
Keadaan hening, Billa tidak berhenti menangis. Erik meminta maaf kepada Bisma, dia juga berani bersumpah, tidak pernah menyentuh, jangankan untuk menyentuh, menatap dengan pikiran kotor tidak pernah Erik bayangkan.
"Uncle, percaya sama Erik tidak mungkin Erik menyakiti Billa. Bunda Erik menyayangi Billa, tidak mungkin mencoret nama baik keluarga besar Bramasta."
"Papa, Erik tidak sekotor itu." Erik menatap Ammar, meneteskan air matanya.
Ammar langsung memeluk Erik, tidak bisa menahan air matanya. Sejak kecil Ammar gagal melindungi Erik.
"Papa sangat mempercayai kamu, Papa orang pertama yang akan mempercayai kamu. Kamu anak Mama, kami mendidik kamu dengan baik, sekali kamu mengatakan tidak, artinya tidak." Ammar menangkup wajah Erik.
Air mata Erik juga tidak tertahankan, Bisma merangkul Erik memintanya duduk bersama Billa. Jum juga ikut duduk, semuanya duduk untuk bicara baik-baik.
"Ayah ...." Bella ingin bicara, tapi Bisma langsung menatap tajam, Bella duduk bersama Vira diam.
Winda, Wildan, Tama, Kasih baru masuk dari luar, melihat Erik yang menangis membuat heran, belum lagi Billa menangis sesenggukan.
"Billa, Ayah sangat menjaga kamu dengan baik, kak Tian juga sangat menjaga kamu. Kami semua sangat mempercayai kalian berdua. Ayah tidak marah, tapi kalian harus jujur." Bisma menatap serius.
"Maaf Uncle, Erik akan tetap mengatakan hal yang sama, kami tidak mungkin melanggar perintah agama, tidak mungkin berzina."
"Billa hamil, kalau bukan anak kak Erik, lalu anaknya siapa?" Winda kaget, langsung menutup mulutnya.
"Billa tidak hamil, lihat perut Billa rata, Billa tidak gemuk. Billa tidak tahu milik siapa, ada di kamar kak Ravi, seharusnya jangan bertanya kepada Billa, tapi kak Ravi dan kak Kasih sebagai pemilik kamar." Billa bicara dengan nada tinggi.
"Kasih?" Jum, Reva, Viana teriak bersamaan.
Ravi langsung berpikir soal tespack Kasih yang sangat banyak, tapi belum ingin mengetesnya. Kasih juga sangat aneh, tingkahnya lebih mirip anak-anak, tapi terkadang sangat manja.
"Di mana Kasih?" Ravi tidak melihat istrinya, semua orang kumpul, hanya Kasih yang tidak terlihat.
***
Di dalam kamar Kasih panik, seperti orang gila mencari benda pipih yang hampir 20 tersusun rapi, dia tinggalkan di dalam toilet. Tangisan Kasih langsung pecah, mengacak seisi kamar.
Kasih melangkah keluar, menuruni tangga melihat orang yang sedang berkumpul sambil menangis. Kasih melihat miliknya yang berhamburan di lantai, Kasih berjongkok memunguti tespack miliknya.
"Satu, dua, tiga, lima belas, enam belas, sembilan belas, satu lagi di mana?" Kasih mengumpulkan semuanya, setelah menemukan dua puluh baru dia tersenyum.
Semua orang terdiam melihat tingkah Kasih yang mirip Ravi saat kecil, Reva juga memperhatikan wajah Kasih yang lebih mengemaskan, mengingatkan tentang Ravi saat kecil yang sangat jahil.
"Kenapa punya Kasih bisa ada di lantai? siapa yang mencurinya dari kamar?" Kasih menatap tajam.
Bella dan Vira sudah bersembunyi di pelukan Rama dan Bima, Billa mengusap air matanya, Erik memijit kepalanya. Semuanya saling tatap melihat Kasih marah.
__ADS_1
"Sayang, jadi tespack garis dua milik kamu. Bukannya kamu mengatakan dua hari lagi baru ingin tes, langsung ke Dokter." Ravi tidak bisa berpikir, melihat tingkah Kasih aneh.
"Ini punya Kasih, Mommy setiap hari membelikan untuk Kasih, jadi terserah Kasih kapan akan melakukan tes." Mata Kasih melotot, menantang Ravi seperti anak kecil.
"Aku Daddy-nya."
"Kenapa Aak bisa menjadi Daddy, ini hanya benda mati, aneh sekali." Kasih mengangkat tespack, Bisma sudah tertawa, melihat cara bicara Kasih.
"Bukan yang benda ini "
"Aduh, pusing kepala Kasih melihat Aak."
Kasih membagikan hasil testpack, Viana tersenyum, Reva juga tersenyum melihat garis dua, Jum juga mendapatkan bagian.
Bisma juga melihat, Bima tersenyum melihat tespack ditangannya, Rama yang paling bahagia, Ammar memberikan miliknya langsung kepada Septi, Kasih menatap tajam, cepat Ammar mengambil kembali.
Bastian, Bella, Billa, Vira, Winda tersenyum mendengar kabar bahagia, Ravi juga mendapatkan hasil testpack menangis bahagia. Kasih bukan hanya membagikan kepada keluarga, tapi Maid juga membuat semuanya menahan tawa.
"Oke semuanya sudah dapat, sekarang kita lihat bersama-sama hasilnya." Kasih tersenyum, memperlihatkan miliknya.
"Sayang, dari tadi semuanya sudah melihat." Ravi mengaruk kepala, keluarga sudah tegang karena tespack, dengan santainya Kasih tersenyum bahagia.
"Kenapa dibuka, Kasih belum memberikan izin." Bibir Kasih langsung manyun.
"Baiklah, silahkan dilihat, hasilnya Kasih hamil." Kasih langsung melangkah memeluk Ravi.
Tangisan seluruh orang terlihat, Kasih lebih kuat lagi menangis. Billa dan Erik yang paling sakit, menangis meratapi nasib mereka.
"Selamat ya kak Vi." Reva menangis, memeluk Viana dan Jum.
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih anak kami diberikan kepercayaan untuk segera memiliki anak."Rama mengucapkan syukur.
Ravi melihat Erik yang terduduk, memejamkan matanya, menatap Billa yang juga bersedih.
"Erik Billa, maaf soal kejadian tespack. Kalian menjadi korbannya." Ravi mendekati Billa yang langsung menangis dalam pelukan Ravi.
Kasih menatap sedih, langsung membuang tespack yang berada ditangannya. Kasih tidak menyukai Ravi memeluk wanita lain, Viana mengelus kepala Kasih.
"Sayang, Ravi mencintai kamu sebagai belahan jiwanya, sedangkan Billa, Bella, Vira, Winda sangat Ravi sayangi sebagai adiknya." Viana sangat mengerti perasaan Ibu hamil.
"Bagaimana kalau mereka saling mencintai Mommy?" Kasih cemberut, matanya berkaca-kaca."
"Jangan berpikir seperti itu sayang, karena Kasih sudah diakui sebagai keluarga Prasetya, kamu menantu utama kami." Viana mencium kening Kasih, mengelus perut Kasih, meminta Kasih dan Ravi segera memeriksa usia janin.
__ADS_1
Karin langsung menangis, memeluk Kasih mendengar kabar baik kakanya hamil, Tama juga tersenyum bahagia, mendengar kabar akan segera menjadi Uncle.
"Selamat Ravi, kamu akan menjadi Daddy." Tian memeluk Ravi.
Semuanya menangis haru, mengucapakan syukur, Rama juga sampai meneteskan air matanya, Viana sudah menangis, semuanya sangat bahagia, hanya Erik dan Wildan yang diam saja, senyuman Wildan terlihat mengucapakan selamat kepada kedua kakaknya.
"Kamu, pria jelek tidak ingin memberi selamat?" Kasih melihat Erik yang wajahnya sangat kusut.
"Kalian punya masalah apa? kenapa aku harus menjadi korban dari drama kamu? Kasih kendalikan diri kamu, jangan mengikuti karakter lain, kamu terlihat aneh." Erik langsung melangkah pergi.
"Salah Kasih apa? mereka yang mencuri milik Kasih." Teriakan Kasih kuat, Erik berhenti melihat ke arah Kasih.
"Kasih Amora Rahmat, wanita kuat, mandiri, tapi bisa berubah menjadi sosok lain. Hampir seluruh wanita di dunia ini hamil, tapi tidak melukai perasaan orang lain."
"Erik, jangan salahkan Kasih, aku juga tidak masalah dengan perubahan sikap Kasih. Maaf soal tespack,kita semua percaya kamu, sangat percaya Rik."
"Bayangkan posisi aku Rav? menghamili wanita yang sangat kamu jaga, aku sangat bersyukur jika Billa hamil anakku, tapi betapa takutnya aku jika bukan anakku, karena aku tidak siap kehilangan Billa, aku ingin menjaga dia." Erik mengusap air matanya.
"Erik ...."
"Aku ingin sendiri kak Tian, jangan ganggu aku." Erik melangkah pergi.
"Septi Ammar maaf, kami semua menyakiti Erik, padahal dia anak yang sangat baik." Bisma menatap Ammar yang langsung menepuk-nepuk bahu.
"Tidak ada yang menuduh Erik, dia hanya takut kehilangan. Kita semua tahu Erik takut kehilangan Ibunya, tapi dia dibuang, dia takut kehilangan Erwin, dia takut kehilangan Kasih sayang, cinta kita. Hari ini menyakitkan untuknya, tapi aku tahu Erik tidak marah, dia pasti sangat lega, hanya saja dia butuh waktu untuk merenung." Septi memeluk Ammar, menerima permintaan maaf keluarga Bramasta, tangan Ammar mengusap kepala Septi.
Billa juga melangkah pergi, Bella mencoba menyapa, tapi diabaikan. Billa merasakan sedih, saudara kembarnya tidak mempercayainya.
"Semuanya marah karena Kasih, maaf." Kasih mengumpulkan kembali tespack miliknya.
Suara keras tabrakan terdengar, langkah kaki mulai berlarian keluar. Billa sudah mematung, air matanya langsung terjatuh.
"Kak Erik." Bibir Billa gemetaran.
Ammar langsung berlari ke arah jalan, melihat mobil Erik terguling, truk besar menabraknya dan melarikan diri. Ammar melangkah mendekat, Bisma cepat menarik Ammar untuk menjauh, mobil Erik langsung meledak.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1