
Di dalam kamar twins B Vira sibuk belajar cara membedong bayi, Wildan hanya melihat saja karena Kasih sangat lihai memakaikan baju.
Senyuman Vira terlihat, dia berhasil membedong bayi yang asik tertidur nyenyak.
"Tangan Bintang kenapa keluar?" Winda tertawa melihat Bintang menjadi boneka percobaan.
"Mungkin tangannya tiga, tadi keduanya sudah dimasukkan." Vira menatap Kasih yang langsung memperbaiki.
"Sayang, dia sempurna." Wildan mengusap wajah Bintang.
Wildan juga mencoba mempraktekkan, sentuhan Wildan sangat lembut. Mengusap wajah bayi tampan.
"Wildan bisa." Kasih tersenyum.
Vira mencoba kembali bekali-kali, sampai Viana datang menarik telinganya.
"Kasih berikan Bintang ke ibunya, dia harus tidur dan istirahat."
"Mommy, Vira belum selesai."
"Anak orang Vir, kamu bolak-balik seperti boneka. Sana keluar, pulang saja." Vi meminta Wildan juga keluar.
Suara Vira mengomel terdengar keluar dari kamar Bella, air matanya menetes karena diusir oleh Mommy.
Tubuh Bintang dibolak-balik seperti boneka, membuat Viana marah, Wildan mengusap punggung istrinya agar memaklumi nanti belajar lagi.
"Vira bisa, Mommy saja yang tidak sabar." Vira menangis, merapikan rambutnya yang berdiri.
"Ada apa Vira?" Winda tertawa melihat Vira yang menangis terus.
"Diusir Mommy, lihat Bintang belum dibedong." Vira menunjukkan kain yang masih ada ditangannya.
"Sudah jangan menangis, nanti kita belajar lagi ya sayang." Wildan menahan tawa melihat tingkah istrinya.
Ar langsung mengajak Wildan ke salon, melihat rambut Winda yang bergulung menjadi satu satu. Vira langsung bersemangat untuk ikut, dia juga ingin ke salon.
"Ya sudah siap-siap dulu, kita langsung pulang ke rumah saja, soalnya agar twins B tenang terutama dari kalian berdua dan para bocil." Wildan berjalan ke kamarnya, diikuti oleh Vira.
Di kamar Vira langsung membedong guling, Wildan hanya tertawa memeluk istrinya agar tidak mudah emosi.
Mereka harus belajar perlahan-lahan, masih banyak waktu agar bisa menjadi orang tua yang siap.
Senyuman Vira terlihat, membantu Wildan membereskan pakaian mereka memasukkan ke dalam koper, mereka akan pulang lebih dulu.
"Ayang, Vira semakin gemuk." Tangan Vira menyentuh pipinya, menunjukkan kepada suaminya yang hanya tersenyum saja.
__ADS_1
"Kamu seksi dengan tubuh berisi, semakin cantik, dan aku semakin cinta." Tawa Wildan terdengar mengigit pelan pipi Vira yang tembam.
"Sudah ayo kita ke salon."
Vira muncul bersama Wildan langsung melangkah pergi bersama Winda dan Ar. Mereka pergi satu mobil, Wildan dan Ar di depan sedangkan Vira dan Winda di belakang.
Mereka langsung pulang, karena Ar dan Wildan harus bekerja.
"Salon yang mahal ya Abi." Winda langsung memeluk dari belakang, mencium pipi suaminya.
"Kak Wil cium." Winda menatap Wildan.
"Cium saja suami kamu." Wildan menatap adiknya yang aneh.
"Mau cium kak Wil!" Winda teriak kuat.
"Iya, jangan teriak-teriak." Wildan mendekatkan pipinya.
Vira yang melihat langsung memukul punggung Winda, suara tangisan Winda langsung terdengar, membalas Vira sampai saling tarik rambut.
Ar menghentikan mobil, meminta keduanya berhenti bertengkar.
"Ayang punya Vira, Winda selalu seperti itu, genit sekali." Suara tangisan Vira juga terdengar.
"Sudah jangan bertengkar, atau kalian keluar dari mobil. Wildan bukan milik kalian berdua, tapi milik diri sendiri." Wildan menasehati keduanya perbedaan sayangnya Wildan antara adik dan istri, tidak harus diperebutkan.
Mobil melaju kembali, Winda dan Vira duduk diam hanya butuh lima menit keduanya sudah cekikikan tertawa.
Ar sampai menggelengkan kepalanya merasa lucu dengan ulah dua sahabat yang memang hobi bertengkar, tapi secepat kilat juga baikan.
Sesampainya di salon, Vira langsung melangkah lebih dulu bersama Wildan. Winda masih tidur, Ar membangunkannya perlahan.
Vira melangkah masuk ke ruangan VVIP, cuaca panas sangat enak bertemu AC.
"Hai anak Papi, sedang apa nak?" Wildan mencium perut Vira.
"Sedang berpikir Papi, kira-kira enaknya makan apa?" Vira menahan tawa.
"Tanyakan Mami sayang, karena Mami yang paling tahu enak makan apa?" suara Wildan tertawa terdengar, diikuti oleh Vira yang merasakan lucu dengan pembicaraan mereka.
Pintu terbuka, Winda masuk bersama Ar untuk merapikan rambut yang acak-acakan karena ulah Bella melahirkan.
"Abi Winda ingin rambut warna kuning, Abi warna biru."
Ar langsung melotot, mustahil rambutnya warna biru bagaimana dia bekerja sudah mirip idol yang rambut warna-warni.
__ADS_1
Winda sangat bahagia membayangkan suaminya rambutnya berwarna biru, Vira langsung melihat wajah Wildan membayangkan suaminya juga.
Wajah Wildan langsung panik, dia khawatir sekali jika Vira mengikuti keinginan Winda. Tidak tahu cara menolak, kecuali mengatakan iya.
Ar masih melakukan kesepakatan dengan Winda, dia ingin warna gelap, tapi ucapan Winda tidak bisa ditarik kembali. Warna rambut Ar biru, demi apapun Ar menyesal pergi ke salon.
"Ayang Vira juga ingin rambut kuning, tapi Ayang warna putih." Vira tertawa bersemangat mendengarkan penjelasan.
Wildan terduduk lemas, seumur hidupnya tidak pernah terpikirkan berambut putih, kecuali sudah ada uban.
"Wil, bagaimana ini? besok ada rapat penting tidak mungkin warna biru, apa kata orang? jika menolak pasti menangis." Ar menggaruk kepalanya, mustahil juga jika menggunakan topi.
"Masih mending biru, Wildan putih. Ya Allah masa iya harus menggunakan rambut palsu." Kening Wildan berkerut, tidak habis pikir membayangkan dirinya berambut putih.
Vira dan Winda sudah duduk merapikan rambut mereka, langsung diwarnai kuning sangat kuning. Wildan sampai merinding melihatnya.
"Sayang, aku pergi ...."
"Duduk Ayang, saat Vira bangun warnanya harus putih."
Wildan akhirnya pasrah, membiarkan rambutnya diwarnai sesuka hati. Ar juga sudah diam, menggenggam tangan Winda yang sudah tidur.
Hampir tiga jam ada di salon, Vira dan Winda masih tidur nyenyak. Wildan terdiam melihat rambutnya, Ar hanya tertawa merasa lucu melihat rambut Wildan.
"Ya Allah gini amat nasib Wildan." Mengacak-acak rambutnya, melihat Ar yang melihat rambut biru.
"Bagus kak Ar."
"Bukan masalah bagus tidaknya, tapi malunya." Ar akhirnya pasrah.
Vira dan Winda selesai, rambut mereka sangat indah, langsung melangkah keluar membiarkan suami mereka yang membayarnya.
Di mobil Winda dan Vira berfoto, mengirimkan kepada grup keluarga rambut baru mereka yang mirip bule.
Suaminya memuji cantik, membuat keduanya tertawa puas.
"Ayang ayo foto." Vira mengarahkan kamera memperlihatkan kebersamaan mereka berempat.
Grup langsung heboh, melihat rambut Ar dan Wildan. Dua pimpinan perusahaan besar rambutnya berwarna, satu putih satu biru.
Ravi, Erik, Tian, dan para lelaki lainnya memilih menghilang, karena jangan sampai Vira Winda meminta macam-macam, terlalu menakutkan harus mewarnai rambut.
"Sekarang kita pergi shoping." Vira langsung melangkah masuk mobil kembali, lanjut jalan ke mall.
Wildan dan Ar hanya bisa geleng-geleng, menjadi korban dua bumil.
__ADS_1
***
Belum REVISI 2