SUAMIKU MASIH ABG

SUAMIKU MASIH ABG
S2 SEMUANYA BERAKHIR


__ADS_3

Kasih kembali ke rumah, Tian sudah mengatur penjagaan ketat. Mencoba menghubungi Ravi untuk segera pulang, tapi Ravi belum bisa kembali.


Kasih mendengar semua pertengkaran Ravi dan Tian melalui panggilan, perut besar Kasih merasakan sakit, tendangan kedua anaknya terasa, antara bahagia dan bersedih Kasih menenangkan kedua anaknya.


"Kenapa sayang? jangan mencari Daddy lagi, dia tidak menginginkan kita. Nanti ikut sama Mommy ya, Mommy janji akan membahagiakan kalian, anak Mommy harus kuat, Mommy juga akan kuat untuk kalian." Kasih tidak bisa lagi menahan air matanya, buliran bening mulai membasahi pipi Kasih, tapi masih berusaha untuk kuat.


Kasih masuk ke dalam kamar melihat tempat tidurnya bersama Ravi, melihat foto pernikahan mereka. Kasih mengambil bajunya, memasukkan ke dalam koper keluar kamar menuju lantai satu, masuk ke dalam kamar tamu.


Kasih menyusun bajunya, melihat beberapa buku yang dia beli untuk bercerita kepada anak-anaknya. Kasih tersenyum membacakan dongeng sebelum tidur sambil mengelus perutnya.


Perlahan Kasih terlelap, terbangun tengah malam merasakan tubuhnya sakit semua, merasakan gerakan anaknya sedangkan Ravi sedang bersama wanita lain.


Suara langkah kaki terdengar, pintu terbuka. Kasih memejamkan matanya, Ravi masuk langsung mencium kening Kasih mengelus perut Kasih.


"Maafkan aku Kasih, kamu pantas marah. Maafkan Daddy ya sayang, Daddy tidak bisa membahagiakan kalian." Ravi meneteskan air matanya, mencium perut besar Kasih, mendengarkan suara diperut, sambil terus menangis.


Setelah puas melihat Kasih Ravi keluar, Tian menunggu cerita Ravi soal penyelidikan. Ravi duduk lemas, Kasih keluar mendengarkan pembicaraan keduanya.


Ravi sudah berusaha mencari bukti, bahkan melakukan tes DNA janin hasilnya memang darah daging Ravi. Tian sampai menumpahkan gelas minumnya.


Tian tidak percaya jika Ravi dijebak di hotel, sasaran awalnya Tian, tapi Ravi yang mengantikan rapat, Ravi tidur dengan sekretaris pribadi Tian, setelahnya satu bulan Ravi hampir jantungan karena mendapatkan kabar hamil.


Orang kepercayaan Tian sudah berusaha untuk menemukan bukti, tapi tidak ada kebohongan. Rekaman CCTV juga sudah memperjelas semuanya, lebih jelas lagi, Erik memberikan hasil Lab janin yang memang anak Ravi.


Wajah Ravi lemas, melihat foto di dinding dirinya dan Kasih, air mata juga perlahan jatuh. Tian menundukkan kepalanya, binggung harus bagaimana menolong Kasih dan Ravi.


"Vi, biar aku yang bertanggung jawab untuk menikahinya, kita tutupin hubungan kalian. Kamu bisa melanjutkan pernikahan dengan Kasih."


"Aku tidak perduli soal wanita kotor itu, tapi anak yang dia kandung. Dia anakku kak, bagaimana bisa aku tidak bertanggung jawab?"


"Kamu bisa memiliki anak bersama Kasih, dia akan menjadi anakku."

__ADS_1


"Keadaan sudah berantakan, aku akan tetap bertanggung jawab. Aku tahu hubungan dengan Kasih akan hancur, setidaknya aku masih bisa mempertahankan Kasih sampai melahirkan."


"Kamu sudah siap bercerai."


"Mana mungkin aku siap, sampai mati aku tidak akan siap, tapi ini yang terjadi, aku harus bagaimana?"


Ravi menghapus air matanya, tidak bisa membayangkan Kasih akan pergi bersama anaknya. Kebahagiaan yang Ravi impikan akan segera hancur.


Ravi tidak memiliki jalan lain, harus menghadapi Kemarahan Mommy, harus menerima kemarahan Kasih, menerima semua keputusan Kasih.


"Ya Allah, kenapa rumah tanggaku diuji seberat ini? tolong kami, jangan pisahkan aku dan Kasih ya Allah." Batin Ravi dalam hati.


Kasih menghapus air matanya, melangkah pelan kembali ke kamar. Membuka sebuah kotak kecil, melihat hasil USG pertama sampai keenam, Kasih tersenyum melihat setiap pertumbuhan anaknya.


Mulai saat ini sampai melahirkan, Kasih hanya seorang diri melihat anaknya, tidak ada lagi Ravi yang akan tertawa mencium perutnya. Kasih memeluk erat foto anaknya, membuatnya menjadi bingkai untuk kenang-kenangan.


"Anak Mommy, sehat-sehat ya sayang. Kita harus bahagia, tidak boleh bersedih." Kasih tersenyum mengelus foto bingkai, meletakkan di samping tempat tidur.


***


Suara azan subuh terdengar, Kasih bangun melaksanakan sholat sendirian. Ravi juga sudah bangun, melihat Kasih yang sedang berdoa.


"Sayang, Mommy selalu mendoakan kita selamat saat lahiran nanti, Mommy akan mencarikan nama untuk kalian, mencari kalian baju kembar, sepatu, tempat tidur." Kasih tersenyum memeluk perutnya.


"Emmhhh nama kalian yang cewek, Kaila Amora Rahmat, sedangkan yang cowok emhhh, Khafi Athalla Rahmat. Maafkan Mommy Rasih, kamu kita ganti namanya menjadi Kaila, apapun nama kalian sudah menjadi doa dari Mommy."


Ravi meneteskan air matanya, duduk di depan pintu sambil menangis sesenggukan. Memeluk dengkulnya membayangkan putra putrinya hidup tanpa dirinya. Ravi tidak rela kehilangan anak yang paling dia nantikan dalam hidupnya.


"Mommy Daddy tolong Ravi, Ravi takut kehilangan mereka Mom."


Terdengar suara Kasih merintih, Ravi menghapus air matanya langsung mengetuk pintu masuk ke dalam melihat Kasih meringis menahan sakit perutnya.

__ADS_1


"Kasih, perut kamu kenapa?" Ravi membantu Kasih untuk berdiri, duduk di pinggir rajang. Ravi merasakan hawa panas dalam kamar, Kasih juga berkeringat.


Kasih menepis pelan tangan Ravi dari pinggangnya, mengelus perutnya yang merasakan tendangan pertarungan dari dalam.


"Twins menendang, kita langsung periksa ke rumah sakit."


"Terima kasih Ravi, aku bisa mengurus anakku. Kamu tidak perlu repot-repot untuk mengkhawatirkan kami, sungguh kami bisa tanpa kamu." Kasih tersenyum mengelus pelan perutnya.


"Maaf Kasih, aku tahu kamu marah, aku membuat kamu kecewa, tapi soal anak biarkan aku ikut terlibat, aku Daddy-nya." Ravi menyentuh perut Kasih.


"Terserah kamu, bukannya seharusnya kamu sudah siap-siap ke kantor, astaga Kasih lupa. Istri kamu satunya lagi hamil, mungkin sedang mual-mual, dia membutuhkan perhatian kamu Ravi, cepatlah pergi. Trisemester pertama sangat berat." Kasih melangkah pergi ke kamar mandi, wajahnya terlihat santai, melepaskan bebannya, juga melepaskan Ravi.


Mendengar ucapan Kasih, Ravi hanya bisa terdiam. Dia menyadari tidak pantas mendapatkan maaf dari Kasih. Mata Kasih tidak terlihat cinta lagi, hanya ada rasa benci. Ravi merindukan sikap manja yang mulai sekarang tidak bisa Ravi rasakan lagi.


"Maafkan aku Kasih." Ravi keluar dari kamar, menuju kamarnya untuk pergi.


Kasih tidak tidur lagi, sibuk di kebun bunga bersama maid mencari keringat. Ravi hanya bisa melihat dari lantai atas, Kasih tertawa lepas sambil memeluk perutnya.


"Sudah punya nama Nyonya?"


"Cowoknya Khafi Rahmat, ceweknya Kaila Rahmat." Kasih tersenyum.


"Kenapa tidak menggunakan nama tuan, keluarga Prasetya."


"Mereka anggota baru keluarga Rahmat, keluarga Prasetya akan mendapatkan anggota baru dari wanita lain. Mereka berbeda dengan anakku." Kasih melihat wajah maid tertawa, menganggap ucapan Kasih sebuah candaan.


Kasih tersenyum melihat matahari terbit, bunga masih basah embun.


"Tidak ada lagi Ravi Kasih, mereka akhirnya berakhir."


***

__ADS_1


__ADS_2