
Suara gemericik air terdengar, Lin sedang duduk di pinggir kolam sambil memainkan air menggunakan kakinya.
Tatapan selalu berkeliling mengawasi twins V, Arum dan Bulan yang sedang main di taman belakang.
Senyuman Lin terlihat, tidak terasa jika waktu sangat cepat berlalu. Dirinya sangat bahagia dengan keluarganya yang sekarang, cinta kasih Mommy Daddy-nya sangat besar.
"Kenapa senyum terus?" Erwin juga duduk di pinggir kolam berseberangan dengan Lin.
"Lin hanya mengingat masa lalu, sekarang Lin sangat bahagia kak." Tidak akan pernah Lin lupakan siapa dirinya, dan bagaimana masa lalunya.
Erwin juga tersenyum, dia bahagia melihat Lin yang sekarang. Tidak ada yang berubah dari dirinya, hanya saja Lin yang sekarang memiliki keluarga lengkap.
"Kak Erwin punya pacar?" Lin bicara sangat pelan.
Suara Erwin tertawa terdengar, menganggukkan kepalanya. Belum ada yang berubah dari Erwin dia tetap sama seperti sebelumnya dikelilingi banyak wanita.
"Pacar banyak, tapi tidak ada yang bisa membuat aku jatuh cinta."
"Kenapa? kak Erwin belum ingin serius?"
Erwin mengangkat bahunya, dia masih muda dan masih memiliki banyak waktu. Bayangan pernikahan belum terlihat, tapi ada hal yang mengganggu pikirannya.
Lin mengerutkan keningnya, secara tiba-tiba lelaki yang Lin panggil kakak menjadi serius. Erwin mengkhawatirkan sesuatu yang seharusnya tidak dia pikirkan.
"Aku ingin menikahi wanita baik-baik meskipun kehidupan aku belum tentu baik, tapi sejauh ini aku belum menemukan tempat nyaman." Senyuman Erwin terlihat, menghela nafas kasar.
Lin sangat mengerti perasaan Erwin, melihat kondisi Papanya yang sudah tidak sehat lagi juga meminta Erwin segera menikah, agar lepas sudah bebannya. Sudah ada yang mengurus Erwin dan juga berharap putra bungsunya lebih dewasa dan bahagia.
Windy menatap tajam dari lantai atas, sebagai seorang ibu Windy tahu perasaan putrinya. Juga tahu bagaimana besarnya kasih sayang Steven.
Windy memiliki seorang ibu yang sangat mengerti dirinya, selalu memberikan dukungan dalam hal apapun.
Tanpa Lin mengatakannya Windy tahu jika putrinya mengagumi Erwin sebagai seorang lelaki, sama seperti Windy yang mengagumi Steven.
"Apa yang kamu lakukan sayang?" tatapan Steven tajam melihat Erwin dan Lin sedang mengobrol.
"Ay, Windy tahu kamu memiliki harapan besar untuk Lin menjadi wanita yang luar biasa dan sehebat kak Stevie. Apa seorang istri bukan wanita yang hebat Ay?" Windy memeluk suaminya.
"Aku tidak mengerti apa maksud kamu sayang, tapi aku belum siap kehilangan Lin. Mengertilah jika masanya Lin masih panjang." Stev melangkah ingin pergi.
"Aku siap menantang Papi untuk mencintai kamu, lelaki yang jauh lebih dewasa. Jujur ay Windy takut, karena aku bukan siapa-siapa. Windy menepis pikiran buruk jauh-jauh dan tetap pada pendirian. Jika Papi mencintai aku, dia akan merelakan aku bersama lelaki terbaik menurutnya." Windy menepis air matanya.
__ADS_1
Perasaan Windy kasihan jika kebebasan Lin untuk jatuh cinta ditahan, hanya karena dia harus membahagiakan orangtunya.
"Ay, Lin harus memiliki kebahagiaan atas keinginannya. Selama ini Ay sudah melakukan yang terbaik untuk kebahagian Lin. Apapun yang Ay katakan pasti akan akan Lin lakukan, lelaki yang paling dia percaya Daddy, bahkan membohongi perasaan sendiri." Windy memasang wajah sedih.
Steven langsung tertawa, mencium kening istrinya yang sangat pintar merayu. Stev bukan lelaki polos, apa yang Windy lakukan sudah terlihat ajaran Reva.
"Sayang, aku bukan Papi Bima."
Bibir Windy langsung monyong, rencananya gagal total. Steven tidak mudah melemah seperti Papinya.
"Sudahlah Win, jika dia tidak ingin mengizinkan jangan berikan jatah malam. Kamu goda saja, lalu tinggalkan pas saat dia sedang berada di puncaknya." Reva menatap tajam Steven yang sudah berlalu pergi.
Windy langsung cengengesan, memeluk Maminya. Masalahnya Windy lebih agresif daripada suaminya.
Bukan Steven yang tidak bisa tahan, tapi dia. Windy mengikuti jejak Reva yang lebih memimpin soal hubungan.
***
Langkah kaki Lin memasuki rumah sakit dan langsung menuju ruangan Erwin, lelaki pengacau yang menganggu jam makan siangnya.
Pintu diketuk perlahan, ponsel Lin berbunyi meminta Lin masuk saja. Dia masih punya pekerjaan.
Pintu terbuka, Erwin langsung masuk. Tersenyum manis melihat Lin yang cemberut dan terlihat kesal.
"Aku bersih-bersih dulu sebentar."
"Kak, Lin ingin pergi." Suara merengek terdengar seperti anak kecil.
Cukup lama Lin menunggu, Erwin keluar dengan penampilannya yang sudah rapi. Langsung membuka makanan yang dia pesan.
"Kenapa harus Lin?"
Tidak mungkin aku meminta Asih yang mengantarkan."
"Menyebalkan, Lin juga lapar belum makan." Tatapan mata Lin tajam melihat Erwin yang sudah makan.
"Bilang dong cantik, jangan marah-marah." Suara tawa Erwin pecah, dia merasa lucu melihat wajah Lin yang ambekkan.
Akhirnya keduanya makan bersama, senyuman Lin terlihat menyukai makanan tepat Erwin biasanya membeli makanan.
"Kamu tinggal di luar terlihat lebih kurus."
__ADS_1
"Jangan macam-macam, Lin tahu kak Erwin modus." Tatapan Lin tajam, mengambil minum langsung menghabiskannya.
Erwin menyipitkan matanya, jika dia ingin memangsa wanita bukan Lin orangnya. Lin ada di deretan yang berbeda dengan wanita lainnya.
"Jangan berpikir buruk Lin, aku menyayangi kamu, tidak mungkin berani. Sedikit saja kamu tersentuh, Steven lawannya." Kepala Erwin langsung berdenyut menyebut nama Steven.
Wajah Erwin mendekat, Lin sudah terpojok di sofa, jantung Lin berdegup kencang mencium bau wangi dari dokter muda dan tampan di depannya.
"Kamu cantik Lin, dan aku menyukainya." Senyuman Erwin terlihat menatap Lin yang memejamkan matanya.
"Ayo kita pergi Lin, ruangan ini sudah panas." Suara tawa Erwin terdengar membuka pintu menunggu Lin di luar.
Selesai makan keduanya langsung pergi, Lin juga tidak tahu Erwin ingin pergi ke mana. Hanya mengikuti saja, dokter aneh yang memiliki banyak pacar.
Erwin bercerita jika dia memiliki tiga pacar yang masih berstatus pacar, karena ketiga wanita tidak ingin diputuskan, bahkan rela Erwin mempunyai selingkuhan.
"Kak Win punya tiga pacar, mantan ada berapa?"
"Tiga itu sedikit, kemarin ada dua belas. Jika mantan jangan dihitung, aku juga lupa." Tangan Erwin mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
Wajah Lin terlihat kaget, Erwin tidak takut nama baiknya sebagai dokter rusak, memiliki banyak wanita.
"Kak Erwin tidak takut dosa?"
"Santai buk, hanya status saja. Aku tidak pernah tidur dengan mereka. Bercinta khusus untuk istri." Erwin menghentikan laju mobilnya, Lin memukul Erwin yang keterlaluan mempermainkan banyak hati.
"Kak Erwin playboy jahat."
"Bukan aku yang jahat, jangan menyalahkan lelaki, coba tanya siapa yang mulai."
Mobil berhenti, Erwin membukakan pintu untuk anak-anak agar segera masuk.
"Uncel sempit." Vio menendang Vani sampai menempel di kaca mobil.
"Sabar anak-anak ku, bisa mati muda aku punya anak model kalian ini. Asih, Em, Arum, Ning dibelakang duduknya."
"Tidak mau, Arum mau di sini."
"Ya sudah, kalian tidak ingin membawa mobil sekalian, dan Papa saja yang tinggal." Erwin garuk-garuk kepala melihat anak-anak rebutan tempat duduk membuat Lin tertawa lepas.
***
__ADS_1