SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 KEMBAR BOTAK


__ADS_3

Ravi baru saja selesai mandi, Kasih sedang asik mengobrol dengan putrinya Rasih, Kasih menahan tawa melihat Raka dan Ravi saling tatap.


"Jangan tertawa Kasih, tidak ada yang lucu." Ravi menatap tajam, kesal juga melihat Kasih yang senyum tidak jelas.


Ravi menggendong Rasih, mata Rasih langsung melotot kaget melihat Daddy-nya, tangisan Asih langsung kuat, Kasih langsung menggendong Rasih menenangkannya, langsung memberikan ASI.


Rasih diam langsung tidur, Raka masih mengoceh sendiri, mengangkat kakinya, mengecup tangan, tersenyum melihat Daddy-nya yang botak.


"Kepala kita sama sayang, botak. Raka jangan tertawa, pegang kepala kamu juga botak." Ravi mengusap kepalanya, Raka juga menyentuh kepalanya tertawa.


Kasih meminta Ravi diam, Asih sudah tidur. Ravi menggendong Raka agar cepat tidur, setelah kedua anaknya tidur baru Ravi memeluk Kasih.


Kasih memalingkan wajahnya tidak ingin melihat wajah Ravi, takutnya Ravi marah jika dia tertawa.


"Ayo Kasih peluk." Ravi memeluk erat tubuh Kasih, menciumnya lama.


Tangan Kasih menyentuh kepala Ravi, mengusapnya sambil terus tertawa. Mata Ravi terpejam dalam pelukan istrinya tercinta, Kasih menepuk punggung Ravi, dia memiliki tiga bayi, duanya kecil, satunya bayi besar.


Setiap hari waktu Kasih full untuk keluarga kecilnya, dia merasakan menjadi istri sepenuhnya, ibu seutuhnya.


Mata Kasih perlahan terpejam, mengikuti Ravi terbang ke alam mimpi. Mimpi yang mempertemukan Kasih dengan bapak ibunya.


Kasih meneteskan air matanya, menceritakan kebahagiaan, juga rasa khawatirnya Kasih terhadap Karin yang menolak menikah cepat, Tama yang mengangkat anak, tanpa ada hubungan dengan Binar, juga soal Cinta.


Melihat Cinta Kasih tidak bisa mengatakan satu patah katapun, satu sisi kasihan dengan keadaan cinta, tapi juga tidak tega dengan Bella.


Ravi terbangun melihat Kasih menangis, membangunkan Kasih, memeluknya erat.


"Apa yang kamu pikirkan sayang?" Ravi mencium kening Kasih.


"Kasih melihat bapak ibu, mereka mengkhawatirkan kak Tama, Cinta dan Karin." Kasih mengusap air matanya.

__ADS_1


Ravi meminta Kasih sholat malam, mendoakan kedua orangtuanya. Ravi yakin Karan bisa menjaga Karin hanya butuh waktu agar mereka segara naik pelaminan.


Tama pria dewasa tahu yang terbaik, jika dia menikahi Binar karena Bening, rumah tangga mereka tidak akan harmonis, tidak ada cinta di hati mereka, Bening bisa menjadi korbannya. Cara Tama sudah benar mencintai Bening, menjauhi Binar agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Binar wanita yang pernah terluka, sulit baginya mempercayai seorang lelaki, sedikit saja dia dibentak, luka lamanya akan tergores.


Biarkan waktu yang menjawab akhir hubungan mereka, semuanya sudah dewasa, tahu yang terbaik, juga bisa memilih bahagianya sendiri.


Ravi meminta Kasih tidak mengambil pusing, fokus dan dukung apapun keputusan yang akan diambil Tama dan Karin, jangan pertanyaan apa yang mereka inginkan, menikah butuh kesiapan.


Ravi juga ikut bersedih berakhirnya hubungan Bella dan Tian, tapi Ravi yakin keputusan Tian sudah tepat. Menjauhi Bella, tetap menganggapnya adik demi menjaga keharmonisan keluarga.


Cinta terhadap saudara jauh lebih besar, cinta yang tidak akan mati dan hancur, sebuah pernikahan bisa berakhir, tapi cinta saudara tiada akhir.


Erik dan Ravi sudah membicarakan sepakat lebih memilih Cinta dari pada Bella, seadanya Tian menyadari cinta Bella memaksa Tian mengikutinya, Bella menguasai Tian seorang diri. Jika Bella memang mencintai Tian, dia harus turun dari keserakahannya, mengikuti langkah Tian, memahami karakter Tian, bukan meminta Tian berada di bawahnya.


Sudah saatnya Bella belajar dewasa, memahami situasi, dia berpikir memiliki pelindung yang kuat, tapi Tian bukan bawahannya, dia lelaki yang mencintainya.


"Kasih, Bella tidak menyadari perasaan sendiri. Jika mereka memaksa bersama, kasihan kak Tian." Ravi menggenggam tangan Kasih, memintanya untuk tetap santai saja menghadapi hubungan asmara Cinta dan Tian.


Mata Ravi menatap sinis, dia kesal melihat dirinya yang sangat aneh. Ravi berdiri dari atas ranjang untuk sholat malam, berdoa yang terbaik untuk semuanya.


***


Kasih berjalan-jalan sambil mendorong kereta dorong kedua anaknya, Rasih tersenyum melihat suasana pagi yang sangat sejuk. Raka seperti biasa dia jika sudah menyusu, mandi pasti langsung terlelap tidur.


Viana tersenyum menyambut kedua cucunya yang sangat menggemaskan. Billa juga sedang berjalan pagi, perut Billa sudah terlihat besar, kandungan sehat, mamanya juga sehat.


"Pagi Billa, bagaimana kandungan kamu sudah periksa jenis kelamin belum?" Kasih mengusap perut Billa, merasakan gerakan.


"Kembar kak Kasih, kemungkinan besar juga kembar pengantin." Billa tersenyum melihat Rasih yang menatap Bening dalam gendongan Jum.

__ADS_1


"Alhamdulillah, selamat Bil. Sehat-sehat sampai lahiran." Kasih juga memberikan selamat untuk Bunda dan Mama Septi yang akan segera menjadi nenek.


Billa mengusap perutnya, bahagia karena akan segara menjadi seorang ibu.


Semuanya diam melihat Rasih mengoceh, Bening juga tersenyum seakan-akan sedang mengobrol dengan bahasa mereka.


Viana mengusap wajah Raka, dia tidak terganggu sedikitpun, tidur dengan tenang. Terkadang senyum saat tertidur.


"Raka kamu mimpi kepala botak Daddy-nya kamu?" Reva tertawa kuat, Viana juga langsung tertawa.


Kasih bercerita, Ravi menolak untuk berkerja, dia malu dilihatin oleh koleganya botak, ingin menggunakan topi tidak sopan. Berkali-kali Ravi merengek seperti bayi yang mengusap kepalanya.


Raka terbangun mengusap kepalanya, Jum tertawa melihat Raka yang pastinya mirip Ravi.


Viana, Jum, Reva saling pandang. Semakin besar Raka lebih mirip Rama dan Ravi, hanya saja Ravi anaknya heboh, Raka terlihat cuek.


"Kak Vi Jum jika mengingat Ravi kecil datang tidak akan pernah sanggup menahan air mata, anak kecil mengunakan kacamata, menggendong tas ransel, wajahnya yang tampan. Waktu cepat sekali kak Vi, dia sudah memiliki seorang putra dan putri." Jum meneteskan air matanya.


Jum menjadi saksi kedatangan Ravi, bocah kecil yang teriak memanggil Daddy, menangis merindukan Daddy-nya, saat melihat Rama, Ravi memeluk kaki, bergantung dengan kuat, harapan hanya sebatas melihat sosok Daddy-nya, tidak lebih.


"Reva masih kesal saat Ravi membuat heboh soal ular, soal kodok, banyak hal lucu yang dia lakukan, Raka atau Kasih yang nakal seperti Daddy-nya?" Reva mencium tangan Raka Rasih.


Semua orang menatap Rasih, sudah bisa ditebak siapa yang nakal, dari mata juga sudah bisa dibayangkan Rasih calon anak jahil.


Tangan Kasih ingin meminta digendong saat melihat kakeknya, Rama langsung mengangkat Asih menciumnya, menggendong penuh canda dan tawa.


"Raka gendong kakek Bima?" Bima menggendong Raka yang tersenyum. Dua orang dingin beda generasi saling tatap.


Bening menatap sedih, mencari sesuatu. Bisma mengangkat Bening baru terlihat tawanya, memeluk Bisma erat.


"Tidak ada yang ingin gendong kakek Ammar?" Bibir Ammar monyong melihat tiga bayi memeluk erat kakek mereka.

__ADS_1


"Sabar Ammar, sebentar lagi ada dua personil."


***


__ADS_2