
Waktu cepat berlalu Kasih berdiri di depan kaca melihat tubuhnya yang sudah gemuk, perutnya juga sudah terlihat besar. Usia kandungan Kasih sudah jalan 6 bulan, Ravi menjadi suami siaga karena tidak tega melihat Kasih yang sulit membawa perutnya yang besar.
Periksa ke Dokter juga rutin keduanya lakukan, tangan Ravi melingkar memeluk Kasih dan anaknya.
"Sayang, maaf hari ini Aak tidak bisa menemani kamu untuk ke Dokter. Mommy yang akan menemani."
"Kenapa Aak? hari ini kita sudah sepakat untuk melihat bayi kita. Dokter sudah mengatakan bayi kita kembar, Aak yang mengatakan di usia kandungan 6 bulan ingin melihat jenis kelamin, tapi kenapa sekarang Aak yang tidak bisa pergi." Kasih mengerutkan keningnya, merasakan Ravi mulai berubah.
"Ya sudah, nanti Aak menyusul." Ravi mencium kening Kasih langsung pamitan untuk pergi kerja.
Kasih mulai merasakan perubahan Ravi, biasanya Ravi berbicara dengan anaknya, tapi sekarang langsung pergi, pulang larut malam, tidak banyak menuntut lagi, tidak manja lagi.
"Aak, jika sampai mengkhianati kesetiaan Kasih, bersiaplah untuk kehilangan kami."
Kasih melangkah ke lantai bawah, bahkan Ravi pergi kerja tanpa sarapan. Kecurigaan Kasih semakin besar, tapi dia terus berusaha berpikir positif.
Viana datang berkunjung, melihat Kasih yang sedang nyemil buah-buahan.
"Ravi di mana sayang?" Viana duduk di samping Kasih, melihat sekeliling, tapi Ravi tidak terlihat.
"Ravi berubah Mom, dia lebih mementingkan pekerjaannya di bandingkan anaknya. Ravi yang awalnya mengelus twins R, membaca ayat pendek, sholat bersama, sekarang tidak ada lagi Mom." Kasih meneteskan air matanya.
"Kalian sering bertengkar?" Viana juga merasakan keanehan Ravi.
"Tidak Mom, hanya sikapnya berubah jauh."
"Tenang saja sayang, Mommy akan menghubungi Ravi."
"Jangan Mommy, biarkan Kasih yang mencari tahu sendiri, jika Ravi berkhianat berarti dia tidak menginginkan kami."
Viana menghela nafasnya, melihat kesedihan Kasih bisa membuat anaknya juga bersedih. Viana berjanji akan mengurus Ravi kembali seperti dulu.
Kasih pergi ke Dokter bersama Viana, Dokter kembali menanyakan suami, Kasih menjawab dengan santai. Senyum Kasih terlihat bahagia, melihat kedua anaknya bergerak, Viana sampai meneteskan air mata melihat bayi kembar.
"Dok laki-laki atau perempuan? Kasih menggenggam tangan Mommy.
"Sepasang."
"Alhamdulillah, putra dan putri twins." Viana mencium tangan Kasih bahagia.
__ADS_1
Kasih melihat gambar anaknya yang sudah jelas, mengelus perut besarnya penuh kebahagiaan. Kasih hanya kurang satu karena tidak ada kehadiran Ravi disisinya.
Viana keluar kamar menghubungi Rama soal cucu mereka, Kasih menyadari jika Mommy Daddy sangat menanti kehadiran cucunya. Kasih tidak tega jika suatu hari pergi membawa kedua anaknya, meninggalkan juga tidak mungkin Kasih lakukan, memberikan salah satu, kasihan jika kedua anaknya terpisah.
"Selamat ya sayang ya, Mommy bahagia sekali."
"Kasih juga Mom, ayo kita makan ke Restoran favorit Mommy."
"Oke sayang."
***
Tiba di Restoran sangat ramai, tapi Kasih ingin tetap masuk mencium aroma wangi masakan. Viana mengandeng Kasih untuk masuk, meminta kursi.
Mata Kasih tidak berkedip saat melihat Ravi bersama wanita lain, Kasih hanya diam menatap. Viana masih sibuk melihat menu menawarkan banyak makanan untuk Kasih, baru saja Viana berdiri langsung kaget melihat Ravi.
Tanpa menatap Kasih, Viana langsung berjalan mendekati Ravi. Kasih hanya melihat saja, tanpa ekspresi.
"Ravi, apa yang kamu lakukan?"
"Mom."
Ravi berdiri kaget melihat Mommy, seorang wanita langsung berdiri ingin mencium tangan Viana, melihat dari gerakan tubuhnya, bukan rekan bisnis Ravi. Viana langsung menampar kuat, Ravi berusaha melindungi dan meminta Mommy berhenti.
"Mommy kita bisa bicara di tempat lain."
"Boleh setelah Mommy menghabisi wanita ini."
"Mommy Ravi mohon, dia sedang mengandung anak Ravi. Biarkan Ravi menyelesaikan semuanya Mom." Ravi menatap penuh permohonan.
"Mommy, biarkan mereka. Ayo kita pergi Mom, di sini banyak orang." Kasih menarik Viana pergi, air mata Vi mengalir.
"Kasih." Ravi ingin mengejar, tapi tangannya sudah ditahan.
Di mobil Viana tidak berhenti menangis, Kasih hanya diam mengelus perutnya yang besar. Menenangkan Mommy yang tidak percaya dengan perbuatan Ravi.
"Mommy, sabar biarkan Ravi menyelesaikan semuanya. Wanita tadi sengaja menjebak Ravi, biarkan Ravi menghukumnya karena sudah membuat Mommy bersedih."
"Kasih, suami kamu berkhianat. Kamu tidak mendengar yang Ravi katakan, dia hamil."
__ADS_1
"Kasih mendengar Mom, sangat mendengar. Mata Kasih bisa melihat tatapan Ravi ke Mommy, dia sedang ada tujuan, dia tidak mengkhianati Kasih." Kasih mengelus perutnya, dadanya terasa sesak.
"Apapun alasannya Mommy kecewa. Lelaki yang berkhianat tidak pantas dimaafkan."
Viana menghapus air matanya, Vi tidak bisa membayangkan rumah tangga Ravi, Kasih pasti akan membawa cucunya pergi.
"Kasih, Mommy tidak masalah Ravi bersama wanita lain, dia memutuskan hubungan dengan keluarga kita. Mommy mohon Kasih jangan pergi, Mommy tidak ingin kehilangan kamu dan cucu Mommy."
"Iya Mommy, Kasih berjanji Mommy bisa melihat mereka lahir."
Viana memeluk Kasih erat, bisa Vi rasakan bertapa sakitnya dikhianati. Melihat secara langsung orang yang kita cintai bersama wanita lain.
Di rumah Rama sudah mendapatkan kabar dari Tian, masalah Ravi bersama wanita lain. Tian mengetahuinya bahkan mencoba menolong Ravi untuk cepat mendapatkan bukti, tapi terlambat Kasih lebih dulu tahu, sedangkan kebenaran masih belum ditemukan.
Tangisan Viana kuat, Rama langsung memeluk Vi yang lebih sedih dari Kasih. Viana tidak ingin melihat Ravi lagi, Vi memaksa Rama untuk membawanya pergi bersama Kasih juga cucunya agar tidak bertemu Ravi lagi.
"Sayang tenang dulu, Ravi tidak selingkuh. Dia dijebak sekarang sedang mencari bukti agar dia tidak bersalah. Berikan Ravi waktu untuk menjelaskan."
"Waktu, Hubby minta waktu untuk seorang pengkhianatan. Dia anak Mommy, tapi hati Mommy hancur. Bagaimana dengan Kasih? kalian bisa membayangkan kondisi kandungannya, bahkan betapa bahagianya melihat bayi kembar bergerak, tapi Daddy-nya sibuk mengurus perempuan lain."
"Mommy, masalah ini berawal dari Tian. Tolong berikan kami waktu untuk membuktikan."
"Terlambat Tian, hati sudah hancur sulit kalian perbaiki lagi. Lihat Kasih, dia diam saja, tapi di dalam kepalanya sudah memiliki banyak cabang, cara untuk melarikan diri."
"Seharusnya targetnya Tian, tapi menyasar ke Ravi, karena dia yang ...." Tian tidak melanjutkan ucapannya mendengar bentakan Viana.
"Mommy jelaskan yang Kasih pikirkan, sampaikan kepada lelaki bodoh yang tega mengkhianati istrinya yang sedang hamil besar. Kasih sedang berpikir membawa anaknya pergi, atau meninggalkan salah satu, atau meninggalkan semuanya. Akhirnya korbannya bukan hanya Kasih, tapi kedua anaknya."
"Mommy, sebaiknya bawa Kasih beristirahat." Rama mengelus punggung Viana.
"Apa yang ingin diistirahatkan, anak bodoh satu itu menghancurkan rumah tangganya, Mommy tidak ingin melihat Ravi lagi, Mommy tidak sudi melihat anak perempuan itu!" Viana teriak kuat, langsung melangkah pergi.
Rama mengejar Viana, Kasih masih berdiri diam mengelus perutnya. Sedih pasti Kasih rasakan marah, kecewa dan sangat terluka.
"Kasih maaf." Tian melipat kedua tangannya.
"Iya kak, selesaikan masalah ini, jangan khawatir Kasih dan anak Kasih. Kami akan baik-baik saja."
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP