
Viana masih terpaku menatap wajah yang sangat mirip dengannya kakaknya, seseorang yang selalu dia rindukan wajah yang tidak akan pernah dia lupakan.
Seorang wanita berlari menghampiri mereka, Viana dan Sisil saling pandang dan kebingungan.
"Mami! wajah kalian mirip walaupun wanita ini blesteran."
"Diamlah Verrel," Sisil meminta Verrel pergi meninggalkannya bersama Viana. Tapi Verrel menggelengkan kepalanya.
"Maaf Viana, kami permisi!" Sisil menarik Verrel pergi tapi langsung di tepis kuat.
Verrel menatap Viana dan langsung mendekati wajah Viana dan tertawa, dia akhirnya bisa menemukan Viana yang hidup bersama Papinya.
"Kak Viana! Di mana Papi, Verrel ingin bertemu sebentar saja. Verrel ingin dia menjadi saksi di pernikahan Verrel."
Mata Viana masih menatap Verrel binggung, dia tidak mengerti apa yang Verrel katakan. Viana juga kehabisan kata-kata karena terlalu kaget melihat wajah Verrel. Viana menarik nafas coba menenangkan diri.
"Siapa Papi kamu, mengapa kamu sangat mirip kak Andri."
"Kak Andri! astaga kedua orangtua kita sangat jahat ya kak, kita anak yang tidak diinginkan lahir ke dunia ini, Verrel berpikir hanya Verrel yang mempunyai mami sangat muda dan lebih mirip kakak Verrel tapi ternyata dia ibu kandung kita." Verrel menundukkan kepalanya menahan air matanya.
"Kita! apa ini? aku tidak mengerti yang kamu bicarakan?" Viana susah menaikan suaranya.
"Kita kembar, Viana dan Verrel mami mengandung kita saat usia 15tahun, dan ayah kita Andri Arsen. Setelah melahirkan, mami membawa Verrel, sedangkan Papi membawa kak Viana. Mereka menganggap kita seperti adik karena usia mereka sangat muda. Verrel mengetahui semua ini 5tahun yang lalu, karena kecewa Verrel pergi mencari Papi dan kakak."
Viana menggelengkan kepalanya, mustahil orang yang dia anggap sebagai kakak yang mencintainya sepenuh hati, tidak membiarkan sedikit saja Viana terluka. Ternyata kak Andri menyimpan rahasia yang sangat menyakitkan.
"Katakan ini bohong Sisil, tidak mungkin!" Viana menggoyangkan tubuhnya Sisil yang sudah menangis.
"Semuanya benar Viana, saat kamu melahirkan Ravi, mami mendonorkan darah karena saat itu mami mengunjungi sahabat mami, dan melihat kamu. Mami mendekati Bisma untuk mencari tahu tentang kamu, ternyata benar kamu putri kandung mami, Tapi saat Bisma mulai tertarik, mami langsung pergi dan menipu dia agar membenci mami." Sisil menangis sesenggukan.
"Kalian semua bohong, tidak mungkin." Viana melangkah pergi tapi Verrel mengejarnya dan terus bertanya tentang Papi Andri.
__ADS_1
"Kak Viana, satu kali saja biarkan Verrel bertemu Papi, setelah ini Verrel Pergi." Verrel memohon ke Viana.
Viana menyerahkan alamat kantor dan alamat Mansion Keluarga Arsen. Dan langsung pergi meninggalkan mereka.
***
Viana memasuki rumah dan melihat Ravi yang marah, karena bulu ular ada yang membotaki nya. Semua orang menahan tawa melihat ular yang berada dalam gendongan Ravi.
"Mommy! lihat ular Ravi. Botak, hanya buntut dan kepalanya yang ada bulu badannya hilang." Viana hanya melihat sekilas, dan memandangi para asisten yang menutup mulut menahan tawa ulah Ravi.
Vi hanya mengelus kepala Ravi dan melangkah pergi menuju kamarnya, Jum memperhatikan perubahan Viana yang biasa mengundang gelak tawa.
Berhari-hari Rama memperhatikan Viana yang banyak diam dan terlihat sedih, Rama sudah sering bertanya tapi Viana tidak mengakuinya.
"Sayang!" Rama memancing Viana melalui ciuman, Vi hanya diam saja membiarkan Rama melakukan apa yang dia mau.
Rama turun dari tempat tidur memakai bajunya kembali, Viana memperhatikan Rama yang seperti kecewa. Rama ke luar dari kamar, Viana langsung menggunakan bajunya dan melangkah keluar mengejar Rama.
Viana masuk ke dalam pelukan Rama, duduk di pangkuannya sambil meneteskan air matanya, Rama menyadari Viana yang menangis tapi diam saja.
"Hubby, Viana anak yang tidak diinginkan lahir, kak Andri tega membohongi Viana, jika hanya ucapan Viana tidak akan percaya tapi Vi sudah melakukan tes semuanya benar hubby."
Rama hanya mengelus punggung Viana, Rama sudah lama tahu sejak dia berkunjung ke kediaman Arsen. Andri ayah kandung dari Viana yang tidak bisa mengakui jika Vi anaknya karena kak Andri terlalu muda dan belum siap menikah. Belum lagi dia pewaris keluarga Arsen, pendidikannya harus tinggi. Andri merahasiakan identitas Viana dari keluarga besarnya bahkan orangtuanya.
"Kamu harus menerima semuanya Viana, jangan benci kak Andri dia sangat menyayangi kamu, dia hanya butuh lebih banyak waktu untuk mengatakannya. Tapi yang maha kuasa lebih dulu mengambilnya."
"Hubby sudah tahu," Viana menggakat wajahnya menatap Rama.
"Besok kita ke Mansion Arsen, Verrel juga ada di sana, mommy dan daddy menerima kebohongan kak Andri dan juga Verrel. Melihat Verrel yang mirip kak Andri mengobati rindu keluarga."
"Tidak hubby, Viana belum siap. Semuanya terlalu menyakitkan." Tangisan Viana pecah dalam pelukan Rama.
__ADS_1
***
Keluarga Arsen sudah berkumpul menyambut kedatangan Verrel, beberapa hari yang lalu Verrel menemui daddy dan mengatakan semuanya. Hari ini pertemuan seluruh keluarga, Verrel memasuki mansion bersama Sisil. Verrel sangat bahagia karena memiliki keluarga dan akan bertemu Papinya.
"Assalamualaikum kakek, semuanya maaf jika kedatangan Verrel membuat keluarga tidak nyaman." Verrel memberikan salam dan menundukkan kepalanya.
Semua orang yang mengenal Andri sangat kaget melihat Verrel yang sangat mirip, mommy Liza langsung memeluk Verrel dan menangis menyebut nama Andri. Verrel membalas pelukan.
"Hai Uncle, aku Ravi putranya Viana Arsen dan Rama Prasetya. Wajah uncle sangat mirip dengan foto di sana, mirip sekali. Tapi Ravi pusing uncle, mengapa banyak sekali uncle nya Ravi. Ada uncle Bisma, Bima, Ammar, Ivan, dan sekarang uncle Verrel."
"Kamu sangat cerewet, mirip mommy kamu ya," Verrel menggendong Ravi mendekati Viana yang masih membuang pandangan.
"Hai kak Viana, maaf ya kak jika kedatangan Verrel membuat kakak dan keluarga tidak nyaman, Verrel hanya ingin bertemu Papi. Setelah ini Verrel akan pergi bersama mami."
Viana hanya diam, Rama menyambut kedatangan Verrel dan saling menyapa, Verrel sedikit sedih melihat respon Viana. Padahal dia ingin sekali memeluk Viana.
"Kakek! sepertinya Verrel harus cepat pergi, di mana Papi," Verrel memperhatikan seluruh orang menunduk kepala, Verrel berpikir Papinya sangat membencinya sehingga tidak ingin bertemu. Mommy sudah menangis mendengar pertanyaan Verrel berkali-kali.
Viana berjalan melihat fotonya dan kak Andri memeluknya kuat dan menangis sampai terduduk di lantai.
Verrel mendekati Viana dan melihat foto Vi dengan Papinya, Verrel menatap kesedihan dan luka di mata Viana. Mereka berdua beradu tatap.
"Papi sudah tidak ada, papi kecelakaan 15tahun yang lalu, dan meninggalkan Viana. Kamu hanya bisa menemui tempat peristirahatan Papi." Viana menangis dan menghapus air mata Verrel yang sudah mengalir keluar.
Sisil langsung jatuh pingsan, Verrel menangis pilu dan sesegukan melihat foto Papinya. Dan memeluk foto sambil menunduk menahan sakit. 36 tahun dia merindukan sosok ayah, impiannya bertemu Papinya sudah tidak ada lagi.
***
TERIMAKASIH YANG SUDAH BACA..
JANGAN LUPA LIKE COMENT..
__ADS_1