SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
RAVI YANG CERDIK


__ADS_3

Ravi melangkah keluar kelasnya, supir masuk dan membukakan pintu untuk Ravi.


"Terimakasih pak Asep, ayo kita pulang."


Mobil melaju santai menyusuri jalanan yang ramai, Ravi masih asik bernyanyi sambil melihat bukunya yang penuh gambar hewan.


"Woww ular kobra, kucing Ravi ular apa ya, emhhh ular king." Ucapan Ravi membuat pak Asep tersenyum.


"Buaya, singa, monyet haha, harimau lucu sekali warnanya mirip ular king."


"Cicak mirip tokek, tokek mirip kadal, kadal mirip biawak, biawak mirip komodo, komodo mirip buaya. Mengapa mereka hampir sama hanya beda ukuran seperti mereka semua keluarga."


Ravi menutup bukunya memasukkan dalam tasnya dan melihat ke depan, Ravi menoleh ke belakang melihat mobil mengikuti mereka. Berkali-kali Ravi melihat kebelakang masih sama.


"Pak Asep berhenti di supermarket sebentar beliin Ravi minum, terus telpon Daddy Ravi minta jemput, ayo cepat pak Asep. Ravi mau Daddy yang menjemput Ravi."


Mendengar suara Ravi yang mendesak cepat pak Asep berhenti dan meminta Ravi menunggu dirinya. Pak Asep keluar cepat Ravi ikut lari menggendong tasnya berlari menjauhi mobil.


Dalam hitungan detik mobil berukuran besar menabrak mobil yang menjemput Ravi, terjadi kehebohan. Ravi sudah sembunyi melihat banyak orang berkerumun melihat kecelakaan, pak Asep yang baru kembali kaget melihat mobil tuan mudanya, sudah tertimpa truk besar.


Ravi berhadapan dengan beberapa pria berbadan besar, dengan cepat Ravi berlari melewati gang kecil yang diikuti beberapa pria berbadan besar.


"Daddy, tolong Ravi! aku masih kecil belum boleh berkelahi. Ravi takut wajah ganteng Ravi ternodai." Ravi berlari kencang sambil mengomel.


***


Perasaan Rama tidak enak, pikirannya kalut, wajah Ravi terus terbayang, jantung Rama juga berdegup. Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi kembali ke kantornya.


"Hubby, Vi tidak melakukan kesalahan karena Viana tidak memberikan jaminan langsung ke mereka." Viana menatap kesal Rama yang dari tadi mengabaikannya.


Rama masih saja diam, fokus menyetir hatinya kesal dengan sifat Viana yang mengabaikan perintahnya, belum lagi memikirkan Ravi. Rencana yang Rama susun hancur oleh Viana, dan karena misi gagal pasti mengincar Ravi. Rama mengacak rambutnya.


"Rama! kalau kamu marah seperti ini, turunkan saja aku, kamu tidak mengenal diriku. Aku sudah lama berurusan dengan hal seperti ini." Teriak Viana

__ADS_1


"Jika kamu sudah berpengalaman, mengapa kamu gegabah? melawan secara terang-terangan, aku menyusun rencana untuk menjebak Abi dan mengungkapkan kejahatan Abi di hukum. Tapi apa yang kamu lakukan, bertemu secara langsung dengan musuh, didepan mereka bilang iya, dibelakang menyerang kita. Kamu tidak belajar dari masalalu Viana." Rama bicara dengan nada tinggi sampai memukul setir mobil yang langsung membunyikan klakson panjang.


Viana ketakutan melihat kemarahan Rama, Vi memundurkan tubuhnya menempel di pintu mobil dengan jantung yang berdegup. Viana terdiam tidak berani bicara lagi, orang pendiam kalau marah sangat menakutkan.


Suara bunyi ponsel langsung diangkat Rama menggunakan earphone yang terpasang di telinga nya.


Rama langsung mengerem mobilnya dengan cepat membuat kepala Viana hampir terbentur. Mobil langsung berputar haluan, Viana binggung ingin bertanya tapi takut Rama marah jadi Viana ikut saja.


Viana Tiba-tiba teringat tawa Ravi, jantungnya langsung berdegup, Vi memukul dadanya dan mengambil handphone melihat foto Ravi dan memeluk hp nya.


Mobil Rama masuk ke bangunan yang sudah tua, tapi didalamnya terdapat bangunan yang sangat bagus, Viana bertanya dalam hati tempat apa ini, Rama langsung berlari keluar mobil membuat Viana binggung mau menyusul atau diam di mobil.


Viana melangkah masuk kedalam dilihatnya hanya orang yang terlihat culun, Vi melihat ruangan yang sangat sangat besar. Banyak sekali sistem komputer yang Vi tidak mengerti kegunaannya, Rama berdiri di depan layar monitor yang paling besar, banyak pria berkacamata dan beberapa berbadan besar.


Semuanya fokus mengawasi layar, terlihat mobil yang menjemput Ravi hancur rata, kepolisian juga sudah ada di lokasi.


Rama menghembuskan nafasnya berdoa dalam hati berharap putranya baik-baik saja.


Rama mengambil alih kendali, puluhan orang sudah bergerak, seluruh lokasi sekitar sudah di terkepung, semuanya berpencar mencari Ravi.


Rama baru teringat, jika dia memberikan Ravi sebuah stiker di tasnya. Rama menyambung melacak GPS sticker yang Rama berikan.


"Sam, berjalan ke depan, masuk ke gang kecil sebelah kiri, berlari lebih cepat, Ravi tidak jauh dari sana."


***


Ravi masih berlari kencang, dia sudah binggung mau ke mana lagi, jalan buntu atau otaknya yang sudah buntu. Lima orang berbadan besar berdiri mengelilingi Ravi yang tertunduk lesu.


"Boleh Ravi istirahat sebentar, capek lari-larian." Ravi langsung duduk mengatur nafasnya sambil cengengesan.


Semuanya menatap heran, bocah kecil bukannya takut tapi dia sudah mengambil botol minumnya dan meneguk air dengan puas.


Seseorang mendekati Ravi dan memegang tangan kecil Ravi cepat menarik tubuhnya, Ravi hanya tersenyum tipis dan melayangkan pukulan dengan teriakan minta maaf karena sengaja memukul.

__ADS_1


"Paman jangan pukul Ravi nanti tidak ganteng lagi, Ravi juga tidak mau memukul orang yang lebih tua."


"Paman! aduhh susah sekali di bilangin Ravi masih kecil belum boleh berkelahi, terus nanti wajah tampan Ravi rusak, susah ya diajak kerja sama, kita kompromi saja, atau kita melakukan kesepakatan."


Sebuah tangan besar menampar wajah Ravi sampai dia terlempar, dan meringis kesakitan.


"Kamu anak kecil banyak bicara."


"Paman jahat," Ravi membuka tasnya mengambil pulpen hadiah ulangtahun dari Rama, dan bangkit berdiri.


"Ravi bukan bocah lemah, daddy memberikan benteng dasar untuk Ravi melindungi diri, jadi jangan salahkan Ravi jika akan menyakiti kalian.


"Tangkap dia, bius saja biar tidak banyak bicara,"


Seseorang langsung bergerak, Ravi juga bergerak menghindar mundur dengan tangannya kebelakang.


Ravi maju memanjat tubuh besar, dan menarik rambutnya menancapkan pulpen di bagian dada membuat suara teriakan yang sangat besar.


Ravi melompat turun, seseorang mendekat Ravi berlari berputar, saat lawan lengah. Ravi menendang bagian sensitif.


Melihat dua temen yang terluka, dengan cepat ketiganya mencoba menyerang Ravi, tapi puluhan orang sudah mengepung. Ravi menghela nafas lega.


Rama juga bernafas lega, layar besarnya memperlihatkan Ravi yang berdiri tegak dan tersenyum kearah layar.


"Daddy, Ravi baik-baik saja, pengen peluk daddy," Ravi bergerak minta gendong sampai Bima langsung menggendongnya.


Viana yang sadar jika Ravi diserang langsung terduduk lemas, khawatir putranya terluka. Vi menyalahkan dirinya yang lupa jika dia harus berhati-hati demi Ravi. Tindakan gegabah Vi hampir saja membuat tawa si kecil menghilang.


***


TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA YA READER...


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE YA

__ADS_1


__ADS_2