
Suara lari-larian terdengar, Vira membuka pintu seperti sedang mendobrak. Viana hampir jantungan ulah putrinya, Winda langsung berlari mendorong Vira yang langsung terlempar.
"Ya Allah kapan kamar ini tenang, baru saja sepi sekarang datang lagi bocah tengil." Viana menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kalian bisa ada di sini?"
"Biasalah." Jawab keempat langsung duduk di dekat Kasih.
"Kak, lama sekali bangun dari tidur panjang."
"Kenapa kalian balik lagi, kemarin sudah salam perpisahan." Kasih mengigat saat empat bocah izin pergi, Kasih bisa mendengar, tapi berat membuka matanya.
"Ahhh masa iya, tapi kenapa kak Kasih tahu?" Vira kebingungan.
"Billa sudah yakin saat kita pergi kak Kasih sudah sadar."
Ravi kaget melihat Vira bersama yang lainnya bisa kembali lagi, Ravi sudah mendengar kabar jika adik-adiknya pergi mendaftar kuliah.
"Kak Ravi, happy birthday ya." Vira memeluk Ravi langsung mencium pipinya.
"Iya, kenapa kalian bisa balik lagi?"
Suara happy birthday terdengar, seluruh keluarga masuk membawa kue sambil menyanyikan lagu ulangtahun. Kasih meneteskan air matanya, Ravi tidak terpikirkan lagi dengan hari ulang tahunnya, dia hanya fokus untuk menjaga Kasih.
"Happy birthday to you happy birthday happy birthday happy birthday Ravi." Seluruh orang bernyanyi, Kasih berusaha untuk duduk, Ravi langsung mendekat untuk melarang.
"Selamat ulang tahun Ravi, Kasih tidak punya hadiah."
"Kamu hadiahnya, cukup berada disisi aku sudah lebih dari cukup."
"Yakin." Tian dan Erik mengejek, Ravi hanya tersenyum bahagia.
"Selamat ulang tahun putra Mommy, tahun ini menjadi tahun yang menakutkan, kamu menangis dan terpuruk, dalam doa Mommy berharap sedikit senyuman, tapi Allah memberikan banyak senyum." Viana memeluk Ravi.
"Sini sayang peluk Mami, jangan menangis lagi, sakit dada kami melihat kamu bersedih."
"Terima kasih Mommy, Mami, mana Bunda." Ravi memeluk tiga wanita yang paling disayanginya.
Rama memeluk Ravi mengusap kepalanya, Bima juga memeluknya, saat bersama Bisma Ravi langsung melotot marah karena Bisma selalu mengejeknya.
"Selamat ulangtahun Ravi, sehat selalu yang paling penting, jagain adik gue, terima kasih karena kamu setiap menemani Kasih."
"Karena aku mencintai dia." Ravi memeluk Tama.
"Selamat ulang tahun dek, kak Tian senang melihat kamu tersenyum kembali."
"Ravi yang banyak mengucapakan terima Kasih, kalian bukan hanya sahabat, keluarga, tapi bagian hidup gue."
"Sedih, ayo berpelukan." Erik memeluk Ravi, Tian, Tama juga hanya Wildan yang duduk diam.
"Erik, terima kasih karena kamu sudah berjuang untuk Kasih, aku tidak akan melupakannya."
__ADS_1
"Sama-sama, kita saudara jadi harus tolong menolong, juga kewajiban seorang Dokter."
Ravi tersenyum melihat Karin, memeluknya sebagai seorang adik. Ravi tidak bisa memiliki rasa saat melihat Karin, saat Kasih tertembak Ravi langsung bisa tahu jika yang terluka istrinya.
"Lama sekali giliran kita, seperti antrian sembako." Bella menatap kesal.
"Wildan, tidak ingin mengucapakan selamat ulang tahun."
"Tidak, aku menonton saja." Sebelum high heels Mami menghantam kepalanya, Wildan cepat berlari mendekati Ravi.
"Selamat ulang tahun kak Ravi, Wildan Amini semua dosa baik kak Ravi."
"Terima kasih Wildan, kamu juga banyak membantu."
Keempat bocah rempong akhirnya mendapatkan giliran, pelukan ciuman tidak ada hentinya.
"Minggir." Windy menarik keempat bocah menjauh, Ravi tertawa melihat Windy yang selalu memarahi keempat bocah.
"Cempreng."
"Kak Windy mirip nenek lampir, semenjak menjadi emak-emak mirip singa." Winda langsung berlari memeluk Mami Reva.
"Mami, lihat Winda." Windy memeluk Reva, mencubit pipi Winda, adik kesayangannya.
"Papi." Winda terhenti karena Windy lebih dulu memeluk Bima.
"Sudah cukup, lebih baik kita berdoa, tiup lilin, makan kue nya." Bima mengehentikan dua putrinya.
"Sayang, boleh minta doanya." Ravi menatap Kasih yang tersenyum menggagukan kepalanya.
"Ya Allah berikan Ravi kesehatan, jauhkan dia dari segala marabahaya, berikan hamba kesembuhan agar bisa pulang, berkumpul dengan keluarga di rumah, jadikan kami pasangan seperti orang tua kami yang saling mencintai sampai tua, berikan kami keturunan yang Sholeh dan Sholeha." Kasih menangis sesenggukan, Ravi memeluk erat. Semuanya ikut meneteskan air mata.
"Kita akan segera pulang, tempat ini membosankan." Ravi menghapus air mata Kasih.
"Maaf tahun ini ulang tahun di rumah sakit."
"Kasih, tahun ini memiliki banyak kesan khusus untuk aku."
"Jatuh cinta pada pandangan pertama, mengejar cinta, menikah dengan keadaan kacau, tapi aku jatuh cinta lebih besar lagi, kamu terluka membuat aku antara hidup dan mati."
"Tahun ini Kasih mengacaukan hidup seorang Ravi." Kasih tersenyum malu, melihat keluarga juga tersenyum.
"Mommy senang, Kasih selalu tersenyum cantik sekali senyuman kamu."
"Kasih kurus Mom, tubuh Kasih seperti tulang."
"Nanti saat Kasih pulang, Bunda masakan semua makanan kesukaan Kasih."
"Terima kasih Bunda."
Rama menatap Vira, Winda, Bella dan Billa yang asik melihat layar ponsel Bella. Keempat bocah bertengkar saling memukul, ambekan.
__ADS_1
"Kalian berempat kenapa bisa pulang?" Rama menatap tajam, Vira berpura-pura tidak mendengar.
"Winda, Bella Billa dan Vira, jangan berpura-pura tuli." Viana juga menatap tajam.
"Kita sudah mengurus tempat tinggal, terus soal kampus juga terus langsung balik lagi karena ulang tahun kak Ravi."
"Billa ayo jujur?" Jum menatap putrinya, Billa menatap Bella takut.
"Iya jujur Bun, kita baru sampai bandara, terus balik lagi."
"Apa!?" Viana, Jum dan Reva langsung berdiri.
"Kalian tidak mengurus kuliah?"
"Sudah via online, Bella mengurus semuanya, kita mulai masuk bulan depan."
"Bagaimana kalian bisa pulang, tanpa menghubungi siapapun." Bima menatap keempatnya yang duduk diam saling tatap.
"Anu kita pulang pakai Jet pribadi."
Semuanya hening, Ravi menatap Tian yang sudah memijit pelipisnya. Erik juga langsung melihat Tian yang diam seribu bahasa. Viana menatap Rama, yang menggelengkan kepalanya, Bima juga menggeleng, Bisma yang suka sejenis pesawat juga menggakat bahunya.
"kalian tahu, jet pribadi tidak bisa dimiliki sembarang orang, kalian juga tidak mungkin menjalin hubungan dengan sembarang orang."
"Tidak Mami." Jawaban serempak, Kasih tersenyum melihat Vira geng.
"Jet pribadi milik siapa?" tangan empat bocah langsung menunjuk Tian, Jum langsung melotot.
"Bastian." Jum menatap Tian yang menundukkan kepalanya.
"Pertanyaan Papi, mengapa kalian bisa mendapatkan akses tanpa sepengetahuan Tian?" tangan langsung menunjuk Bella, Tian menatap Bella yang nyegir, dia membobol akses Tian agar bisa mendapatkan izin menggunakan jet pribadi kakaknya.
"Tian sejak kapan kamu membelinya? kamu tidak jujur sama Bunda."
"Maaf Bun, ini terjadi karena Ravi, saat kak Windy melahirkan. Tian ditipu Ravi sehingga sampai bisa membeli jet."
"Berapa kamu membelinya?"
"Sayang, jangan ditanya." Bisma langsung memeluk Jum, Bisma juga sering disembur jika membeli mobil apalagi pesawat.
"Lebih dari 500 M."
Jum rasanya ingin pingsan, Ravi hanya menahan tawa. Tian hampir menjadi gembel karena jet.
"Dasar jahil." Kasih mencubit perut Ravi.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***