SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S3 PERASAAN TIDAK ENAK


__ADS_3

Pesta pernikahan sudah selesai saat sore, keluarga langsung beristirahat karena malamnya langsung pergi ke Bali.


Semuanya tidur di kamar masing-masing, Ravi mengumpulkan seluruh yang pria untuk membicarakan keamanan, karena yang pergi ke Bali bukan hanya orang tua, anak-anak, tapi calon pengantin juga pengantin baru


Tian menjelaskan Tim yang bekerja di jet pribadinya, pilot yang akan mengantarkan mereka juga memberikan penjelasan agar keluarga tetap merasa aman.


Wildan juga sudah mengirimkan beberapa orang untuk berjaga, berita pernikahan Tian dan Bella mulai simpang siur.


Identitas masa lalu Tian mulai menjadi pembicaraan, banyak awak media yang mulai menyelusuri perjalanan hidup Tian.


Tian sudah mempersiapkan diri akan resikonya menikahi adiknya sendiri akan menjadi pro dan kontra, berusaha menutupi siapa dirinya agar tidak membuat rusuh.


Karena berita yang sedang panas keamanan semakin di perketat, baik keamanan keluarga, juga keamanan untuk kelancaran acara pernikahan.


"Perketat penjagaan anak-anak, mereka pasti paling bersemangat karena liburan keluarga." Wildan menatap Ravi yang menganggukkan kepalanya.


Sudah jam sebelas malam, koper sudah dimasukkan di dalam mobil. Satu persatu meninggalkan hotel langsung menuju bandara.


Vira keluar dari mobil, menarik kopernya melangkah masuk. Winda juga menarik kopernya bersama Bella.


Suara teriakan Bening dan Asih terdengar membawa tas ranselnya, berlarian bahagia.


Raka juga turun menggendong tas ranselnya, menggunakan sepatu, tas, topi juga kacamata.


Bisma tersenyum melihat Raka kecil berjalan ke arah tempat ruang tunggu, masih teringat jelas Bisma duduk bersama Ravi yang tertunduk sedih karena tidak berjumpa dengan Daddy-nya.


Ravi mendorong kopernya, menatap Bisma yang membenarkan kacamatanya. Ravi tersenyum melihat sosok Uncle juga pengganti Daddy-nya.


Ravi berjalan ke arah kursi ruang tunggu, duduk di samping putranya yang duduk diam menatap adiknya Rasih yang berlarian.


"Dulu Daddy duduk di sini berharap bertemu dengan Daddy Rama, Kakek Bisma orang yang selalu ada di samping Daddy." Ravi menatap putranya yang menatap sambil mendengarkan.


"Aka tidak ingin berpisah dari Daddy dan Mommy, segala cara akan Aka lakukan untuk menjaga keluarga kita." Raka menggenggam tangan Ravi.


Bisma duduk mengusap kepala Aka, sebelum menjaga keluarga Raka harus banyak belajar, karena dia penerus keluarga Prasetya.


"Jam berapa kita berangkat Yah?" Jum duduk di samping Bisma.


"Sebentar lagi sayang." Bisma menggenggam tangan Jum.


Viana langsung duduk di lantai, mencium tangan Raka karena sangat menggemaskan.


Bisma menatap Viana, mengingatkan dirinya saat menampar juga memukulinya karena kehilangan Ravi.


Viana langsung tertawa, meminta maaf kepada Bisma soal masa lalu yang akhirnya mempersatukannya dengan cinta dan kebahagiaan.


"Maafkan aku Bisma, terima kasih sudah membantu Ravi." Viana tersenyum menatap Ravi.

__ADS_1


"Emh, aku bahagia menjadi bagian dari cerita kalian." Bisma tersenyum.


Semuanya berkumpul berdoa bersama, Bima memimpin doa memohon perlindungan keberangkatan mereka.


"Perasaan Asih tidak enak Daddy, besok saja perginya." Rasih langsung menangis.


Kasih langsung menggendong putrinya, membawanya menjauhi untuk menenangkan Rasih.


Tian mendapatkan panggilan jika kepergian mereka harus ditunda karena ada kendala dengan penerbangan lain, kemungkinan berangkat subuh.


Akhirnya semuanya tetap menunggu di bandara, anak-anak sudah tidur di kamar tunggu untuk karyawan.


Wildan sudah ada di dalam pesawat bersama Yusuf dan Tian, mereka melihat kembali kelancaran keberangkatan.


Pilot sangat yakin semuanya aman, tidak ada masalah di pesawat. Semuanya dipastikan aman.


Wildan memejamkan matanya untuk beristirahat sebentar, Vira datang bersama Winda, Bella, Karin langsung mencari tempat duduk untuk tidur.


Vira menatap Wildan yang tertidur kelelahan, melepaskan bantal lehernya memberikan kepada Wildan.


Vira duduk di belakang Wil bersama Winda, langsung memejamkan matanya untuk tidur, Wildan membuka matanya memberikan kotak kecil di paha Vira.


"Apa ini?" Vira langsung berdiri melihat Wildan yang memejamkan matanya kembali.


"Hadiah dari Asih." Wildan langsung memasang earphone.


"Terima kasih Wil." Vira berbicara pelan, memasangkan kalung di lehernya.


Winda menyadari pembicaraan Wildan dan Vira, tapi diam saja ikut bahagia jika Vira juga bahagia.


***


Akhirnya semuanya masuk pesawat setelah banyaknya drama Rasih yang tidak ingin pergi, jam juga sudah menunjukkan pukul lima.


Keamanan anak-anak jauh lebih penting terutama membawa Embun dan Elang, belum lagi Binar yang sedang mengandung.


"Asih sini sama Uncle Wil." Wildan menatap Rasih yang memukuli Ravi.


Senyuman Asih terlihat langsung berjalan mendekati Wildan, Vira menghadang dengan kakinya membuat Asih terjatuh.


"Jalan pakai mata Asih." Vira menjulurkan lidahnya.


"Jalan menggunakan kaki Aunty, mata untuk melihat coba saja Aunty jalan menggunakan mata." Asih teriak kuat membentak Vira.


Ravi menggeleng kepalanya melihat Rasih dan Vira bertengkar, Wildan langsung menggendong Rasih yang masih memukuli Vira, tangan Vira juga membalas memukul membuat Kasih geleng-geleng melihat dua orang yang sama pemarahnya.


Wildan memeluk Rasih, memintanya untuk tidur.

__ADS_1


Semuanya diam langsung memejamkan mata untuk tidur, mereka akan tiba langsung beristirahat ke hotel.


Mata Yusuf langsung terbuka, mencium bau yang tidak asing. Yusuf langsung berdiri menatap seluruh keluarga masih tertidur saling memeluk.


"Wildan bangun, kencangkan sabuk pengaman." Yusuf langsung memperingati Tian, Erik, Ravi, juga yang lainnya.


Wildan mencium bau yang aneh, langsung menatap Yusuf yang meminta semuanya bangun.


Pramugari yang bertugas juga mulai berlarian, meminta semuanya tenang.


Wildan memeluk erat Rasih, Erik juga memeluk erat putranya merangkul Billa agar tenang.


Tian juga memeluk Embun dan Bella, senyuman Bella masih terlihat berusaha untuk tenang.


Vira dan Winda saling menggenggam, hanya bisa mengucapkan istighfar dalam hati.


Tama memeluk erat putrinya, Binar juga menggenggam erat. Karan masih tenang mengusap punggung Karin.


"Papi baik-baik saja, jangan khawatir. Mami oke?" Yusuf melihat Reva memeluk erat Bima.


Viana juga memeluk erat suaminya, Jum juga menyembunyikan wajah hanya bisa mengucapkan istighfar.


Bisma dan Septi juga saling merangkul dan menenangkan.


Pesawat bergoyang, suara teriakan terdengar. Wildan menepuk pundak Rasih.


"Kak Ar ada masalah apa? lakukan sesuatu!" Wildan berteriak.


Seharusnya sudah waktunya siang, tapi secara tiba-tiba langsung gelap gulita, kabut mengelilingi kapal.


Pilot berusaha bertahan, pesawat tidak seimbang karena munculnya kabut hitam yang diduga abu vulkanik yang bisa menjatuhkan pesawat.


"Buka pintunya, kita dikelilingi abu vulkanik." Yusuf memukul pintu.


Tidak ada yang bisa bergerak meminta bantuan tim ATC mengatakan jika sedang dalam keadaan darurat, kaca samping pesawat pecah, angin langsung masuk membuat pilot terjatuh langsung mengalami sesak nafas.


Co pilot berusaha membangun pilot yang sudah jatuh pingsan.


"Kapten bangun, pesawat bisa jatuh." Co-pilot membuka pintu meminta bantuannya.


Pesawat sudah tidak seimbang, bahkan langsung terjun bebas ke bawah.


Seluruh keluarga berusaha diam, hanya berdoa dalam hati agar pesawat tidak jatuh.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT

__ADS_1


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


__ADS_2