SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 KEHANGATAN


__ADS_3

Semuanya memutuskan kembali ke Mansion, Yusuf juga kembali berjalan dibantu oleh Wildan.


"Amin jalan lebih cepat." Winda menatap tajam.


"Winda panggil Yusuf bukan Amin, kamu tahu tata krama?"


"Winda hanya tahu tata cara." Winda langsung masuk mobil.


Vira tertawa langsung memeluk lengan dewa meminta masuk mobil, Vira juga melindungi kepala Dewa.


Baru saja Vira ingin masuk, Wildan menarik tangannya untuk keluar.


"Duduk di depan." Wildan langsung menutup pintu setelah Yusuf masuk.


"Wildan." Vira menendang mobil langsung masuk.


Tatapan mata Bella tajam melihat Randu yang menatap wajahnya sendiri, Bella tidak yakin jika Randu terlibat juga dengan orang yang menyerang mereka.


"Randu, kamu tahu tidak jika di tubuh Dewa ada penyadap?" Bella melihat ke kursi belakang.


"Mustahil, jangan bicara sembarang. Aku memang tidak pintar teknologi, tapi tidak mungkin bisa di masukkan."


"Pori-pori kamu harus tahu banyak sekali teknologi canggih yang sangat luar biasa, kecerdasan bukan hanya untuk membanggakan dan mengahasilkan uang secara baik, tapi kemampuan mereka lebih bermanfaat untuk kejahatan." Winda mempercepat laju mobil yang dia kendarai.


"Mustahil, tapi jika benar kak Dewa dalam bahaya."


"Bukan hanya Dewa, tapi kamu juga bodoh." Bella menatap sinis.


Randu duduk diam, menatap ke depan memperhatikan jalanan mengigat kegagalan yang dia lakukan.


Winda menatap mata Randu yang terlihat kesedihan, rasa terpukul juga kehilangan.


"Apa yang membuat kamu sedih?"


"Kalian tidak tahu rasanya kehilangan kedua orang tua secara bersamaan, saat pulang hanya melihat jasadnya. Hal yang lebih menyakitkan kami ditahan demi penyelidikan, tidak bisa melihat pemakaman kedua orang tua kami." Randu menggenggam tangannya erat.


"Bisa kamu jelaskan ...." Bella mengehentikan ucapannya, melihat tangan Winda menahannya.


Satu mobil lainnya ada Wildan, Vira, Dewa dan Yusuf. Suasana mobil hening, Vira hanya menatap wajah Dewa dari depan.


"Vira bisa tidak kamu melihat ke depan, apa ingin diputar kepala kamu?" Wildan mulai kesal.


Vira langsung tertawa, memukul lengan Wildan yang bisa marah juga.


"Tidak ada yang lucu."


"Wil kamu bisa tidak seperti Papi Bima, baik, lembut, penyayang."


"Jika kami ingin aku menjadi seperti Papi, kamu harus seperti Mami."


"Kita harus menikah dong?" Vira tertawa ngakak, kakinya berada di atas dasbor mobil.


Yusuf dan Dewa saling pandang, Wildan seriusan sedangkan Vira hanya bisa bercanda. Dua manusia yang bagaikan air dan api.


Vira meletakkan tangannya di dagu, menatap Wildan gemes karena membuatnya tertawa lepas.


"Kalian berdua tolong jangan bertengkar, nanti jodoh." Yusuf tersenyum.

__ADS_1


Vira tertawa, memukul lengan Wildan membuat tatapan Wildan tajam. Tangan Vira menyentuh pipi Wildan, mencubitnya gemes.


"Uhh gemes, coba lihat lesung pipinya. Astaga tampan sekali." Vira memberikan ciuman jarak jauh.


"Apa yang kamu lakukan Vira?"


"Tadi katanya harus seperti Mami, bukannya Mami selalu manja sama Papi." Vira tertawa lepas.


Wildan mengacak-acak rambutnya, Dewa tertawa lucu melihat Wildan dan Vira.


"Nama coupel kalian berdua apa?"


"Wira, kenapa menjadi bocah nakal kak Windy." Vira langsung tertawa menatap Dewa.


"Bagaimana jika kita berdua saja, namanya Devi Dewa dan Vira." Vira mengedipkan matanya.


"Kalian berdua Wilvi." Dewa tersenyum menatap Wildan yang cuek saja.


"Tidak lucu Dewa, lebih bagus Devi."


"Diam!" Wildan membentak, Dewa dan Vira langsung duduk diam.


"Diam, tidak ada yang cocok. Devi menjadi diam." Vira bergumam sendiri kebingungan.


"Vira, dulu kamu selalu menulis nama Virdan?" Yusuf memancing Vira.


"Vira Wildan, tapi sudah mati." Vira langsung menendang dasbor mobil karena kesal.


Wildan hanya bisa menggelengkan kepalanya, menurunkan kaki Vira agar tidak mirip preman.


Wildan juga masuk langsung menuju kamarnya, melewati Vira yang sedang kesal.


Vira langsung berlari ke kamar Wildan, menarik Wildan masuk. Tatapan mata Vira tajam, Wildan langsung membuka gorden kamarnya, mengabaikan Vira yang masih menatap tajam.


"Wildan, Mommy dan Mami menjodohkan kita?"


Wildan langsung terdiam, membalik badannya menatap Vira yang sangat penasaran.


"Alhamdulillah." Vira benafas lega karena dia tidak bisa menolak keinginan kedua wanita yang menjadi inspirasinya.


"Aku belum menjawab Vir." Wildan langsung mendekati Vira.


"Aku sudah tahu jawabannya dari mata kamu, Vira takut jika kita dijodohkan seperti Winda."


"Kenapa memangnya jika kita dijodohkan? Wildan membuka pintu balkon kamarnya.


Vira berjalan mendekati Wildan, menatap lantai satu yang banyak pohon rindang.


"Vira tidak bisa, pernikahan tanpa cinta."


Wildan hanya diam saja, tidak memiliki jawaban juga pertanyaan.


"Bagaimana menurut kamu Wil jika kita dijodohkan?"


"Terima saja."


Vira menganggukkan kepalanya, memeluk lengan Wildan meletakan kepalanya di pundak pria yang pernah dicintainya.

__ADS_1


"Wil, saat aku mencintai kamu kenapa rasanya kita sangat jauh, tapi setelah rasa cinta hilang jarak kita sangat dekat. Kenapa ya Wil?"


"Tidak tahu, Wildan belum pernah jatuh cinta." Wildan menatap wajah Vira.


"Cinta indah Wil, mengaguminya berharap bisa menikah, lalu memiliki anak. Kapan Vira akan menemukan jodoh?" Senyuman Vira terlihat menatap Wildan yang juga sedang menatapnya.


"Nanti, mungkin secepatnya." Wildan menatap dadanya yang berdegup, langsung memalingkan wajah.


"Saat kamu jatuh cinta tanya kak Vira dulu, jika kita setuju baru boleh melamarnya."


"Bagaimana jika aku tidak setuju dengan Dewa?"


"Alasannya?" Vira membalik tubuh Wildan menghadapnya.


"Karena aku tidak suka."


"Alasan apa itu Bambang." Vira mencubit pipi Wildan kesal.


Tangan Vira dikalungkan di leher Wildan, jarak wajah keduanya sangat dekat. Jantung Wildan berdegup lebih kencang, berusaha menjaga jarak.


Winda langsung muncul, memanjat balkon kamar Wildan.


"Kakak." Winda tidak sengaja mendorong tubuh Vira sampai mencium bibir Wildan.


Wildan dan Vira langsung mundur, Vira menyentuh bibirnya. Wildan berusaha menenangkan diri menatap Winda yang tersenyum santai.


"Kalian pacaran?"


"Tidak." Vira menatap Winda sambil tersenyum.


"Kenapa kalian berciuman?"


"Memangnya tidak boleh?" Vira menahan tawa.


"Boleh, lanjutkan saja." Winda turun lagi dari balkon, takut melihat kakaknya.


Vira tertawa melihat Wildan yang sudah melangkah pergi, Vira langsung turun melewati balkon.


Vira turun bersamaan dengan Winda, Vira langsung memeluk Winda meminta maaf karena lancang mencium Wildan, karena siapapun yang menyentuh Wildan harus izin Winda.


"Maaf ya Winda."


"Kenapa minta maaf? kamu memang satu-satunya wanita yang Winda inginkan menjadi jodoh kak Wil ... tapi bohong." Winda tertawa.


Vira juga tertawa, Wildan membawa air langsung menyiramkan ke bawah. Vira dan Winda langsung basah kuyup, melihat ke atas.


"Ini peringatan terakhir Winda, jika kamu memanjat lagi akan tahu akibatnya." Wildan langsung menutup pintu.


Winda langsung kedinginan, Vira memeluk Winda berjalan ke dalam rumah.


"Baru mendapatkan kehangatan dari menjahili Wildan, sudah mendapatkan karma." Vira gemetaran karena air sangat dingin.


"Winda tidak ingin mandi."


"Iya kamu memang kambing, jarang mandi."


***

__ADS_1


__ADS_2