SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PUTRA DINGIN *


__ADS_3

Pagi-pagi Wildan sudah berjemur dengan putranya, sambil menyelesaikan pekerjaan yang bisa dia kerjakan sambil mengawasi Virdan.


Melihat Virdan sama saja melihat Wildan kecil, tidak banyak gerak, tidak ada suara tangisan dan rengekan.


Vira tidak repot mengurus Virdan, waktu bersama Wildan jauh lebih banyak. Mereka bisa berjalan ke manapun membawa putranya, tidak menangis dan terganggu dengan suasana asing.


"Kamu tidak lapar?" Wildan langsung menggendong putranya, menatap mata indah si kecil yang memberikan senyuman.


"Good morning dua lelakiku, hari ini Ayang ingin makan apa"? Tangan Vira sudah bergelantungan di leher suaminya, memeluk erat minta digendong.


"Kamu ingin masak?" kepala Wildan menoleh ke arah wanita cantik di belakangnya.


"Tentu saja tidak, Ayang tahu Vira tidak bisa masak." Senyuman manis Vira terlihat, ciuman bertubi-tubi mendarat.


"Papi tidak tahu apa untungnya menikahi Mami kamu ... tapi dia wanita yang menghadirkan kamu nak." Wildan tertawa melihat Vira yang sudah memukulinya.


"Kamu tidak ingin mengakui betapa cantiknya Vira?"


"Virdan, jika nanti kamu dewasa ingat pesan Papi. Wanita cantik banyak, kaya juga banyak, wanita sukses juga banyak, tapi semuanya tidak abadi. Carilah wanita yang ...." Wildan tertawa melihat Vira yang sudah mengambil batu, langsung melangkah berlari membawa putranya.


"Kurang apa Vira, sudah cantik, kaya, mandiri, pintar, sukses juga baik hati. Kamu seharusnya bersyukur mempunyai Vira, Virdan juga seharusnya bersyukur mempunyai mami." Vira langsung memeluk Wildan dari belakang, teriakan terdengar karena Vira mengigit punggung suaminya.


Virdan hanya diam saja melihat kelakuan kedua orangtuanya yang lebih mirip orang pacaran, dirinya hanyalah orang ketiga yang mencari kamera tidak penting.


"Ayang hari ini kerja?"


"Iya, tapi siang saja soalnya tidak ada yang mendesak."


Vira mencium putranya, mendapatkan serangan secara tiba-tiba Virdan langsung melihat ke arah lain.


Wildan hanya tertawa melihat respon putranya, dia tidak menyukai sikap centil Maminya.


Suara Vira bernyanyi agar Virdan tertawa tidak dipedulikan, Wildan yang tertawa sampai tidur di rerumputan melihat kelucuan istrinya.


Selucu apapun Vira tidak mengubah ekspresi Virdan sama sekali, dia melihat Maminya seperti menatap pohon yang menggangu penglihatannya.


"Sayang seandainya Virdan sudah bisa bicara, dia pasti akan mengatakan Mami minggir." Tawa Wildan terdengar, mengusap wajah putranya yang sangat dingin.


"Keturunan kamu, tidak bisa tertawa sedikit saja." Vira mengigit pelan tangan putranya.

__ADS_1


"Bukannya kamu jatuh cinta dengan pria dingin?" tatapan Wildan menggoda Vira yang langsung tertawa.


"Em, tapi satu saja. Kalau dua Vira jadinya kesepian. Ayo kita buat adik untuk Virdan." Wajah Vira memelas, Wildan hanya tersenyum memeluk istrinya.


Kapan pun diberikan kepercayaan lagi Wildan siap, tapi saat keadaan putranya sudah bisa mandiri, Vira juga pulih total.


"Kamu tidak akan pernah kesepian Vira, ada aku yang akan selalu mendengarkan candaan kamu, tertawa bersama, sampai kamu lelah membuat masalah."


Senyuman Vira terlihat, mencium tangan dua lelaki dingin yang hadir dalam kehidupannya. Sungguh Vira bahagia bisa memiliki suami impiannya, juga putra yang sangat tampan.


"Virdan, kamu harus menjadi anak yang baik." Tangan Vira mengusap wajah putranya yang mulai mengantuk.


Sentuhan tangan Vira membuatnya sangat nyaman, tangan wanita yang selalu memeluknya dalam kandungan hingga lahir ke dunia.


"Ayang tunggu di sini, jika Virdan tidak bisa bercanda, maka ada yang akan tertawa bersama Vira." Langkah Vira berlari kencang keluar rumah.


Wildan dan Virdan hanya menatap binggung, Vira selalu saja ada tingkahnya yang membuat mereka berdua terheran-heran.


"Kamu harus memaklumi sikap Mami ya sayang, sesekali tersenyumlah agar Mami bisa tertawa. Papi tahu tidak ada yang lucu setidaknya tersenyum sedikit."


Virdan tersenyum melihat Papinya yang juga tersenyum, kepala Wildan mengangguk mengusap kepala putranya yang mengerti ucapannya.


Vira langsung masuk ke rumah Winda, menatap Ar yang sedang berbicara dengan putra-putrinya.


"Winda lagi mengambil bajunya, soalnya basah terkena ASI."


Vira menyapa Arwin, tapi tidak mendapatkan respon. Senyuman Vira terlihat menatap si cantik yang sudah mengangkat tangannya meminta Vira menyambutnya.


"Ayo sini, Mami gendong sayang." Vira mencium putri cantiknya.


"Kak, Vira pinjam anaknya ya." Vira langsung berlari melangkah keluar, membawa Arum menuju rumahnya.


Ar hanya bisa tersenyum melihat tingkah Vira, dia selalu menculik Arum untuk mengejek Virdan yang mirip es sulit cairnya.


"Di mana Arum?" Winda memegang baju kecil.


"Biasalah, aku pergi kerja dulu sayang." Ar mencium kening Winda dan putranya Arwin.


"Vira!" Winda berteriak membuat Arwin langsung menangis karena terkejut, Ar melotot melihat istrinya yang langsung menggendong putranya meminta maaf jika dirinya khilaf.

__ADS_1


"Winda, kecilkan suara kamu. Arum aman bersama Vira."


Tatapan Winda tajam, putrinya juga aman bersama dirinya.


Vira sudah tertawa membawa Arum, Wildan dan Virdan hanya terdiam melihat Vira yang tertawa bersama malaikat kecil.


"Arum, anaknya Mami." Vira meletakan Arum di samping Virdan.


Tangan Arum langsung mengusap wajah Virdan membuat anak laki-laki di sampingnya langsung tersenyum.


"Aku rasa Virdan sangat menyayangi Arum, Vira sudah lelah memintanya untuk tersenyum, tapi melihat Arum dia langsung menunjukkan sikap ramah." Pelukan Vira erat, bahagia melihat ikatan batin dua sepupu.


"Alhamdulillah jika mereka dekat, Arum berada dalam banyak lelaki terutama Wira, Arwin dan Virdan. Satu putri mahkota yang dijaga oleh tiga pangeran. Dia juga akan menjadi penengah kedua kakaknya, semoga dia tidak nakal seperti Wira." Wildan tertawa, meminta maaf karena mengganggap bule tampan anak yang nakal.


"Vira berharap dia lebih nakal dari Wira, di keluarga ini ada Rasih ratu pengacau dari ujung perumahan sampai ujung lagi dia yang menguasai. Ada Embun juga yang menguasai seluruh rumah, tidak ada yang bisa menolak keinginan dia. Ayang juga jangan lupakan Bulan, Bella berkali-kali ingin menelan putrinya." Vira tertawa, melihat Arum sudah menjambak rambut Virdan, melihat adiknya yang menarik rambutnya hanya diam saja.


Wildan membantu Virdan untuk sedikit menjauh dari adik perempuannya, langsung memeluk Arum yang menyentuh wajahnya langsung mencium Wildan.


"Eh, Kenapa genit?" Vira mencium Arum yang suka meremas apapun disekitarnya.


Arum langsung meminta Vira memeluknya, menyentuh ASI ingin meminta susu. Wildan hanya tersenyum melihat Arum yang bisa menyusu di Winda juga Vira.


Virdan juga sama memiliki dua ibu, hanya Arwin yang tidak ingin menyusu di Vira dia hanya mengenal Winda menolak siapapun menyentuhnya.


"Sayang, jangan terlalu sering menculik Arum." Wildan membantu Arum memakai baju, membiarkannya menyusu.


"Inilah janji Winda, jika putrinya juga putriku. Sampai kapanpun kami akan selalu bersama dalam segala hal, mungkin kami tidak memiliki hubungan darah, tapi ikatan kita kuat." Pelukan Vira erat mencium putrinya yang mulai terlelap.


"Baiklah, selama kamu dan Winda bahagia."


***



WILDAN BRAMASTA



VIRA PRASETYA

__ADS_1




__ADS_2