
Langkah kaki Vira berlarian memasuki ruangan Wildan, pintu terbuka kuat membuat semua orang yang ada di dalam terkejut.
Vira menundukkan kepalanya, meminta maaf langsung menutup pintu kembali.
Wildan meminta semuanya keluar, Vira langsung masuk melotot melihat Wildan yang terlihat sangat fokus bekerja.
"Mana dompet Vira?"
"Kamu bertemu dengan Dewa dan Randu? apa Dewa tampan?" Wildan mengeluarkan dompet Vira yang terselip foto Wildan.
"Wildan." Vira teriak kuat, langsung memeluk Wildan melarangnya untuk membuka foto.
Wildan langsung berlari mengangkat tinggi, melihat fotonya yang baru berusia 17 belas tahun. Ada kata-kata romantis juga membuat Vira menutup wajahnya, karena malu.
Senyuman Vira terlihat, langsung duduk di sofa membiarkan Wildan membaca puisi bucin dirinya.
"Lain kali menggunakan mobil hati-hati, jangan dalam keadaan emosi. Keselamatan kamu jauh lebih penting." Wildan mengembalikan dompet Vira, meletakan kartunya sebagai uang belanja.
"Kamu tahu dari mana? memata-matai Vira, dasar." Tatapan Vira sinis melihat dompetnya yang memiliki foto suaminya, juga ada beberapa uang ratusan, karena Vira jarang memegang uang cash.
"Aku ada di belakang kamu." Wildan duduk mengecek ponselnya.
"Kenapa tidak berhenti?"
"Karena aku percaya kamu, Vira aku tahu kamu menginginkan kebebasan, tapi setidaknya kamu harus tahu batasan. Tamu tidak mungkin masuk jika tuan rumah tidak membuka pintu, jika dia bisa memaksa masuk namanya maling." Pekerjaan Wildan tidak ada habisnya, karena terlalu lama meninggalkan perusahaan ulah Maminya.
"Saat tamu membuka pintu, mempersilahkan masuk berarti?"
Wildan tersenyum, setiap tamu yang datang memiliki tujuan. Tergantung tujuan disambut baik atau mendapatkan penolak. Wildan tidak mempermasalahkan Vira berteman dengan siapapun, tapi harus menjaga statusnya sebagai istri juga nama baik suaminya.
"Vira tidak menghadirkan orang ketiga, kamu yang mendua dengan Fly?"
"Jaga ucapan, ingat setiap ucapan doa." Wildan langsung tertawa menangkap bantal sofa yang Vira lemparkan.
Wildan memberikan beberapa hal yang harus Vira ketahui, sebenarnya Karan sedang menyelidiki kedatangan Fly, dia menggunakan identitas Flora.
Sebenarnya kedatangan Fly bukan untuk menemui Wildan, tapi menjatuhkan pabrik kosmetik milik Vira.
Wildan sudah mengirim orang kepercayaan untuk membantu di sana, menggunakan nama perusahaan Wildan.
Saat rapat Wildan juga tidak menyangka jika Fly juga hadir, Wildan tidak mengenali namanya. Di dalam rapat Fly terus ingin menjatuhkan perusahaan Vira.
"Kenapa perusahaan Vira yang mereka incar? padahal hanya perusahaan biasa."
__ADS_1
"Jangan bohong Vira, aku tahu Tim kamu yang berkerja di sana semuanya orang terlatih dari grup V yang memiliki kemampuan beladiri, hacker, juga kecerdasan yang tinggi." Wildan menggelengkan kepalanya.
"Apa ada pengkhianatan? selama ini semuanya aman."
"Masalah pengkhianatan aku kurang tahu, mungkin kamu jauh lebih tahu. Kedatangan Fly ingin membongkar bisnis kamu ke media, karena mereka juga sedang membuka perusahaan besar yang berkerja di bidang yang sama, selama masih ada pabrik, mereka tidak bisa beroperasi." Wildan menunjukkan kembali beberapa bukti, Vira menghela nafas panjang.
"Mereka tidak akan menemukan kelemahan aku."
"Mereka akan terus memojokkan agar kamu, Winda, Bella dan Billa keluar. Sudah pasti tiga wanita tidak akan muncul kecuali kamu."
"Ais kenapa mereka mengusik hidup Vira yang tenang ini." Wajah Vira langsung cemberut, meletakan kepalanya di dada Wildan.
"Maaf, karena kemarin pulang malam aku pergi ke pabrik. Semua yang terlibat menginap, tapi aku memilih pulang, karena tidak tega kamu tidur sendirian. Lain kali kalau marah, jangan membanting barang, jangan bicara kasar, jangan bicara tidak sopan. Minta maaf sekarang." Tatapan mata Wildan tajam.
Vira menahan tawa, melihat wajah tampan suaminya yang semakin dingin. Vira menggelengkan kepalanya tidak ingin meminta maaf, meskipun dirinya yang salah.
"Vir."
"Iya, Vira minta maaf."
"Jangan hanya minta maaf, introspeksi diri. Jika hari ini salah berusaha untuk memperbaikinya. Kesalahan bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk menjadi lebih baik lagi dan tidak melakukan kesalahan yang sama." Wildan mengusap kepala Vira, memesankan sarapan, karena Vira belum sarapan.
Senyuman Vira terlihat, Wildan selalu memperhatikan tanpa menunjukkan apapun. Sikapnya memang sangat dingin, tapi tindakannya nyata.
"Tidak."
"Kenapa? setiap orang pasti memiliki salah."
"Aku tidak punya waktu untuk melihat keburukan orang, apalagi untuk membenci. Jika dunia membenci kamu, aku akan menjadi satu-satunya orang yang menyukai kamu ... ehem." Wildan berdehem berkali-kali, berusaha untuk terlihat normal atas ucapan yang membuat Vira terdiam.
Senyum Vira terlihat, gemes sekali melihat pria kulkas jika keceplosan berpura-pura tidak menyimak ucapannya.
"Besok Vira makan malam bersama Dewa boleh?"
"Tidak." Wildan menatap tajam, sedangkan Vira sudah tertawa membuka pintu untuk mengambil sarapannya.
Vira langsung makan, seleranya langsung kembali setelah puas berbicara dengan Wildan soal masalah mereka.
"Besok kamu ke kantor, Vira ikut. Sesekali kita ke pabrik, Vira semakin penasaran dengan orang yang bisa membocorkan informasi." Vira meminta Wildan membukakan botol minum.
Wildan hanya menganggukkan kepalanya, jika Vira ikut ke luar kota lebih baik sehingga Wildan bisa menginap tidak harus bolak-balik yang memakan waktu.
"Aku penasaran dengan pemuda yang masuk ke hotel saat pernikahan kita, kenapa dia tidak muncul? apa juga tujuan Dewa dan Randu ada di sini." Wildan menatap Vira yang tidak punya beban pikiran.
__ADS_1
Jika ada manusia paling santai, Vira orangnya.
"Vira, habiskan dulu makanan kamu."
Vira tersenyum mengangguk kepalanya, membiarkan Wildan kembali ke tempat duduknya untuk menyelesaikan pekerjaan.
Ponsel Vira berbunyi, ada pesan masuk mengatasnamakan Dewa. Vira langsung panik sendiri, karena dia memberikan nomor kontaknya kepada Dewa.
"Vira, kenapa kamu membiarkan maling masuk?"
"Kenapa Vir? Dewa menghubungi kamu ingin makan siang bersama?" Suara Wildan sangat lembut sambil menggelengkan kepalanya, Vira berpura-pura tidak mendengar.
"Lima kali kita bertengkar, ada lima nomor cowok masuk ke ponsel kamu. Bagus."
"Wil, kamu pernah mendengar istilah satu wanita kamu dekati, seribu buaya aku miliki." Vira langsung bersembunyi.
Wildan memukul meja, mematahkan ballpoint. Vira sudah menahan tawa melihat Wildan marah.
"Seribu buaya, bagus Vira lanjutkan. Kamu memang pawangnya."
Vira tertawa, menolak ajakan Dewa. Vira tidak ingin membuka pintu untuk tamu yang ingin memisahkannya dari suaminya.
Suara pintu diketuk, Wildan mempersilahkan masuk. Karan langsung duduk dengan nafas ngos-ngosan.
"Ada apa kak Karan?"
"Kamu harus mengabari Vira secepatnya, pabrik kosmetik kebakaran mungkin memiliki banyak korban jiwa, karena tidak ada satupun yang berhasil keluar."
"Apa? kenapa tidak ada yang menghubungi aku?"
"Perusahaan cabang kita gudangnya terbakar, tapi tidak separah pabrik Vira." Karan memberikan rekaman.
"Vira kamu mendengar tidak jika pabrik kamu terbakar, tidak ada karyawan yang berhasil keluar." Wildan menaikan nadanya.
"Ohhh kebakaran, tidak masalah." Vira tersenyum, Wildan dan Karan kaget melihat reaksi Vira.
"Apa kebakaran? pabrik Vira kebakaran? Ahhh Wildan bagaimana ini?" Vira langsung lompat-lompat binggung.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT JUGA
FOLLOW IG VHIAAZAIRA
__ADS_1
***