
Pesawat sudah take of meninggalkan landasan, Yusuf mendapatkan izin untuk menjadi pilot yang membawa pesawat.
Seluruh keluarga tenang, tidak terlihat ada yang menyimpan trauma. Suasana hening karena mendapatkan kabar duka, dari desa.
Jum tidak menangis, hanya terus berdoa di dalam hati agar diampuni segala dosa ibunya, dimudahkan jalannya sampai bertemu surganya Allah.
Tian juga hanya diam, dia memiliki banyak kenangan dengan neneknya sehingga merasakan kehilangan. Di saat kabar bahagia pernikahan, bertepatan dengan neneknya juga pergi untuk selamanya.
Vira terbangun dalam keadaan binggung, dia duduk bersama Winda dan Wildan. Vira mencubit kuat Winda, tapi tetap tidak bangun.
"Wil kenapa Vira ada di sini? mimpi ya?" Vira menepuk wajahnya.
"Kita pulang dadakan, neneknya twins B meninggal." Wildan menatap Vira yang masih menatap Wildan, belum menyimak ucapan pria tampan disampingnya.
"Oh, innalilahi wa innailaihi rojiun." Vira menyentuh dadanya merasakan kesedihan.
Vira langsung hening, membangunkan Winda yang perlahan membuka matanya.
"Astaga Winda di mana ini?" Winda langsung berdiri kebingungan.
Reva membuka high heels langsung melempar Winda dengan kesal mendengar suaranya yang melengking.
Winda mengusap kepalanya, langsung duduk lagi menatap Vira dan Wildan yang menggelengkan kepalanya.
"Win, nenek Bil Bel meninggal." Vira menjelaskan kepada Winda yang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pesawat akhirnya landing di Indonesia sesuai jadwal yang sudah ditentukan, Ravi memang sejak awal sudah menyiapkan mobil untuk langsung menuju ke tempat duka.
Jum meminta yang lainnya istirahat dulu, karena acara pengajian dilakukan di rumah Jum.
Semuanya menolak untuk beristirahat, langsung bersiap untuk pergi ke desa.
Perjalanan yang panjang, memakan waktu yang cukup lama. Datang dikediaman Jum juga sudah sore saat jenazah siap dimakamkan.
Jum tersenyum menyambut keluarga di kampung, Jum tidak bisa bertemu ibunya lagi, Tian Bella dan Billa akhirnya menangis karena tidak bisa bertemu.
Semuanya langsung persiapan untuk ke makam, Jum melarang putra putrinya menangis agar tidak memberatkan.
Tian, Ravi, Wildan Erik, Tama, Steven membantu membawa keranda menuju ke tempat pemakaman.
Semuanya melangkah tanpa air mata mengantarkan ke tempat peristirahatan terakhir, perlahan tanah menutup sampai akhirnya tertutup semua.
Jum mengusap dua nisan kedua orang tuanya, hanya doa yang bisa Jum kiriman untuk kebahagian akhirat kedua orangtuanya.
__ADS_1
Jum bangga lahir sebagai wanita kampung, menjadi tulang punggung keluarga, bisa membuat ekonomi keluarganya membaik, meskipun dirinya menjadi pembantu.
Akhlak baik yang bapak ibunya ajarkan, selalu Jum amalkan, mendidik anak-anaknya agar bisa menjadi orang yang taat kepadanya Allah.
Kehilangan, sudah pasti Jum rasakan. Kedua orangtuanya tidak meminta air mata, tapi doa dari anak cucunya.
Jum hanya memeluk nisan selalu berdoa, hatinya sungguh ikhlas menerima. Setiap makhluk hidup pasti akan mati, jadi untuk yang masih hidup perbaiki diri.
"Bunda." Billa mengusap matanya.
"Sudah jangan ada yang menangis, sebaiknya kita pulang." Jum memeluk Bisma melangkah pergi meninggalkan pemakaman.
Bisma yang paling beruntung diberikan istri yang luar biasa, saat diuji juga sangat kuat.
Di rumah Kasih Karin membantu untuk memasak karena ada acara doa untuk malam.
Jum tersenyum meminta Binar, Kasih Karin istirahat, karena banyak orang yang akan membantu memasak.
***
Sudah tiga hari meninggalnya ibu Jum barulah seluruh keluarga pulang, menghabiskan waktu tiga hari di desa membuat pikiran tenang.
Mobil beriringan melaju dengan kecepatan sedang, sesampainya di kota pekerjaan sudah menunggu, dunia kerja mereka akan kembali setelah sekian lama berlibur.
Mobil Tian tiba di rumah Jum, karena Tian dan Bella akan menetap di rumah kedua orangtuanya.
Vira melambaikan tangannya kepada Winda dan Bella yang sudah masuk ke rumah masing-masing, mereka akan bertemu lagi setelah istirahat panjang.
"Kangen rumah, akhirnya bisa bertemu kamar." Vira berlari ke arah kamarnya.
Viana dan Rama juga langsung ke kamar untuk beristirahat, mereka hanya tersenyum melihat tingkah putri mereka yang nempel di pintu.
Di kamar Vira guling-guling tidak nyaman, dirinya tidak biasa hanya berdiam diri.
"Ke rumah Winda sajalah." Vira langsung berlari keluar kamar.
"Pergi ke mana Vira?" Viana menatap tajam putrinya yang berlari.
"Ke rumah Winda."
"Astaghfirullah Al azim, baru saja berpisah sudah bertemu lagi. Tidak bosan-bosannya mereka berdua." Vi mengusap dadanya keheranan.
Vira langsung masuk rumah Reva memanggil Winda, Reva hanya bisa menghela napasnya melihat calon menantunya yang seperti lem dan perangko bersama Winda.
__ADS_1
Winda membuka pintu kamar mempersilahkan Vira masuk, keduanya sibuk mengobrol soal banyak hal.
"Win, apa setelah kita menikah masih bisa seperti ini?" Vira menatap langit-langit kamar.
"Bisa, rumah kita dekat." Winda tersenyum.
"Win, apa yang ingin kamu lakukan?" Vira mencoret kertas.
Vira dan Winda membuat daftar yang harus mereka lakukan sebelum pernikahan, mereka ingin memuaskan diri menghabiskan waktu gadis untuk bersenang-senang.
"Kita harus pergi memancing?" Vira menulis lagi.
"Sesekali kita harus ke pasar." Winda menabahkan.
"Kita harus naik angkutan umum." Vira tertawa merasakan lucu.
"Ayo kita pergi ke tempat pameran, lalu ke pasar malam, lalu mandi di Waterboom." Winda bertepuk tangan.
Suara tawa Winda dan Vira terdengar, keduanya memiliki enam puluh daftar untuk bersenang-senang sebelum menikah.
Reva hanya tersenyum mendengar kedua anak yang kadang bertengkar, terkadang sangat akur.
Dugaan Reva benar baru saja tertawa, sudah perang bantal, saling pukul aksi bergulat saling banting.
"Dasar anak nakal." Reva membiarkan keduanya bertengkar, nanti juga baik lagi.
Tanpa sadar Vira ketiduran bersama Winda, saling memunggungi. Keduanya memegang kertas yang berisikan hal yang tidak disukai.
Vira tidak menyukai Winda yang tertutup, selalu bertarung sendiri, merasa dirinya tidak membutuhkan orang lain. Vira tahu Winda ada masalah, tapi yang membuat Vira kesal selalu diam.
Winda tidak menyukai Vira yang terlalu terobsesi dengan sesuatu, sulit dihentikan jika ada maunya, selalu ingin menang dan tidak terima kesalahan.
Vira sangat menyukai Winda yang selalu melindungi, menjaga, menjadikan persahabatan mereka prioritas, tidak takut apapun meski lawannya lebih kuat.
Winda sangat menyukai Vira yang dermawan, selalu menutupi kelemahan sahabatnya, mementingkan orang lebih dulu, sangat penyayang juga sangat setia.
Reva dan Viana tersenyum melihat coretan kertas mereka, menarik selimut membiarkan keduanya tidur.
"Va, aku bahagia melihat anak-anak kita sangat akur, awalnya aku sangat takut jika mereka tidak bisa menjaga persahabatan kita." Viana tersenyum menatap Reva yang menutup pintu kamar.
"Mereka memiliki ikatan batin sama seperti kita yang dipertemukan dengan cara masing-masing. Reva percaya mereka anak yang kuat, karena terlahir dari wanita yang hebat." Senyuman Reva dan Viana terlihat saling merangkul.
***
__ADS_1
Kembali ke Tian Bella sebentar ya, baru pernikahan twin.