SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 MUSUH BARU


__ADS_3

Suara mobil Billa dan Vira terdengar, Vira langsung berlari kencang masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum suamiku." Vira langsung melewati Ravi, tangan Ravi langsung menjambak rambut Vira sampai teriak.


"Dasar tidak sopan, bukan memberikan salam, mencium tangan langsung saja dilewati. Attitude kamu sudah rusak ya Vir."


"Ya maaf, salah kak Ravi sendiri yang berdiri di situ. Vira harus masuk dulu, Vira pikir tadi tiang." Vira mencium tangan Ravi, langsung memeluknya erat, mencium kedua pipi Ravi gemes.


"Kak Kasih, apa kabar kak." Vira memeluk Kasih, mencium pipinya.


"Baik, kamu semakin cantik Vira."


Vira langsung tersenyum mengemaskan, Wildan menatap Vira sambil geleng-geleng. Vira langsung duduk di samping Wildan, meletakkan kepalanya di pundak Wildan.


"Bagaimana dengan kuliah kamu?" Wildan menatap Vira, mengambil tisu menghapus alis Vira.


"Baik, Vira akan selesai dalam 2 tahun, kamu harus siap menikahi Vira" Vira melihat alis karyanya luntur.


Wildan hanya tersenyum memejamkan matanya, Vira mengambil ponsel Wildan. Vira melihat fotonya yang pernah berada di Roma saat liburan, tidak ada yang tahu soal Vira pergi bersama Bella, tenyata Wildan sedang menyelidiki keberadaan wanita yang berada di Roma.


"Kenapa kamu tidak menyangka aku bisa melacak kalian? hebat kalian Vir, bisa melarikan diri sampai sejauh itu. Bukan hanya aku yang mencari kalian, Karan juga banyak orang lain. Kehadiran kalian membuat kerugian perusahaan gelap mencapai triliunan." Wildan bicara pelan.


"Kami memiliki alasannya Wil." Vira langsung berubah dewasa, menatap Wildan tajam.


"Aku tahu, kalian punya tujuan yang mulia. Serahkan sandi yang pernah kamu gunakan, biar aku yang mengambil alih."


"Kamu bisa terluka, aku tidak ingin menjadi janda."


"Tidak perlu bercanda Vira, kita harus menyelesaikan secepatnya."


Vira pergi mencari Bella yang sedang asik bercanda dengan Karin.


***


Billa masih di luar menemani Erik mencari makanan untuk makan malam. Di jalan Billa melihat beberapa mobil yang mengikuti mereka.


"Kak, siapa yang mengikuti kita?" Billa memegang lengan Erik.


Erik melihat kaca, langsung mempercepat laju mobilnya. Billa menatap Erik yang masih terlihat santai, menghubungi Wildan jika ada yang mengikutinya.

__ADS_1


"Kamu di sini punya musuh dek.?"


Billa menggelengkan kepalanya, tidak punya nyali menjawab candaan Erik yang terlihat santai. Mobil Erik masuk ke dalam keramaian, langsung berhenti mengandeng tangan Billa untuk pindah mobil.


Karan sudah berada di mobil, tersenyum melihat Erik dan Billa baik-baik saja.


"Siapa mereka Karan?"


"Orang yang pernah beberapa tahun yang lalu hancur, dua wanita yang terlibat sudah terlacak. Vira dan Bella, kedatangan mereka meminta nyawa Bella dan Vira, tapi melihat Billa sama dengan melihat Bella."


"Sekarang aku paham, ini alasan Wildan memaksa pergi ke Roma. Kalian mencari wanita yang terlibat." Erik mengaruk Kepalanya.


"Keadaan semakin buruk, lawan kita para pembisnis yang sukses dengan bisnis ilegal. Mereka mengalami kerugian mencapai triliunan."


Billa menggenggam tangan Erik, langsung ingin menangis. Erik merangkul Billa mengusap kepalanya untuk santai saja.


Di rumah sudah berkumpul, Wildan menceritakan semuanya. Dia tidak punya alasan lagi untuk pergi ke Roma. Bella mondar-mandir menunggu Billa datang, kelalaian dia melibatkan adiknya dalam bahaya.


Suara teriak Billa langsung berlari ke pelukan Tian, tangisan si bungsu tidak terhentikan. Tian memeluk adik kecilnya yang sedang ketakutan.


"Billa, di sini ada kak Tian, tidak ada yang bisa menyentuh kalian selama kak Tian masih berdiri."


Ravi masih santai memainkan ponselnya sambil mengemil. Kasih mendekati Ravi memukul lengannya untuk melihat keadaan yang sedang berantakan.


Senyum Ravi terlihat sambil mencium pipi Kasih, Vira cemberut melihat kakaknya yang tidak menunjukkan rasa khawatir.


"Kak Ravi, Vira sedang dalam masalah. Tidak bisa ikut suasana."


"Kenapa? kamu masih ada di sini, masih sehat tidak terluka sedikitpun, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Ravi, Vira dan Bella sedang terlibat dengan orang yang bisa membunuh dengan mudah." Erik menatap Ravi yang masih sempatnya tersenyum.


"Aku pernah berada dalam fase paling jatuh, Kasih tertembak di depan mataku. Koma selama berbulan-bulan, masa yang aku lewati sudah membuat jatuh mental. Kalian ingin berada di fase yang lebih buruk lagi, padahal kita sudah tahu dari awal masalahnya." Ravi menatap tajam.


"Apa yang harus kita lakukan Ravi?" Erik meletakkan tablet Wildan.


"Kita memiliki dua pria jenius dalam komputer, Wildan dan Karan yang bisa melacak musuh. Kita tidak akan kehabisan darah, di sini ada Erik dan Billa. Kita juga tidak akan jatuh miskin, karena ada kak Tian. Masih ingin bertanya apa yang harus di lakukan."


"Vira dan Bella bisa mengalahkan mereka semua, kenapa kita tidak bisa. Kehadiran mereka karena marah, kalah dari seorang wanita. Berapa banyak orang pintar di sini, ada Karin, ada Kasih. Kalian semua bukan beban di sini."

__ADS_1


Semuanya diam melihat Ravi yang bicara panjang lebar, Kasih memeluk lengan Ravi yang memang mentalnya sangat kuat sejak hadirnya dirinya.


"Di mana Winda?" Ravi menatap Vira dan Billa.


"Dia masih ada penelitian, mungkin sebentar lagi pulang." Billa menatap Vira.


"Hubungi dia untuk segera pulang, walaupun Winda cerdik dan tidak punya tempat takutnya, dia bisa terluka."


Vira langsung tertawa kuat, Kasih berdiri melihat Vira. Memegang keningnya heran melihat Vira.


"Harus kita menumbuk bawang untuk mengobati Vira."


"Sayang, duduk ke sini." Ravi memanggil, Kasih langsung melangkah mendekat.


Vira menunjukkan pesan dari Winda, Bella langsung tertawa kuat. Billa juga tersenyum membaca pesan jika Lab kebakaran, Winda diselamatkan oleh ustadz Yusuf, orang yang paling Winda benci, tapi harus memiliki hutang.


Suara salam terdengar, Yusuf masuk bersama Winda yang berjalan pincang. Wildan langsung berlari melihat adiknya, menatap Winda yang menundukkan kepalanya.


"Kenapa kaki kamu Win?" Wildan langsung cemas.


"Jatuh, jadinya keseleo." Winda berjalan menuju tempat duduk.


Yusuf menceritakan kejadian kebakaran, Winda nekat masuk ke dalam Lab yang sudah terbakar hanya demi hasil penelitiannya.


Wildan menatap tajam, langsung memarahi Winda. Vira tidak berhenti tertawa. Winda terkena karma, dulu membuat Yusuf di usir, di lempar batu, tapi Yusuf membalas Winda dengan kebaikan.


"Ini pasti rencana ustadz gadungan, seharusnya dulu aku bukan hanya membuat kamu terusir dari pesantren, tapi menghilang dari muka bumi. Dia sengaja membuat drama kebakaran, untuk menghancurkan penelitian Winda. Saat tahu Winda masuk, ingin menjadi pahlawan cicak, berpura-pura baik menolong Winda agar memiliki hutang." Winda menatap Yusuf dengan tatapan benci.


Yusuf hanya tersenyum, membenarkan ucapan Winda, langsung pamit untuk pergi. Wildan menahan Yusuf untuk meminta maaf dengan ucapan Winda yang tidak sopan.


"Papi tidak mengajari kita, menuduh orang tanpa bukti. Kamu sama saja sudah menebar fitnah." Wildan menatap Winda yang sudah menundukkan kepalanya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2