SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 HAPPY BIRTHDAY


__ADS_3

Rasa lelah karena kesibukan acara menyantuni anak yatim-piatu, janda, panti jompo, panti asuhan, lansia dan orang-orang berkebutuhan khusus membuat Wildan memutuskan tidur cepat, besok akan menjadi hari yang panjang dan lebih melelahkan lagi.


Senyuman Winda terlihat memeluk Vira yang juga sedang tersenyum, keduanya tidur bersama untuk terakhir kalinya.


"Kak Vira jujur Winda sedih, mulai besok kita tidak bisa tidur berdua lagi." Winda mengusap air matanya.


"Kamu benar Winda, kak Vira juga sedih. Sejak kecil kita selalu bersama, saat ulang tahun ke dua Vira keheranan kenapa tubuh Vira paling besar, sedangkan kalian berempat kecil. Vira pikir kita kembar lima, karena ulang tahun sama-sama." Vira menangis, memeluk erat Winda yang juga menangis.


"Air mata sialan, kenapa harus keluar." Winda memukul matanya membuat Vira tertawa.


"Tidak terasa Billa sudah menikah lebih dari satu tahun, memiliki anak yang lucu dan menggemaskan. Kita sisa bertiga, tapi tiga bulan yang lalu Bella juga meninggalkan kita berdua. Win besok kita juga akan berpisah, kamu juga akan pergi mengikuti kak Ar." Vira langsung duduk memeluk lututnya, membiarkan air matanya menetes.


Suara ketukan pintu terdengar, Winda langsung melangkah membuka pintu mempersilahkan Bella dan Billa masuk ke kamarnya.


"Sudah Bella duga, pasti ada drama air mata." Bella langsung lompat ke atas tempat tidur.


"Pelan-pelan Bel, di dalam perut kamu ada anaknya kak Tian." Vira menatap tajam, melihat Bella sudah tidur di sebelah Vira.


"Kita malam ini tidur berempat, kangen juga tidur seperti dulu." Billa tersenyum langsung naik ke atas tempat tidur.


Winda juga langsung berbaring, keempat melihat lampu yang terang meneteskan air matanya sebagai salam perpisahan.


"Kalian berdua jangan nakal, Bella senang memiliki sahabat keluarga yang selalu bersama." Bella mengusap kepala Vira dan Winda.


"Kita sering tidur bersama sejak usia kalian empat tahun, Vira lima tahun. Setiap minggu kita selalu pindah rumah untuk ganti-gantian. Malam ini akan menjadi malam terakhir kita tidur berempat." Vira meneteskan air matanya, dulu mereka selalu tertawa setiap tidur bersama, tapi tidak disangka akan ada malam terakhir.


"Kak Vira terima kasih sudah selalu menjaga kami, dulu Billa pikir kak Vir kembaran Billa juga hanya beda wajah sama seperti Winda dan Wildan kembar tapi beda. Ternyata kita memang berbeda rahim." Billa memeluk Vira yang mengusap kepala Billa.


Vira menggenggam tangan ketiga sahabatnya, adik-adik kembarnya yang selalu mengikutinya setiap kali melangkah, hingga tahun berganti tahun mereka semakin tumbuh besar, selalu bersama tidak bisa terpisahkan.


Kebahagiaan terbesar Vira bisa memiliki adik yang satu frekuensi, selalu ada di sisinya untuk saling melindungi.


"Kalian ingat tidak saat Winda hilang di desa Bunda Jum, kita bertiga dihukum. Wildan yang tidak tahu apapun harus memanjat rumah, mencari Winda yang tertidur di sana." Vira tersenyum.


"Wildan jatuh dari atas rumah, langsung dilarikan ke tukang urut yang disarankan oleh Bunda, ternyata rumahnya sudah menjadi pemakaman." Bella tertawa kuat, ketiganya tertawa kasihan melihat Wildan.


"Winda tidak tahu?"

__ADS_1


"Kamu tidak tahu, karena asik tidur. Kita lagi main sembunyi-sembunyian kamu naik rumah, tidur lagi." Vira tertawa sambil menangis, tidak kuasa menahan sedihnya berpisah.


"Kenapa kita sangat takut dengan Wildan? padahal dia yang selalu menjadi korban." Billa sangat penasaran, dia tidak tahu pasti penyebabnya.


"Sudahlah jangan bahas lagi, manusia es yang tidak pernah melakukan kesalahan. Kita bisa apa yang ada di bawah pengawasan dia." Vira mengingat kemarahan Wildan yang tidak takut apapun.


"Bella sudah bebas dari Wildan, kamu yang paling sengsara Vira karena menjadi istri manusia es."


"Kak Vira memang mencintai Wildan." Billa menatap wajah Vira yang terdiam.


"Aku sangat mencintai dia, tapi tidak pernah mendapatkan balasan mungkin karena kami masih kecil. Wildan juga masih muda yang terobsesi dengan masa depannya, sehingga Vira sangat mengerti." Senyuman Vira terlihat, air matanya juga menetes mencintai, tapi tidak dicintai.


"Sekarang masih cinta?" Winda tersenyum melihat cahaya lampu.


"Masih, kata Papi cinta terbagi menjadi tiga. Cinta karena pandangan pertama, Cinta karena selalu bersama, juga cinta yang tidak pernah kita sadari. Vira memiliki ketiganya. Cinta saat pertama melihat Wildan kecil tersenyum, kalian tahu betapa sulitnya melihat Wildan tersenyum. Vira juga terbiasa bersama, Vira berpikir tidak cinta, tapi selalu menanti, menunggu, juga mengkhawatirkan dia. Kalian boleh berpikir Vira terlalu bodoh karena mencintai, tapi tidak dicintai." Vira langsung menangis kuat.


"Kamu tidak bodoh Vir, cinta ada tiga mungkin kita tidak pernah tahu jika Wildan juga ada di cinta tidak menyadarinya. Ingat dia tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan, tapi secara terang-terangan dia menerima pernikahan ini, berarti ada kamu dihatinya." Billa sangat yakin, tidak ada cinta yang tidak terbalaskan, jika ada mereka tidak bersyukur atas anugerah cinta.


Winda terdiam sedang berpikir melihat tiga jarinya, dia tidak tahu ada di posisi mana.


"Winda cinta apa?"


"Cinta yang terlambat." Bella tertawa melihat Winda yang kebingungan.


"Amin cinta apa?"


"Cinta karena Allah." Vira, Bella dan Billa berpelukan.


Winda langsung berdiri, mengganti bajunya. Secepat kilat Winda mencari sesuatu sambil melihat jam di dinding.


"Satu jam lagi kita ulang tahun, ayo kita rayakan sebelum ijab kabul."


"Di mana kita merayakannya?"


"Kamar kak Wildan, ganti baju yang sopan sebelum kita diusir." Winda mengeluarkan balon, lilin juga hal yang sudah dia beli.


Keempat wanita berjalan mengendap, mengetuk pintu kamar Wildan. Pintu terbuka, mata Wildan masih terpejam.

__ADS_1


Bella, Billa, Vira dan Winda langsung menunduk berjalan jongkok, karena tangan Wildan menghalangi jalan.


"Apa yang kalian lakukan?" Wildan menguap, duduk di pinggir ranjang.


"Merayakan ulangtahun kita Kak, kita rayakan secara sederhana sambil menunggu jam dua belas malam." Winda meminta Wildan duduk di sampingannya.


Senyuman Wildan terlihat, membuat balon yang memiliki lima warna kesukaan mereka. Ada kertas yang ditulis mimpi dan harapan ke depannya.


Lima lilin yang disusun rapi, ada kue kecil lima yang Winda bagi-bagi.


"Win sebentar lagi, ayo matikan lampunya." Vira tersenyum.


Lampu mati, suasana langsung hening, hanya ada cahaya ponsel Wildan yang menunjukkan waktu yang akan berganti.


"Vira ingin kita berlima selalu bersama, tidak terpisah oleh jarak."


"Bella ingin kita terus kompak, sampai ke anak-anak kita nanti."


"Billa ingin kita semua bahagia dengan rumah tangga masing-masing."


"Winda ingin kita terus akur, bahagia, saling menasehati, menyayangi, mencintai hingga akhir nanti."


Semua tersenyum menunggu Wildan yang hanya menatap lilin.


"Wildan ingin kalian berempat berhenti nakal, menjadi istri dan ibu yang baik. Menurut dengan suami, insha Allah surga untuk kalian."


"Wil kenapa kamu brengsek sekali, kita tidak nakal!" Bella kesal mendengarnya.


"Wildan mendoakan yang baik, jadi ibu yang sabar, penyayang."


"Wil jika ingin menyindir Vira, kenapa kita juga disenggol?" Billa menarik napas panjang.


"Selamat ulang tahun Vira, menjadi istri yang baik, semoga kamu bahagia bersama aku. Selamat ulang tahun juga adikku tercinta, pesan yang sama kamu harus dewasa, Bella happy birthday kamu calon ibu yang luar biasa, kak Bil terima kasih sudah menjadi panutan untuk kami, contoh yang baik dalam berumah tangga. Happy birthday untuk diriku sendiri, semoga bisa menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Ayo kita tiup lilinnya.


Lima lilin langsung mati, suara dentuman di langit terlihat.


***

__ADS_1


__ADS_2