, menatap pesan dari Ar soal pertengkarannya dengan Winda.
"Vira, nanti sampai rumah kamu hubungi Winda, dia bertengkar dengan Ar. Di sana Winda tidak memiliki teman."
"Iya, nanti aku akan menemani dia." Vira tersenyum melihat pesan Winda yang mengirim emoticon sedih.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA
***
Hai semuanya, novel SUAMIKU MASIH ABG SUDAH SATU TAHUN. Author memiliki niat untuk berbagi sedikit untuk pembaca setia, kalian cukup follow Ig VHIAAZARA.
Kalian juga bisa sering-sering komentar di bawah, setiap up novel. Agar author tahu pembaca setia.
Nanti akhir bulan author Kasih pertanyaan soal S1 S2 DAN S3 di IG kalian jawab pertanyaan, author pilih beberapa orang.
__ADS_1