SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 MIMPI


__ADS_3

Sudah larut malam, Vira masih duduk diam di balkon kamar. Kakinya menjuntai ke bawah sambil memeluk tiang, dari kejauhan bisa melihat gelapnya malam.


Bulan dan bintang terlihat sangat indah, senyuman manis terlihat, Wildan juga duduk memeluk Vira dari belakang.


Mereka hanya berdiam diri menikmati indahnya malam, pelukan erat Wildan menghangatkan tubuh.


"Vir, dingin tidak?"


"Pelukan Ayang lebih dari cukup." Vira tersenyum menyandarkan tubuhnya ke dada suaminya.


"Tunggu sebentar, aku mengambil gitar." Wildan tersenyum, sudah lama dirinya tidak bernyanyi.


Senyuman Vira terlihat, sudah lama dirinya menanti hari di mana Wildan berduaan dengannya. Bernyanyi bersama penuh canda dan tawa.


Wildan muncul membawa gitar, langsung duduk di samping Vira memetik senar gitar mencari nada yang pas.


...KALIAN DENGARKAN BERSAMA MUSIK....


...JUDUL: DENGARLAH BINTANG HATIKU...


...Dengarlah bintang hatiku...


...Aku akan menjagamu...


...Dalam hidup dan matiku...


...Hanya kaulah yang ku tuju...


...Dan teringat janjiku padamu...


...Suatu hari pasti akan ku tepati...


...Aku akan menjagamu semampu dan sebisaku...


...Walau ku tahu ragamu tak utuh...


...Ku terima kekuranganmu dan ku tak akan mengeluh...


...Karna bagiku engkaulah nyawaku...


...Dengarlah bintang hatiku...


...Aku akan menjagamu...

__ADS_1


...Dalam hidup dan matiku...


...Hanya kaulah yang ku tuju...


...Dan teringat janjiku padamu...


...Suatu hari pasti akan ku tepati...


...Aku akan menjagamu semampu dan sebisaku...


...walau ku tahu ragamu tak utuh...


...Ku terima kekuranganmu dan ku tak akan mengeluh...


...Karna bagiku engkaulah nyawaku....


Air mata Vira menetes, dia sangat bahagia bisa bersama Wildan mendengarkan suara indahnya. Sungguh harapan yang sudah lama Vira impikan.


"Kenapa menangis? sini peluk." Wildan melepaskan gitarnya langsung memeluk erat dari belakang.


"Vira bahagia, sangat bahagia. Harapan Vira bisa seperti ini berduaan, bernyanyi bersama, bercerita masa lalu dan masa depan. Jujur Vira sedih, melihat jarak kita yang semakin jauh, Wildan sudah sulit untuk Vira dekati apalagi miliki." Air mata Vira menetes keluar, mengeluarkan rasa sedihnya kehilangan Wildan.


"Maafkan aku, karena aku terlalu percaya jika jodoh akan bertemu. Sejauh manapun aku pergi jika kita berjodoh tetap akan bersama, tapi sekuat apapun aku berjuang, jika tidak berjodoh tetap akan berpisah. Di setiap doa aku selalu mengatakan, ya Allah jika kami berjodoh dekatkanlah, tapi jika tidak berikan kami pasangan terbaik." Wildan memeluk erat, menghapus air mata Vira yang terus menetes.


Senyuman Vira terlihat, ternyata dirinya ada dalam doa Wildan. Mereka sudah berjodoh, tapi hanya saja waktunya tidak tepat.


"Maafkan aku Wil, karena pernah berpikir untuk bermain-main dengan pernikahan kita." Vira langsung memeluk erat.


Wildan tersenyum, meminta Vira berhenti menangis karena tidak tega melihat air mata Vira menetes.


"Jika kamu tidak mencintai aku, maka aku siap berjuang untuk membuat kamu jatuh cinta. Jujur aku kecewa mendengar kamu berniat untuk berpisah, tapi tekat semakin bulat untuk menerima pernikahan. Aku berjanji kepada diri sendiri, akan mempertahankan pernikahan kita sekalipun aku harus terluka." Mata Wildan terpejam, rasanya dia ingin menangis.


"Maaf, jangan nangis nanti semakin ganteng." Vira mencium mata Wildan.


Suara keduanya tertawa terdengar, Wildan sangat bahagia sehingga rasanya terharu. Tidak pernah terbayangkan akan ada malam seindah ini.


"Aunty Uncle jangan berduaan menangis tertawa, serem tahu. Ingat kata kakek perempuan dan laki-laki tidak boleh berduaan, ketiganya setan." Asih yang kamar orangtuanya bersebalahan dengan Wildan mengintip.


"Kamu setan." Vira tertawa bersama Wildan.


Ravi keluar mencari Rasih, tersenyum melihat Wildan dan Vira yang terlihat semakin mesra.


"Bulannya cantik, Bintangnya juga indah." Ravi menggendong Rasih.

__ADS_1


"Ihh, sejak kapan nama bulan cantik, nama bintang indah." Asih melihat ke langit.


Vira dan Wildan berdiri, tersenyum melihat Rasih.


"Kak Ravi, pernah menyesal menikah?" Wildan menatap Ravi, senyuman terlihat dari wajah tampan kakak iparnya.


"Tidak, meskipun awal pernikahan berada dalam kehancuran. Hati aku kecewa karena tidak tahu siapa yang aku cintai, lebih kecewa lagi saat dia tidak mencintai aku." Kepala Ravi menggeleng mengigat perjalanan cintanya.


"Kak Ravi berniat untuk bertahan." Wildan memeluk Vira agar tidak dingin.


"Tidak juga, penikahan yang diawali dengan niat tidak baik hasilnya buruk. Aku merasakannya, mental aku dibanting berkali-kali Wil. Kasih berbohong, tertembak, koma berbulan-bulan, baru saja merasakan bahagia diuji lagi, saat paling hancur saat kelahiran Asih dan Aka. Kalian tahu sendiri bagaimana perjuangannya?" Ravi melihat Kasih memeluknya dari belakang.


"Maaf, aku mencintai kamu Ravi Prasetya. Sangat cinta, jangan pernah ragu."


"Tentu kamu cinta aku, jika tidak maka tidak ada anak nakal satu ini." Ravi menatap Rasih yang sudah tertidur.


Kasih menyatukan hidung mereka, sangat beruntung memiliki lelaki sabar seperti suaminya. Ravi rela menunggu berbulan-bulan agar bisa merasa bahagia.


"Kita masuk Wil, kalian semoga cepat memiliki anak. Jangan sering bertengkar, karena saat kalian memiliki anak saat bangun tidur saja langsung ribut." Ravi merangkul Kasih untuk kembali ke kamar mereka.


"Dengarkan itu, jangan bertengkar." Wildan menggendong Vira menuju kamar.


"Jangan nakal."


"Jangan cemburuan." Wildan mencium hidung Vira.


"Cemburu tanda cinta Wil."


"Itu tandanya tidak saling percaya sayang." Wildan meletakan Vira di atas ranjang.


Suara Vira tertawa terdengar, Wildan sangat lucu. Senyuman Vira terlihat menatap Wildan yang membawa gitar, menyusun rapi, mengunci pintu, menutup gorden baru berjalan ke atas ranjang.


"Ayo tidur Vir, besok kerja." Wildan memeluk istrinya, tangan Vira juga langsung memeluk erat.


"Kangen Winda Ayang, seandainya Vira hamil pasti mengidam bertemu Winda." Vira mengelus wajah Wildan.


"Aku juga merindukan dia, biasanya aku mengontrol dia, tapi sekarang berbicara juga jarang. Winda sudah dengan kebahagiannya." Wildan menghela nafas merindukan adiknya.


Vira tersenyum, melihat mata Wildan yang sudah terpejam. Kepala Vira langsung diletakkan di dada suaminya.


Sikap Wildan memang suka memendam, bahkan rasa rindu kepada Winda. Vira menyadari jika suaminya selalu mengkhawatirkan adiknya, selalu menunggu pesan dari Ar dengan banyak alasan hanya karena dia ingin tahu keadaan Winda.


"Jika nanti kita memiliki twins, Vira ingin mereka seperti kamu dan Winda. Saling menyayangi juga memiliki ikatan yang sangat kuat. Putri kita harus sekuat Winda, ceria, baik, juga penyayang. Putra kita harus seperti kamu melebarkan sayap memantau secara diam untuk menjaga saudara perempuannya." Vira tersenyum memejamkan matanya, satu-persatu mimpi indahnya terwujud.

__ADS_1


Mimpi untuk hidup bersama lelaki yang sangat dicintainya, juga lelaki yang mencintainya. Vira bersyukur atas kebahagiaan yang Wildan berikan.


***


__ADS_2